ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
148 S2


__ADS_3

Ayo kita nikmati perjalanan cinta ini, karyaku ini memang aku hempaskan jauh-jauh dari namanya pelakor atau pebinor. Kita buat santai ya biar tidak ikut terisak-isak dan emosi dalam membaca.


***


Pantai.


Sindy tengah berlarian di tepi pantai dengan Cheval, tetapi sebelum pergi ke pantai mereka berdua sudah pergi ke mall untuk membeli pakaian santai.


"Aww...," Sindy memegangi kakinya yang kini berdarah lantaran terkena tajamnya kerang di pantai.


"Kamu kenapa, bandel sih sudah Aa bilangin untuk mengenakan sendal kenapa tidak mau, inikan hasilnya kamu terluka kakinya." Omel Cheval yang sudah mengendong Sindy dan mendudukkan nya di pinggiran yang ada tikar yang sudah di sewanya tadi.


"Maaf Aa tidak mendengar nasihat dari suami, terkena karma instan deh," Sindy menagkupkan kedua tangannya sambil meminta maaf.


"Iisshhh... kebiasaan memelas seperti kucing tercebur got saja." Cheval dengan buru-buru pergi ke parkiran mobil dan mengambil kotak obat.


Dengan telaten Cheval membersihkan luka yang ada di telapak kaki Sindy dan meniup-niupnya agar rasa perih sedikit reda. Sindy hanya menahan kakinya yang berdenyut ngilu.


"Kalau sakit tidak usah teriak ataupun menangis." Ucap kesal Cheval.


Sindy yang mendapati ucapan seperti itu hanya diam, suaminya galak sekali sekarang tidak ada lembut-lembutnya sama sekali jika dalam keadaan seperti ini.


"Siapa yang mau menangis sih Aa, bukannya dari dulu jika aku terluka yang menangis dan lapor ke mama dan papa itu adalah Aa, terus nanti aku yang terkena hukuman. Apa Aa sudah lupa kejadian itu?" Sindy langsung menarik kakinya dan pergi meninggalkan Cheval yang masih berjongkok di atas alas tikar tersebut.


Sindy sebenarnya tidak mau mengungkit hal kelam namun kenangan tidak adil dari perlakuan kedua orang tuanya masih membekas di dalam hati meski sudah ia obati namun tidak bisa sembuh, lantaran waktu dan kejadian terekam jelas dalam memori.


"Hu... hu... hu...." Sindy menangis sendirian di kursi taman dekat parkiran mobil.


Cheval segera memeluk sang istri dan memberikan kehangatan untuk Sindy, hatinya terluka dan rapuh. Sindy yang mendapatkan pelukan hangat dari sang suami memberontak untuk melepaskan dirinya namun tidak berhasil, Cheval dengan kuat memeluknya. Sindy yang tadinya kesal dan menangis kini menggigit lengan kokoh Cheval hingga berdarah. Cheval melepaskan pelukannya.


"Aahh..., sakit sayang." Memegang lengannya yang berdarah, meski sedikit darah yang keluar tetapi lengannya sangat sakit di gerakkan.

__ADS_1


"Ayo pulang dan laporkan semua yang terjadi hari ini, biar sekalian aku di hukum berat biar tidak tanggung-tanggung hukumannya," Sindy tidak peduli dan masuk ke dalam mobil.


Cheval yang melihat perilaku tidak benar istrinya hanya diam, ia yakin sang istri pasti akan ke datangan tamu bulanan lagi karena bulan sudah berganti.


Saat dalam perjalanan ke rumah, Sindy terus saja menatap ke arah jendela pikirannya terbang ke mana-mana.


"Sayang." Ucap lembut Cheval dan menyentuh rambut Sindy dengan hati-hati takut sang istri mendiaminya lagi.


"Eemm...," Sindy tidak mengeluarkan suara lagi setelah itu.


Cheval menghela nafas, ternyata masih marah istrinya. Cheval sadar diri dari dulu sampai sekarang karena dirinyalah Sindy kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Kediaman Malik.


