ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
73 Kesal


__ADS_3

Sekali lagi author peringatkan jika tidak suka karya author skip aja oke, jangan tinggalkan kesan buruk dan rate yang jelek.


Terimakasih pembaca setia IBAM, terimakasih atas partisipasinya.


***


Rumah Hugo.


Ksatria dan Daysi menuju kediaman Hugo sekitar 20 menit sampai ke kediaman Hugo. Ksatria menghentikan laju mobilnya dan menatap rumah pemilik OK IKAN.


"Ppufftt..., rumahnya lucu sekali Daysi." Ksatria ingin sekali tertawa renyah namun tidak jadi lantaran banyak orang yang datang. Rumah banyak sekali pernak pernik seperti anaknya sudah lahir bahkan terkesan seperti perayaan ulang tahun anak kecil.


Sebenarnya acarannya sedari pagi namun hanya tinggal syukuran saja saat ini, Daysi menyalami Hugo dan istrinya, bernama Dhita. Dhita sangat bahagia dengan kedatangan Ksatria dan Daysi bahkan matannya tidak lepas dari Ksatria sedari tadi ia menatap wajah tampan Ksatria kemana pun Ksatria bergerak.


"Apa orang hamil selalu seperti itu, kalau ada orang bening tatap terus tanpa lepas," gerutu lirih Daysi sambil memakan tahu goreng.


Ksatria yang mengetahui sang istri cemburu langsung membisikkan sesuatu, "jangan cemburu dengan wanita hamil itu, nanti jika kamu hamil terserah mau berkelakuan apa pun aku tidak melarangnya." Ksatria mencium singkat pipi Daysi, Daysi yang mendapatkan perlakuan seperti ini tersipu malu.


Selesai acara Daysi tidak langsung kembali dengan Ksatria lantaran Ksatria masih di hentikan oleh ibu hamil yang ada di taman. Bahkan Dhita bertingkah kecentilan sekali pada Ksatria.


"Haduh, aku yakin tuh si bayi dalam perut adalah perempuan, kecetilan banget," ketus Daysi masuk kedalam mobil. Daysi menyilangkan tangannya di depan dada. "Kesel banget kan jadinnya, Ksatria juga kenapa menuruti bumil yang seperti itu," memijat pelipisnya.


Ksatria yang baru selesai berbicara pada Hugo dan Dhita istrinya langsung berpamitan saat melihat Daysi sudah tidak ada di dekatnya. Ksatria masuk ke dalam mobil dan mengenakan seat belt, Ksatria menatap wajah masam Daysi.


"Kenapa tuh bibir monyong, lip balmmu habis ya," godannya sambil mencubit pipi Daysi.


"Tidak, masih banyak ko stok di laci." Ucap ketus Daysi memalingkan wajahnya ke jendela mobil.

__ADS_1


Ksatria terus tersenyum sepanjang jalan melihat sang istri cemberut, Ksatria membelokkan ke sebuah coffe tidak jauh dari kediaman Hugo, Ksatria yang melihat Daysi masih melamun melepas seat belt dan mencium dadakan pipi Daysi, Daysi yang baru tersadar langsung menatap malas wajah Ksatria.


"Mencuri pipi aku yang chubby," Daysi turun dari mobil sambil berjalan dengan menggerutu sambil menendang baru-batu kecil.


Ksatria yang berada di belakangnya tertawa sendiri melihat Daysi yang persis seperti anak kecil saja kalau lagi marah seperti ini. Lucu dalam pikiran Ksatria. Saat berada di dalam kedai kopi Daysi hanya mengaduk-aduk kopi pesanannya tanpa mencicipi sedikit pun.


"Sudah, jangan di diamkan kopinya kasihan nanti tidak ada yang minum," ledek Ksatria pada Daysi yang masih saja monyong bibirnya.


"Biarin, sudah tau lagi sebel masih saja di goda," Daysi mengaduk dengan keras cangkir berisi kopi arabica tersebut.


"Kenapa sih kamu ini, aku tadi ngak ngapa-ngapain loh sama istrinya si oke ikan kenapa kamu marah-marah, jelas-jelas ada suaminya juga tadi." Ksatria meminum kopi yang sama persis milik Daysi.


"Tau ah," jawab ketus Daysi meminum sedikit kopinya.


Ksatria mencubit gemas pipi Daysi, Daysi hanya mengeluhkan sakit di pipinya.


