
Like dan rate bintang 5 nya. Terimakasih.
***
Sabar. Ini ujian di dalam kehidupan. Mungkin di kehidupan lalu Momo banyak sekali membuat salah sampai-sampai mendapat hukuman ini.
Momo hanya tersenyum saat Princess meminta dirinya untuk menjadi mamanya, ada rasa tidak tega melihatnya namun di sisi lain Momo masih tidak percaya jika papanya mengerjai dirinya sekarang.
"Princess, ayo ke taman bermain. Apa Princess mau, minta izin dulu dengan Papa ya." Ajak Momo dengan lembut pada gadis kecil yang sangat cantik ini.
Ruangan Lais Erdana Khan.
TTOOKK...
TTOOKK....
"Aku mengetuk pintu beberapa kali namun tidak di jawab oleh Lais, dimana dia kenapa tidak di jawab sih. Apa mungkin dia meeting hari ini."
"Papa kamu sepertinya tidak ada Princess." Ucap Momo menatap Princess.
"Itu papa," Princess menunjuk pintu lift yang baru saja terbuka.
"Lais muncul dengan setelan jasnya dengan gagah dan tampan, sejak kapan dia memiliki pesona yang luar biasa seperti ini. Eehhh ingat Momo ingat sudah ada yang punya nanti kamu di kira pelakor lagi, bukannya sekarang lagi marak musim perebut laki orang semoga aku tidak termasuk di salah satu dari mereka."
Lais yang melihat Momo langsung memalingkan tatapan wajahnya sambil bertanya-tanya.
"Ada perlu apa, apa Princess meminta boneka atau mainan?" Lais menatap Momo dengan penuh tanda tanya.
"Tidak pak, bukan itu emm... begini sebenarnya saya ingin mengajak Princess ke taman bermain sekarang!" jawab Momo sedikit kebingungan, Momo cuma hawatir hukuman untuk jadi baby sitter bertambah lama saja dari waktu yang di tentukan satu bulan, sedangkan sekarang dia jadi pengangguran dan butuh uang untuk menyambung hidup kedepannya.
"Oo...," Lais langsung menyuruh sekretarisnya untuk mengurus kepergian putrinya dengan baby sitter dadakan pagi ini untuk ke taman.
Sebenarnya ini bukan kewajiban sekretarisnya namun selain itu pekerjaannya juga sebagai body guard yang siap siaga dimana pun sang boss membutuhkannya.
"Mari bu saya hantar." Ucap sekertaris serba bisa yang bernama Arman.
"Aku ikut melangkah menuju lift pribadi milik Lais sebenarnya aku tidak enak lewat lift ini, semenjak aku berkerja disini. Banyak karyawan yang iri dengan ku lantaran aku di perlakukan istimewa oleh Lais namun mereka tidak tau perlakuan istimewanya hanya untuk mengerjai ku habis-habisan yang membuat tenagaku pagi hari terkuras habis."
"Eemm Arman, sudah berapa lama kerja dengan boss ngeselin itu." Tanya Momo pada Arman dengan ceplas ceplos.
Arman hanya menatap Momo dengan penuh tanya, mungkin dia keheranan kenapa ada orang yang berani menyebutnya seperti itu. Telinganya Arman masih asing mendengar Momo berucap seberani itu, ya pasti asing lah dia begitu sopan dan taat sama bosnya.
"Jawablah, pasti kamu juga sudah taukan tentang profil pribadiku. Tidak mungkin tidak tau." Momo memanyunkan bibirnya sampai Princess menyentuh pipinya lagi.
"Mama." Ucap polos Princess dan seketika Arman terkejut bukan main, Momo sudah menebak jika Arman akan terkejut dirinya saja terkejut bukan main bahkan hampir mati berjongkok tadi saat Princess menyebut dirinya dengan sebutan mama.
"Iya saya sudah tau bu, dan non princess kenapa memanggil anda dengan sebutan mama?" Arman bertanya pada Momo.
"Tanya saja tuh sama bos mu apa yang sudah ia ucapkan pada putrinya yang masih polos dan jangan lupa racun apa yang di tabur dalam otak Princess, ingat itu!" jawab Momo ketus sambil menunjuk wajahnya.
Arman hanya mengangguk dan mengiyakan saja ucapan yang barusan ia dengar dari pada terkena masalah kedepannya.
