
Jejaknya jangan lupa.
***
Sacha masih menatap makam sang istri tanpa henti, ia masih tidak percaya jika sang istri meninggalkannya begitu cepat, seperti baru kemarin ia tertawa gembira namun dalam hitungan hari istrinya tiada.
"Bunda, ayah rindu dengan bunda." Sacha menciumi nisan Aurellia.
"Ayah pulang dulu ya bunda, kasihan Aa dan Sindy yang menunggu sedari tadi, nanti Ayah ke sini lagi untuk menjenguk bunda." Sacha berlalu pergi usai menciumi nisan istrinya.
Cheval dan Sindy berbicara dengan serius, Sacha yang hanya mendengar kalimat terakhirnya merasa sangat prihatin dengan Sindy, memang benar karena Cheval kasih sayang yang harus di dapatkan Sindy di genggam semua oleh Cheval.
"Ayo pulang, ayah sudah selesai mengunjungi bunda." Sacha lebih dulu masuk ke dalam mobil.
Cheval dan Sindy juga masuk.
Kediaman Malik.
Ksatria yang sudah pulang dengan Daysi bertanya pada Mala.
"Mala, dimana anak-anak?" sambil makan malam.
"Tadi saya mendengar mereka pergi ke makam dengan pak Sacha, bos!" jawab Mala tertunduk.
"Ya sudah, kamu boleh kembali berkerja." Ucap dingin Ksatria.
Daysi yang menatap suaminya bad mood segera menghampirinya.
"Kenapa sih Papa, apa ada masalah lagi?" Daysi seperti biasa memijat kedua pundak Ksatria.
"Mereka bertiga pergi ke makam tidak ajak-ajak aku, padahal aku juga ingin ke makam Aurel!" sambil mengunyah.
Sindy, Cheval dan Sacha yang baru saja datang langsung mendapatkan tatapan tajam Ksatria.
"Kalian bertiga tega, meninggalkan kami bertiga." Menyipitkan matanya.
Momo yang sudah datang lebih dulu, ingin sekali tertawa melihat Ksatria yang mengomel.
__ADS_1
"Gak usah lebay deh, kebiasaan buruk di tanam." Sacha menarik kursi dan duduk di sebelah Momo. "Tadi juga tidak ada rencana, si Aa tuh yang provokator pertama."
"Ko jadi Aa sih ayah, bukannya ayah sendiri yang tiba-tiba mau ikut dan mengekori Aa dan Sindy," Cheval tidak terima jika dirinya di sebut provokator, karena bukan dirinya seratus persen yang mengajak.
"Hey... pada intinya kalian berdua sudah meninggalkan kami bertiga." Ksatria memanas juga.
"Sudah-sudah, mau lanjut makan atau berdebat dulu?" Momo yang sedari tadi diam langsung berkata tajam sambil menatap dengan tatapan mematikan. "Jika ingin berdebat silahkan tinggalkan meja makan, biar aku, Sindy dan Mama saja yang makan. Kalian bertiga puasa saja, sebagai kepala keluarga suka sekali bertengkar di meja makan." Sindir keras Momo.
Semua orang terheran-heran, Momo jadi tambah dewasa dan tegas.
Semua orang langsung berpelukan, mereka bahagia mendengar ketegasan Momo yang terdengar sangat luar biasa. Momo hanya memijat pelipisnya, semua orang ini sedang kenapa, mengapa mereka saling berpelukan satu sama lain.
"Aneh semua orang, lebih baik aku lanjutkan saja makannya sebelum mereka sadar jika lauknya tinggal sedikit." Bergumam lirih dan langsung melanjutkan makannya.
Momo yang sudah selesai lebih dahulu pergi dan masuk ke kamar sang bunda, sebelum mereka marah karena lauknya habis.
"MOMO." Teriak semua orang yang berada di ruang makan.
Momo yang cerdas sudah mengunci pintu terlebih dahulu dan mendengarkan musik dengan volume besar di kamar almarhum bundanya tersebut.
Usai makan malam hanya makan dengan tumisan sayur tanpa lauk. Mereka pada akhirnya memesan pizza dan yang lainnya.
