
Sindy masih dalam balutan selimut sebab ia merasa sangat kedinginan sekali tubuhnya.
"Nak, bangun." Daysi mengompres dahi Sindy berharap sang putri akan segera bangun.
Secara perlahan Sindy membuka matanya yang terasa berat dan kepalanya juga sakit. Pusing dan ada rasa mengantuk di tubuhnya, ia tidak ingin bangun pagi ini.
"Ma, pusing dan dingin banget ma tubuh aku." Sindy memperbaiki selimutnya sesuai dengan posisinya sekarang dan mencari yang paling nyaman.
Cheval yang berada di sampingnya menggenggam erat tangan Sindy dan Sindy membalas dengan genggaman yang erat juga, tangan besar milik Cheval begitu hangat.
"Iya, kamu istirahat dulu ya Sindy. Mama siapkan dulu makanan untuk kamu lalu minum obat pereda demam ya nak," Daysi beranjak pergi.
Sekarang tinggal Sindy dan Cheval yang berada di dalam satu ruangan, ia senantiasa membantu setiap pergerakan Sindy yang merasa tidak nyaman dengan posisi tidurnya.
"Aa, maaf ya." Sindy menatap Cheval dengan tatapan sedihnya, ia merasa wanita yang merepotkan wanita yang menjadi beban bagi suaminya.
Dulu sewaktu ingin punya Inre ia juga sulit mendapatkannya lalu saat hamil kedua ternyata juga sama sulit juga, mungkin ini karma atau apa entahlah tapi yang jelas Sindy hanya bisa pasrah saja dan berdoa semoga dirinya dan sang suami bisa sabar menghadapi ini semua.
"Maaf? karena apa sayang. Kamu tidak melakukan kesalahan apa-apa sayang, jadi kamu tidak perlu meminta maaf pada Aa," mencium kening Sindy.
"Tapi Aa ...." Sindy hendak mengeluh tapi bibirnya sudah di tutup oleh jari telunjuk Cheval.
"Huss ... gak boleh mengeluh dengan garis takdir yang sudah kamu miliki sayang, yakin Dengan Yang Maha Kuasa pasti suatu hari nanti kita di berikan yang lebih baik lagi dari hari kemarin hari ini," Cheval berusaha menghibur di saat keadaan terpuruk Sindy.
Sindy mengangguk pelan.
"Iya Aa."
Daysi yang sedang di dapur sudah selesai membuat bubur untuk putrinya sarapan lebih dulu, agar dapat meminum obat perda demam. Daysi memang sengaja tidak menyuruh salah satu pembantunya, ia ingin terjun langsung jika menyangkut kesehatan anak-anak dan juga cucu-cucunya.
Tak
Tak
Tak
Daysi perlahan-lahan berjalan menuju kamar Sindy, setibanya di depan pintu ia tersenyum saat melihat putra putrinya saling menguatkan satu sama lain, uh ... romantis dan so sweat banget.
__ADS_1
"Mama ganggu nih ceritanya? kenapa kompak sekali menatap Mama." Daysi menggoda sambil tersenyum riang.
"Tidak Ma," jawab kompak mereka berdua.
Kalau sudah jodoh memang suka seperti ini kompak berbicara, bahkan tingkah lakunya terkadang juga sama. Sama-sama tengil dan bikin kesel doang, tapi tidak terjadi pada Sindy maupun Cheval meski ia akui anak-anaknya ini memang masih anak-anak di mata Daysi meski mereka sudah memiliki seorang anak.
"Makan dulu ya, Mama suapi oke." Daysi menyodorkan sendok dan Sindy terpaksa membuka mulutnya padahal lidahnya tidak yakin bisa merasakan apa-apa, tapi demi ia minum obat dan segera sembuh sakitnya ia membuka mulut dan menelan bubur tersebut meski hanya sepucuk sendok saja yang ia makan.
Usai menyuapi bubur pada Sindy, Daysi memberikan obat pada Sindy dan ia segera meminumnya.
"Mama, tinggal ya. Istirahat yang banyak dulu biar cepat sembuh ya sayang, soal Inre biar Mama yang urus kamu istirahat dulu ya." Daysi beranjak pergi.
Cheval yang hawatir terlupa jika dirinya juga belum sarapan pagi sampai-sampai perutnya yang kosong kembali berbunyi saat ia mandi tadi dan saat ini juga.
Kkrruukk
Kkrruukk
"Aa, belum sarapan. Sindy siapkan ya Aa." Hendak bangun namun di hentikan oleh Cheval
"Stop mau ngapain, sudah tidak apa-apa biar Aa turun mengambil makanan," Cheval keluar dari kamar dan langsung membuat Sindy sedih dan gelisah.
"Inre sayang, Mama sudah istirahat jangan berisik ya." Suara merdu Cheval sangat lembut ketika ia berbicara pada putri semata wayangnya ini.