"Aku memang kesal sekali hari ini dan maafkan aku Arman jika kamu jadi pelampiasan emosiku, banyak bersabar saja semoga boss ngeselin mu itu menaikkan gajimu. Aku menunggu di lobby dengan Princess, sementara Arman mengambil mobil yang masih terparkir di parking area." Momo menatap sekilas Arman yang masih fokus di kursi kemudinya.
Saat di perjalanan Momo hanya mengajak Princess mengenal kendaraan ini itu dan gedung-gedung tinggi dan warna pada Princess. Princess anak yang cerdas tidak heran papanya saja cerdas apalagi putrinya, memang bibit unggul. Eehh... kenapa jadi muji-muji dia sih entar kepedean dia.
"Princess, suka makan apa?"
"Princess semua suka," jawab Princess sambil menggerakkan tangannya melingkar keatas.
"Baguslah kalau begitu. Emm Arman, Princess ada alergi apa?"
"Arman yang masih fokus mengemudi hanya tersenyum ramah dari spion kemudinya pada diriku. Eehh... apa maksudnya apa aku di suruh bertanya langsung pada boss ngeselin itu, yang selalu mengerjai ku setiap hari. Dasar tidak bosnya tidak karyawannya sama-sama menyebalkan, semoga umpatan ku di saat minum biar sekalian tersedak." Mengumpat dalam hati.
"Dasar nanti kena kutukan dari mak loh. Aku segera merogoh ponselku dan memencet telpon dan menghubungi Lais."
Lais yang mendapat telpon dari Momo langsung mengangkatnya padahal saat ini ia meeting penting di perusahaannya.
__ADS_1
"Saya angkat telpon dulu." Ucap Lais pergi menjauh dari ruangan tersebut.
Para karyawan hanya terheran-heran, kira-kira telpon dari siapa dan mengapa mengangkatnya padahal orang-orang yang punya jabatan tinggi saja belum tentu di angkat jika tidak penting sekali.
Lais tersenyum melihat layar ponselnya tertera nama orang yang meresahkan hatinya selama ini.
"Ada apa?" tanya Lais dengan cuek dan sok jual mahal.
"Ketus amat ucapannya belum juga aku berbicara, oh.. ya boss yang ngeselin saya mau bertanya apa Princess punya riwayat alergi dengan makanan."
"Tidak, jadi aman-aman saja mengajak Princess makan apapun tapi satu jangan di beri jajan sembarangan yang tidak higienis dan sehat untuk di konsumsi," jawab Lais dengan tegas.
"Sebenarnya aku tidak tega mengerjai Momo seperti ini terus-terusan namun ini satu-satunya cara agar aku bisa berdekatan dengannya meskipun Princess jadi korban juga. Maaf ya Princess, aku tersenyum lebar sekali setelah menerima telpon ini. Aku benar-benar gila karena cinta, iisshhh jantung ini berdebar debar tidak tepat."
Ayo Lais Erdana Khan kembali ke keadaan semula tegas dan dingin.
TTAAKK...
TTAAKK....
Lais masuk dan kembali ke dalam ruang meeting dan melanjutkan meeting nya siang ini. Sekitar 2 jam baru selesai karena banyak projek untuk bulan ini yang harus segera di selesaikan tanpa satu pun yang tertinggal, agar para costumer puas dengan hasil kinerja perusahaan jam mewah bermerek Berlian ini.
Taman bermain.
Momo dan Princess bermain dengan sangat riang dan bahagia sekali, seperti seorang ibu yang memberi kasih sayang pada anak kandungnya.
Lais yang sudah selesai meeting langsung bertanya Princess ada di mana melalui Arman sang sekretaris pribadi. Ia sengaja bertanya tentang Princess agar Arman tidak mencurigainya.
"Arman, gantikan pekerjaan saya di kantor. Kamu boleh pergi Arman." Ucap Lais secara tiba-tiba datang.
Arman segera berpamitan pergi dari area taman bermain ini. Lais memandang satu objek yang sangat cantik dan menawan, siapa lagi kalau bukan si Nerocos kesayangan. Wanita yang dalam 10 tahun terakhir ini yang mampu membuatku tidak bisa melupakan pesonanya, apalagi di saat dia tersenyum.
DAG...
DIG...
