ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. Penjelasan Raden


__ADS_3

Raden mendekati.


"Aku bantu ya."


Gauri terkejut dan hampir saja bahan-bahan segar untuk memasak jatuh tapi dengan sigap Raden menolong sehingga kejadian yang tidak di inginkan tidak terjadi.


"Boleh, oh.. ya tadi aku gunakan itu untuk memasakkan Zidan makan siang." Tunjuknya pada tahu dan telur.


'Apa Gauri belum makan siang, kenapa bahan-bahan yang sengaja aku persiapkan hanya sedikit yang di ambil bahkan banyak yang masih utuh, apa pagi dan siang Gauri tidak makan?'


Pertanyaan demi pertanyaan terngiang-ngiang di pikirannya, apa benar kecurigaannya selama ini jika Gauri sama sekali tidak menggunakan fasilitas yang ia persiapkan, kenapa? apa dia sengaja menjaga jarak agar tidak merasa di repotkan.


"Apa kamu sudah makan siang?" Raden bertanya dan menghentikan kegiatannya membantu Gauri memotong sayuran.


"Sudah, lihat saja itu!" jawabnya menunjuk magic com.


"Beneran?" rasanya Raden tidak percaya jika Gauri sudah makan.


Ia pun memeriksa tempat penanak nasi dan benar sudah tinggal sedikit nasinya berati Gauri makan pagi dan siang tadi tapi yang menjadi pertanyaan satu kenapa bahan-bahan dapur masih banyak apa dia tidak makan itu semua atau jangan-jangan selama tinggal di sini Gauri tidak makan-makanan yang benar hanya nasi saja.


Terus jika bahan makanan masih begitu banyak apa Gauri hanya makan sisa lauk anaknya yang sedikit itu, apa jangan-jangan ia takut Raden membahas semua makanan yang ada di lemari pendingin padahal semua makanan yang ada untuk dia dan putranya agar Zidan tidak menangis karena lapar atau saat Zidan butuh ini itu. Semua tersaji lengkap seperti minim market agar Gauri dan Zidan tambah betah tinggal di tempat ini tapi bukannya nyaman ternyata Gauri merasa sangat tertekan sekali hidupnya.


Raden hanya menerka-nerka saja, memang Gauri tidak banyak mengambil bahan masakan sebab ia ingat dirinya dan putranya hanya benalu menumpang hidup dengan orang, di tambah lagi seperti Raden sudah memiliki kekasih yang namanya Risa.. Risa itu yang sering di dahulukan, cemburu kata orang tapi ia tidak berhak untuk itu. Sebagai janda satu anak ia perbanyak sadar diri jika laki-laki mapan dan berpendidikan tinggi tidak mungkin bersama dengan wanita biasa-biasa saja di tambah lagi janda pula tidak ada yang bisa di banggakan kecuali ia bekerja keras dan memiliki uang banyak agar di hargai sedikit sebagai seorang janda, seperti orang tidak punya malu dan pengemis cinta bukan?


"Aku tidak berbohong, benarkan." Tersenyum.


Gauri menampilkan senyum terbaiknya, setidaknya jika nanti terusir dan pergi dari apartemen milik Raden setidak hanya ada kesan baik saja yang hadir bukan duka, saat tiba waktunya nanti setidaknya hati ini tidak terluka parah.


"Gauri, aku tanya sekali lagi. Apa kamu nyaman tinggal di tempat ini?" sambil memegang kedua bahu Gauri.


Gauri menggeleng.


"Kenapa?"


Apa salah dengan dirinya yang melarang Gauri berkerja.


"Aku ingin bebas, bukan tekan seperti ini Raden. Aku tau kamu orang baik dan tulus sehingga Zidan nyaman dengan kamu... tapi tidak untuk aku Raden, aku butuh kebebasan bukan tekanan yang membuat aku tidak nyaman. Apa kamu tau Raden, aku ini seperti burung kenari di dalam sangkar emas. Bukan hanya sekali aku terbelenggu oleh orang-orang kaya seperti kalian, dulu Shandy lalu Aldy terus setelah lepas dari Aldy justru kamu mengurung aku di apartemen kamu dan aku kamu larang ini itu. Aku manusia Raden bukan seorang boneka atau robot hidup yang kamu mainkan, aku pikir... kamu berbeda dari mereka tapi nyatanya kamu sama saja!" setelah menjawab pertanyaan panjang lebar itu Gauri beranjak pergi dengan membawa Zidan dalam gendongannya.


