
PART EMILLIA DAN NADIA BERTEMU.
Emillia yang membawa tas besar berada di lobby hotel, ia tidak dapat menemui Cheval lantaran tidak punya janji padanya.
"Saya mohon izinkan saya masuk mbak, saya mohon." Emillia menagkupkan kedua tangannya seraya memohon.
Cheval yang tidak sengaja melihat dari cctv tertawa nyaring di dalam ruangannya. Dia benar-benar tertindas dan memelas.
"Kasihan sekali." Cheval memencet tombol telpon yang langsung terhubung dengan resepsionis hotel tersebut. "Suruh dia masuk, dia tamuku siang ini." Mematikan sambungan panggilannya.
"Silahkan tuan, anda bisa masuk," salah satu resepsionis tersebut menghantarkan Emillia.
Emillia yang mata keranjang sedikit menggoda sang resepsionis tersebut.
"Mbak, apa sudah punya kekasih, saya bisa loh menjadi penghangat hatimu mbak." Gombalnya pada Nadia sang resepsionis cantik tersebut.
"Maaf tuan," jawabnya sambil menunjukkan cincin pernikahan palsunya.
"Aku harus hati-hati dengan orang asing ini, dia terlihat sangat mencurigakan sekali. Apalagi tas yang ia bawa." Nadia sedikit menatap dari pantulan lift tersebut.
Ttriinngg.
Lift terbuka dan dua orang yang berada di lift tersebut keluar, Nadia berjalan terlebih dahulu dan menunjukkan ruangan Cheval Malik, sesampainya di depan ruangan Nadia mengetuk pintu tersebut.
"Silahkan tuan, saya permisi terlebih dahulu." Nadia kembali masuk ke dalam lift karyawan.
Emillia yang baru saja masuk ke dalam ruangan Cheval langsung duduk padahal Cheval belum mempersilahkan dia duduk.
"Tidak sopan sekali kamu baru datang." Menatap tajam Emillia, "kenapa tuh wajah kusut?"
"Bagaimana tidak kusut, barusan menemukan wanita cantik tetapi sudah bersuami," Emillia menatap wajah gadis bersuami tersebut di langit-langit ruangan tersebut.
"Siapa dan dimana?" Cheval berpura-pura menanggapinya.
"Itu, resepsionis mu yang bernama Nadia, cantik-cantik sayangnya sudah bersuami!" jawab dengan memelas. Kasihan sekali raut wajah masamnya.
"Resepsionisku yang bernama Nadia, sudah menikah sejak kapan. Setahuku belum ada yang menikah resepsionisku." Terang Cheval sambil tertawa dalam hati.
__ADS_1
"Shit..., gue di tipu," Emillia meletakkan barang tersebut dan langsung keluar begitu saja dan mencari wanita tersebut namun tidak ia temukan.
Saat berada di depan meja resepsionis Emillia bertanya.
"Maaf, permisi wanita yang ada di sebelah anda tadi kemana perginya ya mbak?" Emillia menatap wanita tersebut.
"Maaf tuan, teman saya baru saja pulang. Karena pekerjaannya hari ini sudah selesai dan biasanya dia akan berkerja sebagai sopir taksi!" jawab wanita tersebut yang bernama Ima.
"Sopir taksi, boleh saya meminta nomornya." Emillia menyodorkan ponselnya namun di tolak oleh Ima.
"Maaf tuan saya tidak dapat memberikan nomornya," Ima menolak memberikan nomor pribadi milik Nadia lantaran ini menyangkut privasi orang.
"Tapi ini sangat penting mbak, dia tadi membuat bajuku ini robek dan berjanji menggantinya." Bohong Emillia sambil menunjukkan jas yang baru saja ia robek pada Ima. Benar-benar aktor ternama jika kebohongannya berhasil.
"Baiklah jika seperti itu," dengan polosnya Ima memberikan nomor Nadia dengan cuma-cuma padahal ia sudah di beri pesan untuk tidak memberikan nomor pribadinya pada tamu yang baru saja datang tadi, maksudnya tamu yang di hantar Nadia ke ruangan Cheval.
"Terimakasih ya. Dan satu lagi mbak nama aplikasi taksinya apa?" Emillia langsung mengetik aplikasi yang di butuhkan dan kembali ke ruangan Cheval dengan membawa nomor calon kekasih hatinya.
