ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. Pilihan di tangan sendiri


__ADS_3

Momo melepas dekapannya dari sang putri.


"Tapi kalian harus secepatnya menikah dengan pasangan kalian masing-masing." Ucap Mama sambil menatap anak-anaknya secara bergantian.


"Jangan terburu-buru Mama dan jangan memaksakan kehendak Ma," Dilan tidak setuju begitu saja lagian cari jodoh gak segampang cari semangkuk sup buah.


Momo tidak kehabisan akal, sepertinya mencarikan pasangan untuk Princess adalah yang terakhir kalinya, supaya ia yakin jika Dilan yang sudah ia anggap putranya memiliki perasaan pada Princess atau tidak ia sekedar menduga-duga saja.


"Baiklah, Mama tidak akan memaksa. Oh... ya Princess sayang, tadi Mama kesini hendak mengenalkan kamu dengan beberapa laki-laki baik, coba kamu temui mereka besok. Mama akan menjadwalkan pertemuan kalian." Seringai licik terlukis di wajah Momo setelah keluar dari kamar Princess putrinya.


Dilan melebarkan penglihatannya saat Princess kakaknya mengangguk mengiyakan tawaran sang Mama.


"Kak, kamu yakin?" Dilan terlihat tidak percaya.


"Iya, yakin. Seratus persen malahan!" Jawabnya berbohong, padahal dalam hati ia memendam kekecewaan yang teramat berat sekali.


Rasa cinta yang ia miliki ini terlalu besar dari hari ke hari, sampai-sampai amarah dan kecewa yang ia rasakan sirna. Tapi Princess sadar jika Dilan hanya melindunginya selayaknya adik pada sang kakak, tidak mungkin bisa lebih.


Maka dari itu Princess langsung setuju saja, siapa tau salah satu dari mereka sifatnya ada yang seperti Dilan, lembut dan penuh humoris tentunya pekerja keras seperti Dilan Malik.


"Apakah ada di dunia ini, orang seperti Ilan? Jika ada tolong berikan kepadaku saja."


Ada-ada saja Princess ini, memohon tapi pilih-pilih. Karakter pasangan tidak ada yang sempurna di dunia ini, kecuali kita yang membentuknya dengan cara bersama saat suka maupun duka. Serta merubah dari yang buruk ke yang lebih baik lagi.


"Kak, apa kamu sudah memaafkan atas perbuatanku tadi?" Dilan masih tertekan batinnya.


"Meski ada rasa kecewa berat, tapi aku berusaha memaafkan kamu Ilan. Pergilah, aku mau istirahat!" Jawabnya berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya sebelum tidur.


Dengan berjalan seperti mayat hidup Dilan meninggalkan kamar tersebut.


"Kenapa rasanya dada ini tidak tenang, saat kak Princess menyetujui rencana Mama untuk mengajaknya kencan buta?" Dilan mengusap dadanya yang terasa sesak dan tidak nyaman.


Saat berada di dalam kamar. Dilan menatap langit-langit kamarnya dan kedua tangannya menjadi bantalan untuk ia melamun dan memikirkan apa yang ada di pikiran Princess.


"Ada apa sih dengan rasa yang ada di dada ini?" Bertanya-tanya pada diri sendiri.


Keesokan paginya.


Momo masih saja mengompori putranya untuk bergerak maju, dari pada di dahului orang lain yang akan ia sesali nantinya.


Dilan hanya mengangguk-angguk saja mendengar penuturan Ibunya. Antara bercanda atau sengaja, pasti mama Momo ingin mengetes lagi kedepannya.


"Asal kamu tau Dilan, dia punya laki-laki yang teramat ia idam-idamkan. Tapi sayangnya dia gak peka sama sekali, malah terkesan cuek dengan perasaannya." Momo tersenyum penuh arti.


"Siapa Ma?" Dilan di buat penasaran dengan teka teki ini.


Momo mengangkat kedua bahunya seraya masuk ke dalam mobil sambil melambaikan tangannya pada sang putra.


Dilan merasa hawatir dengan Mamanya yang lebih suka mengemudikan mobilnya sendiri, dari pada menggunakan jasa sopir. Tapi demi keselamatan orang tua tunggalnya ia menyewa beberapa mata-mata untuk mengawasi Ibunya.


