
Keesokan harinya.
Momo membuat sarapan untuk suami dan putrinya dengan penuh cinta.
"Semoga mereka suka masakan ku, sebenarnya aku masih penasaran siapa yang menelpon Lais kemarin. Sampai-sampai ia begitu marah, tidak mungkin jika Arman yang menelponnya jika Arman pasti langsung kesini jika ada perlu yang mendesak, pasti orang lain.
Lais yang sudah rapi bergegas ke ruang makan, ternyata sudah ada masakan dari sang istri. Dari aroma saja bisa di tebak jika yang memasak istri tercintanya.
"Sayang." Lais memeluk Momo yang masih mengenakan celemek untuk menutupi badannya dari cipratan masakannya.
"Mas, sarapan dulu mas sebelum berangkat," tawarnya pada Lais.
"Suap pin, sudah lama mas gak merasakan masakan kamu sayang." Manja sekali sikapnya ini, benar-benar anak kecil kelakuannya.
Momo hanya menatap malas suaminya, pasti ia ada salah jika semanja ini pada dirinya. Ada sesuatu yang berusaha ia tutupi dari sang istri.
"Sudahlah mas, aku tau kamu sedang berbuat salah padaku. Coba jujur padaku mas, baru setelah itu aku mau suapi kamu lagi mas." Momo melepas lingkaran tangan kokoh Lais di perutnya.
"Kenapa di lepas sayang, aku cerita ya. Sebenarnya itu... dari Aura sayang," Lais berbicara sangat pelan, takut macan cantiknya bangun.
Momo kecewa lagi dengan sikap Lais yang seperti ini, kenapa dia masih berhubungan dengan ibunya Princess dan tidak membicarakannya terlebih dahulu. Momo jadi semakin ragu dengan Lais yang katanya hanya mencintai dirinya dan putrinya Princess.
"Kenapa, dia mengajak kamu bertemu lagi. Apa selama ini kalian sering berhubungan satu sama lain?" Momo bertanya dengan tenang, ia tidak mau tersulut emosi yang membahayakan rumah tangganya.
"Dia memintaku untuk menemaninya ke Dokter kandungan sayang, dia mengirimiku pesan singkat tadi malam. Tapi... aku tidak menyetujuinya sayang!" jawab Lais kebingungan sendiri.
__ADS_1
Momo hanya memijat pelipisnya yang berdenyut ngilu, dua bulan yang lalu ia tidak pulang lantaran menghantar Aura. Beberapa hari yang lalu dia berucap, jika hak asuh Princess jatuh ke tangannya. Tapi sebelum itu ia melihat foto orang yang sedang ijab qabul tapi menggunakan kursi roda. Apakah ini hanya akal-akalannya saja, jika sebenarnya dirinya sudah menikahi Aura secara diam-diam. Semua pertanyaan itu berputar-putar di otak Momo.
"Sayang, percaya sama aku. Aku tidak ada hubungan dengannya sayang, suami Aura katanya drop dan koma 2 hari ini di Rumah Sakit sayang. Jika kamu ragu denganku, ayo kita bersama-sama temani dia periksa. Sekalian kita bawa Princess dan nanti setelah itu kita jenguk suaminya, biar kamu percaya denganku sayang." Lais terus saja berusaha meyakinkan Momo.
Momo terlihat berpikir keras, antara iya dan tidak. Tapi jika iya pasti Lais suka dan mengira sudah mempercayai ucapannya, tapi jika tidak pasti penasaran dengan kejadian sebenarnya.
Momo memutuskan ia mengiyakan, dari pada makan hati. Lebih baik lihat kenyataan dulu baru putuskan nantinya.
"Baiklah, aku ganti pakaian dulu." Momo berlalu pergi tanpa memperdulikan perut Lais yang sudah berbunyi nyaring sedari tadi di dapur.
Lais menghela nafas usai Momo pergi dari hadapannya. Ia berusaha tidak menyembunyikan apa pun itu dari istrinya, tapi apa boleh daya. Ketika mau menjelaskan selalu ada kesalah pahaman di antara keduanya dan hampir saja menghantam rumah tangganya hingga ke ujung tanduk.