"Cih... modus," Cheval melanjutkan pekerjaannya.
"Siapa sih, sok kenal sok dekat basi banget." Nadia mau memblokir namun ia urungkan takutnya penumpang selanjutnya.
Dan benar saja ternyata ia mau pesan jasanya untuk menghantarkan keliling kota ini.
"Siap meluncur, ehh tapi kenapa lokasinya di hotel Royal Malik, sudahlah lagian banyak tamu yang datang tidak mungkin dia kan." Nadia memacu laju mobilnya.
Emillia yang menunggu di lobby hotel sambil menatap foto profil wanita tersebut.
"Rasanya tidak asing dengan wanita ini, bukannya aku pernah bertemu saat aku baru datang ke sini sewaktu menggunakan jasa taksi dari bandara." Memperbesar foto tersebut dan benar saja wanita itu ternyata.
Mobil Nadia berhenti di depan pintu Emillia segera masuk plat mobil sama dengan yang ia pesan.
"Hai cantik yang tadi berbohong padaku sewaktu di lift." Emillia tersenyum manis.
Wajah bulenya yang mulus dan tampan membuat wanita terpesona dengan wajahnya.
Nadia terkejut bukan main, kebohongannya terbongkar sudah di depan orang asing sok kenal ini.
__ADS_1
"Maaf tuan, saya tidak bermaksud berbohong tapi itu demi keselamatan saya," Nadia mencengkram erat setir mobilnya.
Emillia yang melihat wajah ketakutan dan kehawatiran Nadia ingin sekali menggodanya sekarang.
"Jadilah pacarku sungguhan, supaya cincin itu jadi asli. Oh ya ini pertemuan ketiga kita apa tidak ingin merayakannya dengan makan bersama." Emillia memberikan sebuah kalung cantik yang ia kantongi sewaktu belanja tadi.
"Ini orang modus sekali, pakai kasih beginian lagi pasti benda tersebut untuk melacak keberadaan ku dimana saja." Nadia tidak tergiur sama sekali.
"Maaf tuan meski kita sudah bertemu tapi saya tidak mengenal anda lebih baik anda berikan pada orang yang membutuhkan dan itu bukan saya," jawab tegas Nadia yang sudah melajukan mobilnya.
"Menarik sekali perempuan ini, tidak seperti sewaktu aku kuliah." Emillia kemudian memasukkan kalung tersebut diam-diam di jaket milik Nadia tanpa Nadia sadari.
Dalam perjalanan hanya ada keheningan yang terjadi bahkan Nadia terus saja mengemudi dan membiarkan Emillia mendengarkan musik sambil berjoget tidak jelas di samping Nadia, ya sebagai penumpang seharusnya Emillia di jok belakang kemudi tetapi karena Emillia penumpang nakal jadinya di samping kemudi.
"Maaf tuan, sebenarnya tuan mau kemana?"
"Ke hati kamu!" jawab Emillia tersenyum dan menampilkan gigi putih dan sedikit lesung di pipi.
"Benar-benar orang aneh, berhenti di sini saja deh daripada nurutin penumpang menakutkan seperti dia." Gumam lirih Nadia, menghentikan laju mobilnya di sebuah taman.
"Eh... kenapa berhenti, apa sudah sampai?" Emillia menatap kesana kemari namun bukan ini tempat tujuannya.
"Maaf tuan dari tadi saya sudah bertanya namun anda jawab dengan bercanda dan sementara itu saya tidak tau tempat tinggal anda makanya saya berhenti di taman ini saja, silahkan keluar tuan!" jawab Nadia dengan sabar menahan amarahnya.
"Saya tidak mau, berhentikan saya di rumahmu sekarang." Emillia membenarkan seat beltnya kembali.
Dalam hati Nadia mengumpat habis-habisan Emillia, sudah tidak tau namanya plus ngeselin pula. Benar-benar hari sialnya mendapatkan penumpang seperti Emillia namun demi menjaga nama baik, hal seperti ini tetap di lakukan meski hati sangat tidak suka.
Visual Emillia dan Nadia.
***
Aku buat selingan biar gak bosan baca part Cheval dan Sindy terus menerus.
__ADS_1