
Beberapa tahun kemudian.
Kehidupan berubah 180 Drajat baik Princess maupun Dilan, mereka sekarang benar-benar jadi orang asing tanpa saling menghubungi satu sama lain.
Apalagi keluarga Malik dan Mahendra sudah melepas status keluarga pada Dilan, tidak ada nama Malik di identitas dan pengenalnya semua sudah di lepas setelah sidang beberapa kali saat dulu masih umur 20 tahun lebih tepatnya 3 tahun sudah berlalu. Masih teringat jelas di benaknya saat itu, kelakuan buruknya bahkan tidak dapat di toleransi oleh siapapun itu.
Berbagai macam cara sudah di lakukan untuk menemukan Princess namun nyatanya Princess seperti hilang di telan bumi, benar-benar tanpa kabar sama sekali. Bagaimana keadaannya sekarang dan juga apakah makanan yang ia konsumsi baik dan masih banyak lagi rasa hawatir di keluarga Malik-Mahendra tentunya.
Tapi semua sudah terjadi, seandainya waktu dapat di putar kembali. Ingin rasanya tidak mengasuh anak dari wanita yang selalu menggangu keluarga Malik dan menyakiti putri kecil Malik yang bernama Momo.
ISTRIKU BETAPA AKU MENCINTAIMU VERSI BARU
(Gauri, Shandy dan Aldy)
Rumah besar dan cukup mewah ini adalah rumah hasil kerja keras Shandy sebagai pengusaha muda. Usianya masih 27 tahun tapi banyak prestasi yang ia ciptakan melalu tangannya yang terampil dalam mengelola bisnis kecil menjadi besar dalam waktu singkat.
"Mas. Apa ini rumah kita?" Tanya Gauri sangat bahagia tapi tidak untuk Shandy.
"Jika kamu suka, syukurlah. Mas mau masuk ke kamar dulu. Oh ya Gauri jangan lupa kamar kamu di lantai satu, yang itu dekat tangga dan siapkan makan malam juga, jangan lupa!" Shandy sedikit tersenyum. Tapi dalam hati ia ingin muntah berbicara dengan seperti itu pada Gauri.
Gauri yang mendapat senyuman itu langsung tersipu malu, baru kali ini ada seorang laki-laki yang mau tersenyum tulus padanya, yaitu Shandy suami yang baru saja sah di agama dan negara pagi tadi.
"Syukurlah jika mas Shandy berperilaku baik denganku saat ini, padahal aku lihat tadi pagi ia begitu terpaksa mengucapkan IJab Qabul waktu di KUA." Gauri menatap dirinya dari pantulan kaca.
Ia memang tidak pandai merawat diri, ia sangat cuek. Yang penting ia dapat mencari sesuap nasi untuk menyambung hidup.
Makan malam.
Shandy sama sekali tidak melihat Gauri sedikit pun, ia merasa kecewa setelah menikahi Gauri tadi pagi.
"Makanan ini lumayan, tapi setelah melihat wajahnya aku jadi malas menelannya. Tapi demi misi yang akan membuat aku untung berlipat-lipat ganda akan aku lakukan segala cara, lagian dia juga tidak tau." Batinnya berharap segera mendapat keuntungan dari usaha restorannya.
Shandy terpaksa tersenyum pada Gauri, semakin Gauri terpikat dengannya semakin banyak keuntungan untuk Shandy. Taruhan 10 M itu sangat menguntungkan bagi Shandy.
Klung.
Satu buah notifikasi masuk ke dalam ponsel Shandy, uang sebanyak 8 M sudah masuk ke dalam rekeningnya. Berati sisa 2 M lagi, ia harus menuntaskan sisanya.
✉️ Aku harus berbuat apalagi, sudah cukup aku menikahinya.
Shandy membalas dengan kesal.
Aldy yang berada di balik ponsel itu tertawa renyah, ia menyuruh Shandy untuk menyiksa batinnya dengan perlahan. Beri harapan palsu yang manis kemudian campakan wanita itu.
Dengan senang hati Shandy akan melakukannya lagian ia tidak ada rasa apapun padanya.
