
Ksatria heran dengan sikap Daysi seperti merencanakan sesuatu. Tetapi Ksatria hanya menatapnya sekilas dan tidak mau ambil pusing, mungkin iya ingin pergi ke suatu tempat.
"Eemm Daysi ini tujuannya mau kemana, sedari tadi hanya putar-putar saja hampir 1 jam loh ini kita keliling kota tetapi kamu diam saja tidak bicara apa-apa?" Ksatria membelokkan kemudinya ke kiri jalan.
"Jalan aja, aku memang ingin keliling kota ini. Karena kamu tadi bersih kukuh untuk menghantarku ya jadinya ini jawabannya." Daysi menatap malas wajah Ksatria. Ksatria tersenyum kecut.
"Kamu masih marah denganku?"
"Kamu pikir sendiri jika kamu di posisiku!" Daysi menjawab dengan jutek.
Ksatria tersenyum lebar dengan sikap jutek Daysi yang ia tunjukkan saat ini. Ksatria mengusap lembut wajah Daysi. Meskipun marah dengan Ksatria namun hatinya tidak bisa di bohongi detak jantungnya saat ini tidak bisa di kondisikan berdetak sangat cepat sekali.
Daysi segera menepis tangan Ksatria, Ksatria sedikit terkejut dengan sikap Daysi.
"Kenapa???"
"Belokkan mobil ke supermarket aku mau beli sesuatu!" jawab ketus Daysi.
Ksatria membelokkan kemudinya di sebuah supermarket dan memarkirkan mobilnya.
"Biar aku yang belikan, kamu duduk tenang di dalam mobil atau menunggu di coffe sebelah situ, oke. Mana daftar belanjannya?" Ksatria mengulurkan tangannya untuk meminta catatan.
"Nih..., karena kamu bersi keras ingin menggantikanku belanja. Beli semua tanpa ada yang kurang satu barang pun!" mengeluarkan catatan belanja dan memberikannya pada Ksatria.
Ksatria langsung menerimanya dan masuk ke supermarket sementara Daysi masuk ke sebuah kedai kopi.
Ksatria menggaruk rambutnya yang tidak gatal, "daftar belanja apaan ini kenapa namannya terdengar aneh, coba aku cari deh." Ksatria mendorong troli sambil melihat catatan yang di berikan oleh Daysi.
Daysi yang berada di kedai kopi memesan segelas kopi arabica sambil menunggu Ksatria selesai berbelanja kebutuhan bulanan. Daysi hanya tertawa ia yakin Ksatria bisa menemukan benda-benda yang di butuhkan.
__ADS_1
Ksatria yang baru saja keluar supermarket bernafas lega karena semua belanjaan sudah di beli. Ksatria tidak mengeluh sama sekali saat mengambil barang-barang kebutuhan wanita, toh di membeli kebutuhan istrinya bukan orang lain.
Daysi sebenarnya ingin tertawa saat melihat Ksatria seperti itu membawa banyak belanjaan dan baru kali ini seorang Ksatria Malik yang terkenal tidak mau membawa barangnya sendiri kali ini dengan lugunya membawakan belanjaan istrinya bahkan mengambil langsung barang-barang yang di perlukan.
Ksatria menatap ke arah Daysi, Daysi yang sedari tadi senyum-senyum segera mengalihkan pandangannya. Ksatria yang tidak sengaja melihat ada senyum di wajah Daysi langsung saja menghampirinya.
"Baru tau kan jika seorang Ksatria Malik akan melakukan apa pun demi orang yang ia cintai, bagaimana sudah puas belum melihat aku yang seperti tadi?" Ksatria tersenyum sangat manis.
"Hhaahh... aku akui, memang luar biasa. Apa semua keperluanku sudah di beli dan lengkap." Daysi beranjak dari kedai kopi tersebut, "jangan lupa bayar tagian kopinya aku habis 3 cangkir kopi barusan." Daysi melambaikan tangannya dan meninggalkan Ksatria yang terbengong.
"3 cangkir, tanpa membelikanku satu pun. Hikss... nasib-nasib demi meraih hatinya kembali, aku harus berjuang." Raut wajah Ksatria sangat sedih baru kali ini ia di buat tergila-gila oleh seorang perempuan yang tak lain adalah istrinya sendiri.
