
Jangan lupa like, favorite, komen dan rate bintang lima ya. Terimakasih dan selamat membaca.
***
Taman bermain.
Momo sedang galau dilema hatinya, sekarang ia lebih banyak menyendiri dan merenungi diri sendiri dan mencoba memperbaikinya, sekarang untuk menatap wajah Lais secara langsung saja ia sangat malu sekali bahkan ia tidak sanggup berbicara panjang lebar dan cerewet lagi pada Lais.
"Hidup rumit sekali, semoga cuma aku yang merasakannya tidak untuk orang lain." Momo menenggak habis air mineral yang baru saja ia beli.
Filan yang baru saja berkencan dengan seorang wanita tersenyum sinis saat melihat Momo yang sedang mengayun-ayunkan kakinya yang jenjang di ayunan.
"Galau terus, apa cuma dia saja laki-laki di dunia ini perasaan masih ada yang lain bahkan lebih baik dari dia." Filan mengayunkan ayunan yang di duduki Momo.
"Biarin, lagian yang galau aku juga selain itu aku juga tidak menyusahkan perasaan orang lain, terus apa masalahnya denganmu," Momo menikmati ayunan.
"Ya... kalau aku sih tidak bermasalah ya jika kamu galau tetapi satu, kasihan mata orang-orang yang melihatmu seperti habis di putusin padahal tidak punya pacar juga." Ucapan Filan sangat pedas di dengar telinga
"Cih... sok tau permasalahanku saja," Momo turun dari ayunan dari pada mendengar ceramah Filan yang berujung mengajaknya berkencan.
"Hey, mau kemana. Ayo aku ajak berkencan dari pada orang tampan sepertiku di tinggal sendirian di sini." Tetap bersikukuh mengajak kencan.
Momo mengabaikan teriakan Filan yang seperti orang gila saja. Memang sengaja Momo tidak menanggapi godaan dari Filan, bukannya sok jual mahal tetapi cuma hati-hati saja dengan sosok Filan yang sepertinya banyak trik licik untuk menjerat para wanita di dalam pelukannya.
"Terserah mau berbicara apa, nanti kalau suaranya habis dan serak pasti berhenti sendiri." Momo masuk ke dalam mobil kesayangannya.
Lais yang sudah pulang ke Indonesia hanya menatap tempat-tempat yang sering ia kunjungi, semenjak lulus SMA Lais bolak balik dari New Delhi ke Indonesia. Semua Lais lakukan lantaran permintaan sang kakek yang memintanya untuk sering menjenguknya.
Momo yang baru saja sampai di rumah langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, baju tidur yang di gunakan Momo berwarna merah cerah, warna kesukaan Lais.
"Hhuff... kenapa harus dia lagi sih yang menari-nari dalam otakku, dia saja tidak ada kabar. Hampir 3 bulan kami tidak mengirim pesan satu sama lain dan selama itu pula aku hanya melihatnya beberapa kali saja." Momo yang sudah di landa cinta tidak mudah baginya untuk berpaling ke lain hati.
__ADS_1
Kediaman Malik.
Sacha yang masih mengurusi pekerjaannya yang belum kelar hanya menghela nafas saat Ksatria melarangnya pulang.
"Kamu balas dendam padaku gara-gara aku bermain dengan Sindy dan berhasil mengalahkan Sindy sewaktu main golf tadi pagi." Protes Sacha dengan membolak-balikkan berkas yang ada di depannya.
"Ya itu termasuk salah satunya tetapi ada hal lain juga, gara-gara sikap egoismu itu membuat Momo banyak terluka sekarang," Ksatria melempar beberapa berkas lagi pada Sacha.
"Dia putriku, aku tidak mau dia terluka karena cinta. Andai ibunya bukan penggoda suami orang pasti aku tidak akan membenci putranya." Sacha yang selama ini tidak pernah mengungkapkan alasannya kenapa ia sangat membenci sosok Lais, kini terungkap sudah kenapa ia membenci bocah itu.
"Jadi itu alasannya, meski ibunya berbuat salah tetapi anaknya tidak bersalah. Bukannya dia bukan anak kandung Marc?" Ksatria meminum kopi yang baru saja di hantar sang istri tercinta.
