
"Sepertinya mulai besok aku akan sangat sibuk sayang, tidak apa-apa kan jika di rumah tanpa aku bantu?" Ucapan Lais ini di anggap angin lalu oleh Cheval dan Filan yang baru sampai di kamar Momo.
"Iya, tidak apa-apa lagian kamu berkerja juga demi anak-anak dan juga istri kamu mas!" jawaban yang sangat mantap dan pas sesuai angan-angan.
Hujan ciuman di bibir, pipi, hidung dan dahi membuat Cheval dan Filan mendengus kesal.
"Ehem, stop dulu acara romantis-romantisan nya gak kasihan apa dengan satu orang yang jomblo ini." Menepuk-nepuk pundak Filan.
Filan segera menepis tangan Cheval yang berada di pundaknya tersebut.
"Iihh ... gak mau gelay," sambil memperagakan dengan fasihnya.
"Aa ... ha ... ha ...." Semua orang tertawa bersamaan, kenapa bisa semirip itu menirukan gaya dan logat bicara orang lain.
"Sepertinya main Tik tok bagus nih, yuk main Tik tok." Cheval menawarkan semua orang.
Mereka yang berada di satu ruangan menatap Cheval.
"Kenapa? apa tidak mau?" mereka mengangguk kompak saat Cheval kembali bertanya.
"Ya sudah jika tidak ada yang mau." Pasrah sudah jika satu agen gak ada yang satu server kesukaannya.
Kamar Cheval dan Sindy
Cheval masih asik dengan ponsel genggamnya tanpa memperdulikan Sindy yang sudah mendengus kesal sebab ia di biarkan begitu saja bahkan tidak di anggap keberadaannya sekarang.
"Aku di biarkan begitu saja nih?" goda Sindy yang sudah melepas sendalnya dan duduk di atas tempat tidur dengan gaya paling menggoda sekali.
"Iya!" jawabnya biasa-biasa saja.
__ADS_1
"Ya sudah, aku ke bawah dulu banyak pekerjaan yang harus di siapkan." Sindy hendak keluar namun di tahan oleh Cheval.
"Mau ngapain, lagian sudah banyak pembantu yang mengerjakan. Bahkan makanan sudah pesan ke catering dan tinggal makan saja, mungkin sebentar lagi siap semua," Cheval santai sekali hari ini.
•
•
1 Minggu kemudian.
Lais menatap anak-anak yang begitu ramai, di tambah suara tangisan.
"Coba Papa gendong Ma." Bayi laki-laki yang belum di beri nama itu mungkin meminta haknya untuk di beri nama seperti bayi lainnya.
Ksatria menimang-nimang bayi laki-laki itu dengan penuh cinta, Sindy yang masih di rumah menghela nafas panjang, mungkin dulu dia di perlakukan seperti itu mungkin.
"Hati-hati nak," Ksatria dan Daysi begitu kompak berbicara.
Sindy tersenyum namun sedikit ia paksakan senyum di bibirnya.
"Mbak Nadia, mas Emil." Sindy menyapa kedua insan yang kebetulan ada di luar rumah hendak naik anak tangga masuk ke dalam rumah.
"Sindy," Nadia langsung cium pipi kanan dan kiri sedangkan Emil hanya menyalaminya saja sambil menyapa Cheval dengan sambutan tangan hangat tanpa pelukan.
Meski sudah lama tidak bertemu tapi Cheval dan Emil masih berteman baik dan selalu bertukar Email dan pesan singkat dari aplikasi hijau.
"Bagaimana kabar kamu mbk Nadia?" sambil menatap perut Nadia yang sedikit berisi.
"Baik dan sehat Sindy, kamu bagaimana?" Nadia melepas pelukan Sindy.
__ADS_1
"Sehat juga, oh ya aku mau berangkat kerja nih ada pekerjaan baru di apartemen!" jawab Sindy sambil tersenyum.
"Yah ... padahal mau bicara panjang lebar malah mau berangkat kerja kamunya." Nadia bersedih.
"Kamu menginap saja hari ini, lagian rumah banyak kamar yang kosong. Momo ada di dalam kamu masuk dan bincang-bincang dengannya ya," Sindy melambaikan tangannya.
Nadia menganggukkan kepalanya.
Sindy sedari pagi merasakan tidak nyaman di perut bagian rahimnya, sakit sebenarnya ia rasakan namun tidak bisa bicara langsung pada Cheval suaminya takut menggangu pekerjaan sang suami yang sibuknya 3 kali lipat di tambah ia juga menggantikan Papa Ksatria di Hotel dan juga apartemen.
Momo yang berada di dalam kamar mengganti popok bayinya secara bergantian, jika ia mampu ia menangani anak-anaknya sendirian tapi jika tidak ya dengan bantuan suster yang ada di rumah.
"Momo." Nadia langsung masuk dan mengucapkan selamat pada Momo.
Momo sangat senang dan bahagia sekali dengan kedatangan Nadia dan suaminya.
"Mbak Nadia, sayang sekali mbak ketinggalan acara aqiqah si kembar." Momo merasa sangat sedih saat acara penting seperti hari itu orang-orang tidak lengkap formasinya.
"Maaf ya mau bagaimana lagi Momo, aku gak bisa maksain diri untuk datang, lihatlah perutku ini yang mulai buncit," dengan menyesal Nadia berucap sambil memperlihatkan perutnya yang memang sedang berisi.
"Iya mbak, oh ya mbak ayo duduk pasti capek ya dari Bali sampai sini." Dengan bersuka ria Momo mempersilahkan duduk Nadia di dekat anak-anak kembarnya.
Nadia dan juga Emil terkagum-kagum dengan wajah bayi kembar itu.
"Siapa namanya?" tanya Emillia.
"Zaire Malik Mahendra Khan yang perempuan kakaknya, sedangkan adiknya Zamil Malik Mahendra Khan!" jawab Momo.
Nadia dan Emillia tersenyum mendengar nama besar semua tercantum. Sepertinya jika suatu hari nanti anak-anak ini besar dan menikah lalu punya anak nama anaknya sepanjang rel kereta api.
__ADS_1