"Kenapa aku hanya melihatnya saja jantungku seperti ini, seperti mau melamar gadis saja berdetak tidak karuan. Aku segera mencari tempat duduk yang tidak jauh dari Momo dan putriku bermain. Momo sadar dengan kehadiranku yang tadinya ceria kini berubah masam dan tidak bersemangat lagi, apakah wajahku sebegitu membosankan di pandang mata. Aku menatap diriku di pantulan layar ponselku."
"Papa." Ucap Princess lembut pada Lais seraya memeluk kedua kaki Lais. Lais mengulurkan kedua tangannya dan menggendongnya dalam pangkuan.
"Bagaimana bermainnya seru, apa Princess suka?" tanya Lais sambil merapikan anak rambut Princess yang berantakan.
"Iya, Princess suka papa. Papa...."
"Iya..., ada apa sayang?"
"Princess mau tante Momo jadi mama Princess papa!" ucap Princess menatap Monique.
"Aku melihat Momo memelototiku dengan kebingungan, aku yakin Momo tidak setuju dengan permintaan Princess seperti ini pasti dia berpikir aku yang merasuki Princess agar meminta dirinya menjadi mama untuk Princess. Nasib-nasib harus jawab apa ini, tetapi inikan kesempatan langka dan tidak akan terulang lagi. Aku iyakan saja deh biar sekalian si Nerocos gak ada kesempatan dekat dengan laki-laki lain."
"Iya Princess, tante Momo akan segera menjadi mama kamu sayang," Lais tersenyum pada Princess lalu menatap Momo yang sudah mengepalkan tangannya.
"Yyyeee papa yang terbaik, ayo pulang papa. Mama juga." Princess mengulurkan tangannya pada Momo dengan sigap Momo menggendong tubuh kecil Princess.
Kediaman Lais Erdana Khan.
Lais menyuruh beberapa asisten rumah tangganya untuk membersihkan salah satu kamar yang ada di lantai dua dekat kamarnya untuk di bersihkan.
"Mulai hari ini kamu tinggal di sini dan rawat Princess." Lais berkata dengan tegas dan pergi meninggalkan Momo dan putrinya di lantai satu.
Betapa senangnya hati Lais sekarang di rumah tidak akan sepi lagi, setidaknya ada orang yang akan dia kerjain nanti. Lais yang biasannya tidak bernyanyi kini ia bernyanyi di dalam hati sambil masuk ke dalam kamar mandi dan berendam.
TTRRIINGG.
Pesan masuk ke ponsel Lais, Lais masih menyelesaikan ritual berendam nya, sekitar lima belas menit Lais bangkit dari bath tub dan segera menguyur tubuhnya dengan air dari shower.
"Sepertinya aku tadi mendengar ada pesan masuk." Mengecek ponselnya. "Kenapa sih perempuan resek ini, mau apalagi sih," Lais melempar ponselnya di sofa dan tidak memperdulikan deringan ponselnya.
__ADS_1
TTRRIINGG.
Lais segera melihat siapa yang mengirim pesan tersebut ternyata sama orangnya, lebih tepatnya ibu kandung Princess yang selalu menghantuinya selama ini.
"Aku harus segera meresmikan Momo untuk menjadi istriku, biar dia tidak menggangu hidupku dan aku akan mempertegas lagi sikapku padanya, aku sedikit menghargai dia lantaran ia ibunya Princess tetapi dia tidak mau merawat putrinya dan membiarkan aku merawatnya sendirian." Lais tersenyum devil, dalam pikirannya ia tidak akan menyerahkan sang putri.
Lais menghubungi sekretarisnya Arman dan mengurus semua yang di perlukan dan tidak boleh mengizinkan perempuan bernama Aura untuk datang ke kantor dan harus memberi tau semua karyawan jika ada yang melanggar langsung pecat tanpa pesangon.
"Aku segera turun ke lantai satu setelah mengirim perintah pada Arman untuk membereskan wanita yang merugikan itu. Aku melihat Momo sedang bermain dengan Princess begitu bahagianya dan ada juga baby sitter Princess sejak dia masih bayi dulu. Momo yang melihatku sudah datang langsung berpamitan ke kamarnya, aku tidak tinggal diam dan langsung membuntutinya."
"Momo." Lais berusaha memegang pergelangan tangan Momo dengan erat, Momo hanya menatap Lais penuh keheranan.
"Ada apa sih boss yang super nyebelin, jika tidak ada keperluan saya mau ke toilet perutku sakit dan mual saat melihatmu," Momo melepaskan diri dari cengkraman tangan Lais.
