ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
203 S2. Kabar bahagia dari Sindy dan Cheval


__ADS_3

Momo yang lebih dulu masuk ke dalam mobil ternyata di hentikan oleh Lais yang berada di depan mobilnya.


Tin.


Tin.


Tin.


Momo sengaja mengklakson mobilnya agar Lais pergi dan menghindar, bukannya menghindar Lais tetap bersih kukuh di depan mobil. Momo mulai emosi dengan tingkah konyol yang Lais tunjukkan.


"Apa sih mau mu Lais." Bentak Momo yang tersulut emosi tiba-tiba.


"Eh... kenapa kamu jadi emosian seperti ini sih Momo?" Lais mendekati Momo yang baru saja membuka pintu mobilnya.


"Aku lapar ya, kalau kamu tidak mau aku telan sekalian dengan nasi goreng itu, minggir sana!" jawab Momo yang perutnya mengajak perang.


"Boleh, makan saja dan nikmati aku." Merentangkan kedua tangannya. Bukannya mendapat sambutan baik, perut Lais di pukul Momo tanpa tanggung-tanggung.


BBUUGGHH....


"Rasain, makanya jadi orang jangan sok kepedean." Momo langsung menutup pintu mobilnya kembali dan melajukan mobilnya tanpa melihat Lais yang masih memegang perutnya yang sakit akibat pukulan Momo yang sangat keras.


Setelah kepergian Momo, Lais tersenyum.


"Seharunya aku dapat pukulan yang lebih dari ini." Lais berusaha bangkit dan kembali masuk ke dalam warung nasi goreng.


Si penjual yang tidak sengaja melihat pertengkaran pembelinya hanya menatap terkejut, laki-laki setampan ini saja masih dapat pukulan. Apalagi yang wajahnya standar kebawah, sepertinya akan masuk rumah sakit.


"Mas Lais tidak apa-apa?" si penjual merasa kasihan namun ingin tertawa juga.


"Tidak apa-apa pak!" jawabnya terbata-bata sambil duduk memegangi perutnya.


Tadi Lais memesan nasi goreng sama persis dengan milik Momo. Dia menyantapnya dengan nikmat, seperti dulu.

__ADS_1


"Iisshh..., kenapa teringat dia lagi sih." Lais mengetuk kepalanya berkali-kali sambil memakan nasi goreng tersebut.


Momo yang sangat kesal dengan Lais, puas memukul perutnya. Setidaknya rasa kecewa sudah ia lampiaskan dengan memukul orangnya secara langsung.


"Sayang banget kalau tidak di makan, lagian tadi belinya juga tidak di rencanakan langsung pesan saja. Kenapa tadi Lais di sana juga, apa dia mengikutiku, eh... rasanya enggak deh kalau mengikuti. Bukannya kita tidak pernah bertemu lagi setelah aku memukul perutnya dengan tas ku sewaktu semester 2 saat kuliah." Momo mengingat kejadian lalu.


Ya sejak saat itu ia benar-benar kehilangan sosok Lais, selain jarang bertemu di kampus. Lais juga tidak pernah menghubunginya lagi. Dulu ia masih membiarkannya, tapi kemudian ada rasa rindu yang teramat dalam di hati kecil Momo.


Pagi hari.


Cheval membantu sang istri yang sedang tidak enak badan dan sepertinya sang istri sedang masuk angin, dari semalam bahkan Sindy mengeluh pinggangnya sakit. Padahal niatnya tadi malam Cheval ingin meminta jatahnya, tapi apa boleh buat sang istri justru sakit dan berakibat dirinya tidak memperoleh kehangatan.


"Apa masih mual sayang, kita ke Rumah Sakit saja ya. Di cek dulu, sepertinya kamu hamil sayang." Cheval mengusap lembut perut Sindy.


Sepertinya memang begitu, akhir-akhir ini sang suami memang meminta jatahnya tidak hanya 2 kali dalam satu minggu, bahkan hampir satu minggu penuh melakukannya. Setiap malam Cheval selalu seperti itu, Sindy pun tidak dapat menolak ajakan nikmat suaminya itu.


"Sepertinya iya sih Aa, kamu aja sering minta jatah berlebihan. Bahkan sampai aku tidak waktu sehari saja untuk tidak melakukannya, setiap hari. Mentang-mentang hidup hanya berdua, main terus kerjaannya." Sindy yang mulai baikan dan tidak mual lagi, langsung mengomel.


