ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
71 Mendadak di jodohkan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Ksatria bersiap-siap untuk kembali ke hotel Royal Malik, Daysi dan Aurellia masih berada di kontrakan belum memutuskan kembali lantaran di larang oleh Ksatria.


Ksatria menatap seluruh ruangan yang ia singgahi saat ini, saat masuk area lobby banyak karyawannya yang berbicara dan mengucapkan atas keselamatannya dari maut beberapa hari yang lalu. Ksatria membalas dengan senyuman.


Lily hari ini datang dan menjenguk Ksatria, kareana ia mendengar jika Ksatria baru saja terkena musibah, Lily berjalan dengan anggun dan masuk sebuah lift karyawan. Sesampainya di depan pintu ruangan pribadi Ksatria, Lily dengan senyum merekahnya mengetuk pintu beberapa kali.


"Masuk...," ucap Ksatria melihat siapa yang berkunjung.


"Ksatria bagaimana kabarmu." Lily meletakkan satu kerenjang buah di meja dekat Ksatria kerja.


"Emm...," respon Ksatria dingin.


"Kenapa kamu cuek banget sama aku sih Ksatria, apa kamu tidak punya perasaan apa-apa denganku." Logat manja Lily.


"Heyy... jaga kelakuanmu, saya sudah mempunyai istri jangan ganggu saya lagi, kamu pergi sekarang atau aku suruh satpam menyeret kamu," Ksatria menujuk pintu keluar.


"Baik... baik... saya akan pergi dari sini, aku bahagia ko melihat kamu baik-baik saja, bye... bye... jangan lupa jaga kesehatan." Lily melambaikan tangannya.


Ksatria menekan telpon.


"Datang keruangan saya sekarang." Menutup telpon.


Okta yang baru sampai langsung mengetuk pintu ruangan Ksatria.


TTOKK... TOOKK....


"Masuk," sibuk mengecek laptop.


"Ada apa ya pak, anda memanggil saya." Berdiri di depan meja kerja Ksatria.


"Buang itu atau kamu makan terserah," menujukkan satu kerenjang buah.


"Baik pak, akan saya segera bawa pergi. Permisi pak." Okta membungkukan badannya.


Setelah kepergian Okta dari ruangannya ia memijat pelipisnya yang berdenyut ngilu rasannya hampir pecah kepalannya saat ini. Meskipun Rio telah masuk penjara tetapi ia masih memikirkan jika ada orang lain selain Rio yang bermain.

__ADS_1


Klik..., menelopon Sacha yang masih ada di rumah sakit.


"Hallo bos ada apa, tumben bos menelpon saya," di selingi canda dari Sacha.


"Gimana keadaan kamu saat ini?"


"Baik bos, memang kenapa. Mau menambahkan bonus untuk saya saat ini," Sacha tersenyum lebar di balik telpon.


"Jangan kepedean kamu, setelah keluar dari rumah sakit aku ada tugas tambahan untukmu." Ucap tegas Ksatria.


"Haduh... bos bos aku kira dapat bonus setelah terkena musibah seperti ini, ternyata pekerjaan tambahan bonusnya," Sacha tersenyum kecut.


"Kalau tidak mau ya sudah, aku pecat kamu dari kerjaan sekarang mau." Mengancam Sacha.


"Baiklah-baiklah apa tugas saya," Sacha penasaran dengan tugas barunya.


"Nikahi adik saya Sacha." Ucap Ksatria serius.


"Haa...," Sacha terkejut dengan ucapan Ksatria barusan. "Bos anda ada-ada saja kalau mau ngeprank jangan seperti ini bos, tidak lucu."


"Aku bicara serius, hanya kamu yang dapat aku percaya saat ini Sacha yang bisa menjaga adikku," Ksatria menatap potret adiknya di figura poto.


Ksatria mengerutkan dahinya saat Sacha mematikan telpon secara sepihak. Ksatria tidak tinggal diam ia langsung menelpon Slamet untuk menjemputnya saat ini.


Rumah Sakit Umum.


Ksatria sampai di rumah sakit tempat Sacha di rawat dan kebetulan hari ini Sacha di izinkan pulang karena tubuhnya sudah membaik.


Sacha terkejut dengan kedatangan Ksatria dengan tiba-tiba, saat ini ia sangat tertekan dengan tatapan membunuh Ksatria.


"Apa kamu masih ingin menolaknya?" ucap dingin Ksatria.


