ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
129 S2 Perut gentong


__ADS_3

Cheval lega saat memasak setelah Sindy mengganti celananya dengan yang panjang alias celana training berwarna hitam.


"Bagaimana dengan yang ini, boleh." Duduk manis di kursi meja makan.


"Iya, jangan menggunakan itu lagi sayang saat di luar atau pun di ruangan ini kecuali kamar kita," Cheval meletakkan semua masakannya di atas meja.


"Kenapa???"


Cheval hanya menatap dari ekor matanya.


"Masih tanya, aku tidak akan peduli dimana pun itu akan aku terkam kamu, apa mau." Memberikan roti yang sudah di panggang.


"Tidak, aku tidak mau Aa," sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkali-kali.


Cheval berusaha memperingatkan Sindy agar tidak ceroboh dalam berpakaian yang bisa menyebabkan ia celaka sendiri.


"Dan satu lagi, wajah kamu jangan kamu polesi dengan bedak yang aneh-aneh. Aa lebih suka wajah kamu yang natural ini." Sambil mengusap wajah cantik Sindy.


"Aa... bukannya ini modus tangan Aa di pipiku, bilang saja pipiku tambah chubby dan gembul tidak usah alasan bedak, bedak tidak salah di gunakan kaum hawa. Masa pergi ke acara penting natural seperti ini tanpa riasan kan nggak pas Aa," Sindy tetap mencari cara untuk bisa ber make up.


"Tidak boleh, natural lebih cantik tanpa izinku kamu di larang berhias diri. Kecuali denganku, bukannya kamu tau berhias itu hukumnya haram apalagi jika orang lain melihat dan dia berpikir yang tidak-tidak, Aa sebagai suami yang akan menanggung dosanya. Sudah paham kan dengan itu semua?" mencium kening Sindy.


Sindy menganggukkan kepala, baru kali ini Cheval menggertak nya tetapi tetap dengan nada lembut dan sabarnya. Buat hati meleleh saja perbuatan Cheval.


KKRRUUKKK


KKRRUUKKK


"Lapar Aa...," Sindy membalikkan piring yang ada di depannya dan mengambil roti yang di berikan sang suami.


"Makan ini, Aa ambilkan kamu mau apa? atau semua saja ya." Cheval dengan telaten mengambil semua makanan yang ada di meja tanpa terkecuali.


"Aa sudah cukup, nanti badanku bertambah menggemaskan Aa," Sindy protes sambil menatap suaminya dengan heran.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, tambah berisi Aa tambah suka. Lebih enak di pegang dan di peluk," Cheval menyudahi mengambilkan makanan untuk Sindy dan mengambil untuk dirinya sendiri sekarang.


Sindy segera makan begitu juga dengan Cheval.


"Aa, aku yang cuci semua ini ya?" Sindy mengemasi piring dan lainnya ke tempat pencucian piring.


"Tidak usah biar Aa saja, saat ini pasti kamu kelelahan karena ulahku semalam jadi satu hari ini kamu jadi ratu di sini dan di hatiku tentunya, sana-sana nonton acara televisi sana," Cheval memegang kedua pundak Sindy dan membalikkan tubuh Sindy sambil menunjuk ruang televisi yang tidak jauh dari meja makan.


"Baiklah Aa dengan senang hati," Sambil berjalan dengan bersorak gembira riang.


Cheval yang mendengar Sindy bernyanyi riang menuju ruang televisi hanya geleng-geleng kenapa istrinya itu sangat menggemaskan saat bertingkah lucu seperti ini.


"Semoga Aa bisa dan selalu bisa mendampingi kamu sayang." Doa Cheval dalam hati.


Cheval langsung mengenakan celemek untuk menutupi bajunya agar tidak basah dan menggunakan sarung tangan yang terbuat dari karet elastis yang sangat lembut di kedua tangannya. Secepat kilat Cheval membereskan cucian peralatan dapur agar ia bisa romantis-romantisan dengan Sindy sang istri tercinta yang sedang tertawa melihat cartoon tom and jerry.