"Baik Papa, Inre tidak mengganggu Mama. Mama sakit apa Papa?" mendekati Cheval yang sedang meletakkan makanannya di meja depan sofa kecil kamarnya.
"Mama demam dan baru saja Mama minum obat sayang!" Cheval menepuk tempat duduk agar Inre duduk di sampingnya, ia juga membawa makanan untuk Inre sebab ia minta Papanya menyuapi sarapan pagi untuknya. Dan meminta sang putri untuk berdoa sebelum ia makan.
Inre makan dengan lahap dan dia sangat suka sekali dengan suapan yang di berikan dari tangan Papanya ini, dalam sekejap saja makanan yang ada di piring Inre habis tanpa sisa tinggal bekas kuahnya saja.
"Wah, anak Papa pintar ya jika sarapan habis tanpa sisa." Menunjukkan piring yang sudah bersih tidak ada makanan lagi.
"Anak papa," Inre banga pada dirinya sendiri sambil tersenyum manis.
"Sekarang gantian Papa yang makan ya." Cheval segera berdoa dan memakan makanannya tersebut sebab perutnya sudah tidak dapat lagi menahan gejolak di tambah bau masakan yang luar biasa sedap ini.
"Iya Papa," Inre memakan kerupuk yang seharusnya jadi teman sarapan Cheval.
__ADS_1
Usai sarapan pagi ia hendak berangkat kerja namun saat ia menatap wajah Sindy yang sepertinya hari ini butuh sekali dirinya ada di samping saat ia terbangun dari tidurnya.
"Lebih baik aku kerja dari rumah saja dari pada Sindy nanti bangun butuh sesuatu." Cheval membuka laptopnya tapi sebelum itu ia turun mengembalikan nampan yang ia gunakan lalu mengantar Inre ke sekolah.
Sindy masih bergelut dalam tidurnya sambil menunggu ia pulih dari demamnya.
"Aa." Memanggil suaminya namun ternyata sang suami tidak ada di kamar, ia merasa sangat sedih sebab ia tidak enak badan namun tidak ada siapa-siapa yang ada di sampingnya.
Seorang pembantu mengetuk pintu dan membawakan roti dan juga air putih hangat untuk Sindy.
"Mbak Sindy, ini permintaan dari mas Cheval untuk mbak sebelum mas Cheval berangkat mengantar nona Inre ke sekolah tadi." Meletakkan nampan tersebut di sebelah Sindy bersandar di tempat tidur.
"Makasih ya mbak," Sindy mengiyakan saja.
Ia menguatkan hati saja sekarang, maklum saja jika suaminya semakin sibuk banyak pekerjaan yang harus ia tangani dan lakukan di tambah lagi Papanya sudah mengundurkan diri itu membuat Cheval jadi tambah kalang kabut, cita-citanya menjadi Dosen seumur hidupnya harus kandas sebab permintaan dari sang Papa untuk menggantikannya di hotel, apartemen dan usaha lainnya.
Sekitar setengah jam Cheval kembali.
"Sayang."
Sindy menatap ke arah pintu antara senang bahagia bercampur aduk, jika sudah sehat pasti dia berhamburan memeluk erat tubuh Cheval dengan posesif.
"Aa," merentangkan kedua tangannya, Cheval paham pasti Sindy ingin di peluk seperti biasanya.
Cheval langsung memeluk tubuh Sindy yang berada di atas tempat tidur.
Kediaman Erdana Khan.
Lais memobolakbalikkan beberapa berkas yang ada di tangannya, file yang ia dapatkan tidak sesuai dengan data-data yang ada.
"Bagaimana sih pekerjaan mereka di kantor, di tinggal tidak seberapa lama tapi berantakannya seperti aku gak kerja dua tahun. Bisa-bisa usahaku ini hancur dan bangkrut pelan-pelan di tangan mereka ini." Lais menyambar jas dan memasukkan berkas tersebut ke dalam tasnya.
"Sayang, mas berangkat dulu ya. Ayo Princess kita berangkat sudah selesaikan memasukkan bukunya di dalam tas?" menemui putrinya.
"Hati-hati mas!" Momo menerima uluran tangan suaminya dan mencium punggung tangannya.
Lais dan Princess berpamitan berangkat ketempat masing-masing yang satu ke kantor dan satunya lagi ke sekolah. Tidak lupa juga mereka berdua berpamitan pada si kembar yang sedang tertidur pulas sambil berjemur di bawah sinar matahari pagi.
__ADS_1
Momo menutup kembali kereta dorong yang barusan di buka sebab Papa dan Kakaknya berpamitan pergi. Sinar matahari sangat baik untuk bayi setelah lahir, semua orang pasti tau akan hal ini.
"Cepat besar ya nak, Mama tidak sabaran ingin melihat kalian tumbuh bersama dan bermain bersama pasti rumah ini tambah ramai dan tidak sepi lagi ketika Kakak kalian sekolah dan Papa berkerja." Momo ikutan berjemur juga.