"Hheyyy... apa aku semenjijikkan seperti itu sampai kamu sakit perut dan mual." Ucap Lais sedikit berteriak.
Momo yang berada di dalam kamar mandi juga berteriak.
"IYAA... DASAR BOSS BAWEL." Momo tidak sungkan mengatai ini itu pada Lais yang nota bene nya boss besar perusahaan jam.
BBRRAAGGHH....
"Aku menutup pintu kamar Momo dengan sangat keras, sungguh kesal hatiku dan jengkel di buatnya." Gerutu Lais dalam hati.
Momo yang berada di dalam kamar mandi hanya menebah dadanya saat mendengar pintu di tutup dengan begitu kencangnya sampai seperti itu suaranya, memekik telinga yang masih sehat untuk mendengar.
"Haduh... bagaimana orang-orang bisa tahan berkerja dengan boss yang seperti ini, mudah sekali meluapluap emosinya seperti anak kecil yang marah minta uang untuk bermain game di warnet."
Momo segera menyelesaikan kegiatannya di dalam kamar mandi. Ia juga membersihkan diri dan berganti pakaian yang sudah ada.
"Nih... orang diam-diam menghanyutkan. Kenapa dia menyiapkan pakaian santai seperti ini dan semua kesukaanku warnanya." Momo mengenakan pakaian kasual berwarna putih dan celananya selutut.
Momo tidak seperti dulu yang suka berdandan ini itu, dia sekarang lebih natural riasannya.
"Seperti ini saja sudah cantik, dari pada buang-buang bedak mahal." Momo menutup tas kecil yang berisi perlengkapan make up nya.
Makan malam.
Momo bingung harus makan apa malam ini, dia sudah menahan dari siang dan belum makan apapun lantaran ia sungkan jika berada di rumah orang hanya numpang makan tidur, sudah di sediakan tempat tidur saja sudah sangat bersyukur.
"Haduh... kuota internet habis mau pesan makanan online tidak bisa, walaupun rumah ini di pasang WiFi tapikan aku tidak tau password-nya haduh... nasibmu benar-benar malang Momo ayo renungkan sejenak. Apa di kehidupan terdahulu mu kamu punya hutang segunung sampai-sampai nasibmu seperti ini, nyesek banget." Momo menghela nafas berkali-kali dan ia hembuskan perlahan.
Mau tidak mau Momo menuju dapur yang berada di lantai dasar untuk mengisi perutnya yang sudah tidak bisa di tahan lagi.
"Mbak Momo lagi buat apa." Tanya Nila salah satu asisten rumah tangga kediaman Lais Erdana Khan.
"Eehh... mbak Nila, aku lapar mbak. Apa boleh aku membuat sedikit sayur itu untuk makan malam ku?" Momo cengengesan, betapa malunya dia saat ini ketahuan diam-diam mencuri bahan masak di kediaman ini.
"Begini mbak Momo, eemm si boss menunggu mbak di ruang makan!" jawab Nila sedikit berbisik.
"What...," Momo sangat terkejut dengan ucapan Nila barusan. "Mbak Nila tidak mengigau kan, sejak kapan si boss ngeselin baik seperti ini, apa kepalanya terbentur saat turun tangga tadi mbak Nila?" tanya Momo dengan heran.
"Tidak mbak Momo, jika si boss terbentur kepalanya pasti sekarang ada Dokter pribadi yang kemari, mbak segeralah ke ruang makan mbak dari pada saya kena semprot si boss lagi mbak!" Nila segera pergi dari dapur.
Momo segera menuju ruang makan yang ternyata ada Lais dan juga Princess dan baby sitter Princess.
"Princess dengan suster Lala dulu ya." Ucap Lais tersenyum pada sang putri.
Momo yang masih berdiri kebingungan kenapa Princess di suruh pergi dari ruang makan dan baby sitter Princess juga.
"Duduk di sebelahku dan suapi aku makan, karena Princess sudah dengan suster Lala jadi tugas kamu menyuapiku malam ini."
"Tapi...,"
"Tidak ada tapi-tapian, ayo suapi aku." Lais tersenyum sangat manis.
Momo segera mengambilkan makan untuk Lais secukupnya, ia tidak mau mendapat masalah di hari pertamanya tinggal di rumah ini, dari pada malam-malam harus terusir mendadak.
__ADS_1