
Kediaman Malik.
Setelah puas dari kedai kopi milik Abang dan jalan-jalan sebentar untuk mengelilingi sudut kota yang bergemerlap dengan lampu-lampu yang mengikuti zamannya. Kini Daysi dan Ksatria kembali ke rumah.
DDRRTTT... DDRRTTT...
Ksatria segera menerima panggilan karena kantong celanannya bergetar terus.
"Eemm... hallo, siapa malam-malam buta menelponku. Apa kurang kerjaan?" tanya Ksatria malas.
Daysi ingin tertawa pasalnya biasa orang-orang menyebut pagi-pagi buta ini tidak melainkan malam-malam buta.
"WOOYY..., kamu tidak melihat nama panggilan di ponselmu atau jangan-jangan kamu tidak menamaiku di ponselmu?"
"Aku tidak mengenalmu, bahkan nomermu tidak aku save. Jadi bukan salahku, cepat ada perlu apa malam-malam buta seperti ini menelpon, jika tentang kerja sama hotel lebih baik bicarakan besok saja. Aku mau tutup telpon dulu, menganggu keromantisanku dengan istriku saja." Ksatria mematikan ponselnya dan memasukkan di dalam laci agar tidak terdengar jika ada yang telpon lagi.
Daysi tersenyum saat Ksatria marah-marah karena sebenarnya tadi Ksatria mau meminta jatahnya malam ini, namun saat akan mencium bibir Daysi deringan telpon milik Ksatria membuyarkan semua.
Ksatria segera membersihkan diri dan mengenakan baju tidurnya sementara Daysi memilih mandi di kamar lamanya, karena jika menunggu Ksatria selesai mandi pasti tubuhnya tambah lengket karena keringat.
Daysi berjalan menuju kamar Aak Cheval dan mengajaknya bermain sebentar, mungkin karena ikatan batin Aak Cheval langsung bangun dan tersenyum saat Daysi masuk dan menciumi wajahnya. Daysi tambah gemas melihat putra kecilnya ini meski ia tidak melahirkan lewat rahimnya sendiri.
Setelah menidurkan kembali Aak Cheval, Daysi berpesan pada Ria untuk merawatnya lagi. Terus terang semenjak hubungannya dengan Ksatria Malik semakin membaik dan romtis rasanya Daysi tambah tidak ada waktu untuk Cheval karena sikap manja Ksatria yang tidak bisa di kondisikan lagi.
Saat ini ia duduk di ruang keluarga sambil menonton acara di tv yang menampilkan pemeran utama wanita yang seperti di novel-novel terkenal.
"Kasihan sekali wanita ini, menderita dan di fitnah ini itu. Belum lagi ia dipisahkan dengan anak kandungnya sendiri." Daysi tetap melajutkan melihat acara tersebut.
Ksatria langsung tertidur di paha Daysi saat Daysi tengah asik bahkan mengeluarkan air mata saat melihat acara tv tersebut. Ksatria menyeka air mata Daysi yang membanjiri pipi chubby nya.
"Di matikan saja saluran tvnya jika menagis seperti itu lagi." Diselingi canda, Daysi langsung saja memukul pipi Ksatria berkali-kali sampai Ksatria mengadu panas di pipinya.
__ADS_1
"Makanya jangan menganggu penghayatanku melihat acara di tv, menyebakan." Seketika raut wajah Daysi yang tadinya menyedihkan kini berubah galak seperti induk singa.
"Siap bu boss cantikku," Ksatria melanjutkan tidur di pahan Daysi, sebenarnya Daysi kurang nyaman Ksatria yang terus-terusan tidur di pahanya karena menggangu acara sedih-sedihnya menonton sinetron malam ini.
"Haahh... besok-besok aku mau cari tukang las besi aja." Daysi mematikan saluran tv yang ia tonton.
"Kenapa, mencari tukang las besi mau buat apa?" Ksatria langsung duduk dan menghadap Daysi.
"Untuk memagari itu!" sambil menujuk pintu masuk ruang keluarga.
"Kan sudah ada pintunya kenapa masih mau mencari tukang las besi?"
"Biar kamu gak bisa masuk dan menggangu acara tv yang aku tonton, kalau pintu kayu atau kaca seperti itu kamu bisa mendobraknya jika itu di ganti besi kan kamu tidak bisa berbuat apa-apa!" Daysi pergi dari ruang keluarga dan di ikuti Ksatria dari belakang.
