
Jejaknya jangan lupa dan terimakasih.
***
Sindy yang keluar dari mobil suaminya segera masuk dan membersihkan diri, perutnya yang sudah lapar ia isi terlebih dahulu sebelum nanti berdebat dengan sang suami.
"Kalian bertengkar lagi, apa tidak ada perdebatan yang lain lagi. Mama sampai bosan melihat kalian seperti ini, seperti sedang menonton drama bersambung tanpa menemukan titik penyelesaian?" Daysi memberikan anak-anaknya lauk yang sama.
"Aa tuh Ma, yang sengaja buat aku marah!" Sindy berdoa lalu segera menghabiskan makanan nya.
"Ko Aa sih sayang, Aa tidak salah loh. Wajar jika mereka melihat Aa karena Aa asisten Dosen dan sebentar lagi Aa akan menjadi Dosen." Elak Cheval.
"Alasan, bilang saja mau pamer body yang itu," Sindy menunjuk perut bagusnya.
"Siapa yang pamer body sih sayang, sudah Aa bilang mereka melihat Aa lantaran Aa asisten Dosen dan Aa yang mengajar kelas mereka. Sebagai mahasiswa ataupun mahasiswi wajar kan melihat guru pembimbingnya." Cheval mulai di landa emosi tingkat tinggi.
"Hey stop, kalian berdua apa-apaan sih kenapa berdebat hal seperti ini. Lebih baik kalian itu berdebat tentang ilmu yang bermanfaat saja, dari pada hal seperti ini. Tidak berguna dan membuat orang emosi yang mendengarnya, jika kalian tetap seperti ini jangan harap bisa makan masakan Mama yang ini." Ancam Daysi membawa mangkuk berisi ayam kecap kegemaran mereka semua.
"Mama please, jangan di sita yang itu aku mohon," Sindy memelas begitu juga dengan Cheval.
"Anak-anak memang lucu, teringat sewaktu ia kecil dan saling berebutan makanan. Ternyata sampai dewasa pun masih sama, wajah imut dan menggemaskan." Daysi masih saja bersikap tegas padahal tangannya ingin sekali mencubit putra dan putrinya itu.
"Sudah stop Mama jadi tidak tega, makanlah sekarang." Mencubit pipi mereka dengan kuat sampai pipinya merah semua.
"Terimakasih Mama yang paling cantik dan baik," berbicara dengan ucapan yang sama.
"Tapi jangan berdebat lagi, oke." Daysi segera pergi untuk melanjutkan kegiatan yang lain.
Sore ini bunga-bunga kesayangannya perlu perhatian lebih, seperti pemberian pupuk dan menyemprot untuk membasmi hama di tanaman bunga-bunganya yang cantik.
"Sore Ma." Ksatria yang baru saja pulang langsung menebar ke romantisan, serasa dunia hanya milik mereka berdua yang lain cuma numpang bernafas saja.
__ADS_1
Tukang kebun yang membantu Daysi pura-pura mati biar tidak di makan predator ganas dan mematikan sandang pangan sang tukang kebun.
"Pa jangan seperti ini, kasihan tuh pak Tamrin yang sedang membersihkan rumput untuk pemupukan bunga yang butuh asupan pupuk," tunjuk Daysi pada Tamrin yang masih saja pura-pura tidak melihat, padahal dalam hati ia berdoa keras supaya tidak di pecat si bos.
"Pak Tamrin jangan hiraukan kami ya." Ucap Ksatria dengan memberi kode.
Tamrin segera membalikkan badannya dan menjauh dari area terlarang tersebut.
"Sabar... sabar... Tamrin, demi anak dan istrimu di luar kota." Tamrin segera melanjutkan membersihkan taman saja, mumpung masih terang dan belum gelap.
Daysi melanjutkan kegiatannya meski ia merasa tidak nyaman dengan kelakuan suaminya yang terus saja mengikuti setiap langkahnya ia memupuk tanaman.
"Ma, kenapa harus Mama sih yang melakukannya. Kan masih ada pak Tamrin sebagai tukang kebun di rumah ini, lagian ini sore loh Ma, apa tidak ingin membantu sang suami melepas jas dan sepatu." Ksatria duduk di salah satu kursi yang ada di tempat tersebut.