"Kamu membelanya, terserah padamu saja deh. Nanti jika terjadi apa-apa aku titip Momo padamu, jaga dia seperti kamu menjaga Aa dan Sindy!" ucap aneh Sacha yang masih asik dengan berkas-berkas di tangannya.
Sekarang mengembangkan hotel lebih moderen berada di tangan Sacha Mahendra, bahkan ada dua proyek yang ia tangani selain Royal Malik.
Daysi yang melihat kepulangan anak-anaknya langsung menyambut dengan hangat keduanya.
"Sudah ma, bahkan sangat bagus jahitannya ma!" Sindy mengeluarkan ponsel saat mendengar deringan ponsel masuk.
Sindy menatap ke arah sang suami kemudian ke arah Daysi kemudian ia memperlihatkan layar ponselnya yang tertera nama Lais dengan jelas.
"Angkat saja sayang, mungkin ada yang perlu dia bicarakan denganmu." Cheval tidak ada rasa cemburu pada Lais, Cheval sudah menganggap Lais seperti saudara sendiri bahkan adik kandung.
Walau bagaimana pun Lais besar bersama dengan papanya meski ia belum pernah merasakan kasih sayang papa kandungnya sendiri.
"Hallo, ada apa Lais?" Sindy bertanya dengan sedikit keheranan.
"Aku... aku... ingin menanyakan kabar Momo, apa dia baik-baik saja, eemm... Sindy tolong sampaikan salamku padanya ya!" Lais mengakhiri telponnya secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Sindy.
Sindy mengerutkan alisnya.
__ADS_1
"Ada apa, apa dia mengungkapkan sesuatu." Cheval mendekati sang istri.
"Hanya menanyakan kabar pada Momo dan titip salam saja, belum sempat aku berbicara sudah ia matikan secara sepihak," Sindy mendengus kesal.
Ingin sekali ia menenggelamkan kepala Lais di kolam agar pikirannya tidak sempit seperti sekarang.
"Mama ke atas dulu ya, kalian lanjutkan pembicaraan kalian." Daysi segera menapaki anak tangga.
Cheval menepuk pundak Sindy berkali-kali, akhir-akhir ini dia terus memikirkan hati dan perasaan Momo adik sepupunya. Momo yang tidak banyak bicara soal cintanya yang sekarang, Momo lebih pendiam dan terkesan menyendiri tidak seperti dulu yang aktif dan terkesan pecicilan.
Sindy menekan ikon untuk menelpon Momo, suara deringan telpon masuk terdengar.
"Iya Sindy ada apa." Momo sedang mengosok gigi terdengar dari suara menyikat.
"Ada yang rindu denganmu loh, ciye...," ledek Sindy.
"Jangan mengngaco deh kamu, pacar saja tidak punya masa iya ada yang rindu." Momo keluar dari kamar mandi.
"Ada tuh buktinya, Lais baru telpon menanyakan bagaimana keadaanmu dan dia titip salam tadi," Sindy masih saja menggoda Momo.
"Oo...." Dalam hati Momo merasakan kecewa teramat dalam pada Lais, kenapa dia menghubungi Sindy dari pada dirinya.
Pasti dia hanya sekedar basa basi saja karena tidak ada bahan untuk berbicara makannya ia berucap seperti itu.
"Momo, apa kamu tertidur lagi, Momo." Sindy bertanya lagi namun dengan sengaja Momo tidak menjawabnya. Karena tidak di jawab oleh Momo, Sindy akhirnya menutup telponnya.
Momo meratapi nasibnya di balkon sambil menatap langit yang sangat gelap. Sama seperti hatinya yang sangat-sangat gelap tanpa setitik cahaya.
"Apa kamu sudah tidak mengnganggapku lagi Lais. Kamu jahat ke aku tetapi mengapa hati ini terus saja tertuju padamu." Melihat satu persatu fotonya saat pergi bersama sebelum pertemuan perjodohan itu terjadi.
Awal dimana keretakan dan kerenggangan terjadi yaitu hotel rona yang menjadi saksi perpisahan.
__ADS_1