
Momo dan Lais menikmati makan siangnya tersebut, tapi sebelum itu ia menyisakan lauk untuk Princess.
"Kenapa marah, kamu tadi cemburu mas dengan Princess?" Tanya Momo menatap suaminya yang berhenti mengunyah makanannya.
"Siapa yang cemburu, lagian tadi aku haus makanya aku ke dapur dan mengambil kelapa muda yang ada di lemari pendingin!" Elaknya menikmati buah tersebut.
Momo sedikit tertawa rasanya ia tidak percaya jika suaminya ini tidak cemburu.
"Yakin mas gak cemburu." Sambil menggoda Lais dengan memperlihatkan leher jenjangnya. Momo sengaja meningkat rambutnya tinggi-tinggi dan menyanggulnya.
"Kamu sengaja menggoda mas, lihat saja akan aku habisi setelah es kelapa muda ini," Lais langsung tambah bersemangat menghabiskan makanan itu.
"Enggak ko, siapa coba yang menggoda mas sih." Momo kalang kabut sendiri saat suaminya sudah seperti itu, rasanya seperti si cacing sudah kepanasan di jalan raya.
"Jangan lari, ayo tanggung jawab," dengan secepat kilat Lais meraih tubuh Momo dan langsung mengedongnya dan membawa ke ruang tidur untuk tamu, lantaran ruang itu yang paling dekat.
Mereka melakukan seharusnya yang di lakukan pasangan suami istri yang sah, secara Agama dan Negara.
Tapi saat Lais hendak mengulang kedua kalinya, Momo malah menangis sesenggukan di bawah kungkungan suaminya.
"Hu... hu... hu...." Momo menangis tersendu-sendu.
"Hey... sayang. Kenapa menangis?" Lais mulai bingung sendiri menenagkan sang istri.
"Sa... kit!" Jawabnya memegang perutnya sendiri.
__ADS_1
"Sakit?" Lais memperjelas ucapan Momo yang samar-samar lantaran sang istri menangis saat berbicara.
Lais dengan sigap memakaikan pakaian untuk Momo istrinya, tapi sebelum itu ia membersihkan milik Momo dengan tisu basah. Ia dengan cemas langsung membawa sang istri ke Rumah Sakit terdekat.
Rumah Sakit Umum.
Sesampainya di depan Rumah Sakit, tiba-tiba sakit di perut Momo hilang begitu saja.
"Mas, kita periksa saja. Perutku tidak sakit lagi. Mungkin anak kita mau di periksa dan di lihat seperti apa perkembangan di dalam sini." Momo bernafas lega, ia hampir takut setengah mati dengan keadaan bayinya.
Apalagi usia 6 bulan itu bayi belum cukup kuat dan kemungkinan besar tidak selamat, beda halnya jika si bayi berumur 7 bulan itu malah bagus dan pasti bisa selamat jika bayinya kuat.
"Ayo sayang." Lais membuka pintu mobil dan mengulurkan tangannya. Momo yang menerima hal romantis seperti ini tentu saja langsung tersipu malu.
"Iya mas," Momo menerima uluran tangan Lais.
Sesampainya di ruangan depan khusus ibu dan anak. Lais hanya tersenyum saat melihat ruangan tersebut masih banyak antrian, padahal ini sudah siang hari bahkan menjelang sore. Apakah jadwal periksa di Rumah Sakit ini jadi 24 jam setiap harinya yang dalam artian tidak ada libur untuk Dokter khusus anak dan Ibu.
"Kenapa belum tutup jam segini, apa jadwal Dokternya sampai sore hari?" Tanyanya pada diri sendiri.
Momo mengerutkan dahinya, apa suaminya tidak tau jadwal hari ini. Padahal tertera jelas siapa yang hari ini Dokter yang berkerja, apalagi hari ini hari Senin yang artinya bisa sampai sore atau jam tertentu untuk Rumah Sakit ini tentunya.
"Lihat tuh tulisan di sana Mas, coba perhatikan apa mata mas jelas bisa melihat papan itu atau tidak. Jangan-jangan mata mas minus gara-gara sering berhadapan dengan laptop dan teman-temannya, apalagi saat meeting dengan karyawan dan investor kantor kamu mas?" Momo menghawatirkan kesehatan suaminya.
Lais mengacak rambut Momo tanpa malu, padahal di depan ruangan tersebut banyak sekali ibu-ibu yang sendirian tanpa di dampingi suami tercinta.
__ADS_1
"Sepertinya tidak deh sayang, buktinya aku masih bisa melihat setiap inci tubuh kamu!" Bisiknya tepat di telinga Momo.
Lais langsung mendapatkan cubitan ternikmat yang pernah ada di muka bumi ini, akan ada bekas kemerahan yang membiru nantinya. Seperti maha karya saja jadinya di samping perut Lais.
"Sakit sayang." Ucap lirih Lais sambil mengusap perut bagian sampingnya.
"Makanya mas, jangan aneh-aneh. Ini di tempat umum jangan vulgar kenapa ucapannya," Momo membisikkan ucapan tajamnya.
Lais hanya menelan salivanya beberapa kali dengan bersusah payah sampai tenggorokannya, rasanya benar-benar tercekik sekali.
"Iya... iya... sayang, janji tidak mengulanginya lagi besok-besok." Lais menunduk tanpa berani menatap istrinya.
Antrian pemeriksaan yang panjang membuat Momo mengantuk. Padahal biasanya ia tidak pernah mengantuk di jam segini, apa karena suasana Rumah Sakit yang nyaman. Apalagi terdengar suara bayi yang menangis, membuat hati Momo senang dan berharap bayinya nanti seperti itu. Karena bayi yang menangis, apalagi dengan suara yang kencang biasanya si bayi bertanda sehat. Tapi ada juga yang sebaliknya, tetapi itu kembali pada daya imun si bayi apakah sehat atau tidak.
"Eh... ko malah tidur sayang, jadi periksa tidak?" Lais menepuk pelan pipi istrinya.
"Iya mas jadi periksa, aku mau melihat perkembangan anak kita mas. Dan mau tau seperti apa wujudnya saat di dalam perut ini!" Momo menatap perutnya dan mengusap perlahan.
Perutnya terasa berisi penuh sekali.
"Sehat-sehat ya nak di dalam perut Mama." Lais mencium perut sambil mengusapnya.
***
Terimakasih sudah membaca karyaku, aku berusaha membuat semua hubungan di tokoh yang aku ciptakan super romantis, menurut aku ya.
__ADS_1
Tinggalkan jejak yang baik biar aku semakin semangat up nya.