ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
159 S2


__ADS_3

Beri dukungan ya, biar aku semangat up. Like, komen, favorite, rate bintang lima. Terimakasih dan selamat membaca.


***


Emillia yang sudah membereskan barang-barangnya langsung merebahkan dirinya di sofa panjang berwarna coklat.


"Tinggal di sini dulu saja, lagian kalau tinggal di sana lagi pasti aku di siksa oleh keluarga Malik, seperti kemarin makan sayur aneh." Emil begidik ngeri jika mengingat masakan tersebut.


Mungkin untuk sebagian orang Indonesia bunga pepaya tidak asing, tapi bagi Emillia itu sangat asing untuk di konsumsi.


2 bulan kemudian.


Banyak kegiatan di kampus sampai-sampai jarang sekali Momo dan Lais bertemu seperti awal masuk kuliah, begitu juga dengan Sindy dan Cheval kecuali berangkat ke kampus dan di rumah.


"Sibuk sekali istriku." Memberikan beberapa camilan di atas meja belajar Sindy.


"Iya nih kan mau ujian Aa," mengambil camilan dan memasukkannya ke dalam mulut sampai penuh.


"Jangan rakus ini mulut." Mengelap pipi Sindy yang comot dengan lumeran cokelat.


"Habis enak sih Aa, siapa yang buat Aa?" Sindy memakan lagi.


"Roti coklat ini aku yang buat, apa kamu lupa suamimu ini serba bisa, cari duit bisa, membahagiakan istri bisa, memasak, melakukan pekerjaan rumah, hebat di atas situ dan lain sebagainya!" jawab dengan percaya diri.


"Sombong, tapi tampan plus sempurna." Sindy mendengus kesal jika sang suami seperti ini.


Cheval langsung menampilkan deretan gigi putihnya.


"Akhir pekan ke pasar malam yuk, katanya kamu pengen kesana?" Cheval menunjukkan brosur pada Sindy.


"Tidak Aa, terlalu membosankan kita sudah sering ke pasar malam. Apa tidak ada tempat lain begitu!" Sindy menutup bukanya lantaran sudah selesai persiapan belajarnya.


"Terus, eemm... coba Aa pikir-pikir dulu tempat yang bagus." Setelah mendapatkan ide bagus Cheval langsung memberi tau sang istri. "Kita wisata kuliner saja yuk, kan belum pernah katanya ada pasar yang baru buka loh, Aa pengen coba bakso aneh deh." Cheval bersemangat sekali.


"Iisshh... bakso aneh ko mau di coba," Sindy terheran-heran.

__ADS_1


"Tapi menunggu akhir pekan terlalu lama, besok saja bagaimana." Duduk di samping Sindy.


"Boleh juga Aa, setidaknya untuk mengistirahatkan pikiran beratku ini," berjalan menuju balkon.


"Iya aku juga, terlalu penat akhir-akhir ini sampai-sampai tidak ada waktu untuk kita berdua, sayang seandainya kita punya bayi usai kamu lulus S1 bagaimana?" mencium leher Sindy.


Sindy begidik ngeri karena bulu kuduknya merinding dengan sentuhan bibir Cheval.


"Jika kita di takdirkan cepat punya anak ya alhamdulillah Aa, tapi jika lama yang kita tetap bersyukur dan berikhtiar terus Aa dan berserah diri pada Yang Maha Kuasa saja!" Sindy menatap langit. Inilah hobi barunya ketika suasana hati hampa dan kosong.


"Ayo masuk ke dalam lagi, anginnya sangat kencang. Bukannya besok kamu ujian, apa mau saat ujian kepala pusing dan dahi panas lantaran terserang flu mendadak." Mengendong Sindy ala bawa karung alias di pundak.


"Aa... romantis sedikit kenapa gendongnya," Sindy membenarkan tempat tidurnya.


"Aa bersih-bersih dulu ya, jangan lupa piama tidur Aa." Cheval masuk ke dalam kamar mandi dan Sindy segera mengambilkan baju tidur untuk Cheval dan juga untuk dirinya sendiri.


"Aa, kenapa lama sekali?" Sindy mengetuk pintu berkali-kali namun tidak ada jawaban dari sang suami.


Sindy sangat hawatir dengan keadaan Cheval di dalam, sudah 15 menit berlalu setelah ia mengetuk pintu namun tidak ada jawaban apapun dari dalam. Sindy segera menuju lantai bawah untuk menemui papa dan mamanya.


