ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
155 S2


__ADS_3

Jangan lupa pencet like, favorite, komen dan rate bintang lima ya, biar semangat aku mengetiknya.


Selamat membaca.


***


Emillia yang sudah berada di bandara Internasional hanya mendengus kesal, betapa bodohnya dia kenapa datang ke Indonesia.


"Terus aku harus bagaimana?"


Emillia yang sudah hafal dengan bahasa Indonesia langsung mencari kendaraan umum.


"Pak saya mau menuju ke alamat ini, uupss maaf saya kira tadi anda itu laki-laki." Sambil menunjukkan alamat tersebut kepada sang sopir taxi tersebut.


Sedikit heran dengan orang ini, apalagi alamat yang di tuju sepertinya tidak asing, atau jangan-jangan orang ini mau mencuri atau sejenisnya.


"Baik pak saya akan menghantar bapak sampai tujuan," jawab sang sopir cantik.


Meski ia perempuan tetapi tidak mengurangi semangatnya untuk berkerja, janji halal dan tidak makan uang haram.


Sindy yang berbicara serius dengan Cheval hanya menatap sambil mencari solusi.


"Sayang, maafkan Aa lagi ya. Dia tau loh alamat rumah kita." Ucap Cheval menggenggam tangan Sindy.


"Kenapa sih Aa, Aa itu selalu membuat aku marah, Aa ingin aku cepat tua dan rambut memutih biar Aa bisa menikah lagi begitu," hati Sindy sangat terluka akan hal ini. Omel Sindy yang menggebu-gebu.


Haduh suaminya ini meski pintar dan cerdas tetapi mudah sekali percaya dengan orang lain, bagaimana jika dia itu penipu atau orang yang ingin merampok kediaman Malik.


"Aa... jika terjadi sesuatu dengan keluarga Malik, Aa jadi tersangka dan harus membereskan ke kacauan ini." Sindy memijat kedua pelipisnya yang berdenyut ngilu.


Kenapa beberapa hari ini masalah datang silih berganti, masalah Momo belum tuntas lantaran sang ayah tetap bersih kukuh di tambah lagi calon pelakor yang sudah datang dan kemungkinan menuju kediaman ini.


"Sudahlah, urusan Momo biar dia atasi sendiri saja. Lagian yang punya perasaan kan Momo dan Lais sendiri, setidaknya aku sudah membantu berbicara dengan ayah meski hasilnya nihil." Sindy berjalan ke area taman depan dan meninggalkan Cheval.


Cheval hanya berdiri di pojokan sambil merenungi nasibnya nanti.


Emillia Miller kini berada tepat di depan gerbang rumah seseorang yang sangat asing.

__ADS_1


"Apa benar ini rumahnya, wahh... ternyata rumah Cheval besar dan mewah sekali." Emillia terkagum kagum dengan kediaman Malik.


Ttiinn


Ttiinn


Ksatria dan Daysi yang baru pulang dari hotel mengklakson gerbang agar satpam di kediamannya membukakan gerbang untuknya.


"Ma, siapa itu kenapa sedari tadi orang itu menatap rumah kita, apa ada yang salah dengan rumah kita." Ksatria memperhatikan orang asing tersebut.


"Iya... ya pa, sepertinya kita baru kali pertama melihat orang itu. Temannya Cheval mungkin, coba mama cari Aa dulu ya pa," Daysi segera masuk ke dalam rumah.


Sementara Ksatria berada di teras rumah sambil mengamati orang tersebut dengan teropong.


Daysi yang menemui putranya sedang gelisah di sudut ruangan.


"Aa, kenapa Aa berdiri di pojokan." Daysi melihat kesana kemari mencari keberadaan Sindy. "Kemana Sindy, tumben tidak ada?" Daysi duduk di sofa.


"Hhaahh..., kalian ribut lagi. Apa tidak ada kerjaan lain selain kalian bertengkar terus, capek Aa mendengar kalian bertengkar." Omel Daysi.


"Ma... hu... hu... hu..., Sindy marah dengan Aa gara-gara ada pelakor yang datang di depan gerbang itu," Cheval memeluk mamanya.


Daysi keheranan, pelakor. Di depankan seorang laki-laki kenapa di sebut pelakor, apa jangan-jangan dia menyukai putranya yang tampan dan mempesona ini, lucu sekali.


