ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. Gauri mulai menata hidup lagi


__ADS_3

Matanya membelalak lebar saat netranya menangkap seseorang yang teramat ia rindukan, wanita yang selalu mengacak-acak hatinya.


Tak


Tak


Tak


Suara sepatu berjalan mendekati tempat Gauri membersihkan debu yang menempel di motor kesayangannya.


"Hai ... cantik." Sapa Raden pada gadis yang sedang membersihkan motornya.


Gauri menatap sepatu pemilik suara itu dari ujung sepatu sampai ke ujung rambutnya yang serba rapi, ia terlihat tampan saat mengenakan seragam kerjanya.


Gauri langsung melebarkan matanya dan menggelengkan kepalanya berkali-kali agar isi otaknya segera sadar, tidak mungkin dan tidak akan terjadi apa-apa di antara dirinya dan Raden. Bisa-bisa Willy marah dan mengusirnya dari kontrakan bahkan kehilangan orang baik seperti mereka berdua ini.


"Eh, ada kamu Raden. Ada apa kemari?" Gauri benar-benar bingung dan dilema harus bersikap seperti apa ke Raden.


Satu Minggu ia tidak berbicara sama sekali dengan Raden semenjak insiden Aldy menalaknya waktu itu, untung saja ia tidak memiliki surat nikah secara Agama. Pasti akan rumit dan ia akan bertemu dengan Aldy yang sudah menghancurkan hidupnya, harapannya dan impiannya bersama hingga tua nanti. Untung saja masalah talak yang di lontarkan Aldy tidak ada buntutnya jadi Gauri bisa bebas dari kegalauan akan letak hatinya selama ini.


Dan semenjak kejadian itu Gauri menata diri tapi ia tidak tau kapan hatinya akan berkeyakinan lagi untuk membukanya pada orang lain. Semoga waktu memberikan kesempatan akan kebahagiaan dalam hubungan jarak waktu yang lama dan tidak hanya sebentar saja.


"Gak ada apa-apa, ini aku bawain makanan untuk kamu biar gemuk seperti kerbau dan sapinya pak RT itu!" jawabnya di iringi gelak tawa Raden.


Gauri mendengus kesal, apa tidak keluar rumah 1 mingguan saja merubah tubuhnya yang langsing jadi kerbau. Padahal tubuhnya dengan Zidan hampir sama 11 sama 110 saja perbedaannya gak jauh-jauh banget ko.


"Lebih baik kayak kerbau dan sapinya pak RT dari pada kayak kuda nil dan gajah di taman Nasional yang lebih gede lagi badannya dari kerbau dan sapi." Gauri menyambut makanannya saja tidak dengan Raden.


Pagi-pagi membuat orang emosi dan bakalan ada alamat habis satu bakul makanan jika di bikin emosi, biar tambah gemuk siapa tau BB jadi 100 kg pasti menggemaskan sekali di tambah lagi ukuran porsi tubuh minim.


Tuk


Raden menjitak dahi Gauri, pasti nih orang berpikiran aneh-aneh lagi.


"Dasar wanita, matanya berbinar jika lihat makanan. Habis mikirin apa? jangan bilang mikirin berat badan mau di genapin biar bulet gitu." Tuduhan Raden yang selalu benar dan tepat.


Kenapa sih Raden selalu menebak isi hati dan pikirannya selalu tepat dan akurat, jangan-jangan Raden punya indera ke enam dan istilahnya indigo yang bisa baca pikiran orang dan lainnya lagi, gawat ... gawat ... hidupnya.


"Nyindir lagi, kalau gak ikhlas ngasih nih nasi. Ya udah deh ... aku kembalikan ini nasinya deh dari pada keselek makanan itu," sudah termakan seperempat kotak.


"Ya ampun ... Gauri ... Gauri ..., sejak kapan kamu jadi baperan gini. Sedikit-sedikit marah, terus ngambek. Dasar wanita labil yang sulit di mengerti hatinya." Raden melirik Gauri yang ternyata ia tertunduk sedih.


Gauri tidak menangis tapi dari raut wajahnya terlukis jelas jika dirinya penuh dengan luka, terutama bagian hatinya.


"Gak tau sejak kapan gampang baper dan satu lagi coba deh Raden kamu itu jangan seperti itu ke aku, termasuk panggil aku cantik Raden, jika ada yang cemburu aku bakalan di habis loh sama penggemarmu yang jadi musuhku dadakan. Aku masih ingin hidup dan menikmati hariku kedepannya," Gauri tidak berani berpendapat sebelum hubungan antara Raden dan Willy benar-benar resmi.