Di Hotel Royal Malik


Dilan memutar-mutarkan bolpen yang ia gunakan sambil mencoret-coret tidak jelas di kertas kosong.


"Tuhkan galau jadinya, makan gengsi sih. Jadi penasaran siapa laki-laki beruntung itu, kata Mama dia laki-laki sempurna di hidupnya." Dilan menyandarkan dagunya di atas bolpen.


Princess yang berada satu ruangan mulai hari ini menatap malas, padahal ia baru saja datang setelah menyelesaikan kekacauan di kamar Dilan. Sampai-sampai ia terlambat berangkat ke kantor, entah dapat gaji berapa bulan ini yang jelas ia sering terlambat gara-gara Dilan.


Dilan sedari tadi melamun sambil memainkan bolpen di tangannya.


"Nih anak kesambet apa, biasanya usil banget. Tumben jadi pendiam, sudahlah dari pada pusing sendiri lebih baik aku mempersiapkan diri untuk bertemu orang yang sudah janjian. Lagian menolak perintah orang tua bukannya dosa."


Princess segera menyelesaikan pekerjaannya. Sebagai asisten pribadi ia hanya menyiapkan keperluan Dilan, seperti seorang istri saja. Jika di tanya kenapa masih mau berkerja dengan Dilan dan masih mau satu rumah dengannya.


Jawabannya satu, sebagai pertanggung jawaban sebagai kakak perempuannya dan harus melindungi dan bersikap sebaiknya sebagai kakak pengganti mama kandung mereka yang telah tiada sejak Dilan masih kecil dan baru di lahirkan saat itu.


"Kak Princess." Pembukaan percakapan yang aneh.


"Apa," sambil menatap malas.

__ADS_1


"Tidak jadi." Dilan segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum nanti membuntuti Princess.


Princess hanya geleng-geleng kepala, semoga Dilan tidak membuat masalah nanti.


Sore hari.


Cafe Bunga.


Princess yang baru datang langsung duduk sesuai dengan pesan yang di berikan oleh Mama, Mama Momo padanya tadi malam.


Princess sebenarnya enggan datang, tapi ia juga penasaran apakah Dilan akan membuntutinya diam-diam ke kencan buta nya ini.


"Hallo selamat sore." Sapa seseorang yang terlihat sangat manis dengan senyumnya.


Sama seperti di foto yang Mamanya tunjukkan tadi malam.


"Kamu Lian?" Princess mengulurkan tangannya. "Perkenalkan saya Princess Erdana Khan," senyum ramah tertampil di wajah Princess.


Princess hanya mengenakan pakaian biasa, ia tidak mau terlihat mencolok di tempat umum seperti ini.


"Iya, senang berkenalan dengan wanita secantik dan selembut kamu." Lian menyambut uluran tangan Princess sambil tersenyum ramah lalu ia duduk di depan Princess.


Benar-benar laki-laki gemulai, bukannya sok meremehkan atau menghina fisik tapi ternyata Princess tidak bisa menyukai sikap laki-laki yang ada di depannya ini. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus menyelesaikan amanah Mama Mama Momo untuk bertemu beberapa laki-laki lagi.


"Apa-apaan ini, kenapa kak Princess bisa selepas itu tertawanya. Huh... mendadak ada suhu panas di tubuhku ini, sepertinya AC mati dan aku butuh minuman yang dingin-dingin." Gerutu lirihnya sambil mengepalkan tangannya di bawah meja. Dilan ternyata bisa juga kebakaran jengot.


Princess tersenyum manis saat ia tidak sengaja melihat Dilan yang tidak jauh darinya.


"Kenapa tidak jauhan sedikit sih menguping nya, kelihatan banget posesifnya. Aa... ha... ha..., aku yakin setelah ini aku di protes olehnya seperti kemarin-kemarin."


Makan malam kali ini berjalan baik, namun orang yang baru di kenalnya itu. Tidak ada ketertarikan dengan Princess, sebab ia tiba-tiba harus kembali pada kekasihnya yang sedang sakit dan butuh dirinya.


"Hampir aku kira dia itu suka dengan sesama jenis, ternyata masih normal meski wajahnya sangat imut dan cantik." Pujinya setelah Lian pergi dari tempat tersebut.


Dilan yang sedari tadi ada di dekat Princess langsung duduk di sampingnya.


