
Padahal ia tidak mau mengikat Gauri namun sepertinya harus segera di ikat dengan cara apa pun itu.
"Jangan berdiri di situ terus, nanti aku di kira jahat dan tidak menghargai tamu lagi." Gauri tertawa kencang.
"Lah sedari tadi gak kamu suruh duduk, mana berani aku duduk tanpa di suruh si pemilik rumah, lagian gak apa-apa berdiri sambil mengenang saat upacara bendera," Raden langsung duduk.
Hening sebentar.
"Gauri, kamu kenal dia sudah lama?"
Raden memang tidak tau apa-apa tentang Gauri dan masa kelamnya dulu, lagian itu rahasia dan aib makanya Raden tidak berani tanya macam-macam takut Gauri tersinggung dan enggan untuk di dekati lagi alias jaga jarak dari dirinya.
Bingung juga sih jika harus cerita, lagian jika ia ceritakan sampai akhir tahun juga gak akan selesai-selesai ceritanya. Lebih baik diam saja dan jaga rahasia, meski suatu saat nanti akan terbongkar entah siapa yang membongkarnya.
"Em ... ya lumayan, dulu sih!" malas membahasnya.
'Buat apa sih Raden bahas masa lalu pula, luka lama ini sungguh sulit di lupakan ternyata. Hem ... cinta pertama tapi kenapa aku bodo4nya gak ketulungan.' Mengomel pada dirinya sendiri.
Jika di ingat-ingat luka itu masih membekas di tambah lagi pengalaman luar biasa akibat bujuk rayu Aldy dulu selalu teringat, ia tidak bisa menyalakan Aldy saja dirinya sendiri juga salah yang tidak bisa menjaga miliknya, ia pikir Aldy baik tapi nyatanya busuk di belakang dan hanya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan saja. Sakit.. sekali di perlakuan begitu oleh orang yang di anggap cinta tapi nyatanya cinta sendirian.
"Lumayan bagaimana, lama atau sebentar."
Ternyata Raden ini kepo sekali dengan urusan pribadi orang lain, jika terus bercerita bukannya aib akan terungkap. Padahal bertahun-tahun ia memendam sendiri agar orang lain tidak ada yang tau tapi jika sekarang ada yang tau bagaimana, pasti malu diri ini jika sampai tersebar ke tetangga.
"Hem ... gimana ya, pokoknya dulu pernah satu SMA dan satu kelas sih. Oh ... ya ada apa kemari, tumben?" mengalihkan pembicaraan.
Lagian buat apa sih membahas mantan suami yang tidak terlalu penting, bikin sakit hati jika teringat.
"Eh, aku ada sedikit bonus kemarin saat kerja. Ini untuk kamu." Raden memberikan sesuatu bingkisan kecil.
Dari bentuk dan aromanya saja bisa di tebak apa ini. Gauri membuka bingkisan kecil sambil menatap ke Raden sebentar, setelah Raden mengangguk barulah ia membukanya.
"Waw ... coklat ini, terimakasih ya," Gauri berkaca-kaca saat melihat coklat khas kota XX coklat yang selalu mengingatkan dirinya dengan sang Nenek penolongnya saat dirinya hamil besar. Tapi.. setelah Zidan lahir dan berumur 7 bulan nenek Fatimah meninggal dunia.
Menjadikan ini pukulan terberat bagi Gauri sendiri,saat melahirkan nenek Fatimah membantu bahkan dengan tulus beliau memberi kehidupan yang tidak pontang panting kesana kemari.
Nenek Fatimah selalu membelikan coklat ini, coklat rasa kacang mete. Jika beda merek tidak bisa sama persis dengan coklat yang satu ini, jika di cari coklat ini sudah jarang di temui paling tidak harus putar-putar seluruh penjuru kota.
"Aku ingat, kamu suka sekali dengan coklat itu. Tadi di dekat tempat kerja kebetulan ada toko yang masih menjual coklat itu, jadinya aku belikan deh." Raden tersenyum bahagia.
Semoga usaha kecilnya ini membuat Gauri selalu bahagia, dan bisa melepas rasa rindu ke mendiang Neneknya.
"Ya ampun Raden, tidak usah repot-repot seperti ini. Tapi jika sering di traktir kayak ginian aku mau-mau saja, gratis gak pakai bayar dan ongkir kan?" sambil menikmati coklat itu.
