ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. Di kejar mantan suami


__ADS_3

Gauri terus saja menyingkirkan tangan Aldy dari pinggangnya tapi lagi-lagi tidak bisa, hanya ada satu cara jika ia tidak mau melepasnya. Saat hendak melaksanakan rencanannya namun suara bisikan Aldy membuat bulu kuduk Gauri berdiri.


"Aku akan melepasnya jika kamu mau bicara dengan aku baik-baik." Mengancam.


Aldy tau jika Gauri punya fantasi ingin memukul itunya atau menginjak kakinya seperti dulu-dulu.


"Ayo," ketusnya sambil menatap Aldy dengan tatapan tajam.


Gauri menyipitkan matanya.


"Kenapa sih kamu ngejar-ngejar aku, atau jangan-jangan kamu pengangguran ya." Gauri marah tapi tangannya terlalu jujur ia menerima es krim coklat pemberian Aldy Sampoerna.


"Kata siapa tidak ada pekerjaan, pekerjaanku banyak kali. Aku ada proyek pembangunan ke tiga ku, usaha sederhana sih," menunjukkan beberapa potret sedang membangun beberapa cafe dan juga ruko sewaan.


Gauri hanya menatap saja, ia sama sekali tidak tercengang dengan hasil kerja keras Aldy lagian siapa yang percaya jika itu murni hasilnya sendiri.


"Ko kamu biasa-biasa saja sih ekspresinya?" heran jadinya.


"Terus ... nyuruh aku bangga gitu, ya kalik bangga kalau hasil jerih payah bukan dari tangannya sendiri melainkan tidak bisa berdiri tanpa bantuan!" Gauri mengambil ponselnya sedari tadi bergetar dan minta di angkat telponnya.


Aldy mengepalkan tangannya. Meski hotelnya jatuh bangkrut dan ia memulai bisnis lagi, tapi bukan berarti dirinya tidak ada pekerjaan.


Apa sebegitu rendahnya diri ini sampai mengandalkan kekayaan orang tua. Akan ia tunjukkan jika ini murni dari hasil kerja kerasnya tanpa bantuan dari mereka, di tambah lagi usaha cafenya yang sedang naik daun.


📞 "Hallo ... Raden, ada apa?"


Aldy benar-benar geram, bukannya tadi mendukung kenapa sekarang jadi menikung. Apa tadi kasih semangatnya hanya untuk di jadikan merah-merah bibir supaya dapat sanjungan dan menambah daya tarik di mata Gauri, biar dapat pujian gitu maksudnya.


"Sorry ya, aku pergi dulu." Gauri beranjak pergi padahal Aldy belum mengiyakan.


Aldy segera membayar biaya tagihan di cafe itu dan menyusul Gauri yang menunggu tukang ojek.


"Ayo aku hantar, mau kemana?" niat baiknya di abaikan Gauri.


Lebih baik begini, saling sendiri saja dari pada sama-sama namun saling menyakiti.


"Tidak usah!" langsung melambaikan tangannya saat tukang ojek pesanannya barusan ternyata secepat ini.


Aldy berlari menuju area parkir dan langsung menjalankan kemudinya, ia ingin tau gadis tercintanya itu pergi kemana. Terus tadi kenapa Raden bisa menelpon dadakan begitu sih, ada apa sebenarnya.


Aldy tidak asing dengan tempat kontrakan ini, benar ini kontrakan yang ia datangi tadi siang dan sama seperti dulu-dulu tapi tunggu ko ramai ada apa, apa Gauri di usir atau apa. Ia memutuskan keluar dari mobilnya.


Ternyata Gauri di lamar seseorang yang tidak menarik hati baginya, hanya seorang pelanggan sayuran dan dia berkerja di salah satu restoran mewah di kota XX ini.


"Terimalah lamaran ku Gauri." Sambil menurunkan satu kaki dan berjongkok di depan Gauri dengan menyodorkan cincin emas pada Gauri.


Semua orang menonton kejadian ini.


"Maaf, sudah ada calonnya." Aldy tiba-tiba muncul seperti pahlawan.


Suasana menjadi kacau dan saling adu jotos, Raden ikut melerai tapi malah kena pukulan dari pria bernama Kevin.


Gauri pusing, pasti jadi gunjingan ibu-ibu besok di tambah lagi perasaan sayur mereka, gagal deh dapat bonus jika namanya jadi pembicaraan.


Di kantor Desa setempat.


"Apa bisa di jelaskan disini?" tanya perangkat desa termasuk kepala Desa.


"Em itu ..." belum terjawab oleh Raden maupun Aldy sudah di serobot lebih dulu oleh Kevin.


