ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
218. Jujur


__ADS_3

Masih penasaran dengan botol kecil milik Momo.


Perusahaan Jam Berlian.


Lais masuk ke dalam kantor dengan gagah dan elegan dan tidak lupa iya menerima sapaan salam pagi ini. Seluruh karyawan di perusahaan ini sangat segan dengan Lais, yang murah senyum akhir-akhir ini. Lais memang sengaja menyembunyikan identitas sudah beristri saat ini, bukan tanpa sebab.


[POV Lais]


Hanya saja ingin memberi pengumuman jika waktunya sudah tepat dan Momo siap, karena selama ini Momo melarang untuk mengungkap identitas yang sebenarnya, padahal Lais ingin sekali memberi tau seluruh dunia jika Momo adalah istri dan sang pujaan hati semenjak duduk di bangku SMA.


Saat berada di dalam ruangan kerja Lais menjatuhkan tubuhnya dengan malas sebel ia mengecek beberapa email dan berkas-berkas yang sudah menggunung hari ini.


TTOOKK...


TTOOKK...


"Masuk." Ucapku dengan tegas.


Suara langkah kaki terdengar setelah pintu terbuka, aku melihat seseorang yang lumayan aku kenal.


"Hey bro gimana kabarnya." Tanyanya sok kenal sok dekat padaku. Ciihh... masih ada orang seperti ini, pura-pura demi uang.


"Haahh... baik, lagi sehat kamu hari ini baru menyapaku," ucapku menatap dengan tatapan tidak suka.


"Ayolah bro jangan bercanda, ada apa menyuruhku kesini kayak pekerjaanku di Rumah Sakit nggak ada aja. Aku tuh terpaksa kesini kalau bukan karena lo teman lama, aku ogah kesini." Ucapnya dengan ketus ke aku, apa dia gak ikhlas datang kemari.


Awas saja ya kamu Filan bakalan aku kurangi uang konsultasi kedepannya.


"Istriku menyembunyikan sesuatu, botol kecil tetapi aku tidak tau itu botol apa karena baru kali ini aku melihat botol aneh, nanti kalau aku sudah mendapatkan botol itu kamu periksa." Aku segera membuka berkas-berkas yang ada di depanku.


"Baiklah, aku tunggu transferannya dengan cepat jika tidak aku tidak mau memeriksa benda itu." Filan pergi dan melambaikan tangannya.


"Jaman sekarang, duit lebih utama ternyata. Ya betul sih tanpa duit ya tidak bisa beli ini itu untuk kebutuhan hidup." Aku kembali fokus berkerja, meski pikiranku masih melayang ke Momo.


Di tempat lain.


Seorang perempuan dengan pose yang menggoda memamerkan tubuhnya dan siap di ambil foto nya beberapa kali.


[POV Aura]


Sebenarnya aku lelah dengan pekerjaan ini, aku ingin berhenti tetapi jika aku berhenti aku berkerja di mana, sedangkan aku wanita seperti ini. Tidak apa yang penting harus semangat berjuang dulu, aku mau berubah menjadi wanita baik-baik tidak mau mengulang hal yang sama. Aku juga ingin menikah dan memiliki keluarga yang utuh dan damai.


"Aura, ini honor kamu." Ucap assisten fotografer tempatku berkerja. Bukan assisten dia sebenarnya, tetapi pemilik industri majalah dewasa ini karena sang kakak sang fotografer dia yang langsung memantau dan mau jadi assisten sang kakak.


Sudah di pastikan jika aku akan menerima gajiku hari ini tetapi aku tidak bisa tenang dan senang, karena pekerjaanku tidak hanya ini saja masih ada club malam yang harus aku hampiri. Sungguh lelah hariku, tetapi beberapa bulan ini aku mengurangi melayani para hidung belang, aku benar-benar ingin merubah diriku menjadi sosok ibu dan juga calon istri yang bisa di banggakan seorang anak dan suami.


Apa aku bisa, jawabannya nanti saat aku benar-benar sudah di terima baik tapi tentunya dengan proses yang akan menyakiti hati dan pikiran. Aku sudah banyak dengar ucapan orang ini dan itu, aku lelah mendengarnya tetapi jika aku tidak berjuang mencari rupiah bagaimana aku mencari modal lagi, sementara di masyarakat aku tidak di terima dengan baik lantaran pekerjaanku ini.


"Semangat demi putri kecilmu, meski dia tidak mengenalmu sekarang tapi apa salahnya jika kamu berjuang mendapatkan hak asuh dia, meski rasanya tidak mungkin kamu dapatkan lantaran aku menelantarkannya sejak ia lahir, aku tau aku salah aku ingin memeluk dan melihatnya setiap hari saja itu sudah lebih dari cukup."


