
Restoran.
Banyak pemuda pemudi sedang menikmati santai sore nya dan juga ada beberapa pasang suami istri juga yang tengah menikmati suasana romantis restoran ini. Sindy menatap sang kakak yang ia yakini sedang modus sekarang.
"Aa kenapa kita kesini, seperti nya ini tidak cocok untuk ku."
"Cocok ko, sesekali kita mencoba makan di tempat couple seperti ini," menarik tangan Sindy dan mengajak nya duduk di salah satu kursi yang sudah di pesan Cheval 1 minggu yang lalu.
Sindy hanya membatin, begini amat punya kakak cowok apa semua kakak seperti ini kelakuan nya pada sang adik. Selalu possessiv jika dekat dengan lawan jenis apalagi jika sang cowok tampan dan menawan.
Makan ala couple sangat romantis bagi pasangan kekasih atau suami istri yang ada di tempat ini, namun pedih untuk Sindy datang di tempat ini bukan dengan kekasih nya melain kan sang kakak. Beberapa kali Cheval menyuapi salat buah pada Sindy dengan satu garpu dengan nya. Bagi Sindy biasa saja karena menganggap ia kakak nya jadi ia tidak merasa jijik sedikit pun beda hal nya dengan Cheval yang menganggap itu ciuman tidak langsung.
Di jalan.
Mobil jeep wrangler berjalan sangat lamban tidak seperti biasa nya yang seperti adrenali di dada Sindy, maklum mobil milik Cheval ini di desain khusus untuk naik dan turun gunung jadi bisa di pastikan kecepatan Cheval mengemudi.
"Aa tumben lambat, biasa nya kayak di kejar hantu gunung."
"Isshh... kamu ini, aku melajukan cepat kamu teriak-teriak bahkan mencubit perut ku berkali-kali dan sekarang aku kendarai pelan kamu protes mau nya apa sih kamu Sindy," Cheval sedikit meninggi kan suara nya.
__ADS_1
Sindy yang lagi datang bulan tiba-tiba sebal dengan ucapan Cheval yang menurut indera pendengaran nya marah.
"Ya sudah deh Aa, jika Aa marah turun kan aku di sini saja lagian siapa yang mau satu mobil dengan Aa." Berusaha membuka pintu mobil. Cheval yang melihat tangan ceroboh Sindy langsung menghentikan laju kendaraan nya.
"Kamu mau jatuh dari mobil ini, kan kamu bisa bilang kalau mau turun. Turun saja Aa gak peduli," Cheval yang tersungut emosi tiba-tiba menyuruh Sindy keluar.
Sindy menatap sang kakak yang marah dengan segera Sindy mendorong pintu mobil yang sudah terbuka sedikit dan lari begitu saja. Cheval tidak peduli dengan sikap Sindy yang keras kepala sekali. Sindy melihat mobil sang kakak sudah menjauh hanya menatap saja.
"Andai kak Lay dan Daylon tidak memberi tau ku tentang perasaanmu padaku tadi, mungkin aku tidak akan berbuat seperti ini padamu Aa. Aku akan buat kamu membenciku Aa, aku tidak mau Momo membenciku." Sindy memesan taxi online. Sangat jarang sekali Sindy memesan taxi online karena jarak rumah dan sekolah tidak jauh tapi karena hari ini ia pergi dengan Cheval membuat nya harus pesan taxi lantaran terpaksa.
Sindy teringat ucapan sang mama beberapa minggu yang lalu saat itu Momo baru pulang dari kediaman Malik, Momo bercerita jika diri nya mencintai Cheval sepenuh hati nya. Daysi kemudian memberi tau masa lalu diri nya dengan ibunya Momo. Sindy terkejut sekali saat sang mama bercerita tentang beberapa laki-laki yang di sukai Aurellia ternyata mencintai sang mama semua dan itu hampir membuat hubungan persahabatan hancur dalam sekejab. Jadi Daysi memberi tau Sindy untuk tidak mencintai Cheval biarkan Momo bahagia sebagai ganti dulu ia tidak bisa membahagia kan Aurellia sang sahabat.
Sindy melamun dan merenungi diri nya saat ini, dalam hati Sindy sudah bertekat untuk tidak mencintai sang kakak agar tidak kejadian kelam tidak terulang lagi. Meski saat ini ia belum ada perasaan pada Cheval sang kakak tapi perhatian sang kakak bisa meruntuh kan hati yang tertutup pagar besi.
"Aku tidak boleh ada perasaan dengan Aa jika sampai aku punya, aku tidak tau apa yang akan terjadi selanjut nya. Bisa-bisa aku kehilangan keluarga yang hangat dari Ayah Sacha dan bunda Aurellia, karena aku menyakiti perasaan putri tersayang nya." Sindy menetral kan perasaan sambil menghela nafas berkali-kali.
Pagi hari.
Kejadian kemarin sore membuat renggang di antara Cheval dan Sindy bahkan pagi ini Sindy naik sepeda motor dengan helm bermotif kumbang.
__ADS_1
"Mulai saat ini semangat Sindy jangan tergantung lagi dengan orang. Ehh... sejak kapan aku tergantung bukan nya itu kebiasaan yang secara tak sadar, ah... sudahlah berangkat saja dari pada telat." Menyalakan motor nya.
Cheval yang hari ini tidak ada jadwal kuliah pergi ke tempat yang belum pernah ia jamah seumur hidup nya, yaitu club malam. Lay dan Daylon yang sudah biasa ke club tersebut akhirnya menertawakan Cheval juga, dari dulu ia selalu mengajak nya namun di tolak mentah-mentah oleh Cheval karena ia tidak mau Sindy membenci diri nya yang suka minum.
"Hey... Val, kita datang kesini bukan berarti kita minum. Paling kalau bosan satu sampai dua gelas seloki doang kalau kurang satu botol wine cukup, bener gak Daylon?" duduk di samping Cheval.
"Berisik banget kalian berdua, aku mau pulang saja deh tempat nya berisik, lagian ini juga sudah sore," Cheval berlalu pergi tanpa menghirau kan sahabat somplak nya.
Cheval melajukan motor gede nya ke sebuah rumah yang tak lain adalah rumah Momo. Momo yang mendengar suara motor Cheval langsung berlari keluar dan memeluk Cheval selayak nya sepasang kekasih.
"Baju Aa bau, ganti sana." Mendorong tubuh Cheval agar menjauh.
"Siapa yang suruh kamu peluk Aa," tersenyum sambil mengacak-acak rambut Monique.
Momo sangat bahagia melihat Cheval bersikap seperti ini, seperti ada harapan untuk memiliki nya kelak.
"Bunda, ayah." Menyalami Sacha dan Aurellia kemudian ia duduk dan meminum susu coklat yang ada di lemari pendingin.
Aurellia yang melihat kegelisahan Cheval ingin bertanya namun tidak jadi karena sang suami mengajak Cheval bermain kartu dan catur saat ini. Cheval langsung mengiyakan dari pada bosan.
__ADS_1