Rasanya tidak sanggup lagi, ia masuk ke dalam kamar dan mengemas barang-barang miliknya sewaktu pertama kali datang ke apartemen milik Raden.


"Mama." Suara Zidan menghentikan kegiatan Gauri yang mulai mengemasi barang-barangnya termasuk baju dan mainan milik Zidan.


"Iya nak?" tersenyum pada buah hatinya.


"Gak mau!" memeluk erat tubuh Gauri.


Gauri sampai meneteskan air mata, ia tau putranya sangat nyaman di tempat mewah ini tapi tidak untuk dirinya, ia tertekan seperti hidup segan mati tak mau.


"Tapi..."


Gauri meredakan egoisnya. Ia kembali mengembalikan barang-barangnya ke tempatnya masing-masing seperti biasanya dan Gauri melihat senyum bahagia terbit lagi dari wajah tampan Zidan.


Raden mengetuk pintu.


Tok


Tok


"Apa aku boleh masuk?" bertanya lebih dulu, tidak sopan jika dirinya langsung masuk begitu saja meski dirinya ada hak penuh atas apartemen ini.

__ADS_1


"Masuk saja!" jawabnya tenang.


"Apa bisa kita bicara berdua." Raden menunjuk luar kamar Gauri.


"Bisa, mau bicara apa lagi. Jika tentang Zidan aku rela tetap tinggal di sini, tapi jika tentang hal lain aku pikirkan dulu," Gauri duduk di tepian ranjang sedangkan Raden tak jauh dari Gauri tapi ia tidak duduk.


"Kalau begitu kita bicara di ruang tv saja, dan biarkan Zidan bermain dulu dengan kereta barunya." Raden mengendong Zidan sedangkan di tangan kanan kiri Zidan terdapat mainan kesukaannya.


Gauri mengangguk saja.


Gauri terdiam benar-benar satu patah kata saja tidak mampu tembus di bibirnya, rasanya pahit di dalam setiap rongga mulutnya.


"Gauri... aku ingin berbicara serius ke kamu, mungkin kata-kata yang aku ucapkan ini kurang enak untuk di dengar. Tapi.. aku mohon jangan samakan diriku dengan mereka yang pernah singgah dan melukai kamu Gauri, maaf jika aku menyinggung dan membuat kamu tidak nyaman di sampingku."


"Iya tidak apa-apa Raden, aku paham. Tanggung jawab kamu besar sebab kamu membawa orang tidak jelas seperti ku, aku tau itu," Gauri mengisyaratkan tangan agar Raden tidak menyela pembicaraannya.


"Maaf jika aku merepotkan, memang sebaiknya aku dan Zidan pindah dari tempat kamu ini. Sekali lagi terimakasih Raden," sambungnya lagi tanpa mau mendengar Raden berbicara.


"Gauri... tunggu bukan itu maksud ku Gauri." Percuma saja berbicara lantang pada Gauri jika Gauri saja sudah berlari masuk ke dalam kamarnya lagi.


Zidan hanya menatap ibunya berlari yang di susul oleh Raden yang ia anggap omnya saja.


"Apa lagi?" Gauri berdebat hebat di hatinya.


Di tambah lagi cengkraman tangan Raden yang kokoh di pergelangannya.


"Dengarkan aku!" langsung memeluk erat tubuh Gauri dan ia ingin mendengarkan detak jantungnya yang begitu hebat saat berdekatan seperti ini.


Gauri mendengarkan suara detak jantung Raden begitu cepat, apa artinya ini. Apa Raden sakit jantung atau gara-gara berlarian mengejar-ngejar dirinya, tiba-tiba Gauri merasa bersalah sudah menyebabkan detak jantung Raden berdetak begitu cepat.


