
Restoran.
Dhela dengan telaten melayani setiap pembeli, meski beberapa kali ada yang komplain kenapa lama pesanan makanannya bahkan salah meja.
"Nih minum dulu." Putra memberikan minuman tersebut pada Dhela.
"Terimakasih Putra," sambil membuka penutup botol yang masih di segel.
"Sama-sama. Mbak Dhela boleh aku berkata jujur padamu tentang aku dan Rini." Putra mulai berbicara, sedangkan Dhela sudah menyiapkan mental dan kenyataan bahwa ini benar adanya.
Putra bercerita jika dirinya akan segera menikah usai lebaran tahun ini, Dhela tersenyum kecut dan mengucapkan selamat kemudian berlalu pergi dan tidak mau mendengar yang lain tentang kebahagiaan orang lain yang akan melukai hatinya.
"Lebih baik pergi, dari pada kesal sendiri." Batin Dhela melanjutkan pekerjaannya.
Ketika ada pesanan ia menyuruh temannya untuk menghantar catatan ke dapur restoran ini, walaupun seperti ini tetap saja Putra bisa melihat meski itu dari jauh sebab ia selalu memperlihatkan diri saat Dhela berkerja.
"Maafkan aku Dhela, aku terpaksa. Jika tidak nyawamu akan terancam lagi oleh pria tua bangka itu, aku tidak mau kehilangan kamu." Putra hanya bisa menangis dalam hati saja.
Putra mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Kejadian dimana Papanya Putra berbuat curang di perusahaan PT OKE IKAN milik keluarga Randa yaitu milik orang tua Dhela. Kecelakaan bahkan sudah di rekayasa oleh Papanya, tanpa sengaja Putra mendengarnya. Setelah kejadian itu Putra berusaha mencari informasi sebanyak mungkin untuk mencari putrinya yang katanya masih selamat. Dan pada akhirnya bertemu di tempat kerja ini, demi mendekati Dhela ia rela jadi chef padahal ia seorang Pilot.
Taman bermain di rumah.
Momo sedang bermain kejar-kejaran dengan Princess, sesekali Momo menggelitik tubuh Princess sampai-sampai ia meminta ampun lantaran geli dengan gelitik kan sang Mama.
"Ayo Ma, main kerja-kejaran lagi." Ucap Princess yang terengah-engah usai berlarian mengelilingi taman bermain.
"Sudah ya sayang, Mama tidak kuat sayang," Momo duduk sambil memegang perutnya yang kram.
__ADS_1
"Harus kuat dan bisa menjadi seorang ibu, aku tidak mau mengecewakan Lais. Meski terkadang aku sangat kesal dengannya." Momo tersenyum, sambil mengusap lembut perutnya berharap sang bayi tidak kenapa-kenapa.
Princess yang melihat sang Mama mengusap-usap perutnya langsung berlari mendekati Momo.
"Mama kenapa? Apa adik bayi kesakitan. Pasti gara-gara Princess, ya Mama?" Mata Princess mulai berkaca-kaca saat berbicara, ia takut di marahi padahal kedua orang tuanya tidak akan marah.
"Tidak apa-apa nak, Mama hanya lelah saja!" Momo membenarkan anak rambut Princess yang berantakan di wajah cantiknya.
"Benar tidak apa-apa Mama, Princess takut adik bayi sakit Mama dan juga jika Mama sakit lagi, Princess tidak mau. Princess janji tidak mengajak Mama lari-lari lagi." Ucapnya polos.
"Nak... tidak apa-apa adik bayinya, coba usap perut Mama," Momo meletakkan tangan mungil Princess di perutnya.
"Benarkah tidak apa-apa Mama?" Tanyanya sambil mengusap-usap perut sang Mama.
Momo menganggukkan kepala. "Iya sayang!" Jawab Momo tersenyum hangat.
Lais yang sudah kembali dari kantor kini mencari keberadaan sang istri, ia langsung cemas saat melihat sang istri sudah pucat. Ia segera menemui sang istri.
"Tidak apa-apa mas, cuma kram saja!" Momo berusaha berdiri.
"Mau kemana sayang?" Lais mengikuti langkah sang istri.
