ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
226. Kabar mengejutkan dan membuat sedih


__ADS_3

Lais beberapa kali memukul kepalanya sediri, ia merutuki kebodohannya sekarang.


"Dasar bodoh, jika Momo benar-benar ingin berpisah dariku bagaimana. Tidak bisa aku sangat sayang dan mencintainya, aku haru memperbaiki ini dan tidak mengulanginya lagi. Sebelum hari itu terjadi lagi." Lais langsung melesatkan kemudinya membelah jalan raya yang padat tapi lancar.


Di rumah.


Lais menaiki anak tangga dan langsung menuju kamarnya, ia buka perlahan dan tanpa sengaja ia melihat sang pujaan sedang tertidur dengan wajah sembab.


"Maafkan aku sayang." Lais membuka ponselnya dan langsung memblokir nomor Aura, jika ada kepentingan biar dia datang langsung ke rumah.


Lais segera membersihkan dirinya dan ikut berbaring di samping Momo sang istri, ia memeluk Momo. Momo yang tertidur mulai tidak nyaman saat ada seseorang yang memeluknya seperti ini. Ia menatap wajah tampan Lais yang terpahat indah di pandang mata.


"Kenapa Allah menciptakan kamu seperti ini, kenapa saat kamu menyakitiku. Hati ini tetap padamu, kenapa...." Momo menangis dan berusaha melepas pelukan dari Lais.


Lais membuka matanya dan langsung menciumi wajah Momo. Momo sempat menolaknya tapi apa boleh daya, tubuhnya berkata lain.


"Please... jangan pergi meninggalkan aku, aku tau aku salah tapi yang tadi pagi itu terakhir kalinya. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi sayang." Lais memohon-mohon.


Momo hanya diam tanpa menjawab, mau percaya tapi nanti di bohongi lagi. Jika tidak percaya, hah... Momo hanya menghela nafas pelan dan duduk di sandaran tempat tidur. Sudah beberapa bulan pernikahan ini rasanya sangat hambar, tidak ada lagi kemanisan yang ada hanya kepahitan.


"Sayang, apa kamu tidak mau menjawabnya?" Lais meraih dan menggenggam tangan Momo. Momo yang sudah terluka melepas tangannya.


"Aku mau pulang mas, terimakasih sudah memberikan cinta dan harapan!" Momo beranjak pergi dan ternyata ia sudah menyiapkan kopernya terlebih dahulu.


Lais benar-benar laki-laki pengecut, ia bahkan tidak mengejar dan membiarkan sang istri pulang ke rumahnya.


Momo yang baru saja pulang, ia menangis di depan pintu kamar almarhum orang tuanya. Rasa rindu kian memuncak dan tidak terkendali. Momo menangis di depan pintu itu, ia membuka dan masuk ke dalam kamar tersebut.


Lais yang sedari tadi mengikuti Momo diam-diam, ia memasuki kamar tersebut dan memeluk erat tubuh Momo yang meringkuk dan membenamkan wajahnya di antara kakinya.


"Momo sayang." Lais berusaha menahan amarah Momo, bahkan Momo tidak segan-segan mencakar lengan Lais sampai ada darah yang keluar.

__ADS_1


"Pergi mas, aku sudah tidak mau lagi denganmu mas, aku menyerah. Lepaskan aku mas, aku mau bahagia tidak terluka terus menerus seperti ini mas hu... hu... hu...," Momo menggigit lengan Lais.


Lais menerima semua ini, biar puas Momo menyiksanya sekarang. Siksaan ini tidak sebanding dengan luka hati yang di Momo atas perbuatannya yang selalu mengecewakan.


"Kenapa tidak pergi, kita sudahi saja drama rumah tangga ini, aku lelah mas." Momo terperosok sebelum ia pingsan di pangkuan Lais.


Lais yang hawatir langsung membaringkan tubuh Momo di atas tempat tidur, ia membenarkan anak rambut yang berantakan di wajah Momo. Kemudian ia keluar dan menelpon Filan untuk datang ke kediaman Mahendra.


Filan yang sedikit terlibat dalam rumah tangga Lais dan Momo.


"Kenapa dia sampai seperti ini Lais, jika kamu tidak bisa memberikan kebahagiaan untuknya, aku akan menjaganya. Sama seperti dulu dan lepaskan dia." Filan mulai emosi begitu juga dengan Lais yang sudah meraih kerah baju yang Filan kenakan.