"Baiklah, sebentar ya Pa aku cuci tangan dulu," Daysi segera meletakkan kembali peralatan bertanamnya dan membersihkan tangan dan kakinya.
Ksatria yang langsung saja di layani seperti ini bertambah manja pada sang istri.
Daysi yang terbiasa dengan sikap manja suaminya tidak heran lagi atau pun terkejut jika sang suami mendadak seperti anak kecil.
"Papa pulang dari hotel sudah makan atau belum, tadi Mama masak ayam kecap kesukaan Papa." Daysi melipat jas dan membawakan tas milik Ksatria.
"Papa mau makan kalau begitu," Ksatria dengan bahagia menuju ruang makan, namu ayam kecap harapannya sudah tidak ada di atas meja.
Kemudian ia menatap putra dan putrinya yang baru saja selesai makan.
"Kalian menghabiskan semua ayam kecap?" tanya Ksatria yang diangguki oleh anak-anaknya.
Hatinya runtuh seketika sampai lautan terdasar, harapannya musnah dalam sekejap mata.
"Ma...." Rengek kan Ksatria membuat Cheval dan Sindy cepat-cepat pergi sebelum sang papa mengomel tidak berhenti.
__ADS_1
"Ayo sayang cepat kabur sebelum Papa mengomel dari A sampai Z, ayo." Menarik tangan Sindy dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.
Sindy merasa lega setelah berlarian di anak tangga, untung ia tidak tersandung seperti biasanya. Mata kakinya berfungsi ternyata biasanya saja ia tersandung tanpa pilih tempat.
Ksatria menangis tersendu-sendu, benar-benar ia mengulang masa kecilnya.
"Pa, ini masih ada kenapa menangis seperti anak umur empat tahun yang meminta mainan namun tidak di izinkan untuk membawanya pulang saja." Daysi memberikan satu mangkuk ayam kecap berisi lima potong ayam.
Daysi geleng-geleng kepala, melihat kekonyolan sang suami. Ada sisa makanan di sudut bibir suaminya, Daysi langsung mengelapnya.
"Terimakasih ya Ma, Mama romantis banget ke Papa." Ksatria melanjutkan makannya.
"Siapa yang sedang romantis sih Pa, cuma sayang jika nanti kecapnya jatuh ke kemeja Papa, aku juga yang susah harus merendamnya berjam-jam lantaran detergen nya berkerja pelan tidak cepat," Daysi ikut makan juga.
"Aku kira Mama bersikap romantis seperti kita baru menikah, ternyata takut kemeja aku terkena bumbu kecap." Ksatria tetap melanjutkan makannya, meski hatinya tidak nyaman karena terlalu percaya diri dan dalam sekejap jatuh tersungkur plus terkena kotoran.
Cheval sedang melepas pakaiannya dan bersiap untuk membersihkan diri terlebih dahulu, sedangkan Sindy asik dengan permainan di ponselnya. Suara tawa Sindy menghiasi kamar tersebut.
"Apa sebegitu lucunya permainan yang kamu mainkan sampai-sampai lupa dengan suaminya ini?" menciumi pipi Sindy.
"Aa tetap lucu, tetapi tidak semenggemaskan dia!" mencolek pipi Cheval.
"Sana mandi dulu, badanmu sudah bau ini." Menciumi pundak Sindy yang masih beraroma parfum yang sangat lembut.
"Sebentar ya Aa, nanggung nih tinggal ini baru menang," Sindy melanjutkan bermainnya.
"Sudahlah kalau begitu." Cheval masuk ke dalam ruang ganti pakaian.
Banyak deretan baju yang masih baru dan warna natural tidak mencolok dan tidak kusam di pandang mata.
"Pakai ini saja deh, lagian belum tidur juga." Dengan pakaian kasual Cheval keluar.
__ADS_1
Ia terkejut saat melihat sang istri masih saja bermain dengan ponselnya, ia pikir setelah lama di dalam ruang ganti istrinya ke kamar mandi ternyata tidak dan hanya bergeser tempat saja.