ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
132 S2 Dikira hamil


__ADS_3

Di tempat penjual batagor.


Sindy dengan senantiasa menunggu antrian yang ternyata tidak sepadat hari biasa yang mengantri hanya 2 orang saja, Sindy tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dia memesan beberapa bungkus bahkan ada yang sengaja saus kacang di pisah.


Cheval yang ikut turun hanya tersenyum geli, badan kurus makan rakus.


"Apa perutmu muat kamu isi sebanyak itu, apa tidak sakit nantinya?" sambil mengambil batagor dengan garpu yang sudah Sindy persiapkan dari rumah.


Ternyata sang istri ingin makan batagor sedari di rumah.


"Yang lain aku bungkus Aa yang ini aku makan di sini, jika Aa mau pesan sendiri sana aku masih kurang jika Aa mengambilnya terus menerus," sambil memasukkan batagor ke dalam mulutnya.


"Iya aku akan memesan sendiri, padahal enak banget loh milikmu itu." Cheval segera memesan batagor tersebut.


Kediaman Malik.


Sacha Mahendra hanya tertawa saat bola golf berhasil masuk ke sasaran. Ksatria yang kali ini kalah dengan permainannya hanya mendengus kesal, bagaimana dalam sejarah bermain dengan Sacha ia di kalahkan lagi, meski hanya selisih beberapa poin saja.


"Kamu bermain curang kan hari ini, kenapa kamu menang bermain." Ksatria berucap ketus pada Sacha.

__ADS_1


"Kalau kalah mengaku saja, tidak usah menuduh orang sembarangan itu bisa jadi fitnah loh, fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan," Sacha duduk di rumput lapangan golf.


"Cihh... lihat saja aku akan mengalahkan mu di permainan yang akan datang nanti. Aku mau masuk dulu jika tidak ada kepentingan kamu boleh pulang." Ucap ketus Ksatria pada Sacha.


Sacha yang mendengar ucapan ketus Ksatria hanya menatap sekilas dan langsung membuntuti masuk ke dalam rumah, lebih tepatnya ke arah dapur.


Mala yang baru saja menyiapkan makanan terkejut dengan kedatangan Sacha.


"Pak Sacha."


"Mbak Mala, ada makanan apa ini?" Sacha menatap ke arah kompor listrik.


"Oke, baiklah." Sacha berlalu pergi.


Ksatria yang melihat kedatangan Sacha hanya berdecak pinggang.


"Aku kira kamu sudah pulang, ternyata masih di rumah ini." Ksatria mengambil makanan tanpa menawari Sacha untuk makan.


Ternyata hormon semakin tuanya menjadi-jadi, Ksatria kian bawel saja. Pantas saja Sindy dan Cheval tidak betah di rumahnya sendiri, sang papa saja seperti ini. Padahal Daysi yang wanita saja tidak sesensi ini kenapa Ksatria yang laki-laki bisa seperti ini, aneh.

__ADS_1


"Sebenarnya ada masalah apa sih kalian berdua, kenapa saling menatap dengan tatapan tidak suka sepeti itu." Daysi menatap sang suami.


"Dia tuh, main curang tadi. Siapa yang tidak kesal coba," Ksatria mengunyah makanannya dengan kasar.


"???" Daysi menatap Sacha, sedangkan Sacha hanya mengangkat kedua pundaknya.


"Ya sudah pa, jika papa hari ini kalah kan besok juga masih bisa mengalahkan Sacha." Daysi berusaha menenangkan Ksatria yang sangat sensi saat ini.


Cheval dan Sindy yang baru saja pulang setelah jalan-jalan hanya menatap sekilas perdebatan kecil orang tua, dan memberikan salam.


"Apa kalian berdua sudah makan sayang." Daysi menyentuh rambut Sindy dan Cheval bergantian.


"Sudah ma, tadi Sindy ingin sekali makan batagor. Makannya kita pulang telat ma," jawab Cheval santai.


Sementara orang-orang yang ada di ruang makan langsung menghentikan kegiatan makannya.


"Apa kamu sedang nyidam Sindy?" tanya Ksatria.


"Siapa yang nyidam sih pa, lagian hari ini aku datang bulan. Makannya ingin makan terus!" jawab Sindy ketus kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


Semua orang menebah dada merasakan kelegaan, setidaknya biar lulus SMA dulu punya bayinya.


__ADS_2