Shandy tidak sadar jika dirinya di jadikan bidak catur oleh Aldy. Aldy tertawa terus melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Maaf Shandy, kamu juga akan jadi korban permainanku. Lagian salah sendiri kamu merebut apa yang seharusnya milikku dan aku sakiti." Aldy merobek foto seorang wanita dengan pisau yang sangat lancip.
Aldy merasa sangat sakit dan sesak dadanya jika mengingat hari dimana ia kehilangan wanita yang paling ia cintai untuk selama-lamanya karena kecerobohan wanita yang membuang bola di jalan raya.
Demi dendam ia taklukan dunia dan menghancurkan apa pun itu.
"Sayang." Ucap Shandy tiba-tiba pada Gauri.
Gauri terkejut dengan ucapan yang baru pertama kali ia dengar keluar dari mulut suaminya. Hanya sekali itu saja selanjutnya Shandy memerankan suami romantis padahal itu bukan keinginannya. Ia menyuapi Gauri seperti penuh cinta saat beradegan mesra.
Kejadian ini berlangsung 6 bulan, meski mereka satu rumah tapi tidak ada kontak fisik, beberapa hari ini Shandy memperlihatkan sifat aslinya dia dingin dan diam tanpa bicara satu kata pun, Gauri berusaha mengajak Shandy berbicara baik.
__ADS_1
"Sudah aku capek Gauri berpura-pura seperti ini, satu catatan penting yang harus kamu ingat. Aku tidak mau punya istri seperti kamu lagi, lagian misi ku mendapatkan 10 M sudah tercapai." Shandy pergi begitu saja.
Semalaman Shandy tidak kembali ke rumah, entah ia pergi kemana. Selama ini tidak ada tukar menukar nomor ponsel. Jadi Gauri hanya menunggu cemas sang suami yang pergi dari rumah.
Gauri sudah ikhlas dan sepenuhnya berserah diri Kepada Yang Maha Kuasa, jika takdirnya seperti ini mau bagaimana lagi.
Beberapa hari kemudian.
Gauri masuk ke dalam rumah, rumah yang ia singgahi bersama dengan suami tanpa ada rasa cinta selama 6 bulan ini.
"Assalamualaikum mas." Ucap Gauri lembut.
Ia tadi baru saja membeli beberapa sayur di pasar, lumayan jauh dari rumahnya. Kenapa ia tidak menyuruh pembantu, jawabannya hanya satu ia masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah.
Deg.
Jantung Gauri serasa mau lepas dari tempatnya, seorang wanita muda dan cantik berdekatan dengan suaminya bahkan mereka saling berciuman satu sama lain bahkan tangan suaminya sudah masuk ke dalam celana kekasihnya, istri mana yang tidak terluka melihat secara langsung perbuatan suaminya ini. Jika memang tidak ada cinta, setidaknya jangan di rumah ini jika ingin melakukannya.
"Maaf menggangu, saya permisi dulu." Gauri menundukkan kepalanya, ia tidak berani menatap kedua insan yang sangat menjijikkan sekali pagi ini.
"Gauri, berhenti sebentar." Shandy memanggil Gauri dengan santainya. Apa dia tidak tau perbuatannya barusan sangat melukai hati istrinya.
"Iya mas," dengan mengumpulkan keberanian ia menatap sang suami yang baru saja mengelap bibirnya.
Hatinya merasakan sakit teramat dalam saat sang suami menyerahkan beberapa berkas, Gauri yakin itu adalah surat perceraian dari Shandy.
"Baca dan tanda tangani itu, mas tunggu sampai minggu depan." Shandy berdiri dan mengajak sang kekasih pergi dari rumah yang selama ini Gauri dan Shandy tempati bersama.
"Iya mas," mulut Gauri seakan penuh dengan lem yang sangat lengket.
Ia tidak dapat berbicara satu kata pun setelah kepergian suaminya itu, rasa lapar mendadak musnah setelah menerima berkas tersebut.
Ia kemudian duduk dan membaca dengan teliti surat tersebut. Ada pembagian harta untuknya, tapi Gauri tidak peduli. Ia segera menandatanganinya, ia sudah lelah mencintai suaminya seorang diri tanpa ada balasan dari suaminya.
"Aku lelah, bolehkah aku menangis sekarang. Hu... Hu... Hu...." Gauri meluapkan semua emosinya yang ia pendam selama ini.
