ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
53 Hatiku sakit, hiks...


__ADS_3

Siang hari di kediaman Ksatria Malik sangat terik bahkan daun-daun pepohonan seakan enggan untuk bergerak padahal Daysi ingin sekali beristirahat di bawah pohon yang rindang di salah satu kursi yang ada di taman. Sambil membayangkan betapa indahnya dunia pernikahan.


"Apa harus pakai mantra dulu agar pepohonan sebanyak ini menghembuskan angin segarnya?" sambil menyentuh batang pohon.


Seolah dunia tau jika Daysi menginginkan pohon-pohon tersebut menghembuskan angin segarnya.


"Aahhh... segarnya," sambil merebahkan tubuhnya menghadap ke atas dan salah satu lengannya ia gunakan untuk menopak kepalanya.


Daysi tertidur di bawah pohon rindang tersebut. Ksatria yang baru bangun mencari keberadaan Daysi namun ia tidak menemukannya bahkan di kamar Aak Cheval juga tidak ada.


"Kemana sih Daysi, siang-siang begini menghilang?" Ksatria membuka pintu rumah dan melangkahkan kakinya di area taman rumahnya. Senyum mengembang di kedua sudut bibir Ksatria, kemudian ia melangkah mendekati istrinya.


CCUUPP..., ciuman Ksatria terdengar nyaring di sekitar tempat Daysi tertidur.


Daysi mengerjapkan matanya berkali-kali, sambil menatap siapa yang membangunkan tidurnya yang baru saja terjadi. Daysi segera duduk dan membuang muka.


"Apa kamu tidak tau aku baru saja tertidur setelah mendapat angin segar dari pepohonan taman ini. Mengapa kamu mengganguku sih?" Daysi kesal karena tidurnya terusik siang ini.


TTRINGG... TTRIINGG..., suara pesan masuk dari ponsel Daysi. Daysi segera membuka kunci layarnya ia melebarkan matanya saat melihat sesorang mengajaknya ketemuan sore nanti, sementara itu ia tidak tau jika dirinya sudah menikah.


Ksatria menyipitkan matanya seolah tau jika Daysi menyembunyikan sesuatu darinya.


"Pesan dari siapa, si pemilik Ok Ikan itu?" Ksatria menatap tajam mata Daysi. Daysi menganggukan kepalanya.


"Dia mengajakku ketemuan katanya ada hal penting yang mau di bicarakan!" jawab Daysi lirih.

__ADS_1


"Kamu mau mengulang cinta lamamu. Pergilah jika kamu mencintainya lagian aku tidak ada kan di hatimu." Ksatria berlalu pergi meninggalkan Daysi yang masih mematung dengan ucapan Ksatria barusan.


1 jam lagi Hugo memintanya untuk menemui dirinya di resto dekat hotel Royal Malik. Daysi menghela nafas panjang berharap jika pertemuannya dengan Hugo tidak membuat mala petaka di rumah tangganya. Memang ini salah tapi apa salahnya jika ia menemui teman lamanya yang sebentar lagi akan menikah mungkin ia ada perlu atau meminta bantuan nantinya.


Daysi selesai mandi dan mengenakan jaket dan helmnya untuk langsung berangkat ke tempat tujuan. Ksatria sedari tadi mengawasinya dari atas balkon kamarnya.


"Hatiku sakit, hiks..." Ksatria kembali masuk kedalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya.


07.00 WIB.


Daysi baru saja kembali ke kediaman Malik. Ksatria duduk di ruang tamu sambil menyilangkan tangannya di depan dada, Daysi menelan salivanya dengan kasar. Bahkan suasana mencengkap menyelimuti ruang tamu tersebut. Ksatria berjalan mendekati Daysi tanpa terduga Ksatria memutari tubuh Daysi dan menatapnya dengan serius. Setelah berputar beberapa kali Ksatria meninggalkan Daysi sendirian dan masuk ke dalam kamarnya.


Daysi juga menyusul Ksatria masuk kamar, Daysi mendekati Ksatria yang menatap luar cendela, tanpa terduga Daysi melingkarkan tangannya di tubuh Ksatria Malik. Ksatria sebenarnya hanya berpura-pura marah pada Daysi agar Daysi binggung dengan sikapnya.


Andai tadi salah satu body guardnya tidak bilang jika Daysi menemui Hugo untuk membahas pernikahan Hugo dengan kekasihnya mungkin saat ini Daysi akan di diamkan dalam jangka waktu yang lama.


"Tapi kamu membuatku kecewa Daysi, saat tadi kamu pergi menemuinya kenapa tidak bicara denganku dulu dan meminta izin, kamu tau aku sangat takut jika kamu mengulang cinta monyetmu itu." Ksatria melepas tangan Daysi yang melingkar di perutnya.