"Aku mau minum susu!" Jawabnya segera menuju ke dapur.
Saat berada di dapur, Princess berlari menemui Lala. Princess sedikit takut saat Mamanya kesakitan lagi seperti dulu saat sang Mama baru saja pulang dari Rumah Sakit, dan tanpa sengaja kakinya membentur perut Momo.
"Suster Lala, aku mau main dengan suster. Kasihan Mama perutnya sakit lagi." Princess merangkul erat leher Lala sambil membenamkan wajahnya di balik kerudung yang Lala kenakan.
__ADS_1
"Ayo nona kecil yang cantik, sambil bermain dan belajar. Oke," Lala langsung membawa Princess ke ruang belajar bukan taman bermain.
Lais membuatkan susu sang istri seperti biasanya, bubuknya setengah gelas dan airnya sedikit. Benar-benar suka minum susu seperti ini si kecil dalam perut. Apakah dulu dirinya juga seperti ini di dalam kandungan Mama, sepertinya iya.
"Benar-benar bibit unggul ku, tapi aku beruntung Momo tidak mengeluh jika ia kesakitan sendiri. Tapi aku kasihan jika ia harus menerima keadaan ini, jika boleh meminta rasa sakit saat Momo mengandung anak kami, biar aku saja yang merasakan sakitnya. Aku tidak apa-apa dan sanggup menjalankannya, sebagai penebus kesalahanku pada Momo. Wanita yang aku cintai seumur hidupku ini selain Mama." Lais memberikan satu gelas susu pada Momo dan sendok kecil dengan gagang sendok panjang.
"Bagaimana rasanya sayang. Apakah enak?" Lais memberikan roti tawar berasa coklat, karena banyak taburan choco chips di setiap lembarnya.
"Enak ko mas, aku suka. Bahkan rasanya lebih enak dari buatan mu yang tadi pagi!" Momo melanjutkan menikmati susu kentalnya yang seperti bubur bayi.
Lais bahagia, cukup melihat sang istri dan anak-anaknya bisa tersenyum membuat rasa lelahnya berkurang delapan puluh persen.
"Mas, mau aku siapkan makanan apa untuk berbuka nanti?" Momo beranjak dari kursinya dan menuju lemari pendingin yang berisi sayur dan daging.
"Apapun yang kamu masak, aku suka sayang!" Jawab Lais sambil melepas jasnya dan meletakkan jas tersebut di kursi, ia mulai mengenakan celemek untuk menutupi badan bagian depan agar saat memasak nanti tidak kecipratan masakannya.
"Apapun???" Momo menekan ucapannya.
Kemudian ia mengambil sayur yang cukup untuk memasak sayur bening saja, katanya apapun jangan salahkan tangan dan pikiran ini jika nanti masakannya cuma seadanya tanpa ada yang lain.
Lais mengerutkan dahinya. "Cuma masak ini, tidak ada yang lain." Menunjuk sayur bening yang sudah jadi lebih dulu.
"Iya mas, katanya apapun. Ya ini jadinya, sayur bening sama sambal tomat yang on the way aku buat, sama di tambah ini telur dadar," sambil tersenyum.
"Haduh salah bicara ini tadi, tau begini aku masak sendiri saja. Aku pesan makanan dari online lah dari pada aku kurang nanti, di tambah lagi masaknya sedikit. Aku tau jika orang berpuasa saat berbuka makanan sedikit yang masuk serasa makan banyak dan cepat kenyang." Lais mulai bermain dengan benda pipih nya dan secepat kilat ia mengetik beberapa menu makanan dan minuman, dan tak ketinggalan yaitu terang bulan isi keju yang melimpah kesukaan ibu hamil.
Momo yang sedang menumis bumbu untuk sambal tomat, sedikit curiga dengan suaminya yang cepat-cepat mengetik. Seperti sedang membalas chat dengan orang lain.
__ADS_1
"Sedang apa mas?" Momo mengintip kegiatan Lais.
"Eh... tidak ada apa-apa sayang!" jawabnya sedikit gugub. Momo menyipitkan matanya dan tidak percaya begitu saja.