"Astaga..., kamu marah hanya gara-gara sinetron tadi?" sambil menujuk ruang keluarga.
"Iya, kamu menggangu saja!" jawab ketus Daysi.
"Tidak sama, aku lebih suka langsung lihat di tv," Daysi segera masuk ke kamar dan membaringkan tubuhnya dan membelakangi Ksatria.
Ksatria hanya menatap sekilas dan lebih baik mengal dari pada besok pagi tidak mendapatkan jatah masakan Daysi. Ksatria menatap langit-langit kamarnya sebelum ia terlelap dalam mimpinya. Saat menjelang pagi Ksatria merasakan ada tangan yang melingkar di perutnya ia langsung menatap siapa yang memeluknya, semburat senyum terpancar saat tau siapa yang melingkarkan tangannya di perut, ternyata sang istri tercinta, semarah-marahnya Daysi ia selalu melingkarkan tangannya di perut datar Ksatria dan mencuri dada Ksatria saat tertidur seperti biasanya.
"Seperti kucing kecil yang mencari kehangatan saja." Sambil membelai lembut surai rambut Daysi.
Pagi hari.
Daysi terkejut dengan dirinya sendiri yang memeluk erat tubuh Ksatria bahkan wajahnya menempel pada dada bidang milik Ksatria.
"Aiisshh... kenapa kebiasaanku setiap malam seperti ini sih." Daysi segera bangkit dari tidurnya.
Daysi lebih dulu bangun dan menyiapkan pakaian kerja Ksatria sebelum ia memasak untuk Ksatria. Daysi mengambil pakaian kotor dalam keranjang dan membawanya turun untuk di cuci.
__ADS_1
Daysi yang sudah selesai memasak dan mencuci pakaian kini ia menuju tempat pengeringan pakaian di dekat taman bunga rumah ini. Sebenarnya ada asisten rumah yang lain namun hari ini Daysi ingin melakukannya karena rasa kesal gara-gara acara sinetron semalam masih mengusik hati dan pikirannya. Kalau di lihat-lihat Daysi lebih rajin melakukan pekerjasn rumah saat sedang marah seperti ini.
Ksatria yang baru saja turun dan menakan pakaian yang di pilihkan Daysi hanya tersenyum dan kenahan tawa saat Daysi mencari kesibukan terus menerus.
"Stop..., jangan melakukan hal seperti ini. Bukannya kamu juga harus menjaga kesehatanmu saat ini?" meraih sapu yang di pegang Daysi.
"Kenapa, aku masih kesal gara-gara semalam acara tv kamu ganggu!"
"Baiklah nanti malam aku janji tidak akan menggangumu lagi. Oh yaa ayo temani aku sarapan karena hari ini aku sibuk karena ada rekan bisnis yang mau mengajakku ke resto untuk membahas kerja sama." Meraih pergelangan tangan Daysi.
"Iya...," Daysi pasrah saat Ksatria menarik pergelangan tangannya.
"Orang sebaik ini kenapa dulu Arabelle meninggalkannya dan lebih memilih laki-laki lain sampai akhir hayatnya?" tanya Daysi dalam hati.
"Lagi memikirkan apa sih?" sambil mencubit hidung Daysi sampai memerah.
"Lagi memikirkan kamu!" goda Daysi.
"Aaa... ciye... belum juga berangkat tapi sudah kepikiran kan sikapmu seperti ini membuatku enggan datang ke hotel. Aku di rumah saja ya kalau begitu." Duduk di ruang makan.
"Aku tidak mau punya suami pengangguran selagi tenaga masih ada untuk berkerja, kecuali hari libur," Daysi mengambilkan makanan dan memberikannya pada Ksatria.
"Kalau begitu hari ini aku liburkan saja ya semua karyawan?" Ksatria mengambil ponsel dari saku jasnya.
"Eeitss... mau apa?" Daysi menghentika Ksatria tepat waktunya, namun tangan Ksatria sudah menyentuh panggilan kepada Okta sang manager.
"Hallo pak ada apa?" tanya Okta di balik telepon.
"Tidak ada apa-apa pak Okta!" jawab Daysi mematikan ponselnya.
Okta yang berada di hotel hanya menatap ponselnya dengan kebingungan sendiri.
__ADS_1