Dunia oh .. dunia ada apa ini, apa ibu satu anak ini terlupa ada laki-laki kecil tampan di sampingnya yang sedari tadi ingin di suapi coklat oleh ibunya.
Raden hanya geleng-geleng kepala, sungguh lucu tapi menyebalkan sekali. Apa dirinya itu tidak peka sedikit saja, ish ... sepertinya harus usaha lagi.
"Gak ngerepotin ko, lagian satu arah saja dengan kantor. Hey.. tampan, jika mama kamu lupa lagi dengan kamu. Lapor om oke!"
Zidan mengangguk.
Gauri melempar Raden dengan sendal.
Raden sebenarnya hanya karyawan bisa tapi dia di tugaskan di luar lapangan saja untuk mengawasi jalannya barang yang masuk di gudang dan keluar gudang, Raden tekun dan rajin berkerja di PT. ELANG SEMPURNA. Perusahaan yang berkerja di bidang properti paling berpengaruh di kota XX.
"Jangan-jangan endingnya suruh bayar, gak bisa kalau sekarang. Bulan depan gak apa-apa, lagian bulan ini uangnya untuk bayar nih kontrakan. Biar si penagih kontrakan sadis itu gak ngomel-ngomel lagi."
Gauri selalu jujur, baginya jujur itu hal utama. Biar saja orang berpendapat, nih orang tidak bisa di ajak kompromi sama sekali. Kenapa sih selalu jujur jadinya kan gagal semua rencana, padahal sudah di suruh begini malah jujur saat di tanya orang lain.
Gauri memang tak memiliki banyak teman, hanya beberapa saja. Bukannya tidak mau tapi takut di tikung sahabatnya, bayangan sahabatnya yang mendukung tapi malah sahabatnya pula yang nikung. Meski saat SMP masih kecil dan di anggap cinta monyet saja tapi sakit hatinya masih terasa.
__ADS_1
Di dalam mobil ada seorang pemuda tampan saat jadi pacar jelek saat jadi mantan.
"Sedang apa sih mereka? keluar aja lama banget." Aldy hendak keluar dari mobil namun tiba-tiba Raden keluar dari rumah itu sambil tersenyum sebab Gauri mengantarnya secara langsung.
Gak salah lihat nih, Gauri begitu terbuka dan mau tertawa pada Raden sedangkan dengan dirinya apa yang ia lihat. Kesuraman, tekanan, tidak mau tertawa dan satu lagi dingin dan jutek sekali.
"Ini gak adil, masa dengan Raden saja senyumnya lebar gitu sedangkan dengan aku hanya menampilkan wajah masamnya."
Tiba-tiba Aldy datang.
"Gauri sayang." Cicitnya ketika sampai di pagar kontrakan Gauri.
Raden dan Gauri menatap ke pagar kontrakan, sejak kapan Aldy di situ atau jangan-jangan dari tadi mengawasi kontrakan ini dan mau di interogasi yang bukan-bukan di tambah lagi Aldy sudah dalam mode cemburu berat.
"Waduh ini, mati di jemur kayak ikan asin." Gumam lirih Raden dengan menggigit bibir bawahnya.
"Kalian sedang dalam pendekatan ya?" pertanyaan yang mengejutkan keduanya.
Gauri dan Raden menatap satu sama lain jika di jawab iya tidak mungkin, tapi di jawab tidak pasti Aldy tidak percaya juga.
Tapi apa urusannya dengan Aldy masalah pendekatan, Aldy tidak ada hak untuk melarang. Tapi Raden menatap nanar wajah Aldy dan Gauri bergantian.
"Aku kembali dulu ya Gauri, hati-hati. Dan untuk kamu Aldy, kamu tau mana yang baik atau tidak. Aku pergi dulu, Gauri aku pulang ya." Sambil melambaikan tangan.
Aldy mendengus kesal saja, kenapa Gauri tersenyum terus padahal Raden juga sudah pergi jauh tapi tatapan matanya terus saja ke dia, apa pria di dekatnya ini tidak menarik hati.
"Ngapain kesini?" ketus lagi padahal baru saja ia ramah tamah.
"Ko gitu sih ketus amat, apa tidak bisa lebih lembut sedikit untuk aku. Masa ke Raden lemah lembut penuh senyum bahkan mata kamu itu penuh kebahagiaan saat dengannya, apa aku tidak layak lagi membuat kamu bahagia Gauri sayang?"