Gauri gadis baik dan tulus, jika sudah mencintai seseorang ia akan lemah dan hanya tertuju padanya saja, jika ada yang mendekati dirinya. Ia akan menolak ungkapan cinta dari orang lain. Ia terlahir dari keluarga tidak berada, karena kemiskinan yang melanda di tempat tinggalnya. Membuat Gauri merantau namun 2 bulan merantau kedua orang tuannya tiada untuk selama-lamanya karena terjadi gempa susulan yang meratakan desa tersebut. Gauri sangat terpukul dengan berita yang ia terima.
Tidak sampai di situ saja, tiba-tiba ia di nikahkan dengan orang yang tidak pernah ia temui sama sekali.
Sejak ijab kabul itu Gauri telah resmi menjadi istri pengusaha muda bernama Shandy Herjuno. Cabang restorannya ada dimana-mana, tetapi Gauri tidak pernah tau restoran milik Shandy, karena Shandy tidak pernah mengajaknya untuk ke sana sekali pun.
"Lebih baik segera di selesaikan saja, lagian aku juga tidak butuh lagi rumah ini. Biarkan rumah ini tidak aku tempati." Gauri mengemas semua pakaian yang ia perlukan.
Sebelum bercerai ia sudah mengumpulkan dan menabung banyak uang sebelumnya dan di pastikan uang yang ia miliki cukup untuk membangun sebuah kafe kecil atau toko beserta isinya. Usaha kecil-kecilan ceritanya.
Gauri menatap lembaran demi lembaran, ia membaca semua yang ada mulai dari harta Gono gini yang ia terima.
"Sepertinya ada yang salah dengan ini, kenapa aku harus menerima hampir 30 persen hartanya, aku saja tidak berkerja dengannya. Sudahlah aku tidak akan mengambil sepeser pun hartanya, bagaimana aku melupakan dia jika hasil kerjanya aku menikmati untuk hidup. Lagian uang tabunganku cukup untuk kehidupanku yang akan mendatang meski hanya segini tapi untuk sewa tempat sekaligus untuk usaha kecil-kecilan saja." Gauri segera berganti pakaian.
Ia mengambil ponselnya dan menelpon calon mantan suaminya. Suara deringan ponsel terdengar nyaring di restoran Shandy namun tidak di angkat karena Shandy tengah memadu kasih dengan wanita lain.
"Kenapa tidak segera kamu angkat sih sayang, berisik itu." Keluh wanita yang berada di bawah kungkungannya.
"Biarkan saja, tidak penting," Shandy cuek saja, namun kekasih baru Shandy mengangkatnya.
"Ah... Pelan-pelan sayang." Ucap wanita bernama Mila.
Gauri terkejut bukan main, suara ini suara yang pernah ia dengar dari film-film yang tidak sengaja ia lihat beberapa minggu yang lalu.
__ADS_1
Gauri tidak sanggup lagi untuk mendengarnya, ia tutup ponsel tersebut saat mendengar Shandy juga ikut mendesah seperti partner wanitanya.
"Hu... Hu... Hu..., Gauri jangan menangis lagi. Sudah cukup kamu menangisi laki-laki tidak punya hati nurani dan bajingan itu." Gauri berusaha menenagkan perasaannya itu.
Dengan hati yang berat ia berjalan sambil menyeret kopernya itu, hanya sepeda motor miliknya dulu ia gunakan. Rumah besar dan cukup mewah ini akan menjadi kenangan terburuk dalam hidupnya.
Gauri mengirim pesan pada mantan suaminya untuk bertemu di sebuah taman, taman yang tidak jauh dari rumah yang ia tempati dua tahun terakhir ini.
Sudah 2 jam Gauri menunggu.
"Sepertinya dia tidak datang, lebih baik aku pergi dan cari tempat untuk menginap nanti malam sebelum aku melakukan perjalanan ke luar kota."
Seseorang menyapa Gauri dari kejauhan, dengan senyum lebar Shandy tampilkan di wajah tampannya.
Gauri menatapnya dengan takjub, namun seketika kekagumannya lenyap ketika mendengar suara dan luka yang di torehkan Shandy.
"Aku tau dan sadar diri sekali, makanya aku mengajak dia kesini." Gumam Gauri.
Shandy tersenyum.