"Momo, sayang bangun nak. Apa kamu tertidur di dalam." Daysi dengan lembut mengetuk pintu berkali-kali berharap ada sahutan dari dalam kamar.
Namun bukannya menyahut hanya ada suara musik yang lembut terdengar di telinga. Tetapi Daysi terus saja mengetuk pintu itu sampai Momo membukakan nya. Selang 15 menit pintu terbuka dan ternyata Momo baru saja selesai mandi, pantas saja pintu sedari tadi tidak ada respon sama sekali.
"Aku mau pulang Mama, gak bisa tidur di sini." Pamit Momo yang langsung saja membawa tasnya.
Sacha yang sedari tadi menunggu menyilangkan kakinya, ia sangat kesal dengan putrinya. Gara-gara perbuatannya ia jadi di semprot pestisida oleh Ksatria, yang tidak ada hentinya mengomel. Bukannya setiap hari mendengar omelan Ksatria, ya mendengar akan tetapi malam ini lebih dahsyat omelan nya.
"Ayo pulang ayah, maaf ayah gara-gara ulahku tadi ayah jadi kena semprot." Momo tersenyum pada Ksatria.
"Lain kali di ulangi lagi juga boleh, tapi jangan salahkan ayah jika nanti kamu di jemur oleh Papamu," bisik lirih Sacha pada putrinya.
"Siap ayah, pasti Momo ulangi lagi perbuatan ini." Momo juga ikut berbisik.
"Dasar anak bandel ya," mengacak-acak rambut Momo.
__ADS_1
Momo segera berpamitan pada Ksatria dan Daysi yang kebetulan satu tempat.
"Ingat Momo, jika ayahmu masih pelit mengeluarkan uang kamu rampok saja kartu debitnya, banyak sekali kartunya." Ksatria membisikkan bisikan maut.
"Siap Papa, kalau punya Papa boleh tidak aku rampok?" diselingi candaan.
"Nih, PINnya ada di belakang kartu itu!" tanpa basa basi Ksatria memberikan salah satu kartu debitnya.
"Terimakasih Papa." Momo yang berbunga-bunga langsung berlari seperti anak kecil.
Semua orang menyesal telah berbahagia tadi lantaran sikap Momo yang di kira sudah dewasa sewaktu di ruang makan tadi.
"Ayah, aku dapat ini." Momo menunjukkan kartu debit pada Sacha.
"Di simpan dengan baik, jangan boros jika membeli sesuatu," Sacha sambil mengemudikan mobilnya.
Keesokan harinya.
Hari yang berbeda namun kisah masih sama, belajar di kampus, mengerjakan tugas dan berkumpul dengan teman-teman dengan terpaksa lantaran tugas di kampus.
"Membosankan, enaknya ngapain ya. Jalan-jalan sebentar deh dari pada suntuk di rumah." Momo berjalan menuju cafe untuk melonggarkan pikiran kacaunya.
Memang kalau jodoh selalu bertemu dimana-mana Lais yang sedang menatap pintu masuk berbunga-bunga.
"Mbak aku pesan espresso satu ya." Pandangan Momo tertuju pada seseorang yang ia rindukan.
Lais menyapanya dengan lambaian tangan, namun ternyata bukan untuk dirinya saat tiba-tiba ada seorang wanita langsung duduk di depannya.
"Apa dia kekasihnya Lais, hatiku sangat sakit melihat kenyataan. Sudahlah di relakan saja, lebih baik aku menikmati minumanku ini." Gumam lirih Momo dan segera ia duduk di kursi yang jauh dari Lais dan membelakanginya.
Rasa kopi yang di pesan Momo terasa hambar dan pahit seperti kehidupannya, apa ini efek patah hati.
Lais yang tadinya menyapa Momo justru orang lain yang menghampirinya, pasti Momo salah paham dan mengira perempuan di depannya tersebut adalah kekasihnya.
"Bagaimana nanti menjelaskannya pada Momo, mau berbicara jika perempuan ini bukan kekasihnya, pasti dia tidak percaya. Tapi hak ku apa berbicara seperti ini pada Momo dia bukan kekasihku juga saat ini, haduh pusing kepalaku."
Lais segera menghabiskan minumnya dan pergi meninggalkan perempuan tidak ia kenal tersebut sendirian.
__ADS_1