Aurellia tersenyum kecut dengan tingkah bocah tengik di depannya ini, dari awal bertemu di luar negri sampai sekarang Aurellia memanggil Sacha dengan sebutan bocah tengik, bagaimana tidak umurnya terpaut 4 tahun lebih muda darinya. Dan yang paling mengejutkan kakaknya sendiri menjodohkannya dengan bocah tengik ini.


"Haduh... apa sih yang ada di pikiran kakak, kenapa menjodohkanku dengan dia," sambil menatap Sacha yang tengah berlari kecil di sekitar air mancur.


Sacha yang sadar di tatap oleh Aurellia melambaikan tangannya. Bahakan tangannya membentuk hati untuk Aurellia, Aurellia yang mendapati tingkah konyol seperti itu hanya tertawa, bagaimana bisa orang seperti Sacha yang mudah membuat orang naik turun emosi seperti ini di tinggal pacarnya.


"Sepertinya mantannya dulu kurang waras deh atau jangan-jangan dia tidak suka orang konyol seperti Sacha, ahh... aku yakin ini penyebabnya Sacha di tinggal, dia lebih suka cowok dewasa tanpa humoris bukannya itu terlalu monoton dan kaku jika seperti itu. AA... HHAA... HHAA...." Aurellia tertawa renyah dengan pikiran uniknya barusan.


Sacha yang melihat Aurellia tertawa bahagia seperti itu tersenyum, setidaknya ia bisa membuat Aurellia bahagia meski pun dengan tingkah konyol yang ia tampilkan.


"Dia terlihat cantik saat tertawa lepas seperti itu," pujinya tanpa sadar, sedetik kemudian. "Eehh... kenapa aku memuji cewek jutek plus manja itu." Sacha menggelengkan kepalannya sampai beberapa kali bahkan memukulnya pelan untuk menyadarkan dirinya.

__ADS_1


Sacha berjalan mendekat dan menepuk pundak Aurellia. Aurellia yang mendapat tepukan di bahunya terperanjat karena terkejut dengan kedatangan Sacha tiba-tiba.


"Haduh... jangan buat orang terkejut gimana kalau aku jantungan dadakan untung aku tidak punya riwayat jantungan kalau ia, kamu jadi tersangka." Menyipitkan matanya.


"Aa... haa... haa..., untungnya gak punya riwayat jantung." Jawab santai Sacha.


Ksatria dan Daysi yang baru pulang langsung masuk ke dalam rumah saat melihat ada perkembangan antara Aurellia dan Sacha.


"Sepertinya cocok ya Aurel dengan Sacha, meskipun Sacha 4 tahun lebih muda dari Aurel." Ucap Ksatria melepas kemejannya.


"Haa..., Sacha 4 tahun lebih muda dari Aurel. Bagaimana bisa kamu menjodohkan dengannya," Daysi mengambil kaos santai untuk Ksatria.


"Yang aku lihat Sacha tidak seperti umurnya, ia lebih dewasa dari Aurel aku yakin Sacha saja yang bisa merubah sifat manja dan jutek Aurel. Sementara aku ingin dekat kamu tanpa gangguan, maka dari itu aku menjodohkan Aurel apa tidak boleh." Memeluk pinggang Daysi sambil meletakkan dagunya di pundak Daysi.


"Haahh... kalau kamu sudah yakin aku juga ikut yakin saja, lagian selama ini kamu tidak pernah salah menilai orang." Mengusap lembut pipi Ksatria. "Cepat pakailah kaosmu," memberikan kaos pada Ksatria.


Setelah mengenakan kaos pilihan Daysi, Ksatria menuju kamar mandi dan mencuci mukannya tidak lupa ia menggunakan krim malam seperti Daysi. Daysi yang gemas dengan kelakuan Ksatria yang tidak pernah telat mengenakan krim malam langsung mencubitnya.


"Jangan mencubit lagi, cubitanmu sakit Daysi sangat kecil di sini." Mengusap pipinya.


"Habisnya aku gemas dengan tingkahmu yang seperti ini," menujuk wajah Ksatria, wajah imut menggemaskan.


"Ciye... yang lagi gemes lihat ke imutanku," sambil mengerjab-ngerjabkan mata elangnya.


"Tuh kan tingkat kepedeannya naik lagi levelnya." Daysi berjalan keluar kamar untuk melihat apa Aak Cheval sudah tidur atau belum jam segini.


Daysi masuk ke dalam kamar Cheval dan menatap ranjang box Cheval, ranjang box kini berganti lebih besar lagi mengingat Cheval yang terlalu aktiv bergerak kesana kemari bahkan pernah jatuh dari ranjang box lantaran ingin turun, untungnya box tidur Cheval rendah dari lantai.

__ADS_1


__ADS_2