"Apa aku telat?" Berpura-pura sok baik di depan Gauri, padahal setiap perkataan yang keluar dari dalam mulutnya ialah racun yang sangat mematikan.
"Tidak telat, aku yang datang dua jam lebih dulu dari pada kamu mas. Oh ya Mas tidak usah basa basi lagi, ini aku kembalikan padamu dan aku tidak mau satu persen pun harta yang kamu punya. Berikan pada wanita yang tadi mendesah denganmu, dia lebih berhak kamu nafkahi dan kamu beri harta sekarang." Ucap Gauri yang penuh penekanan dan langsung pergi begitu saja tanpa pamit pada Shandy.
"Tapi..., Hah... Sudahlah mungkin dia butuh sendiri." Shandy mengira Gauri akan pulang ke rumah yang di tempati bersama.
"Maafkan aku Gauri, kamu wanita baik dan sempurna. Tapi kamu tidak pantas denganku yang seperti ini, aku laki-laki pengecut yang pernah lahir di dunia ini." Shandy mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.
Tapi Shandy tidak tau jika Gauri sudah pergi dan tidak akan kembali lagi. Istri yang begitu patuh dan menerima suaminya sudah tidak ada lagi sekarang.
Gauri sudah bertekad akan pergi tanpa memberi kesempatan lagi, berkali-kali Gauri berlapang dada jika suaminya tidak pernah menginginkannya lagi. Maka dari itu daripada di dekatnya lebih baik sekalian pergi dan tidak akan muncul kembali.
Awal mula bertemu Aldy.
Saat berada di sebuah hotel di luar kota ini, Gauri terpaksa memesan salah satu hotel yang lumayan mahal untuk semalam nya, uang ratusan ribu ia keluarkan entah beberapa lembar yang jelas bisa untuk membeli keperluan dapur dan dirinya selama satu bulan. Gauri menghela nafas panjang, baru kali ini dalam sekejap mata uangnya hilang begitu saja. Tau begini ia tadi ngekos satu malam di kosan anak kuliah.
"Maaf... Maaf... Mas." Ucap sopan Gauri.
Aldy yang hafal betul dengan wanita yang menyebabkan calon istrinya meninggal mendengus kesal, mood baiknya hilang di telan bumi.
"Dasar tidak punya mata, punya mata di gunakan jangan sampai memakan korban karena kecerobohan kamu," ketus Aldy sebagai pemilik hotel tersebut.
Gauri berkali-kali meminta maaf pada Aldy namun tidak di hiraukan, justru Aldy mengusir Gauri dari hotelnya tersebut tanpa ampun. Betapa kejamnya Aldy saat ini, ia begitu emosi saat melihat wanita itu.
"Dasar galak, untung kamu ganteng kalau enggak sudah aku tendang barang berharga kamu." Gauri mendengus kesal apalagi uangnya di kembalikan cuma 75 persen saja.
Gauri tersenyum kecut, betapa sialnya hidupnya beberapa waktu belakangan ini. Dulu perasaan saat masih dengan Shandy tidak pernah seperti ini, bahkan saat pergi berbelanja.
"Ish... Jangan mengingat bajingan tidak punya malu itu, bikin bad mood saja." Sambil mengumpat Shandy.
Gauri menelusuri jalan ia meratapi nasibnya, perutnya mendadak lapar. Ia melihat kesana kemari tapi tidak ada penjual satu pun yang masih buka warungnya.
Usai makan ia berjalan dan mencari tempat singgah untuk malam ini dan ketemulah kontrakan dadakan. Rasa kantuk menyelimuti dia setelah sampai di depan pintu kamar yang ia kontrak, baru juga ia tidur sudah ada suara berisik. Tapi ia tidak peduli dan melanjutkan mimpinya yang mencekam.
.
Aldy yang melihat Gauri keluar dari hotel miliknya langsung menyuruh seseorang untuk menyekapnya. Entah ide gila dari mana yang jelas saat ini Gauri sangat ketakutan bukan main. Takdir hidupnya sangat-sangat kurang dari kata-kata beruntung.
"Ya Allah, jika ini terakhir kalinya hamba bisa melihat dan merasakan dunia. Tolong ambilah nyawa hamba mu dengan mudah Ya Allah." Doa Gauri dalam hati.
__ADS_1