Daysi yang mendengar suara mobil Cheval langsung menyambut ke datangannya. Daysi terkejut dengan wajah Sindy yang dingin tanpa menyapanya. Dan lebih terkejut saat melihat lengan kanan Cheval yang ada darahnya dan membengkak.


"Aa... ada apa ini, kalian?" Daysi sangat hawatir pada putranya.


"Tidak apa-apa ini salah Aa ma, Aa ke atas dulu ya suasana hati Sindy sedang buruk!" Cheval berlalu pergi tanpa menjelaskan sedikitpun pada sang mama.


Ccekkleek.


Pintu terbuka, Sindy membawakan kotak obat untuk sang suami.


"Sayang." Langsung memeluk tubuh Sindy.


"Di obati dulu Aa lukanya," Sindy menarik tangan Cheval dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.


Sindy menyuruh sang suami untuk duduk di depannya agar lebih mudah mengobati luka di lengan Cheval. Meski sekarang kakinya juga berdenyut ngilu namun ia tahan, luka di kakinya tidak seberapa rasanya di banding luka di lengan suami akibat perbuatannya tadi.


"Cantik." Menyentuh pipi Sindy yang chubby. Sindy hanya menatap sang suami melalui ekor matanya.

__ADS_1


"Bukannya dari dulu memang cantik, banyak tuh kakak-kakak senior yang menggodaku saat aku ke sekolah jalan kaki," Sindy membenarkan anak rambut ke belakang telinga.


"Iya... iya... jika tidak cantik mana mungkin aku tergoda dengan adikku ini." Cheval memegang pergelangan tangan Sindy.


Dua insan yang sedang di mabuk asmara tidak menyadari ke datangan seseorang di kamarnya lantaran pintu kamar terbuka lebar.


"Maaf... tidak sengaja." Ksatria dan Daysi langsung membalikkan tubuhnya dan pergi dari kamar tersebut, Daysi menutup pintu dengan cepat.


Kegiatan Cheval gagal seketika, padahal hampir saja berhasil memberikan cinta luar biasanya pada Sindy.


Sindy yang pakaiannya sudah terbuka dengan cepat ia kancing kan kembali.


"Karena sekarang gagal nanti malam tidak boleh gagal lagi." Cheval memberikan cium jauh pada Sindy.


Sindy yang masih di dalam kamar hanya menyentuh bagian dada dan lehernya yang sudah banyak tanda merah, bahkan berbentuk love tanda merah tersebut.


"Dasar nafsuan." Senyum Sindy terukir di sudut bibirnya.


Cheval yang menuruni anak tangga membuang senyum yang biasanya terbit, Ksatria dan Daysi yang melihat mood Cheval buruh karena gagal hanya menertawakan sang putra.


"AA... HA... HA..., gagal lagi gagal lagi. Sabar ya tongkat ajaib." Ledek Ksatria.


Cheval duduk di depan kedua orang tuanya yang masih saja menertawakan dirinya.


"Kenapa sih kalian berdua menganggu keromantisan ku dengan Sindy, apa kalian tidak pernah muda. Menyebalkan sekali." Ucap Cheval yang membuat kedua orang tua angkatnya sekaligus mertuanya ini terkejut bukan main.


Baru kali ini seorang Cheval marah kepada mereka lantaran menganggu hal romantisnya.


"Memang aku sengaja menganggu, kenapa tidak suka dengan sikap kami?" Ksatria menyipitkan matanya.


"Siapa bilang tidak suka, justru Aa sangat suka karena nanti malam aku gas pol!" jawab Cheval tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"Haduh kasihan sekali kamu nak, dapat suami yang nafsunya sama persis seperti papamu." Daysi menggelengkan kepala, anak dan bapak sama saja kelakuannya.


Tetapi untung saja Cheval tidak seplayboy Ksatria ataupun papa kandungnya Marc William. Daysi sangat bersyukur sang putra begitu besar mencintai putrinya tanpa apapun, meski ia tau putrinya tidak sehebat wanita lain yang mampu dalam segala hal. Tetapi walaupun seperti ini keadaanya, Sindy selalu berusaha jadi istri yang baik dan pintar meski belum sepenuhnya bisa semua dalam hal rumah tangga dan memperlakukan suami dengan baik.


__ADS_2