"Aa ... ha ... ha ..., di luaran sana gak bakalan ada yang ngilirik juga kali Gauri. Laki-laki biasa-biasa saja di tambah hanya staf biasa di bagian gudang saja, apa yang bisa di unggulkan sih?" Raden mengacak-acak rambut Gauri.


Gauri tersipu dengan perlakuan manis yang Raden tunjukkan.


Willy hendak masuk ke dalam pekarangan rumah Gauri namun dirinya terkejut saat melihat dua manusia yang sedang bercanda itu, Gauri dan Raden begitu cocok meski mereka berdua selalu bertengkar dan berdebat masalah-masalah kecil.


"Ciye ... lagi romantis-romantisan ni ... ye ...." Ledekan Willy membuat Gauri langsung menggeserkan tempat duduknya dan menjauh dari Raden.


"Apaan sih Willy, romantisan apa? apa penglihatan kamu banyak berkurang akhir-akhir ini?" Gauri mengelak.


Lebih baik tidak ada perasaan ke Raden begitu juga Raden seharusnya sama bukan (sadar sebelum terlanjur), perhatian dan kepeduliannya semoga hanya peduli saja bukan karena kasihan lalu berusaha melindungi dengan landasan kasihan, sakit sekali jika di pedulikan berlandaskan kasihan saja, lebih baik tidak sama sekali dari pada cuma kasihan saja.


"Tapi beneran pasangan romantis loh kalian berdua, kalian kenapa gak jadian saja. Sudah cocok tuh." Ledek Willy ke Gauri.


Raden yang di jodohkan senengnya bukan main. Tapi tidak untuk Gauri, rasa trauma itu masih ada di tambah kemarin dirinya melihat dengan mata dan kepalanya sendiri jika dari sorot mata Willy begitu mendambakan laki-laki seperti Raden.


Gauri tau diri dan sadar diri jika ia tidak pantas untuk siapa pun dan di pertahankan oleh siapapun itu, gadis miskin yang tidak pantas berdekatan dengan orang-orang berada seperti Raden dan Willy contohnya.


"Em ... aku mau kerja, kalian mau tetap tinggal apa kerja hari ini?" Gauri memecahkan keheningan yang terjadi sebentar, meski ada kecanggungan.

__ADS_1


Gauri terpesona sesaat sebelum ia menaiki sepeda motornya, rasanya bagaimana begitu ketika aduan mata antara dirinya dengan Raden secara sadar dan langsung.


Sesaat kemudian ia tersadar jika di depan kontrakan milik keluarga Willy dan di depannya pula ada Willy yang sedari tadi ingin sekali menerkam Raden hidup-hidup sebab pandangannya sedari tadi tidak lepas dari gerak gerik Raden. Apalagi saat Raden mengenakan jaket hitamnya yang menjadi kebanggaannya dari dulu sekali.


"Iya aku juga mau kerja hari ini." Raden bersiap-siap.


Willy terus saja memandangnya bahkan suara motor Gauri meninggalkan pekarangan kontrakan saja tidak ia dengar sama sekali.


'Baiklah ... mulai sekarang jaga hati dan pikiran saja, aku akan fokus dulu di pekerjaanku ini dari pada mikirin cinta yang ujung-ujungnya cinta bertepuk sebelah tangan lagi, sesak rasanya hatiku ini.' Dalam batinnya.


Saat melajukan sepeda motornya ia menatap spion kaca motor yang ia tunggangi, sepertinya tidak asing dengan seseorang yang berada di belakang motornya, kenapa sedari tadi pemotor itu menguntitnya bahkan ia sudah berada di jalanan beraspal dan banyak kendaraan yang berlalu-lalang.


"Eh ... siapa sih orang ini? sedari tadi ngikuti aku mulu, jangan-jangan mau berbuat aneh-aneh. Coba aku berhenti di tengah keramaian ini saja, jika terjadi apa-apa masih ada orang yang melihatnya." Gumam lirihnya dan ia menekan rem pelan-pelan untuk menghentikan laju motornya.


Gauri sedikit hawatir lalu menepikan motornya, jika orang itu masih mengikuti berati dirinya di buntuti seseorang yang tidak ia kenal.


Orang itu yang tau jika seseorang yang ia incar berhenti ia dengan terpaksa melajukan motornya kembali, lebih baik nanti saja di buntuti lagi dari pada ketahuan sekarang bisa gawat.


Gauri tersenyum lega, sepertinya ia harus waspada lebih pada orang itu jangan-jangan nanti orang itu masih ngincar dirinya lagi, belum juga mencapai kebahagiaan dalam hidup masa kehidupan terancam juga, kan gak lucu.