Daysi menatap kepergian Ksatria yang keluar dari kamar. Ksatria menuju ruang makan karena sedari tadi perutnya sudah merasa perih dan minta diisi. Daysi yang mengikuti Ksatria Malik di ruang makan kini duduk di dekatnya dan baru saja ingin mengambilkan makan tetapi sudah di dahulu Ksatria sendiri.


"Kenapa?" Daysi menatap wajah datar Ksatria.


"Aku bisa ambil sendiri makanannya tidak perlu kamu bantu!" Ksatria segera mengambil makanan yang ia suka dan segera di habiskan.


Daysi saat ini kurang selera makan karena situasi saat ini. Betapa bersalahnya Daysi pada Ksatria, gara-gara ulah dirinya sendiri mengakibatkan Ksatria marah dan jutek habis-habisan. Daysi tidak tinggal diam setelah selesai makan Daysi mengikuti Ksatria kemana pun ia berjalan, mulai dari ruang tamu kemudian halaman depan terus kolam renang lalu lantai atas Daysi tetap mengekori Ksatria Malik.

__ADS_1


Ksatria tiba-tiba berhenti dan membuat Daysi menabrak punggung Ksatria, Ksatria menoleh.


"Aku mau buang air, apa mau ikut juga?" Ksatria membuka pintu kamar mandi. Daysi segera mengelengkan kepalanya dengan cepat. Ksatria tersenyum dan membuat Daysi bahagia.


Ksatria yang berada di dalam kamar mandi ingin sekali tertawa sekencang-kencangnya namun ia urungkan karena Daysi berada di luar karena sedari tadi Daysi mengukutinya.


"Apa dia seperti ini jika ingin meminta maaf, terus mengikuti agar di maafkan, iisshh... lucu sekali. Biasanya orang salah tidak mau minta maaf mereka akan gengsi jika ingin meminta maaf secara terang-terangan tetapi Daysi beda dari yang lain. Haduhh... jadi tidak tega mengerjainya lagi tetapi seru juga setidaknya suasana hatiku bahagia." Gumam lirih Ksatria saat di dalam kamar mandi.


CCKKLLEEKK...


Daysi menatap wajah Ksatria. Tetapi Ksatria kembali cuek dan dingin ia bahkan tidak menatap wajah Daysi.


"Sat... please dong jangan marah lagi. Jangan mendiamkanku kayak gini." Berusaha meraih tangannya namu saat akan meraih tangan Ksatria tidak sengaja Daysi terpeleset yang mengakibatkan ia terjatuh dan berguling-guling di anak tangga dari lantai atas.


"DAYSIIIII...," teriak kencang Ksatria dari lantai atas. Ksatria menuruni anak tangga yang berjumlah 17 anak tangga.


Ksatria segera mengendong tubuh Daysi, ada beberapa bagian tubuh Daysi terluka dan mengeluarkan darah karena terbentur tepian anak tangga. Slamet yang melihat Ksatria mengendong Daysi dengan berlari langsung membukakan pintu mobil dan menuju RS.


Semua orang yang ada di kediaman Malik langsung hawatir dengan keselamatan Daysi, Aurellia langsung menyuruh Asep untuk menghantarkannya dengan Mala, sementara Ria dan mbok Yati dirumah untuk menenagkan Aak Cheval yang menangis kencang saat ini.


Sesampainya di RS terdekat Ksatria mengendong tubuh Daysi dan meletakkan tubuhnya di brankar dan didorong bersama suster untuk masuk ke ruang UGD. Ksatria hanya mondar-mandir di depan ruangan Daysi di tangani. Aurellia yang baru datang bersama Mala langsung menanyakan pasien yang baru datang, setelah tau jika pasien baru datang masuk UGD, Aurellia bersam Mala langsung menuju UGD.


Aurellia menghampiri kakaknya. "Kak..., kenapa ini bisa terjadi?"


Ksatria duduk dan mendukkan kepalanya. "Ini semua gara-gara kakak Aurel, jika saja kakak tidak pura-pura marah padannya agar ia lebih perhatian padaku, pasti kejadian ini tidak akan kejadian semua ini kakak yang salah sampai menyebabkan Daysi celaka."

__ADS_1


"Kakak berdoalah semoga Daysi tidak kenapa-napa nanti," Aurellia duduk di dekat Mala.


Ksatria menganggukan kepalanya. Aurellia bahkan tidak habis pikir dengan sikap Kakaknya yang seperti ini. Aurellia hanya berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada Daysi sahabat sekaligus kakak iparnya ini.


__ADS_2