
Sindy mengusap perutnya secara perlahan, antara sedih dan senang memiliki bayi lagi tapi ia juga sedih ia belum rela meninggalkan keluarga yang teramat ia cintai, tapi demi sang buah hati apa pun ia lakukan dan tempuh.
"Apa kita harus memberi tau semua orang di rumah Aa, apa mereka akan setuju saat tau aku mengandung tapi juga mengancam keselamatan kami berdua?" Sindy menatap mata teduh suaminya.
"Aa juga bingung sayang, jika mereka tau kamu di dalam posisi ini kemungkinan antara setuju atau tidak. Tapi jika kehamilan kamu di sembunyikan pasti tetap saja mereka akan tau cepat atau lambat, jadi sebaiknya mereka semua di beri tau berita ini. Dan kita harus merundingkan masalah ini dengan kepala dingin tanpa adanya emosi!" Cheval mengusap surai rambut Sindy.
Sindy tersenyum dan menganggukkan kepalanya serta setuju dengan penuturan suaminya sang Dosen muda otw tua.
Keesokan harinya.
Semua orang menunggu kedatangan Cheval dan Sindy, entah kejutan apa yang akan di berikan sampai-sampai semua orang di kumpulkan secara bersamaan, sepertinya ada berita baik dari Sindy dan juga Cheval.
"Ada apa sih Aa, Sindy?" Daysi memberikan teh pada kedua anaknya.
"Kalian mau berita yang bahagia dulu atau sedih lebih dulu?" Cheval balik menanyai semua orang, ia menatap satu persatu orang yang ada di rumah.
Mereka tampak gelisah namun juga terlihat penasaran, Cheval jadi panas dingin sendiri mendapati semua orang yang juga mulai hawatir dengan berita yang di sampaikan oleh Cheval. Apakah berita ini sangat parah sampai-sampai mengumpulkan semua warga Malik.
"Yang buruk saja lebih dulu!" jawab Ksatria yang terlihat lebih tenang dan santai.
"Berita buruknya, Sindy mengandung." Cheval mendadak pusing sendiri mau menjabarkan ucapannya.
Sedangkan Sindy ia meremas kuat jari jemarinya dengan gelisah.
__ADS_1
"Ini berita baik Aa, terus bagaimana kondisi bayinya. Sehatkan?" Ksatria sangat antusias sekali begitu juga yang lain, mereka terlihat bahagia.
"Kenapa sedih Aa, Sindy. Sedari tadi Mama lihat gerak-gerik kalian ko aneh sih?" Daysi yang lebih peka dengan anak-anaknya.
"Tapi keselamatan mereka berdua sedang terancam Ma, yang terutama Sindy. Harus bagaimana Ma!" Cheval memeluk Daysi.
Tadi suasana riuh bahagia kini bagai di sambar petir semua, apalagi berita bahagia berubah duka. Ksatria mendekati putrinya Sindy dan memeluk putrinya.
"Nak, jika memang harus di lepaskan kepergiannya, lepaskan saja nak." Mengusap surai rambut Sindy.
"Tidak Pa, aku ingin mempertahankannya. Meski aku juga ikut bertaruh nyawa," Sindy bersih kukuh dan ingin bayinya selamat sampai lahir.
"Tapi Sindy, keselamatan kamu lebih penting nak. Apa kamu tega meninggalkan keluargamu anak-anak dan juga suamimu?" Ksatria bingung harus menyampaikan seperti apa pada putrinya.
"Kenapa tidak, lebih baik kan jika aku gak ada. Lagian selama ini Papa cuma sayang dengan anak yang lain bukan anak kandung Papa!" Sindy hendak menangis.
Ksatria hendak melayangkan tangannya pada Sindy namun tidak jadi, jika ia main tangan pada putrinya berarti memang ia pilih kasih selama ini.
"Maafkan Papa Sindy, maafkan Papa." Memeluk erat sang putri.
Semua terharu melihat ini.
"Kenapa diam Sindy?" Ksatria melihat ke arah putrinya.
__ADS_1
Ksatria shock saat tau ternyata Sindy putrinya pingsan di pelukannya, dengan sigap Ksatria mengendong putrinya meski ia sedikit tertatih-tatih sebab usianya yang sudah tidak muda lagi.
"Sindy." Cheval mengikuti Papanya menuju kamar tamu untuk mengistirahatkan tubuh Sindy.
Daysi mengambil minyak angin untuk menyadarkan putrinya yang pingsan, sudah lebih dari 15 menit namun Sindy belum sadar juga, dengan terpaksa menelpon Filan untuk datang ke rumah lagi.
Filan yang sudah sampai langsung memeriksa keadaan Sindy dengan mengecek denyut nadi dan juga perutnya. Ia juga terkejut saat semua orang memberi tahukan jika Sindy mengandung tapi juga beresiko kandungannya.
"Sindy kelelahan dan harus banyak istirahat total dan tidak boleh banyak pikiran apalagi stres berat, itu mempengaruhi keselamatannya tapi aku sarankan sebaiknya tidak mempertahankan sang bayi, itu membuat Sindy sering drop kedepannya." Filan memberikan saran yang terbaik.
Cheval hanya mengangguk saja ia harus mendiskusikan masalah ini lagi dengan Sindy dari mata ke mata supaya Sindy tidak mempertahankan kandungannya untuk sekarang, bukan berniat jahat tapi demi keselamatan dirinya jika di suruh memilih Cheval tidak mampu harus memilih salah satu di antara keduanya istri dan anak yang paling penting tapi jika menyelamatkan anaknya saja ia akan kehilangan wanita yang paling ia cintai setelah Mama Daysi.
Sore hari.
Cheval mengusap dahi Sindy.
"Sayang, makan dulu ya." Masih tersenyum dan memberikan kasih sayangnya pada sang istri.
"Jangan di paksa tersenyum Aa, aku tadi pingsan ya Aa?" Sindy membuka mulutnya sambil bertanya.
"Iya!" mengangguk lalu memberikan segelas air putih.
"Aa, jika harus di ambil aku tidak apa-apa Aa. Ayo besok ke rumah sakit." Sindy tiba-tiba seperti ngelantur saja ucapannya.
__ADS_1
"Tapi sayang," Cheval takut jawabannya melukai hati istrinya.