"Biarin, lagian jika di rumah kamu tidak minta selain aku yang maju dulu. Tapi yang aku suka di sini yaitu saat kita bermain kamu juga ikut bermain dan tidak malu-malu mengeluarkan suara merdu mu di kasur dan di situ," menunjuk bath tub.


"Aa." Panggilnya yang berusaha mengenakan pakaian meski tubuhnya serasa mau pingsan, lantaran sudah tidak ada tenaga lagi untuk berjalan.


"Iya sayang, ada apa?" mendekati istrinya.


"Tolong pegang kan tanganku ini!" Sindy mengulurkan tangannya.


Cheval yang melihat sikap manja Sindy merasakan curiga yang berlebih, benar-benar sedang berbadan dua ini istrinya. Jika tidak ia tidak mungkin bersikap seperti ini beberapa minggu terakhir.


"Aku siap jadi Papa, sangat siap." Cheval menciumi punggung tangan Sindy.


"Aku juga siap jadi Mama," Sindy juga ikutan bersemangat menyambut kelahiran sang buah hati.


Dengan hati riang dan bahagia sepasang suami istri bersuka cita menyambut buah hatinya yang sepertinya akan segera datang tahun depan.

__ADS_1


Saat berada di Rumah Sakit Sindy sangat antusias menanti kabar bahagia begitu juga dengan Cheval sang suami.


"Ini lihat, janinnya sudah sebesar ini dan tandanya pertumbuhan di dalam rahim sang ibu sangat baik, dan perkiraan usianya sekitar 6 minggu di hitung dari sebelum sang ibu datang bulan." Ucap Dokter dengan lembut.


Sebelum di USG sang Dokter menyentuh perut sang ibu yang masih tegang janinnya. Sindy sangat terharu penantiannya bertahun-tahun membuahkan hasil yang baik.


Setelah memeriksakan ke Dokter ternyata Sindy tengah berbadan dua, Cheval sudah tidak sabar memberikan kejutan pada keluarga besarnya.


Suara deringan ponsel masuk di ponsel Ksatria. Ksatria yang masih berkerja di ruang kerja hanya menatap sekilas, pasti kedua anaknya hanya memberikan kabar jika tidak bisa pulang untuk tahun ini.


"Pasti tidak bisa pulang lagi, alasan lagu lama." Ksatria tidak menanggapi telpon masuk tersebut.


Karena tidak ada jawaban dari Ksatria, kemudian Cheval menghubungi sang mama berharap ada jawaban dari Daysi.


"Nanti kalau mama juga tidak menjawab bagaimana sayang, kita sudah banyak sekali mengecewakan mereka karena kita tidak pulang-pulang?" Cheval mulai panik sendiri.


Daysi yang baru saja mandi langsung mengangkat ponselnya karena ada vidio call dari putranya.


"Ada apa Aa, telpon malam-malam seperti ini?" Daysi mengeringkan rambutnya.


"Ada kabar bahagia Ma!" jawab Cheval dengan menunjukkan foto USG Sindy.


Daysi menutup mulutnya, ia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Sindy tengah berbadan dua yang artinya ia akan menjadi nenek sebentar lagi.


"Aa, berita ini beneran? Aa tidak sedang ngeprank Mama kan?" Daysi masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Iya Ma!" jawab kompak Sindy Cheval yang saling berpelukan satu sama lain.


"Alhamdulillah jika kalian di karuniai seorang bayi yang akan lahir beberapa bulan yang akan datang, jaga dan rawat anak kalian. Mama dan Papa mendoakan agar kalian selalu sehat dan rejeki kalian melimpah." Doa Daysi pada putra putrinya.


"Aamiin," Sindy dan Cheval mengaamiinni doa Daysi.


Daysi terharu dan meminta putranya untuk menunjukkan perut Sindy dan ternyata masih rata belum membuncit.

__ADS_1


"Jangan lupa makannya di jaga sayang." Daysi menyentuh layar ponselnya.


Setelah pembicaraan panjang lebar dengan putra putrinya, Daysi menutup ponselnya dan segera beristirahat karena badannya serasa mau lepas dari kulitnya.


__ADS_2