"Dia istriku," Lais siap-siap meninju wajah Filan namun segera di hentikan oleh Cheval yang baru datang.


"Anak kecil, jika kalian ingin ribut jangan di sini. Kalian berdua ini hanya bisa menyakiti hati wanita saja, lebih baik adikku ini tidak mengenal kalian. Terutama kamu Lais." Tegasnya Cheval langsung menampik tangan Lais dengan keras.


Momo yang masih pingsan langsung di periksa oleh Filan, tapi ia terkejut saat ada yang aneh dengan denyut nadi di pergelangan tangannya.


"Eemm... sepertinya Momo sedang berbadan dua, terasa dari denyut nadinya!" Filan memprediksi demikian, dari pengetahuan yang ia tau.


Lais tersenyum lebar mendengar kabar ini, Tuhan begitu baik sekali pada dirinya. Lais mendekat tapi di tahan oleh Cheval.


"Mau apa kamu, setelah menyakitinya mau mendekati lantaran ada seorang nyawa ada di dalam perut adikku, sebagai kakak aku tidak akan membiarkan bajinga* sepertimu mendekatinya lagi." Cheval tetap menghalangi Lais.


Lais pasrah, padahal dirinya ingin sekali memeluk dan memegang calon anaknya yang berada di dalam perut Momo.


Momo perlahan-lahan membuka matanya, ia menatap orang-orang yang berada di ruangan tersebut. Ia terkejut saat ada Filan juga, ada apa ini kenapa berkumpul dan Aa kenapa menghalangi Lais.


"Aa." Panggilnya lirih pada Cheval.


Lais terluka mendengar sang istri tidak memanggilnya, justru memanggil sang kakak lebih dulu dari pada dirinya yang statusnya sebagai suami sah Momo.

__ADS_1


"Iya Momo, apa yang sakit?" Cheval menyentuh dahinya.


"Tidak ada Aa, cuma sedikit pusing tadi!" jawab Momo sedikit tersenyum. "Kenapa kalian menatapku seperti itu, ada apa?" Momo kebingungan dengan sikap orang-orang.


"Jika kamu tau kenyataannya akankah kamu marah padaku sayang." Lais hanya menatap Momo dan tidak dapat memeluknya.


"Tergantung," Momo mengacuhkan Lais.


Sungguh Momo sekarang sangat dingin dan acuh tak acuh padanya lagi.


"Kamu... sedang... sedang...." Lais sangat takut jika istrinya tidak mengharapkan kehadiran sang buah hati di saat seperti ini.


"Hamil." Ucap Sindy yang baru datang dengan Princess dan Inre.


Princess langsung berlari dan memeluk sang mama sambil menciumi perut Momo yang masih rata.


Sedangkan Momo masih terkejut dengan berita kehamilan dirinya ini, pantas saja emosinya sangat tidak stabil dan mudah tersinggung perasaannya. Momo menyentuh perut ratanya dengan bahagia, tapi kemudian raut wajahnya kembali sedih.


"Aku sangat kesal sekali jika melihat Lais, biarkan saja dia berusaha keras dan menyadari kesalahannya." Momo tidak menatap Lais sama sekali.


"Momo sayang." Panggil Lais pada Momo yang terdengar sangat merdu sekali suaranya.


"Aku tidak mau melihatnya, perutku terasa sakit dan mual jika ada kamu mas. Pergilah," Momo langsung membaringkan tubuhnya dan bersembunyi di balik selimut tebalnya.


Lais terkejut sekaligus terpukul dengan ucapan Momo, ia tidak menyangka efeknya sampai seperti ini. Tau begini ia tidak menolong dan membantu Aura jika yang ia dapati adalah hukuman instan. Sungguh dalam hati dan pikiran Lais sangat menyesal, dengan sikapnya yang kurang dewasa dan tidak dapat memilih yang baik untuk hubungannya dengan Momo sang istri.


"Andai ada kesempatan, aku pasti sangat bahagia sekarang." Gumam lirih Lais beranjak dari kamar tersebut.


Sedangkan yang lain juga ikut keluar seperti Sindy, Cheval dan anak-anak. Momo yang merasakan kesepian di kamar itu langsung membuka selimut tebalnya dan menuju ke kamar mandi.


Sedangkan Lais berada di depan pintu kamar itu sambil merenungi nasib yang buruk ini.

__ADS_1


__ADS_2