"Rasain tuh 3 cangkir tidak mungkin membuatnya jatuh miskin kan?" Daysi segera membuka bagasi mobil Ksatria. Daysi mengecek semua keperluannya bahkan sesuatu yang pribadi pun juga ada. Senyum terukir indah di wajah Daysi betapa beruntungnya saat ini dirinya jika laki-laki lain mungkin saja tidak mau dan berkata malu membelikan barang tersebut.
"Terpesona ya denganku?" goda Ksatria di telinga Daysi.
Saat berada di dalam mobil.
Keheningan terjadi bahkan musik juga tidak di putar, hanya ada deruman suara mobil saja.
"Terimakasih sudah membantuku belanja." Daysi segera memalingkan wajahnya.
Ksatria tersenyum setidaknya usahanya membuahkan hasil meskipun Daysi mengucapkannya dengan nada dingin.
"Sudah sewajarnya suami membatu istrinya belanja, apalagi belanjaan tadi banyak sekali pasti kamu kesulitan membawanya jika kamu tidak aku antarkan," Ksatria fokus mengendarai mobilnya dengan hati bergembira.
"Walaupun aku naik motor sendirian juga tidak susah dan barang-barang kebutuhan bulanan aku suruh hantarkan. Lagian aku sudah langanan supermarket itu dari dulu." Skak mat untuk Ksatria niatnya ingin terlihat seperti pahlawan kini sirna sudah angan-angannya.
"Kenapa aku baru tau jika belanjaan seperti ini bisa di hantarkan?" Ksatria memegang telinganya.
__ADS_1
"Dari dulu juga seperti ini kenapa kamu keheranan. Terlihar jelas tidak pernah belanja." Sindiran keras membuat Ksatria mati kutu di tempat.
"Daysi," menggengam erat jemari Daysi dan tidak ada penolakan. "Maaf ya..., aku sungguh-sunggu ingin meminta maaf padamu. Aku tidak berbohong jika aku benar-benar mencintaimu, jadi untuk kejadian pagi tadi bisakah kamu melupakannya dan memulai lagi hubungan kita?"
"Aku tidak tau Ksatria, saat ini aku binggung dengan keadaan ini. Ingin sekali aku melupakannya tetapi memori dalam otakku masih menari-nari, tetapi aku akan berusaha melupakannya lagian dia sudah tenang di alam sana. Selain itu dia juga tidak bersalah tidak seharusnya aku marah ke dia dan kamu!" Daysi menarik tangannya namun Ksatria tidak melepasnya begitu saja.
Kediaman Malik.
Ksatria tersenyum sambil menggengam erat tangan Daysi karena ini sudah lewat jam makan malam. Ksatria dan Daysi memutuskan untuk memasak makanan padahal masih banyak makanan di meja makan.
Mbok Yati dan Mala yang tadinya ingin kedapur tidak jadi setelah melihat Ksatria dan Daysi saling melempar candaan satu sama lain.
Setelah makan malam berdua selesai Ksatria mengajak Daysi untuk tidur di kamarnya. Ada perasaan berbeda saat masuk kedalam kamar Ksatria mengapa nuansa kamar ini menjadi romantis bahkan sprainya pun berganti dengan warna yang cerah.
"Sat..., apa tidak salah kamarmu jadi warna seperti ini?" Daysi keheranan dengan suasana kamar yang baru ini.
"Tidak, tidak ada yang salah bahkan sangat benar di lihat dan di nikmati, apa kamu tidak menyukainya." Ksatria memeluk Daysi dari belakang dan tangannya menyingkap kaos Daysi.
"Ksatria apa yang kamu lakukan?" Daysi berusaha melepas tangan Ksatria yang sudah masuk dalam kaos Daysi dan menelusuri setiap lekukan tubuh Daysi bagian atas.
"Aku menginginkannya Daysi, apa kamu tidak merasakannya." Ksatria mencium tengkuk leher Daysi.
"Sat... hentikan aku... aku..., sedang datang bulan. Apa kamu lupa?" Daysi berusaha melepas tangan Ksatria.
Ksatria langsung melepas pelukkannya dari tubuh Daysi dan buru-buru masuk kedalam kamar mandi.
"Kenapa aku bisa lupa jika Daysi datang bulan...," memukul-mukul lirih dahinya dan menyalakan sower untuk mendinginkan hasratnya yang hampir saja meledak.
Daysi hanya menggigit jarinya, saat mengingat Ksatria meminta sesuatu yang ia jaga selama ini.
__ADS_1