Cheval segera mendekati sang istri yang asik menonton cartoon di layar televisi tersebut sambil memakan camilan di toples, padahal saat makan tadi ia mengeluk perutnya sudah sesak tetapi mengapa ia masih sanggup makan camilan.


"Sayang, katanya perutmu sudah tidak muat lah itu kenapa bisa makan camilan?" duduk di sebelah Sindy.


"Haduh... punya istri gini amat." Cheval hanya membatin istrinya yang masih tertawa keras diruang keluarga ini.


"Dasar perut gentong, badan kurus ramping tapi makannya banyak banget." Mengacak-acak rambut Sindy yang terurai rapi.


"Aa, jangan di acak-acak dong Aa. Tuhkan... berantakan lagi," sedikit merapikan anak rambutnya yang ada di depan wajah dengan jari kelingkingnya.


Hanya ada suara canda tawa yang penuh du ruangan tersebut, sesekali melakukan hal romantis saling menyapi dari mulut ke mulut bahkan juga ada.


"Aa."


"Hemm... apa, sudah siang rasanya mataku sangat mengantuk boleh aku tidut di pangkuan kamu sayang?" Cheval memposisikan kepalanya di atas paha Sindy.


"Tidurlah Aa jika capek!" membelai rambut Cheval dengan lembut dan penuh cinta.

__ADS_1


Cheval yang sudah mengantuk berat segera memejamkan matanya dan masuk ke alam mimpi, Sindy yang di tinggal tidur sang suami hanya menatap wajah yang terpahat sempurna tersebut.


"Aa, kenapa Tuhan menciptakan Aa dengan begitu sangat sempurna bahkan tidak ada kecacatan yang kamu miliki." Sindy yang merasakan kantuk kini mulai memejamkan matanya.


Cheval yang sudah berada di alam mimpi terkejut saat Sindy mejatuhkan tubuhnya di atas wajanya.


Dengan perlahan Cheval menyandarkan tubuh Sindy di sofa dan ia menatap wajah Sindy yang sangat terlihat lelah siang ini. Cheval mengendong tubuh Sindy dan merebahkannya di ranjang serta menyelimuti tubuh Sindy. Tidak lupa ac di kecilkan volumenya agar tidak kedinginan. Rasa kantuk masih menyelimuti Cheval dan dia pun ikut merebahkan dirinya di samping Sindy.


Sore hari.


Sindy tersenyum bahagia melihat sang suami masih betah tidur tetapi ia heran bukannya tadi di depan televisi tidurnya.


"Aa, tidak ingin bangun bukannya mau belanja sore ini." Sambil menggoyang-goyangkan tubuh Cheval agar terbangun namun bukannya bangun Cheval membalikkan tubuhnya dan memunggungi Sindy.


Sindy mencolek-colek tempat sensitif Cheval bagian perut.


"Oke... oke... aku bangun ini sudah bangun jangan begitu lagi sayang, geli perut aku."


"Ayo Aa kita belanja semua kebutuhan Aa habis gara-gara aku di sini," Sindy menarik tangan Cheval.


"Apa kamu sudah mandi?"


"Belum Aa!" bangkit dari duduknya.


"Mandilah dulu, baru gantian aku." Cheval mengecek laptop yang ia gunakan untuk mengerjakan tugas kuliah dan pekerjaanya sebagai pembimbing mata kuliah di Universitas tersebut.


Sindy yang baru selesai mandi mengambil pakaiannya dan masuk lagi ke dalam kamar mandi.


Tak terasa sudah ada 3 minggu Sindy liburan di New York bersama Cheval dan hari ini hari terakhit di New York.


"Aa... aku masih rindu." Menyentuh dada bidang Cheval yang hanya menggunakan kaos dalam saja.


Cheval menyentuh surai rambut Sindy dengan lembut, "sebentar lagi pesawatmu akan terbang satu jam dari sekarang, mandilah setelah itu aku hantar ke bandara."

__ADS_1


Sindy mau tidak mau pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu ia ke dapur mengambil air putih dan meminum obat lagi. Cheval masih berada di dalam kamar mandi saat Sindy sudah selesai berkemas, sebenarnya sudah dari kemarin Sindy merapikan pakaiannya dan memasukan ke dalam koper.


***


__ADS_2