"Pa... ma...." Sindy ngos-ngosan sambil memegang kursi.


"Aa, tidak menjawab pertanyaanku, dia ada di kamar mandi hampir satu jam!" jawab Sindy ketakutan.


"APA." Ucap serempak Ksatria dan Daysi.


Tanpa pikir panjang Ksatria langsung menuju kamar Cheval dan mengetuk pintu berkali-kali namun hasilnya nihil tanpa jawaban. Ksatria langsung menekan telpon untuk menelpon satpam kediamannya yang langsung terhubung.


Satpam segera membobol pintu kamar mandi dan benar saja Cheval pingsan di lantai kamar mandi.


Cheval langsung saja di larikan ke Rumah Sakit karena badannya yang sudah pucat membiru. Bahkan nafasnya sudah sangat lirih sekali. Setelah sampai di rumah sakit ternyata ini efek kelelahan dan kurang istirahat yang mengakibatkan ia pingsan tadi.


Semua orang bernafas lega mengetahui Cheval hanya kelelahan saja. Tidak ada satu jam di rumah sakit Cheval sudah siuman.


"Aa." Sindy langsung menghampiri sang suami dan menyentuh dahinya.

__ADS_1


"Aku kenapa di sini, perasaan tadi aku di kamar mandi terus pandanganku buram dan," menatap sofa yang juga ada papa dan mamanya.


"Pingsan hampir satu jam Aa, makanya Aa di sini sekarang." Sindy memberikan air putih yang di beri sedotan agar mudah untuk meminumnya.


"Benarkah, pantas saja tubuh Aa pegal-pegal semua," sambil memijat pundaknya.


"Biar aku saja Aa yang memijatkan." Sindy langsung duduk di samping Cheval.


Daysi dan Ksatria mendekati putranya yang duduk di brangkar rumah sakit.


"Bagaimana keadaanmu Aa, apa yang sakit?" Daysi menyentuh dahi, leher dan telapak tangannya.


"Sudah sembuh ma," jawabnya.


"Cepet banget." Daysi menyuapi Cheval dengan buah kurma. Cheval yang sudah lama tidak di suapi sang mama dengan senang hati membuka mulutnya dengan lebar.


Ksatria yang melihat putranya begitu manja dengan kedua wanita tercintanya langsung memukul kepala Cheval dengan sendok.


"Aww pa sakit." Memang kepalanya.


"Makanya jangan manja-manja kepada bidadariku," Daysi segera menghentikan aktivitasnya menyuapi kurma untuk Cheval.


"Iisshh... papa ini, putra sekaligus menantu kita ini sakit loh pa. Masa aku sebagai mamanya tidak boleh menyuapi putranya sendiri, kasihan tuh lihat wajahnya yang sangat menderita." Daysi menatap wajah baby face Cheval.


"Dasar modus, bilang saja biar papa di biarkan sampai berjamur dan keriput," Ksatria berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya.


Sindy dan Daysi hanya tertawa kecil melihat kecemburuan sang papa. Cheval merasa sangat bahagia melihat papanya yang cerewet ini di abaikan kedua wanita yang berarti dalam hidupnya.


"Lanjutkan saja kesibukan kalian, aku akan melihat pekerjaanku dulu kasihan ipar resek yang selalu menerorku." Ksatria membuka ponselnya dan benar saya Sacha mengirim rentetan pesan.


"Menyebalkan sekali dia." Ksatria membalas semua pesan yang di kirim Sacha. Sacha yang menerima balasan hanya tertawa keras di rumah, kemudian ia terkejut saat Ksatria memfoto Cheval yang sedang berada di rumah sakit.


DDRREETT


"Hallo apa lagi sih, apa tidak puas aku beristirahat sebentar. Kenapa kamu selalu mengacaukan istirahatku sih." Ksatria menyilangkan kakinya dan tubuhnya bersandar di sofa.

__ADS_1


"Rumah sakit mana, aku akan ke sana," Sacha mulai mengenakan jam tangannya.


"Tidak usah kesini merepotkan saja, lagian besok siang sudah pulang cuma kecapekan saja dia." Jelas Ksatria langsung mematikan saluran telponnya. Sacha yang mendapati perilaku menjengkelkan Ksatria hanya bisa sabar saja.


__ADS_2