Aldy sangat menyedihkan, dirinya dulu yang memutuskan tapi kini dirinya lagi lah yang meminta kembali. Gauri takut jika menerima Aldy lagi, takut di lukai dan hanya di butuhkan badannya saja tanpa cinta dan kepercayaan yang kokoh.
Gauri masuk ke rumah begitu juga Aldy mengikuti.
"Iya ... aku tau aku pernah punya salah ke kamu sangat besar, tapi kenapa kamu tidak memberikan aku kesempatan ketiga Gauri sayang?" Aldy seperti orang bodo* saja.
Tapi Gauri suka, biarkan saja ia merasakan kehilangan cinta. Dulu kenapa memutuskan mendadak begitu saja dengan alasan takut kehilangan hak waris, sedangkan apa sekarang ini memohon lagi dan lagi.
"Aku bosan mendengar kamu meminta kesempatan lagi Aldy, lagian hubungan itu sudah berakhir bukan," Gauri menegaskan yang sesungguhnya.
Ia tidak mau terluka lagi, meski kesucian miliknya tidak dapat kembali tapi bukan berarti harus kembali dengan orang yang merebut kesuciannya dulu bukan dan secara dia mantan suaminya.
Aldy marah sangat marah, tapi apa haknya untuk dia marah sekarang.
"Tolong ... beri aku kesempatan lagi Gauri, aku benar-benar menyesal Gauri." Aldy bersimpuh sambil mengeluarkan satu kotak kecil yang berisi cincin emas yang sangat cantik.
Tidak ada permata, tapi ada sebuah ukiran bunga, love, kupu-kupu yang di padukan dengan apik dan rapi. Seketika Gauri terpana dengan cincin emas yang ada ukiran begitu cantik sesuai dengan kesukaannya tapa adanya permata di cincin itu.
Gauri menutup mulutnya serasa tidak percaya, namun naas saat hendak menerima tiba-tiba ada seekor binatang kecil berupa belalang hinggap dan membuat Gauri ketakutan.
"AAA ...."
Teriakkan Gauri mengejutkan tetangga dekat kontrakannya. Dan kebetulan sekali tetangganya itu adalah Bu RT, Bu RT terkejut melihat kejadian yang teramat memalukan di RTnya saat ia tidak sengaja keluar rumah untuk patroli siang hari.
Tapi sebelum tersadar, Gauri terpesona dengan wajah dan mata Aldy yang begitu sangat dalam dan begitu misterius, ia ingin berdiri dan mengucapkan terimakasih. Tapi buat apa mengucapkan terimakasih kepada orang yang sudah merenggut keperawanannya dan juga yang sudah memutuskan dirinya kala itu gara-gara takut tidak dapat hak waris.
"Kalian." Sambil menunjuk Gauri yang berada di atas badan Aldy.
"Apa ... apaan ini, apa yang sedang kalian lakukan? kalian berbuat asusila di lingkungan ini?" gertak Bu RT yang terkenal tanpa ampun jika ada salah satu warganya yang bandel contohnya seperti yang ia lihat sekarang.
Aldy dan Gauri memperbaiki duduknya mereka berdua menundukkan pandangannya, benar-benar di jemur hari ini oleh Bu RT tau begini tadi gak datang biar gak jadi bahan gosip sana sini.
__ADS_1
"Kalian, ingin buat malu ya?" pak RT datang dengan tangan kirinya terdapat berkas-berkas entah berkas dan data apa yang di bawa oleh pak RT.
"Tidak!" jawabnya kompak.
"Kalian harus menikah sekarang juga, saya tidak mau kampung ini tercemar oleh perbuatan mesum kalian di kampung ini." Tegas Bu RT yang marah-marah.
Pak RT pun setuju dengan usulan istrinya ini, ini usulan yang sangat bagus dari pada nanti ada suara anak kecil dulu baru menikah atau perut besar lalu menikah. Lebih baik di segerakan tanpa halangan.
"Gauri, saya akan jadi wali kamu. Mengingat kamu tidak punya siapa-siapa lagi." Pak RT menawarkan diri begitu juga dengan Bu RT yang sangat berantusias.