"Gara-gara pria ini pak kepala desa, mentang-mentang wajahnya dan badannya putih mengaku-ngaku calonnya wanita yang saya cintai dan lamar hari ini pak lurah dan pak perangkat." Gila banget ya Kevin ini, sudah buat masalah melemparkan masalah pula.


Padahal kegaduhan dia sendiri yang buat dan dia pula yang mulai aksi tidak terima dan menonjok Aldy dan Raden bergantian, namun sekarang malah memutar balikkan fakta sebenarnya.


"Lihat pak, ini badan dan lengan saya semua lebam di tambah lagi wajah saya nih pak bonyok sana sini tuh ... sakit banget lagi pak, di tambah mereka tidak kenapa-kenapa sedangkan saya seperti ini. Apa boleh saya lapor pihak berwenang?" Sambungnya lagi sambil memperlihatkan semua area yang terkena pukulan dari Aldy dan juga Raden.


"Bohong pak, dia yang memulai dulu." Aldy Samporna tidak terima jika di jelek-jelekkan oleh orang jelek seperti Kevin ini.


"Sudah-sudah stop, ini bisa di bicarakan secara kekeluargaan. Dan untuk kamu Gauri, sebaiknya kamu pilih salah satu di antara ketiga pria ini sekarang juga dari pada saya tambah pusing gara-gara cinta segi empat." Pak kepala desa sampai pusing dan pamit undur diri lebih dahulu.

__ADS_1


Masa mudanya tidak pernah di perebutkan banyak wanita jadi ia merasa insecure sendiri melihatnya.


"Pak ... tapi masalah ini saya sangat di rugikan pak, saya harus menjual wajah saya demi hidup di restoran. Jika wajah saya begini takutnya pembeli kabur dan saya bisa-bisa kehilangan pekerjaan saya pak kepala desa?" masih ngeyel banget Kevin ini.


Sepertinya kulit mukanya tebal dan tidak tau malu sekali, padahal ini desa bukan tempat tinggalnya melainkan berada desa dan kecamatan.


"Sudah saya bilang, di selesaikan secara kekeluargaan saja dari pada tercium polisi dan desa ini jadi kena akibatnya dari ulah kalian ini." Kepala desa langsung masuk ke ruangannya.


Kevin masih tidak terima, sampai tangan kokoh menarik kaosnya dengan kuat.


"Kalau kamu gentleman gak usah lapor terus ke kepala desa, ayo selesaikan di balap motor nanti malam. Saya anggap ini permintaan maaf jika kamu bisa mengalahkan aku." Aldy menarik lengan Gauri usai mengajak taruhan Kevin.


Kevin sebenarnya nyalinya kecil sekali di tambah ia tidak bisa balap motor meski ia laki-laki, kalau sampai kakak perempuannya tau bisa-bisa dirinya di jemur dan motor pemberian kakak perempuannya di sita saat itu juga.


Raden pergi lebih dahulu kembali ke rumah, sepertinya nanti malam menjadi tambah menarik kalau dia yang di tantang berani datang dan menunjukkan mukanya yang sok-sokan tadi.


Beberapa jam kemudian orang yang di tunggu tak kunjung datang, sepertinya nyalinya gak ada.


"Dia gak datang?" Aldy menatap ke arah pintu masuk.


"Tidak, pasti dia takut. Laki-laki modelan begitu gak pantas dekat dengan Gauri!" Raden bicara kenyataan.


Sudah 10 hari Gauri dan Aldy tidak saling bertemu, Gauri semakin sibuk usai dirinya viral benar-benar berkah untuk pekerjaannya. Pesanannya semakin membludak sepertinya akan butuh karyawan untuk membantunya tapi jika dia mau rugi tapi jika gak mau rugi pasti jalan sendiri tuh orang.


"Aduh ... Gauri kamu semakin hari semakin cantik ya, sudah cantik, baik dan rajin pula. Mau kan saya jodohkan dengan anak lelaki budhe yang sedang berkerja di luar pulau?" tanya wanita paruh baya bernama Niken biasa di panggil Buden.


"Maaf sekali Buden, hawatir ada yang main jotos lagi Buden!" Gauri tersenyum dan sopan seperti biasanya.


"Iya ... ya ..., teringat kejadian sekitar sepuluh hari yang lalu. Kamu hebat loh Gauri jadi rebutan tiga cowok sekaligus, kamu pilih siapa di antara mereka?" pertanyaan Budhe Niken ini kenapa bahas laki-laki lagi.


