ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
98 Drama baper


__ADS_3

Setelah pertempuran nya selesai kini Sacha dan Aurellia merebah kan tubuh nya masing-masing, rasa lelah bercampur bahagia menyelimuti sepasang suami istri yang sedang berbulan madu di pulau yang sangat menawan ini.


"Ayo kita tidur dan lanjut kan besok," Sacha memeluk erat tubuh Aurellia, sementara Aurellia yang malu dengan apa yang terjadi membenam kan wajah nya di dada bidang Sacha.


Kediaman Malik.


Seperti hari kemarin-kemarin Daysi jika sudah membaring kan tubuh nya tidak bisa bangun, padahal saat ini ia mau buang air kecil.


"Sat... bangun, aku tidak bisa bangun ini." Mengoyang kan tubuh Ksatria agar terbangun dari tidur nya, namun bukan nya bangun Ksatria malah mendengkur dengan kencang nya.


"Haduh... suamiku pasti capek seharian kerja, bahkan sewaktu di rumah juga. Sudah lah lebih baik aku mencoba senam ibu hamil siapa tau bisa bangun," Daysi memperaga kan senam hamil meski pun dengan susah payah mengngagkat punggung nya keatas.


Daysi merasa lega setelah menuntas kan misi nya di kamar mandi, sebelum melajut kan tidur nya ia minum susu kotak dan menonton drama kesayangan nya di tab.


Daysi mengusap air mata nya yang lolos begitu saja saat melihat perpisahan sepasang kekasih karena sakit, bahkan Daysi hampir menghabis kan satu kotak tissue padahal sore tadi baru saja di isi oleh Mala.


"Hiks... hu... hu..., kenapa tidak dari awal saja si cewek jujur jika dia sakit dan sudah stadium akhir, kenapa setelah drop beberapa hari baru jujur kemudian dia ninggalin si cowok untuk selama nya, harus nya jujur. Hiks...," Daysi mengusap air mata nya.


Andai Aurellia ada pasti sama-sama nangis menonton drama super baper ini. Ksatria yang sedari tadi mendengar isak tangis mulai terganggu, apalagi saat ingus beberapa kali terdengar di keluar kan. Ksatria menatap sofa di mana tidak ada pencahayaan kecuali dari layar tab yang ada di atas meja.


Ksatria menyingkap selimut nya dan berjalan mendekati Daysi yang sedang buang ingus, bahkan tisu sudah penuh satu tempat sampah sampai berceceran di lantai. Jika itu orang lain yang anti dengan hal-hal jorok seperti itu pasti langsung mengomel, tapi tidak untuk Ksatria yang tidak merasa risih dengan apa yang ia lihat.


"Jangan menangis terus, lihat tuh mata dan pipi sama-sama bengkak nya bahkan tuh hidung merah seperti hidung badut," mengusap lembut pipi Daysi.


"Drama nya ngena ke hati Sat.... hiks, dia... dia... sa... kit sendirian selama beberapa bulan terakhir dan... karena dia tidak ingin sang kekasih sedih... dia... dia... men... yembunyi... kan sakit nya dan berakhir si cewek nya meninggal karena penyakit ganas nya... yang sudah... sta...dium akhir." Daysi masih menangis dan berusaha menjelas kan meski pun ia sesenggukan mencerita kan nya.


"Sudah... oke... jangan menonton lagi ya, kasihan bayi kita," mengusap perut Daysi. "Apakah dia tidak bangun mendengar kamu menangis?" mengusap-usap perut Daysi.


"Menyebal kan, dia tidak bangun karena juga ikut menonton drama dengan mama nya."

__ADS_1


"Ikut menonton, pantas saja diam," Ksatria tertawa. "Ayo kita lanjut kan tidur lagi sayang."


"Ayo," Daysi naik ke atas ranjang.


"Daysi."


"Eemm... apa," menatap wajah Ksatria yang ada di samping kiri nya.


"Lagi pengen, lihat tuh." Membuka celana piama nya. Daysi melotot kan mata nya melihat Ksatria yang terang-terangan menujuk kan benda ajaib nya.