"Tapi saya tidak setuju pak Rt, apa bapak tidak tau jika yang tadi di ceritakan oleh Bu RT itu tidak benar seratus persen. Ada belalang di kaki saya dan membuat saya terkejut bukan main, tapi naas saat saya teriak malah terjatuh sambil menimpa Aldy dan membuat saya berada di atasnya," Gauri menjelaskan tapi pak RT tidak percaya jika begitu ceritanya, ia lebih percaya pada istri nya.
"Saya tidak percaya, terus itu apa?" Pak RT menunjuk kotak cincin yang berada di samping Gauri dan Aldy bahkan cincinnya menggelinding tadi tepat di bawah kaki Bu RT.
Gauri dan Aldy menepuk jidatnya masing-masing, kenapa bisa itu cincin menggelinding tepat di bawah kaki Bu RT tambah rumit ini ceritanya, bukannya selesai malah tambah runyam.
'Ko bisa sih ... cuma gara-gara suara teriakan AAA doang bikin salah paham gini. Nyesel aku mempersilahkan masuk Aldy, ogah kalau jadi istrinya bisa-bisa aku di talak nanti.'
Gerutu Gauri dalam hati, sambil menatap Bu RT dan pak RT yang berada di depannya dengan menampilkan ekspresi sok berkuasa sekali, mentang-mentang menjabat sebagai RT.
"Maaf sebelumnya pak RT dan Bu RT, saya jamin di antara kami memang tidak berbuat macam-macam jadi tolong percaya. Tadi saya memang melamar dia tapi belum sempat dapat jawaban malah terganggu oleh belalang sialan itu." Aldy berusaha meyakinkan tapi pak RT dan Bu RT tidak mudah percaya, mereka berdua lebih percaya dengan fakta bukan opini.
Waktu berlalu begitu cepat.
Aldy menatap netra Gauri yang berembun.
"Kenapa?" bingung jadinya.
"Katanya Nenek kamu mengenalkan kamu dengan perempuan bernama Mariska!" leher terasa tercekat sekali, padahal baru tadi malam penghulu dan pak RT serta Bu RT menikahkan dirinya secara siri di depan penghulu dan pak RT dan Bu RT sebagai saksinya yang mewakilkan sebagai saksi.
"Bagaimana perkembangannya." Sambung pertanyaan Gauri.
"Aku bingung Gauri sayang, tapi aku mohon kamu percayalah padaku Gauri. Aku tetap mempertahankan kamu Gauri," menggenggam erat tangan Gauri.
Gauri tidak dapat memungkiri jika dirinya sedikit luluh dengan sikap yang Aldy tunjukkan, sebagai perempuan di perlakuan seistimewa ini pasti hatinya luluh lagi dan lagi.
Itu kilasan yang Gauri ingat dan selalu ingat kejadian berlalu sudah sekitar 1 setengah bulan yang artinya selama itu diri ini menjadi istri siri Aldy Sampoerna Guritno.
Tes
"Kamu dimana sih Aldy?" Gauri menatap layar ponselnya.
Tidak ada pesan dan tidak ada panggilan sama sekali dari Aldy, ia rindu di tambah lagi dirinya sah di Agama meski di Negara belum di akui. Berkali-kali Gauri mengirim pesan singkat dan juga panggilan tapi semua tidak ada jawaban, hanya memanggil tanpa adanya suara dering. Apakah Aldy memblokir nomornya, sebab ia tidak pernah mendapatkan pesan dan telponnya sampai di nomor Aldy.
Hari yang ia lalui sendirian begitu terasa menyakitkan.
Di tempat lain
"Aldy suamiku." Panggil Mariska pada Aldy.
Aldy menatap Mariska tanpa sehelai benang. Ya tadi malam dan pagi baru saja mereka melakukan percintaan, bahkan Aldy lupa jika dia juga miliki Gauri di luaran sana.
"Apa kamu ingin mengulang lagi Ar?" tanya Aldy begitu tidak tau malu.
1 bulan setengah meninggalkan Gauri ia lupa atau pura-pura lupa, padahal setiap hari dan detiknya Gauri menanti sang pujaan datang. Bertahun-tahun ia tidak bisa melupakan perasaannya pada Aldy sampai dirinya rela menjadi istri siri tapi apa yang ia peroleh, dirinya justru menjadi orang ketiga yang di lupakan oleh Aldy lagi dan lagi.
Gauri tidak tau semua itu.
*
Ayo dong dukungannya biar tambah semangat upnya.
__ADS_1