Rumah Sakit.
Lais hanya menatap sekilas ada sedikit senyum di wajah Lais, sedangkan Momo menatap sedih perutnya yang tidak berfungsi normal selayaknya wanita lain yang begitu mudahnya mendapatkan keturunan.
"Andai bayi itu ada, kenapa hidupku sesedih ini. Apa aku tidak boleh bahagia, apa aku harus terus-terusan melihat kebahagiaan orang-orang yang ada di hadapanku. Kenapa Lais terlihat bahagia dengan ini, apa yang di kandung Aura itu. Astagfirullahal Adzim Momo jangan berfikiran yang bukan-bukan. Bukannya sebentar lagi kamu akan tau jika Aura sudah menikah dan memiliki suami yang sedang di rawat di Rumah Sakit ini."
Momo berjalan lebih dulu dan meninggalkan Lais yang masih menatap Aura dengan gembira.
"Aku tinggalkan mereka, tidak apa-apakan hatiku. Rasanya sakit sekali." Gumam lirih duduk di salah satu kursi panjang yang ada di Rumah Sakit tersebut.
Filan yang tanpa sengaja melihat Momo langsung menghampirinya.
"Momo, sedang apa. Kenapa sendirian di sini, siapa yang sakit?" Filan duduk tidak jauh dari Momo.
__ADS_1
"Hati aku yang sakit!" jawab sewot Momo. "Sudah tau ini rumah sakit, ya... menjenguk orang sakit lah." Timpalnya yang tiba-tiba emosi jiwa dan pergi begitu saja.
Filan hanya menelan saliva nya dengan kasar, pasti ada yang tidak beres ini. Tanpa sengaja Filan menatap dua makhluk yang sedang tertawa bersama keluar dari Dokter kandungan. Filan mengepalkan tangannya, ia sama sekali tidak menduga jika Lais berjalan bersama Aura tanpa memikirkan perasaan Momo yang terluka berat hatinya.
Filan mendekati Lais. "Bagus ya kalian ini, apa kalian tidak sadar jika ada wanita yang terluka hatinya." Sindir keras Filan dan berlalu pergi.
Seketika Lais teringat jika dirinya tadi datang dengan Momo, ia langsung meninggalkan Aura yang berteriak memanggil namanya.
"Momo kamu dimana sayang." Melihat kesana kemari. Tapi belum juga menemukan keberadaan Momo.
Momo saat ini sudah masuk ke dalam taxi, ia tidak menangis lagi. Sudah kering dan lelah matanya mengeluarkan cairan bening yang seharusnya tidak ia keluarkan. Kini hati Momo kian kuat dan yakin dengan keputusannya itu.
"Lebih baik aku benar-benar melepasnya saja, ternyata semakin aku kuat menggenggam air itu, semakin cepat air itu jatuh."
Sesampainya di rumah, Momo langsung menemui Princess yang tadi sengaja tidak di ajak untuk mengantisipasi sesuatu yang tidak ingin Princess tau dan lihat.
"Mama sayang banget dengan Princess." Menciumi wajah Princess yang sudah tidur sedari tadi.
Momo kemudian keluar dari kamar tersebut dan menatap sendu sambil menutup pintu kamarnya. Rasanya ia benar-benar tidak sanggup lagi, setiap ia jalan kenangan dirinya dengan Lais terlihat jelas. Di tambah saat dirinya bermain dengan Princess.
Momo menunggu sambil menatap langit, kemarin ia berkunjung ke makam kedua orang tuanya, ia semakin rindu saja dengan sosok Ayah dan Bundanya.
"Hidup aku berat Ayah... Bunda..., kenapa kalian tega meninggalkan aku sendirian di dunia ini. Dunia ini sangat kejam Ayah... Bunda... hu... hu... hu...." Momo menumpahkan air matanya lagi.
Lais yang masih berada di area Rumah Sakit, ia masuk ke dalam mobil dan menuju rumah. Pasti sang istri sudah kembali dan pasti Momo berpikir yang bukan-bukan lagi tentang dirinya dengan Aura.
__ADS_1