"Apakah.. sakit jantung kamu? kenapa berdetak begitu cepat Raden. Apa kamu baik-baik saja, maafkan aku Raden terus terang saja aku tidak tau jika kamu sakit dan membuat kamu berlarian, aku benar-benar minta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi. Apa kamu tadi ingin membicarakan masalah ini, ya sudah kalau begitu kamu boleh ko membuat keputusan sepihak untukku dan membiarkan aku pergi agar pengeluaran kamu tidak membengkak sebab ada aku dan Zidan." Bicara tanpa henti padahal bukan itu maksud dari Raden.


Ternyata Gauri gak bisa di ajak bergombal yang ada kepalanya pusing dan pecah.


"Tidak ada kata-kata protes, mana obat kamu Raden jangan bikin aku panik Raden. Ayo.. dong come on Raden jangan bikin aku hawatir Raden."


Gauri mencari kesana kemari tapi hasilnya nihil tidak ada obat apa-apa di sekeliling kamar Raden bahkan di seluruh penjuru ruangan apartemen.


"Mana obatnya?" menatap tajam Raden dan panik.


"Tidak ada, aku tidak sakit Gauri!" menangkup kedua pipi Gauri dan langsung saja Raden membungkam bibir Gauri yang begitu lembut sekali.


Gauri tidak percaya Raden seberani ini pada dirinya, ia hendak memberontak tapi percuma Raden sudah menggigit bibir bawahnya dan membuat Raden begitu bebas bereksplorasi ke seluruh penjuru mulut Gauri.


Gauri awalnya memukul dada bidang Raden namun lama kelamaan pertahanannya runtuh juga ia mengikuti permainan Raden bahkan suara decapan begitu terdengar.


Raden dan Gauri kehabisan nafas mereka melepas tautannya.


"Aku mencintaimu Gauri." Raden dengan tulus menyatakan perasaannya pada Gauri.


Gauri terdiam, benarkah ini tidak bohongan. Apa perasaannya pada Raden terbalas, jika terbalaskan apakah akan sama seperti masa lalu yang nyatanya hanya di manfaatkan dan di lukai kembali.


"Kenapa tidak kamu jawab? apa aku terlalu berlebihan menganggap kamu selama ini ada rasa padaku. Ternyata benar.. aku mencintaimu sendirian," raut wajah Raden yang semula ceria dan bahagia kini redup berganti dengan wajah murungnya.


Hendak pergi tapi pelukan hangat dari belakang tubuhnya membuat Raden menghentikan langkahnya.


"Kamu salah Raden, kamu kira aku tidak cemburu saat kamu lebih mementingkan menolong Risa bahkan kamu lebih memperdulikan dia di tambah lagi kamu hanya menyukai Zidan saja tidak ibunya, aku..."


Raden membalikkan badannya.

__ADS_1


"Siapa bilang, aku sudah beberapa kali meminta Zidan untuk memanggilku ayah atau papa tapi dia malah bertanya apa itu ayah, aku bingung menjelaskannya jika aku jujur ayah itu seperti apa pasti dia akan menanyakan papanya seperti apa," penjelasan Raden cukup kuat untuk di terima.


Sebab pernah beberapa kali Zidan bertanya apa bedanya ayah, papa dengan om Raden.


"Lalu." Gauri penasaran dengan kisah sebenarnya ia kira Zidan dapat perkataan dari siapa ternyata dari Raden orang terdekatnya.


"Lalu apa lagi, gak ada! cuma segitu doang,"


"Masa." Tidak percaya.


Raden menarik tubuh Gauri dan membuatnya terhimpit sampai Gauri dan Raden saling merasakan sesuatu yang bangkit. Gauri merasa tidak asing dengan benda itu sebab tangannya ini pernah memegang tidak hanya sekali atau dua kali. Meski terkadang imajinasi liarnya berkerja tapi ia sadar sebaiknya di lakukan setelah menikah lebih barokah dan halal tentunya.


"Maaf, aku pinjam kamar mandinya dulu." Segera kabur dari hadapan Gauri sedangkan Gauri memilih menyusul putranya yang sendirian dan bermain di atas karpet bulu yang tebal dan lembut.


