ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
135 S2 Tidak sengaja


__ADS_3

Daysi dengan sekuat tenaga meraih hati Ksatria yang masih betah saja mengomel tanpa henti, Daysi terheran-heran kenapa Ksatria bisa seperti ini sikapnya, tambah bawel dan seperti anak kecil saja sekarang.


"Pa... sudah ya apa papa tidak capek mengomel terus-terusan seperti ini?" Daysi memijat bahu Ksatria dengan lembut dan ada tekanan seperti biasannya.


"Tidak!" Ksatria langsung membalikkan tubuh Daysi dan langsung memberikan ciuman panas untuk Daysi.


Ruang keluarga kediaman Sacha Mahendra.


Sacha yang sudah pulang kini merebahkan tubuhnya di ruangan ini, banyak sekali kenangan di sini mulai dari Aurellia tertawa, menyuapi dirinya dengan makanan ringan tak terasa air mata menetes kembali.


"Ayah rindu dengan bunda, apa bunda tidak rindu dengan ayah." Sambil menyentuh album foto Aurellia. "Asal kamu tau bunda, putrimu sepertinya sedang mencintai seorang laki-laki tapi ayah galau dan dilema bunda." Sacha meletakkan kembali pigura tersebut.


Momo yang tidak sengaja mendengar ucapan sang ayah yang begitu menyayat hati hanya terdiam, sebenar nya perut Momo sangat lapar dan ingin membuat sesuatu untuk dirinya sendiri, meski ada pembantu di rumah ini tetapi Momo masih suka memasak sendiri.


Saat berada di dalam kamar Momo berpikir jernih sekali. Ia harus memutuskan untuk melepas pelan-pelan laki-laki yang sedang ia kagumi berat ini.


"Sebentar lagi ujian terakhir, aku harus bisa melepasnya. Dan ayah terus saja berencana menjodohkan ku dengan putra Erdana Khan yang aku sendiri tidak tau seperti apa rupanya, sudahlah ayah orang tua satu-satunya yang aku punya sekarang." Momo menatap langit-langit kamarnya sambil membayangkan sosok Lais yang berhasil menerobos pikiran dan hatinnya dengan leluasa dan bebas tersebut.


Pagi hari.

__ADS_1


"Selamat pagi ayah." Sapa Momo langsung menarik kursi di ruang makan.


"Pagi kesayangan ayah, bagaimana tidurmu sayang. Tumben-tumbenan kamu bangun kesiangan?" Sacha memberikan lauk kesukaan Momo. Ayam tepung.


"Terimakasih ayah, nenyak ayah bahkan aku bermimpi sangat bagus semalam!" jawab Momo berbohong.


Semalam Momo tidak bisa tidur banyak hal yang ia pikirkan, bahkan saat tidur ia selalu bermimpi buruk.


"Benarkah, tetapi kenapa mata kamu sembab seperti itu." Sacha menatap intens wajah sang putri.


"Mungkin semalam Momo menangis ayah sewaktu tidur, saking bahagiannya saat bermimpi," Momo segera menghabiskan sarapannya dari pada menanggapi ucapan sang ayah yang pasti tertuju pada Lais lagi dan lagi.


"Iya ayah," Momo segera bangkit dan mengambil tasnya.


Hampir setiap hari dengan alasan yang sama Sacha menghantarkan sang putri semata wayangnya. Sacha bahkan tidak bosa mengantar dan menjemput Momo, justru sebaliknya Momo sangat malu di antar sang ayah.


"Ayah."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Nanti sepulang sekolah tidak usah di jemput, aku mau pergi dengan teman-temanku ayah!" Momo mengucap salam dan mencium punggung tangan Sacha.


"Baiklah, lagian nanti ayah ada kepentingan untuk membahas pertemuanmu dengan orang tuanya yang telah menyelamatkan ayah dan bunda sewaktu di Luar Negeri dulu. Hati-hati dan jangan lupa jaga jarak dengannya, ayah tidak suka." Menyentuh rambut Momo dengan penuh kasih sayang.


"Baik ayah, bye... bye... ayah," jawab Momo tertunduk lesu.


Momo tidak pernah menyalahkan takdir di dunia ini, meski ia selalu tersakiti dalam segala hal tetapi setidaknya orang lain tidak. Cukup dirinya saja yang merasakannya.


"Momo, nanti setelah pulang sekolah aku ajak ke suatu tempat ya." Lais tersenyum dengan tampannya.


"Iya," jawab Momo dengan datar.


"Tumben nih anak aneh, baru di ceramahin ayah kamu lagi pagi ini dari rumah sampai sekolah?"


"Iya, aku bosan mendengar ocehan ayah yang selalu menyangkutkan kamu, aku masuk dulu ya!" Momo berlalu pergi, sementara Lais mengikutinya dari belakang.


Lais duduk di samping Momo, "Momo," ucap Lais tepat di telinga Momo tanpa sengaja Momo menatapnya hal tak terdugapun terjadi.


Tanpa sengaja bibir Lais dan Momo bertemu. Untung kelas masih sepi bisa di bilang hanya Momo dan Lais yang datang duluan.

__ADS_1


"Maaf." Ucap Lais yang wajahnya sudah merah padam begitu juga dengan Momo.


__ADS_2