"Sepertinya, kamu menyukai laki-laki yang seperti boneka perempuan itu, lembek dan lemah." Menghina dengan kejam sekali.


"Bisa gak sih kamu tidak merendahkan fisik orang lain, kamu yang seperti ini bukan Ilan yang aku kenal. Melainkan orang lain," Princess tidak menyangka jika Dilan adiknya bisa berucap seperti ini, rasanya kecewa sekali.


"KAK PRINCESS." Dilan mengejar Princess sambil berteriak memanggil nama kesayangannya.


Princess yang terlanjur sakit hati kini termenung di sebuah taman kecil.


Pikirannya melayang kemana-mana, jika suatu hari nanti Dilan tau jika dirinya mencintainya selama ini secara diam-diam. Apakah Dilan akan menerima dengan membalas cinta atau kah yang ia dapat hanya hinaan karena ia terlahir sebelum pernikahan, yang ia tau ia di besarkan oleh papa kandungnya yaitu Lais Erdana Khan.


"Minum ini." Menyodorkan air mineral dingin pada Princess.


Dilan duduk di samping Princess.


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang menggangu pikiranmu Kak Princess?" Dilan menenggak minumannya dengan banyak tenggakkan, sampai terlihat jakunnya naik turun saat menikmati minuman segar dari botol tersebut.


Wajah Princess langsung memerah.


"Tidak, emm-- Ilan jika ada yang menyukai kamu. Tapi kamu tidak ada rasa padanya dan hanya menganggap ia sebagai saudara atau kakak atau mungkin adik saja, bagaimana?" Pertanyaan Princess langsung mendapat senyuman dari Dilan.


Dilan langsung menatap Princess dengan ekor matanya. Sepertinya dia mengajak bermain tebak-tebakan, melayani permainan dia saja dulu deh.


"Tergantung!" Jawab singkat dan padat.


Princess menghela nafas panjang, ia tadi bertanya pada Dilan pasti ini jawaban yang ia dapatkan.


Cuma seperti itu jawabannya, mengecewakan sekali Dilan ini. Pemberi harapan palsu, ibarat kata baru juga layangan di terbangkan ke angkasa tiba-tiba tali yang ia pegang langsung di potong pakai gunting.


Princess memainkan jari jemarinya.


"Ada apa kamu bertanya seperti itu kak Princess." Dilan meletakkan botol minumannya di samping ia duduk.


"Tidak apa-apa," Princess menatap indahnya langit yang penuh dengan bintang.

__ADS_1


Dilan menatap indahnya wajah Princess yang terpantul cahaya bulan.


"Sekarang gantian aku yang bertanya. Jika orang yang kamu sukai itu, sedang mencintai wanita lain. Apakah kamu akan merebutnya atau pasrah?"


"Sepertinya jalan satu-satunya aku pasrah menerima keadaan Ilan, lagian mana ada orang yang mau denganku. Asal usul tidak jelas dan aku hanya anak pungut di jalan yang Mama rawat sejak aku kecil!" Tiba-tiba air mata Princess membanjiri pipi cantiknya.


Dilan menenagkan Princess.


Princess matanya sembab, saat berada di rumah ia segera mencari kompres untuk mengompres matanya yang bengkak akibat menangis tadi di taman.


"Aku mohon kakak jangan menangis lagi." Dilan mencium dahi Princess.


"Tidak akan, tapi jika itu terjadi pasti orang yang aku cintai yang membuat aku menangis Dilan," Princess memejamkan matanya saat Dilan mengompres kedua mata Princess secara bergantian.


"Kenapa sih kamu dan Mama membuat teka teki kak, coba aku ingin tau laki-laki seperti apa yang beruntung mendapatkan hati kamu itu?" Dilan penasaran.


"Dasar Ilan bodo* ya tentu saja kamu. Tapi jika aku bicara jujur bukankah artinya aku nembak dia. Tapi jaman sekarang perempuan nembak lebih dulu banyak ko. Tapi..."


Princess kebanyakan mikir yang enggak-enggak. Lebih baik di ucapkan saja dari pada nanti di dahului orang lain.


"Jangan sok kepo kamu Ilan." Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba ucapannya kembali ke semula, ketus dan menyebalkan sekali.