"Dasar mesum, nafsuan." Dengan senyum menggoda nya.


Ksatria yang mendapat kode dari Daysi langsung sergap dengan hati-hati karena ada bayi yang harus tetap nyaman di posisi nya agar tidak menggangu aktivitas orang tua nya. Daysi yang sudah di berikan foreplay oleh Ksatria langsung menyuruh nya ke inti nya saja, Daysi kualahan jika seperti ini karena yang paling banya pelepasan hanya diri nya sementara Ksatria masih kuat saja.


"Sat... jangan main-main terus dong," dengan suara desahan khas milik Daysi.


Ksatria tersenyum dan segera menuntas kan hasrat masing-masing. Ksatria bermain dengan lihai nya begitu juga Daysi berusaha mengimbangi nafsu besar sang suami. Setelah lelah dengan permainan lembut Ksatria, Daysi pun tertidur sementara Ksatria masih terjaga setelah kegiatan panas nya tersebut.


Sepasang suami istri masih berada di dalam balutan selimut tempat penginapan, Aurellia berusaha merenggang kan otot tubuh nya yang kaku. Senyum terpancar di bibir Aurellia jika teringat pengalaman terhebat nya dengan Sacha, Aurellia menggigit ujung selimut nya tetapi pacaran senyum di wajah nya masih ada.


Sacha yang baru saja bangun menggosok mata nya dan menatap Aurellia yang masih tersipu malu.


"Selamat pagi," muka bantal Sacha sangat menggemas kan.


"Pagi," jawab Aurellia dengan tersipu malu.


Sacha mengerat kan pelukan nya sambil mengusap surai rambut Aurellia yang masih berantakan.


"Haduh... jantung ku rasa nya mau lepas dari tempat nya saat Sacha melakukan ini," gumam lirih Aurellia.

__ADS_1


Telinga Sacha yang masih berfungsi normal langsung menatap Aurellia, "masih mau lagi kah," goda Sacha sambil membisik kan di telinga Aurellia.


"Tidak, aku lelah gara-gara semalam,"


"Benarkah???" Sacha tidak percaya. "Ccuup, satu kali lagi oke." Dengan senyum nakal nya.


Sarapan pagi di kediaman Malik.


Daysi sedang menyapi Cheval di pangkuan nya sementara Ksatria membuat kan susu formula yang sudah di takar dahulu oleh Daysi tadi pagi.


"Apa ini terlalu panas, aku sudah mengukur nya sesuai hangat kuku," memberikan botol susu pada Daysi.


"Sudah pas," memberikan pada Cheval.


Cheval yang baru selesai makan nasi langsung meminum susu nya, meski pun Cheval suka makan tubuh nya kurus seperti Daysi.


"Apa kita harus membeli beberapa vitamin lagi, kenapa tubuh Aa masih saja kurus?" memegang lengan Cheval.


"Kalau takdir nya harus kurus bagaimana lagi, di belikan ini itu ya tetap kurus!" ucap Daysi sambil meratapi diri nya sendiri. "Dulu juga pernah aku beli obat penggemuk, tapi cuma sebentar kemudian kurus lagi setelah tidak konsumsi obat penggemuk," gumam lirih Daysi.


"Baiklah-baiklah jangan kepikiran lagi dengan ucapan ku barusan tadi, tidak usah membeli vitamin lagi oke." Ksatria mengacak-acak rambut Daysi.


"Haahh... jangan di acak-acak lagi, tuh kan rusak," memonyong kan bibir nya.


"Kenapa itu bibir, masih mau lagi ayo ke kamar kalau begitu." Ksatria menggoda dengan bercanda.


"Apaan sih enggak, kasihan bayi nya," Daysi sangat malu dengan ucapan Ksatria barusan. Apalagi saat ini banya orang yang sedang ada di rumah bahkan tukang servic ac juga ada di ruangan ini.


"Ya sudah jika tidak mau, aku berangkat dulu ya. Hati-hati di rumah jika bosan keluar lah berbelanja dengan Ria." Memberikan ciuman sebelum berangkat dan Daysi mencium punggung tangan Ksatria.

__ADS_1


***


__ADS_2