"Untung gak di ikuti lagi, lanjut perjalanan lagi deh." Gauri mengucap doa dalam hati.


Pasti gara-gara lupa berdoa sampai-sampai sedikit terancam dengan di ikuti orang tak ia kenal sama sekali.


Raden yang sudah berada di tempat kerja ada rasa hawatir ia pun mengirimkan pesan singkat ke Gauri.


💬 Gauri, apa kamu baik-baik saja? apa sudah menggambil pesanan langganan barang-barang customer kamu? (dari Raden)


💬 Cepat pulang dan hati-hati Gauri (dari Raden)


Belum sempat ia membalas Raden sudah mengirimkan pesan singkat berkali-kali bahkan sampai rentetan pesan itu belum sempat ia balas sama sekali.


"Haduh ... sahabat posesif." Gauri membiarkan pesan itu menumpuk meski terlihat online.


Raden jadi tambah hawatir, kenapa Gauri sana sekali tidak membalas pesannya padahal lagi online. Apakah sebegitu banyaknya orang pesan jasanya untuk mengantar barang-barang, sepertinya iya.


💬 Berisik kamu Raden (balasan dari Gauri)


Raden tersenyum, ternyata Gauri tetap saja tidak suka di perhatikan berlebihan. Padahal dirinya hawatir sekali dengan keadaan Gauri sekarang.


Raden memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas kecil yang ia bawa saat berkerja, tempat berkerja adalah tempat yang paling rawan kehilangan barang-barang, jadi untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak di inginkan. Makanya sedia payung sebelum hujan lebih baik.


Kediaman Guritno.


Mariska berpikir harus dengan apa agar si wanita itu tidak menggangu Aldy, setidaknya tidak menggagalkan misinya untuk merebut harta keluarga Guritno.


Sang kekasih gelap sudah bergerak tapi misinya gagal sebab Gauri waspada sekali, apa perlu dengan tindakan yang lebih ekstrim lagi untuk menghilangkan sosok Gauri dari bayang-bayang Aldy.


Sebab semenjak Aldy berterus terang, Aldy menjadi berbeda lagi pada dirinya jadi lebih dingin dan asing meski soal hubungan ranjang tetap berjalan, namun naf$unya berkurang banyak sekali.


'Hah ... gagal ya sudah, dari pada keluar duit lagi. Lagian apa sih yang di kerjakan Dion, apa dia itu sebenarnya pengangguran yang sok kaya lagi. Sial ... harus gue putusin tuh orang tapi gimana bayi ini, dari cerita Aldy sepertinya ini bukan anaknya Aldy. Jika Aldy subur mana mungkin mantannya itu tidak hamil-hamil padahal Aldy juga cerita tidak hanya sekali dua kali melakukannya di luar nikah dulu, bahkan sampai-sampai pernikahan sah dan siri pernah terjadi saat sebelum nikah sah denganku. Tapi wanita itu juga tidak hamil-hamil sampai detik ini, jadi ... selama ini yang aku pikirkan benar jika Aldy mandul.'


Mariska gigit jari, jika sampai ketahuan bukannya harta keluarga Guritno tidak jadi jatuh di tangannya bukan sebab ia tidak melahirkan keturunan dari keluarga Guritno.


"Gawat ... harus susun rencana sebaik mungkin." Gumam lirihnya sambil melihat situasi rumah tersebut.


Malam hari.


Raden mengajak Gauri makan malam tapi yang membuat Gauri terkejut kenapa Willy di ajak makan malam. Apakah Raden dan Willy ada hubungan baik juga? Gauri tidak mau berpikir aneh-aneh jika bukan jodoh atau berjodoh mau bagaimana lagi, ini namanya garis takdir di tangan masing-masing.


"Gauri kamu tidak apa-apa kan?" Raden melambaikan tangannya di depan wajah Gauri.


Gauri melamun akhirnya tersadar juga.


"Eh Raden, ada apa?" bingung dan canggung tentunya.

__ADS_1


"Tuh ... pesanan kamu sudah datang, kalau gak segera dimakan aku habisin tuh mie goreng kesukaan kamu!" sambil menunjuk mie yang berada di depan Gauri.


"E ... he ... he ..., akan aku segera habiskan. Lumayan gak keluar duit kalau kamu suruh makan begini." Gauri memang urat malunya putus ya kalau menyangkut perduitan.


Gak peduli deh asalkan gak ngeluarin duit.


Willy sudah tau dan hafal seperti Raden bahwa Gauri paling hemat pengeluaran dan akan menghitung seberapa banyak ia menghabiskan uang dalam satu Minggu.