Sacha hanya menelan salivanya dengan berat, rasannya leher terdapat pisau tajam yang siap-siap membunuhnya detik ini juga.


"Saya menjodohkan adik saya denganmu karena saya percaya, kamu bisa menjagannya soal cinta bisa tumbuh belakangan. Bukannya saat ini kamu ingin membalas dendam kepada wanita yang menyakitimu?" Ksatria mengungkit kejadian lalu.


Sacha hanya tersenyum getir dengan ucapan Ksatria, Ksatria yang memilik daya ingat yang tajam membuat Sacha tidak bisa berkutik apa-apa.

__ADS_1


"Baiklah dan kapan, apa Aurellia tau dan setuju." Sacha mengambil baju dan mengemasinya.


"Aku sudah berbicara padannya, ia setuju saja denganku dua minggu lagi kalian menikah," Ksatria berlalu pergi.


Body guard Ksatria yang berjaga di luar ruangan Sacha menunggu perintah dari Ksatria. Setelah mendapatkan perintah untuk mengantarkan pulang Sacha ke kediaman Malik salah satu body guard langsung menemui Sacha dan mengantarkannya ke mobil.


Sacha pasrah dengan keadaannya sekarang, butuh uang dan tidak bisa berbuat apa-apa saat ini apalagi jika harus berhadapan dengan Ksatria Malik. Sekali menujuk pasti remuk badannya.


"Haduh... begini kan jadinnya berurusan dengan orang berduit, repot." Sacha menghela nafas panjang saat berada di dalam mobil.


Ksatria yang berada di mobil lain langsung pergi meninggalkan rumah sakit dan menuju kontrakan yang jaraknya sekitar satu jam an. Sesampainnya di kontrakan Ksatria mengumpulkan Daysi dan Aurellia bersama di ruang tamu.


Daysi binggung Ksatria mau berbicara serius tentang apa begitu juga dengan Aurellia.


"Sebenarnya ada apa sih Sat, kenapa kita di kumpulkan?" tanya Daysi kebinggungan.


"Aurel dua minggu lagi kamu menikah dengan Sacha!" ucap Ksatria to the point.


"Haa... Kakak kenapa terburu-buru seperti ini dan mengapa harus Sacha aku tidak mencintainya kak." Aurellia mengeluh.


"Dulu kamu memaksaku dengan Daysi sekarang kamu mau tidak mau harus menurut dengan Kakak kali ini," Ksatria bergegas pergi dari ruang tamu dan menuju kamar. Aurellia juga segera pergi menuju kamarnya.


Daysi mengejar Ksatria dan menanyakan perihal ini namun Ksatria tetap menjawabnya sama, demi kebahagian dan keselamatan Aurellia saat ini karena hanya Sacha saja yang dapat ia percaya saat ini. Daysi tidak bisa berucap apa-apa setelah mendapatkan jawaban seperti itu.


Aurellia menangis di dalam kamarnya, rasannya hati sangat terluka, "apa ini yang kakak rasakan waktu itu, sewaktu aku memaksa kakak bahkan aku mengancam kakak, jika ini sudah keputusan kakak dan kakak percaya aku akan turuti ini semua meski hatiku sakit aku tidak bisa dengan orang yang aku sukai saat ini." Aurellia mengusap air matannya yang jatuh tidak berhenti saat ini.


TTOKK... TOOKK... TOKK...,


"Kak boleh aku masuk?" Aurellia menanti jawaban sang kakak.


"Masuklah Relli pintunya tidak di kunci," jawab Daysi.


Aurellia masuk kedalam kamar sambil menudukkan kepalannya.


"Kak..., aku setuju apa pun keputusan kakak asalkan baik untukku." Sambil tersenyum palsu.


"Bagus kalau kamu sadar Aurel, kakak tidak memaksamu tetapi mengingat umurmu yang bukan remaja lagi kamu harus menikah saat ini, biar ada yang menjagamu. Kenapa saya menjodohkanmu dengan Sacha, karena Sacha lebih dewasa dari mu dan dia pekerja keras saya yakin dia dapat di percaya." Mengusap lembut surai rambut Aurellia.

__ADS_1


"Iya kak, saya percaya dengan pilihan kakak saat ini."


Daysi yang melihat pemandangan ini terharu, rasa sedih bahagia bercampur menjadi satu. Daysi sangat bersyukur dengan keputusan mendadak ini baik dari Ksatria maupun Aurellia.


__ADS_2