Yang ngalamin aja masih sok berat, bahkan hawatir akan keselamatan dirinya sendiri. Orang lain pasti bangga dan suka di perebutkan orang-orang tapi tidak bagi Gauri, ia mudah terbawa perasaan dan sering salah sangka akan kebaikan dari orang itu.


Apalagi sekarang Aldy mulai mendekatinya lagi, bisa jadi perasaan benih-benih cinta akan tumbuh lagi.


Aldy hari ini sengaja meluangkan waktu untuk menanti Gauri lewat biasanya ia mengantar sayur ke alamat pesanannya.


"Mana sih Gauri sayang, apa hari ini dia gak kerja. Tumben, biasanya duit lebih menggoda dari pada perhatianku." Galau lagi, lebay lagi.


Gauri mengerutkan dahinya, kenapa orang itu menatap kesana kemari seperti mencari seseorang. Gauri hendak menghampiri namun laju sepedanya terhenti saat netranya tidak salah lagi menatap seseorang yang begitu tidak asing bagi Gauri.


"Bukannya dia wanita yang bersama Aldy sekitar dua mingguan yang lalu, ternyata masih sama-sama ya. Dasar Aldy playboy, kena penyakit x mampus kamu." Gauri yang kesal tidak jadi lewat di depan Aldy ia memilih memutar arah yang lumayan jauh jarak tempuhnya.


Aldy sebenarnya tau jika Gauri hendak lewat namun ia gagal menghentikan Gauri yang sudah terlanjur melihat, gawat bisa jadi salah paham berkepanjangan jika gak di jelasin secara detail.


"GAURI SAYANG ... TUNGGU." Percuma saja, Gauri yang mendadak emosi melajukan sepeda ontelnya dengan mengayuh secepat mungkin.


Aldy langsung masuk ke dalam mobil dan mengejar Gauri. Gawat ... gawat ... jika tidak di kejar, cukup kejadian lalu saja ia ceroboh tapi tidak sekarang.


"Sialan ... kenapa sih wanita kurang waras itu ngejar-ngejar aku, bikin Gauri sayang ngambek. Tapi ... kenapa aku senang sekali Gauri marah, itu tandanya ia masih ada sedikit rasa. Tidak apa-apa, di pupuk pasti benih cinta bisa tumbuh besar kembali." Semangat membara 45.


Gauri kenapa jadi kesal melihat Aldy bersama dengan wanita yang selalu menonjolkan bagian dadanya, lagian Aldy kan dari dulu suka dengan hal-hal yang demikian.


"Laki-laki normal pasti begini, ada godaan yang menyuguhkan dia di depan kenapa enggak di coba." Perkataan yang selalu Gauri ingat dulu saat masih sama-sama.


Bahkan setiap ucapan, kegiatan, perhatian dan semua yang ada dalam diri Aldy Samporna dirinya ingat itu.


Gauri tau jika Aldy masih labil kala itu tapi tidak pada Gauri, ia berpikir jika sudah melakukan itu berarti sudah dewasa dan tidak untuk bersenang-senang, namun perbuatan itu ternyata menjadi bom waktu dengan sangat singkat sekali.


Tin


Tin


Tin


Aldy menekan klakson mobilnya berkali-kali sampai membuat Gauri marah dan darah tinggi.


"BERISIK TAU GAK." Sambil menunjuk-nunjuk Aldy.


Beberapa pengendara menatap Gauri dengan tatapan yang sulit untuk di artikan, entahlah apa yang mereka pikirkan sepertinya memikirkan hal yang negatif di tambah mobil Aldy yang mencolok mata, meski bukan keluaran terbaru tapi mobil itu pasti harganya hampir M M an.

__ADS_1


Aldy keluar dari mobil.


"Kenapa begitu antusias sih Gauri sayang? masih memendam rasa suka ya padaku atau jangan-jangan kamu terpesona akan ketampanan aku. Ayo ngaku dan jujur ke aku, lagian lebih enak loh sepedah kamu itu kamu masukkan ke bagasi belakang dan kamu duduk di sebelah aku sambil tersenyum dan menggodaku seperti dulu?" godanya dengan cara berpura-pura tidak bersalah.


Gauri mengepalkan tangannya.


"Jangan tinggi kepercayaan diri kamu pak Aldy Sampoerna. Lagian seharusnya aku yang marah ke kamu, aku tau kamu memiliki kehidupan yang bergelimang harta tapi tidak begini caranya merendahkan orang lain. Saya harap ini terakhir kalinya saya bertemu dengan anda. Permisi." Gauri melanjutkan perjalanannya.