"Aa jangan bercanda deh, nggak lucu Aa bercandanya." Melepaskan pelukan putranya.


"Aa tidak bercanda ma, bahkan tadi dia mengirimkan pesan sayang sayang ke Aa ma," Cheval menangis tersendu-sendu.


Daysi ingin sekali tertawa dengan ucapan Cheval yang seperti sekarang. Masa iya laki-laki menyukai laki-laki, seketika Daysi terkejut bukan main. Bukannya ada orang yang seperti itu.


"Aa... apa Aa pernah melakukan hal intim sampai dia menyusul mu ke sini, apa kalian pernah ada suatu hubungan." Daysi mengawasi ruang tersebut takut Sindy berada di tempat ini.


"Tidak ma, dia cuma satu jurusan denganku saja. Bahkan kami berbicara saja jarang sekali bahkan tidak pernah ma, cuma 3 bulan terakhir ini dia belajar bahasa Indonesia denganku lewat email ataupun lewat pesan singkat, tapi ma Aa sungguh-sungguh setia dengan Sindy ma. Hanya dia orang yang Aa cintai dari dulu sampai sekarang," Cheval masih saja sesenggukan.


"Sindy apa sudah dengar ungkapan Aa, tidak usah sembunyi lagi. Cepat keluar nak." Daysi menatap pintu kaca yang berada tidak jauh dari ruangan tersebut.


"Benarkah itu Aa?" mata Sindy sedikit sembab.

__ADS_1


Cheval langsung berdiri dan memeluk tubuh sang istri yang kini mengenakan daster saja.


"Daster yang kamu kenakan sangat tipis sayang, bahkan aku bisa merasakan punggungmu." Bisik Cheval dengan lirih.


"Aa..., tidak ada malam yang panjang untuk Aa malam ini dan malam yang akan datang sebelum Aa membereskan laki-laki pelakor itu," Sindy juga membisikan ucapannya di telinga Cheval.


"Akan segera aku bereskan." Cheval langsung melepas pelukannya dan menuruni anak tangga untuk menemui orang yang menggangu rumah tangganya yang baru saja membaik.


Cheval menata Emillia dengan tatapan ketidak sukaan nya yang teramat berat.


Emillia yang melihat Cheval berjalan menuju ke arahnya menyunggingkan senyum tampannya.


"Dasar laki-laki sialan, kenapa kamu kesini dan berkunjung kerumahku?" Cheval membukakan pintu gerbang itu sendiri.


Emillia tersenyum lebar di sambut langsung oleh Cheval sendiri.


"Biarkan aku masuk dahulu, bukannya rumahmu ini sangat besar dan nyaman untuk bersantai dan di nikmati pemandangannya!" jawab Emillia sangat tidak tau diri.


"Tamu tak di undang, tidak sopan." Cheval melihat Emillia yang sudah masuk dan menikmati bunga-bunga yang ada di taman.


Ksatria yang masih berada di teras langsung menghampiri Emillia. Dia begitu emosi saat Daysi memberi tau jika laki-laki yang ada di depan itu pelakor.


"Hey... berhenti di situ." Ksatria berlari dan langsung memberikan bogeman mentah pada Emillia.


"Aww...," Emillia memegang pipi kirinya yang terkena bogeman mentah dari pemilik asli kediaman Malik ini.


Cheval tertawa melihat Emillia yang begitu sangat menderita di hari pertamanya ke Indonesia. Pasti Emillia terasa aneh bukannya orang Indonesia ramah jika menyambut tamunya tetapi kenapa ini yang di dapat, apa penyambutan yang ramah di sini itu seperti ini harus terkena bogeman mentah dulu.


"Awas saja jika kamu masih menggangu rumah tangga putra putriku, aku pastikan besok pagi sinar matahari tidak dapat kamu nikmati lagi." Ksatria menunjuk-nunjuk wajah Emillia berkali-kali.


"Aku punya salah apa, kenapa aku di tuduh perusak hubungan orang lagi?" Emillia menatap Cheval yang masih saja tersenyum meledek.


"Makannya jika tidak mau terkena masalah jangan mengirimkan pesan aneh-aneh ke aku!" jawab Cheval menarik baju Emillia untuk masuk ke rumahnya.


Benar-benar tidak ada sambutan baik dari keluarga Malik ini.


***

__ADS_1


Haduh kasihan sekali kamu Emil, sabar ya badai pasti berlalu.


__ADS_2