Aku melihat kesana kemari apa ada ojek atau taxi sekitar sini dan benar saja aku menemukan ojek online, aku sudah lebih dulu mengganti pakaian dengan rapi dan tertutup agar Princess tidak ilfil padaku dan menjauh lagi, lantaran takut padaku yang berpakaian aneh menurut diri nya


[POV Momo]


Aku mengelilingi taman di rumah ini yang sangat luas, bahkan untuk sepak bola dan bermain bulutangkis saja masih tersisa banyak, aku heran dengan kediaman ini kenapa taman begitu luas apa jangan-jangan rumah ini pernah di jadikan pasar malam oleh Lais.

__ADS_1


Tanpa sengaja aku menyentuh botol kecil yang aku masukkan ke dalam kantong saku tadi, karena sudah habis sebaiknya aku buang saja dan nanti ke Dokter lagi untuk mengambil resep obat selanjutnya yang harus aku konsumsi.


BBLUUNNGG.


"Mbak Momo barusan membuang apa kenapa dengan cara sembunyi-sembunyi seperti ini mbak?" tanya Nila padaku, aduh... semoga Nila tidak curiga aku baru saja membuang bekas obat itu.


"Eehh tidak ko mbak Nila, tidak buang apa-apa. Aku pergi dulu ya mbak!" jawabku berlalu pergi, untung bekas botol milikku aku campur dengan sampah yang lain dan aku jamin mbak Nila tidak tau.


[POV Nila]


Sepertinya ada yang tidak beres ini, mbak Momo menyembunyikan sesuatu. Eehh bukannya tadi pak boss menyuruhku untuk menyelidiki apapun yang di buang atau di pegang mbak Momo. Tidak apa-apa demi pak boss dan uang tambahan aku rela mengobrak abrik sampah, lagian ini bukan sampah dari dapur melainkan sampah daun dan plastik ringan saja.


Nila langsung membongkar sampah dengan ranting kayu untuk mencari sesuatu yang di maksud oleh si boss tadi, melalui pesan singkat tadi.


"Botol, botol apa ini perasaan aku tidak pernah membersihkan atau membeli botol seperti ini. Aku simpan dulu deh dan aku tunjukkan nanti pada pak boss." Mengeluarkan ponselnya.


Dengan segera botol itu aku vidio dan foto dari pada hilang dengan tidak sengaja.


Taman kanak-kanak dan PAUD.


[POV Aura]


Aku melihat seorang anak kecil yang teramat aku rindukan wajah dan senyum cerianya, sampai detik ini dia tidak tau jika aku adalah ibu kandungnya.


"Hallo cantik." Sapaku dengan lembut pada Princess, nama yang sangat cantik seperti wajahnya. Mirip sekali dengan Lais sang papa.


"Mbak Lala siapa dia?" tanya Princess pada Lala sambil bersembunyi di belakang Lala.


Sungguh ini karma yang aku dapat, andai dulu aku tidak menelantarkan dia dan tidak memilih dunia model ku mungkin saat ini aku bisa bahagia dengan Princess putriku.


"Mbak Lala juga tidak tau non Princess, ayo kita pulang saja. Permisi mbak." Lala berlalu pergi dari hadapanku dengan buru-buru.


Kediaman Erdana Khan.


Lala yang baru pulang setelah di antar pak Amin sopir kediaman rumah ini. Hanya ada rasa sangat hawatir baik Amin maupun Lala. Tidak mudah menjaga dan merawat Princess saat berada di luar kediaman ini, ancaman nyawa bisa jadi taruhan.


"Kenapa mbak Lala dan pak Amin wajahnya tiba-tiba pucat seperti ini sehabis pulang dari sekolah Princess."


"Tidak ada apa-apa mbak Momo, saya ke kamar Princess dulu ya mbak untuk menggantikan baju seragam Princess," Lala segera mengajak Princess ke kamarnya.


"Aneh, pak Amin ada apa. Kalian menyembunyikan sesuatu apa padaku?" Momo bertanya sedikit meninggikan nada suaranya.


"Tidak apa-apa bu Momo, kalau begitu saya permisi dulu bu untuk membersihkan beberapa mobil yang ada di garasi!" Amin menunduk dan berpamitan pergi.


Sore hari.


Lais pulang dengan wajah murungnya kenapa sang istri menyembunyikan sakitnya ini, apa salahnya jika terbuka pada sang suami.


"Mas, baru pulang. Sini aku bantu melepas dasinya." Momo membuka kancing baju Lais.


Lais langsung menarik tubuh Momo dan mengunci tubuh Momo yang berada di bawah kungkungannya.


"Kamu harus jujur padaku sayang, apa yang kamu sembunyikan dariku selama ini." Lais menunjukkan botol kecil yang ia dapat dari Nila tadi.