Gauri memperbanyak sadar diri akan status dan keturunan yang ia miliki. Jika menghalu jangan ketinggian biar jatuhnya gak parah-parah amat.


Aldy tentunya terkejut, dimana sosok Gauri yang baik dan polos dulu. Walaupun ia terkadang ketus juga saat datang bulan.


"Apa aku tidak pantas singgah di hatimu lagi Gauri sayang? apa kata-kata bercandaan kita dulu sekarang sudah kamu anggap serius Ace?" Aldy akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah.


Sesampainya di kediaman Guritno.


Aldy sebenarnya memiliki nama lengkap Aldy Sampoerna Guritno, tapi nama Guritno sering tidak ia cantumkan saat menuliskan namanya.


Ia tidak mau membawa-bawa nama keluarga di belakangnya, meski bukan dari keluarga yang sangat kaya-raya dan tajir melintir namun nama itu sudah nama turun temurun dari nenek moyang entah sudah ke generasi berapa Aldy ini, yang jelas jika nanti menikah harus nurut atau manut ucapan orang tua atau sesepuh keluarga Guritno.


"Aldy." Neneknya langsung menyambut Aldy.


Aldy langsung membalasnya, usia boleh tua tapi pakaian ala anak muda kekinian. Meski kulit keriput dimana-mana tidak jadi masalah bagi nenek berusia 79 itu.


"Iya nek," Aldy membantu neneknya berjalan ke arah ruang tamu.


"Nenek masih bisa jalan dan kuat, kenapa kamu bantu berjalan sih Aldy?" Nenek Asmara sedikit marah jika keluarganya memperlakukan dirinya seolah-olah tidak bisa berbuat apa-apa.


"Selamat siang nek." Sapa lembut wanita berpakaian selutut sambil membawa sebuket uang bunga dan juga tangan satunya membawakan buah tangan.


Aldy memutar bola matanya dan juga menggerutu dalam hati.


'Apa-apaan sih nenek main ngundang perempuan yang tidak jelas begitu.'


Kesalnya dalam hati, wajah Aldy sangat dingin dan datar tapi di hadapan neneknya ia akan tersenyum bahagia padahal sebenarnya ia ngomel-ngomel.


"Aldy ... kenalan dong, dia gadis yang baik loh Aldy." Asmara begitu sangat antusias sekali.


Aldy menghela nafas panjang.


"Ooo ..., nek Aldy pamit dulu. Mendadak ada pekerjaan penting," mencium tangan dan kedua pipi Asmara sambil menunjukkan ponselnya.


Gadis itu terpesona dengan Aldy, wah ... laki-laki yang peduli dengan keluarganya dan juga tampan harus baik-baik memperhatikannya jika tidak ia akan jatuh di jala wanita lain.


Meski cuek dan dinginnya melebihi kutub Utara tidak apa-apa yang penting ganteng, tampan, kaya dan peduli pada keluarga pasti kedepannya meski cuek pada dirinya lambat laun pasti akan berubah dan memperhatikan dirinya.


Aldy masuk ke dalam mobil dan mengetik beberapa pesan menyuruh seseorang untuk mengawasi rumah kontrakan Gauri, hanya satu orang yang mengawasi sesuai dengan yang ia mampu lagian hidup lepas dari gelimang harta keluarga dan orang tua harus serba hemat dan cukup secukup-cukupnya.


Tapi terkecuali ketika dirinya pergi dengan Gauri ia akan memberikan segala yang ia punya dan mampu untuk memperbaiki keadaannya dengan Gauri, namun sepertinya takdir belum bersama dengan dirinya.


Gauri masih bersikukuh dalam pendirian untuk hidup sendiri tanpa bantuan.


1 jam kemudian


Tring


💬 Bos, ada seseorang laki-laki membawakan sesuatu dari mobilnya ke rumah gadis yang bos suruh tadi.


Aldy menatap layar ponselnya sambil berpikir, siapa laki-laki itu.


💬 Foto


Aldy menanti balasan, matanya membulat sempurna saat ia memperbesar foto yang baru saja ia dapat.


"Apa aku gak salah lihat ini? bukannya ini Raden. Apa Raden berhianat? atau jangan-jangan ia juga punya rasa pada Gauri sayang ku. Gak boleh jadi ini jika benar dia suka, bisa-bisa kalah saing." Aldy mengepalkan tangannya.


Padahal ia tidak mau mengikat Gauri namun sepertinya harus segera di ikat dengan cara apa pun itu.


*

__ADS_1


Masih up


pantengin terus ya dan terimakasih sudah berkenan membaca dan meninggalkan dukungan nya teman-teman.


__ADS_2