"Gauri." Willy memanggilnya.


"Iya ada apa," sambil mengunyah makanannya.


"Kamu gak lupakan jika kamu sudah dua bulan gak bayar kontrakan?"


Bleder


Deg


Deg


Deg


Jantung Gauri berdetak kencang, satu juta Gauri satu juta duit darimana coba untuk melunasi uang kontrakan, haduh ... gini nih nasib duit cupet plus ngontrak segala.


"Em ... gak ada duit, bulan depan ya." Cengegesan adalah andalannya untuk ngeles lagi pada Willy.


"Gak bisa Gauri, banyak orang yang ingin mengontrak rumah itu. Jika gak mampu bilang aja Gauri, apa kamu gak kasihan sama aku tiap hari dapat omelan dari Mboke karo bapake." Willy memang memanggil kedua orang tuanya dengan sebutan demikian sudah turun temurun.


Padahal ini tepian perkotaan bukan pedesaan, tapi mau bagaimana lagi sudah dari dulu seperti itu.


"Eh ... tenang-tenang, aku bayarin oke." Raden menawarkan lagi bantuan.


"Tidak usah Raden," tolaknya secara halus.


Raden sedikit kesal kenapa bantuannya di tolak lagi oleh Gauri, kali ini tidak ada penolakan lagi meski nanti Gauri akan ngambek dari pada tiap hari di hantu i bayar kontrakan yang menguras uang hasil kerja kerasnya di jalan panas-panasan.


Setelah selesai makan malam bersama diam-diam Raden memberikan uang pada Willy untuk menggantikan uang yang harus Gauri bayar ke Willy.


"Ini aku lebihkan, asalkan kamu bisa membuat Gauri angkat kaki dari kontrakannya dan meminta aku untuk membantunya." Raden memberikan uang merah itu sebanyak 50 lembar yang artinya sebanyak 5 juta rupiah.


"Gampang saja Raden asalkan ada duit semua pasti mulus ... lus ... tanpa ada yang gagal," Willy mencium lembaran uang itu, dunia wanita jika dapat duit lupa segalanya.


Tak terkecuali Gauri juga tapi bedanya Gauri dari kerja kerasnya sendiri.


1 Minggu telah berlalu.


"Willy ... aku mohon Will, beri kesempatan lagi please. Di rumah kontrakan ini banyak kenangan aku dan nenek aku Willy, aku mohon beri waktu oke, apa kamu tega tidak memberikan aku kesempatan. Lihat.. lihat.. Zidan dia masih begitu kecil Willy." Gauri memohon-mohon tapi percuma Willy sudah bersikukuh untuk membantu Raden.


Sebenarnya kasihan melihat Gauri demikian tapi apa boleh buat, uang itu lebih penting sekarang.


'Maafkan aku Gauri, aku tega kali ini. Demi rasa sukaku yang aku pendam pada Raden, apapun yang ia inginkan aku kabulkan. Nanti jika kamu tau kenyataan saat kami sudah sama-sama dengan Raden, jangan salahkan aku Gauri tapi salahkan pada dirimu sendiri, dengan begitu aku lebih mudah mendapatkan Raden tanpa harus berkerja keras, jadi aku mohon kamu nurut kali ini. Sorry aku sengaja.' Willy melempar tas itu tepat di depan Gauri.


Barang-barang di rumah itu tidak ada satupun milik Gauri kecuali yang berada di kamar Gauri, sebab barang-barang peninggalan neneknya sudah di ambil paksa oleh lintah darat dulu sebelum neneknya meninggal dunia.


Raden datang dan membantu Gauri.


"Kamu apa-apaan sih Willy, kenapa lempar barang-barang milik Gauri. Apa tidak bisa lebih lembut dan tidak se arogan itu." Raden membantu Gauri berdiri dan membawakan barang-barang milik Gauri.


Sedangkan Gauri berusaha sekuat tenaga melindungi putra kecilnya yang masih tidak tau apa-apa tentang masalah orang dewasa. Zidan tidak rewel sama sekali, ia anak penurut asalkan tubuhnya tidak terjatuh atau terkena benda-benda yang membuatnya kesakitan dia tidak akan menangis.


Tapi sebagai orang tua ia selalu mengajarkan jika ada orang yang tidak di kenal mengajaknya jalan-jalan atau sejenisnya itu, ia harus menolak dan berani pada orang itu dan melawannya.


Di balik itu Willy mengacungkan 2 jempol yang artinya sukses abis rencananya.


*

__ADS_1


Terimakasih banyak ya atas dukungan nya.


__ADS_2