Momo melototkan matanya. "Mas, mas dapat itu dari mana?" tanya Momo sedikit gugub di raut wajahnya.

__ADS_1


"Tidak penting, yang terpenting jawab aku obat apa ini atau kita panggil Dokter untuk memeriksa nya, aahh... aku lupa kita panggil Filan saja kesini." Lais bangkit dari atas tubuh Momo.


"Mas, jangan. Aku akan jujur padamu mas," Lais langsung menatap sang istri.


[POV Lais]


Momo menghela nafas berkali-kali untuk menetralkan perasaannya saat ini, dia tidak ingin sang suami cemas dengan ke adannya.


"Begini mas, sebenarnya aku... aku... cuma lagi sakit tenggorokan saja mas, makannya aku minum obat pereda batuk karena dari kemarin tenggorokanku gatal sekali mas." Ucap Momo padaku dengan sedikit berdehem menahan batuknya yang pasti sangat menggelitik tenggorokan.


Rasanya aku ingin tenggelam saja di air mancur yang ada di taman, benar-benar aku berpikiran buruk tentang istriku yang menyembunyikan penyakit ganas, bahkan secara posesif aku menyuruh semua orang untuk mengawasi Momo kemanapun dia pergi, dan ternyata hasilnya seharian ini adalah dia hanya batuk saja.


"Benarkah. Tidak sedang sakit parah kan kamu sayang?" Tanyaku menyentuh seluruh wajah dan lehernya untuk memastikan dia baik-baik saja.


PPLLAAKK.


Momo menepis tanganku dengan kuat, aku yakin tangannya saat ini kesakitan aku melihat ekspresi dia sedikit menahan tangannya yang sakit. Ingin rasanya aku tertawa tetapi aku tahan sekuat tenaga semoga tidak kelepasan.


"Mas nyumpahin aku sakit, biar bisa menikah lagi begitu, jahat kamu mas uuhhuukk...," Momo terbatuk-batuk sambil mengomeli ku ini itu.


Sungguh istri yang cerewet seperti almarhum mama, sudah lama aku tidak mengunjungi mama. Bahkan Momo belum aku ajak ke makam mama sampai sekarang.


"Maaf sayang bukan begitu, maksudku eemm... aku tidak bisa menjelaskan, begini intinya aku tidak mau kamu menyembunyikan apapun dariku baik itu masalah sekecil apapun." Ucapku sambil memegang tangannya dengan erat.


"Oohh... dari tadi aku melihat kamu seperti menahan sesuatu mas, apa mas mau ke toilet?" Momo menatap wajahku yang sudah tidak kuat lagi.


Aku menggeleng dengan cepat, "tidak, mas tidak menahan apapun. Sudahlah aku mau makan dulu, lapar sekali perutku sayang." Ucapku menarik lembut tangan kecil Momo dan menuju ruang makan yang sudah sedia masakannya.


"Momo."


"Iya mas," Momo dengan telaten mengambilkan ku makanan.


"Apa kamu bisa masak menu makanan khas kota ini?" aku menatap penuh harapan, berharap Momo bisa memasaknya.


"Maksud mas soto khas kota ini, dulu bisa tetapi sekarang tidak!" jawab Momo dengan ketusnya.


Eehhh apa ada yang salah dengan ucapan ku.


"Kenapa, aku ingin sekali mencicipi masakan itu. Bukannya kamu pernah ingin aku mencoba masakan mu itu."


"Tidak ingin masak itu dan tidak akan pernah titik," jawabnya dengan makanan masuk penuh ke dalam mulutnya.


Hhaahh... salah apalagi sih... aku, kenapa Momo sensitif sekali moodnya, aku lanjut makan lagi deh dari pada kena ucapan ketus Momo lagi.


Lais melanjutkan makannya dengan tenang tanpa berani menatap dan menanyai Momo lagi.


"Kenapa diam, kenapa tidak berbicara lagi. Sudah capek bicaranya." Momo menyindirku dengan keras.


"Iya," jawabku singkat agar tidak terjadi perdebatan di antara kami. Mengingat hubungan rumah tanggaku yang masih rentan sekali.


"Mas???"


"Hemm... ada apa sayang." aku menatap Momo yang menghentikan suapan dalam mulutnya.


"Tidak jadi deh mas, tiba-tiba lupa mau berbicara apa," Momo kembali fokus dengan makannya.

__ADS_1


"Ohh... nanti jika sudah ingat kamu bicara saja atau kamu tulis di ponselmu lalu di simpan." Aku segera menutup sendok dan garpu setelah makan.


Air putih telah tersedia di samping makananku, sudah kebiasaan seperti ini jika tidak ada air putih aku tidak bisa menikmati makananku lantaran seret di tenggorokanku.


__ADS_2