Tubuh kecil Zidan memeluk erat mainannya ternyata ia sudah tertidur di tempat itu, Gauri segera mengangkat tubuh Zidan dan menidurkannya di tempat tidur, ia melihat pintu kamar mandi masih tertutup rapat. Apa yang sedang di lakukan oleh Raden kenapa lama sekali, saat hendak mengetuk Gauri mendengar suara lenguhan Raden sambil menyebutkan namanya berkali-kali.


Gauri merasakan ngeri sekali, jangan-jangan dirinya di jadikan wanita hanyalannya untuk memuaskan naf$u. Gawat ini...


Gauri segera keluar dan menuju ke dapur dan pura-pura tidak tau menahu tentang itu, malu sekali. Ternyata oh ternyata selama ini otak laki-laki yang berada di dekatnya selalu menjerumuskan ke arah kemesuman yang hakiki.


Gluk


Gluk


Gluk


"Hah... leganya, benar-benar lari maraton malam ini, aku harus gimana ini?" galau, bingung dan malu tentunya.


Kenapa bisa Raden begitu dan memikirkan dirinya bahkan saat di puncaknya saja dirinya di jadikan hayalan pelepasannya.


"Gauri."


Raden mengejutkan Gauri yang baru saja selesai minum.


"Inalillahi, bisa tidak sih Raden permisi dulu kalau manggil," menebah dadanya yang berdegup kencang sebab terkejut bukan main.


"Kamu barusan menidurkan Zidan?" pertanyaan Raden membuat Gauri melebarkan matanya.


"Tidak," sambil menggeleng. "Tadi sewaktu kamu di kamar mandi aku langsung menyusul Zidan yang ternyata sudah tertidur di atas karpet lalu aku menggendongnya dan menidurkannya di kamar lalu aku pergi ke dapur, ada apa?" bohongnya padahal sudah mendengar lenguhan Raden.


"Benarkah, ya sudah kalau begitu. Cepat tidur my baby love!" sambil mencium dahi Gauri.


Debaran jantung memang tidak dapat di kondisikan, padahal mau runtuh ini kaki sebab tidak kuat menerima kebahagiaan yang begitu besarnya.


"Apaan sih Raden, mengungkapkan perasaan aja di waktu seperti itu, benar-benar gak ada romantisnya sama sekali." Menggerutu tapi bahagia, rasanya berbunga-bunga.


Tapi.. Gauri tersadar jika mencintai dan kagum bukan berarti harus memilikinya bukan, sebenarnya ia takut membuka lembaran baru tapi mau bagaimana lagi jika tidak membuka lembaran baru, tidak mungkin dirinya tetap berada di kubangan yang sama dan terpuruk di tempat. Diri ini harus kuat dan lebih kuat lagi, sebagai ibu dan singel mom ia tidak mau terus menerus berpikiran yang negatif terhadap orang lain, pasti kali ini ia berbeda.


Sedangkan Raden yang berada di kamarnya sendiri menenggelamkan wajahnya, malu pakai banget pasti Gauri mendengar suara merdunya.


"Aaa... malu." Guling kesana kemari.


Rasanya seperti mau tenggelam saja.


"Kalau Gauri tadi mendengarnya pasti dirinya ilfil ke aku, haduh mulut.. mulut.. bisa gak sih kalau di saat begitu jangan lepas kontrol memanggil namanya, jika dia beranggapan aku mesum seperti kedua mantan suaminya itu gimana." Sambil memukuli mulutnya sendiri sebab lancang menganggap Gauri sebagai teman fantasinya saat bermain Solo di kamar mandi.


Pagi hari.


Gauri mengenakan sarung tangan dan hendak membersihkan pot bunga yang berisi banyak sekali pecahan kaca, sebenarnya ini menanam bunga atau kaca sih Raden ini.

__ADS_1


"Laki-laki ko di suruh menanam bunga, yang ada tuh jadi begini masa pot bunga isinya bukan bunga hidup tapi malah mau mencuri kehidupan lain, kalau terkena tangan kan sakit untung saja Zidan tidak bermain di tempat ini."


Gauri bernafas lega, setidaknya putra kecilnya tidak suka bermain dengan benda-benda asing yang membahayakan untuk dirinya sendiri.


__ADS_2