"Sudah baikan belum?" Dilan lebih mengalah saja, biarkan dia mengeluarkan semua kekesalannya itu. Dari pada di pendam lama-lama, meski ia lebih suka Princess berbicara lembut sedikit.


Dilan Malik memaklumi perkataan Princess yang lebih ketus dan terkesan cuek. Andai kejadian kemarin tidak terjadi, pasti sekarang ia dan Princess akan bercerita dan tertawa bersama lagi. Tapi itu semua sudah terjadi dan sekarang perbaikan diri saja.


"Kak, maafkan aku. Meski ribuan kata aku ucap tidak akan pernah benar-benar kamu maafkan, aku tau pasti memori itu akan membekas di hati dan pikiranmu. Aku terima kak Princess."


Kamar Princess


Usai mengompres mata tadi, Princess pergi begitu saja. Jantungnya tidak sanggup harus menghadapi pesona Dilan yang begitu memikat hati.


"Kamu ini sangat tampan dan mempesona Ilan, nanti saat kamu punya kekasih kamu harus benar-benar mencintainya dengan tulus dan jangan kamu sakiti. Aku akan mendukung kamu dengan dia, tapi-- jika dengan si cabe merah itu aku tidak setuju. Bisa-bisa kesombongan dia jadi tingkat tinggi lagi."


Berucap lirih sambil mengusap foto Dilan yang sedang menatap dirinya sambil mengerutkan kedua alisnya, lalu Princess menggeser foto dirinya berdua dengan menggunakan kemeja yang sama berwarna putih cerah.


"Menarik hati jika terus-terusan seperti ini. Tidak boleh, aku harus mencari laki-laki lain. Jika nanti ada keluarga Dilan yang lain tau, pasti aku akan di hina karena asal usul ku yang lahir di luar pernikahan dan juga anak yang di buang ibu demi karir saat dulu." Princess segera menutup layar ponselnya.


Pagi hari di hotel Royal Malik


Tiara dengan percaya diri tingkat tinggi berjalan lenggak lenggok layaknya model yang memamerkan pakaian yang ia kenakan, namun terkesan centil dan di buat-buat.


"Hey kamu asisten biasa-biasa saja, jangan sok dekat bos Dilan ya. Mentang-mentang asistennya."


Princess menanggapi dengan memutar mata saja, lagian dia juga tidak tau jika dirinya bahkan satu rumah dengan Dilan bos yang ia puja-puja itu.


"Terserah kamu mau berucap apa Mbak, yang penting saya tidak murahan seperti anda." Ucapan dingin Princess lontarkan sampai ada suara.


PLAK


Pipi mulus Princess di tampar begitu saja oleh seseorang yang tidak menyukai Princess berdekatan dengan Dilan Malik. Sebegitu mempesonanya Dilan di mata para wanita-wanita berbaju minim itu.


Princess tidak tinggal diam, ia langsung menampar balik orang itu sampai jatuh tersungkur di lantai.


"Anda pikir anda siapa hah. Berani-beraninya menampar saya, jika kamu tau aku siapa kamu mampus saat ini juga." Sambil memukul meja di samping ia berkerja.


Princess tersenyum licik.


"Coba... aku ingin tau siapa kamu, bukannya kamu hanya sekretaris yang sedang menjajakkan tubuh kamu ke orang-orang demi uang." Princess tidak selugu dan sebodo* yang orang-orang pikirkan, ia sudah lebih dulu mencari informasi dengan orang yang akan datang di perusahaan ini, contohnya seperti wanita itu yang bernama Qiezi (terong ungu).


Princess langsung di tampar oleh Tiara, tepat di mana wanita yang ada di sampingnya itu menampar Princess.


Princess pura-pura lemah saat tidak sengaja Dilan baru saja datang.


"Apa-apaan ini, kenapa kamu menampar asisten saya. Saya tidak mau tau, kamu pergi ke HRD dan minta gaji. HARI INI JUGA." Teriak Dilan sambil menunjuk ke arah ruang HRD.


Di ruang pribadi Dilan


"Maaf aku terlambat datang Kak Princess." Sambil mengusap darah yang ada di sudut bibir Princess.

__ADS_1


"Terimakasih Ilan," sedikit bergetar Princess berbicara.


Dilan tersenyum lalu ia mengobati luka di wajah Princess.


__ADS_2