ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. Kesabaran Gauri


__ADS_3

Gauri berekspresi lemah tertindas lagi seperti biasanya. Zidan yang tidak paham apa-apa hanya menatap percakapan 2 orang dewasa sambil minum susu kotaknya.


"Kamu tega nih sama aku mau nagih uang hari ini? bukannya kamu sendiri tau jika gajian ku masih besok. Apa gak lihat aku kesusahan dan gak pegang duit sama sekali," Gauri tiba-tiba saja marah sambil menunjukkan dompet berisi uang 20 ribu rupiah hanya 2 lembar saja.


Kenapa ini anak, di tagih bayar kontrakan malah lebih galak dari si penagih. Dunia ... oh ... dunia ... kenapa bisa seperti ini, ngutang di tagih pemilik malah marah-marah lucu ya sudah di tolong malah menggonggong. Tau begini besok-besok sepertinya tidak perlu baik lagi deh dengan orang yang sama meski menghasilkan uang saat kontrakan yang di sewa bayar uang sewanya perbulan, jika perlu pertahun agar tidak di tagih setiap bulannya.


"Kenapa ada orang macam kamu sih, di tagih uang kontrakan malah lebih galak dari pemiliknya sih," pusing kepala Willy.


"Lagian salah sendiri, sudah tau jadwal gajian tanggal lima ngapain datang tanggal empat. Buang-buang bensin kan jadinya kamu, lagian ngebet banget pengen nagih. Jangan bilang mau buat memuaskan diri, inget Wil ... jika kamu ini anak satu-satunya dari orang tua kamu." Sambil menunjuk Willy dari atas sampai bawah.


"Gak baik makan duit yang bukan hak kita di tambah lagi tuh lihat gentengnya pada bocor sama plafon ada yang pecah dan mau jatuh, gimana nanti pengontrak selanjutnya jika tau kualitas kontrakannya saja gak layak pakai dan membahayakan orang, memang kamu mau apa ganti rugi jika orang yang ngontrak terluka dan perlu dilarikan ke rumah sakit." Ceramah lagi tentang orang tua dan keadaan kontrakan sambil menunjukkan semua yang ia sebutkan barusan.


Haduh ....


Nyesel dah nyewain rumah untuk Gauri yang ujung-ujungnya bakalan di ceramahi lagi saat nagih uang kontrakan.


"Sumpah ... aku tuh nyesel loh nolongin kamu Gauri, pokonya besok gak ada alasan lagi. Kalau gak punya duit mundur deh dari kontrakan aku, rugi ... rugi ...," pergi dengan perasaan kecewa berat.


Gauri tersenyum sambil melambaikan tangan, benar-benar urat malunya hilang. Kayak orang gak punya dosa dan tanggungan saja hidupnya.


"Awas saja kalau besok kabur lagi, aku buang semua baju kamu. Dasar ... gak punya perasaan, dia pikir aku gak butuh makan apa. Tau gini tawaran pria itu untuk membeli kontrakan itu aku terima, tapi karena aku masih berbelas kasih ke kamu jadi gak tega. Sialnya malah gak dapat apa-apa." Ngomel-ngomel di tengah jalan.


Gauri bernafas lega setelah kejadian barusan, untung Willy masih bisa di ajak bernegosiasi untuk besok gajiannya, lagian kenapa sih Willy ngebet banget nagih uang kontrakan. Satu tahun 5 juta jika di bagi perbulan jadi sekitar 417 ribu rupiah itu sangatlah mahal sebenarnya, di tambah lagi kerajaannya yang pas-pasan uang habis di kontrakan perbulan. Tapi mau bagaimana lagi hanya dengan mengontrak saja dirinya bisa berteduh, kalau mau ngekos biayanya sayang dan tempat dari pelanggan dagangannya terlalu jauh dan memakai banyak waktu, uang dan tenaga. Lagi pula Zidan kecil bahagia hidup di kontrakan ini.


"Nasib ... nasib ... kapan punya duit banyak dan gak kesusahan begini." Pikiran Gauri melayang ke kejadian beberapa tahun yang lalu saat dirinya masih di perbudak oleh Aldy dan di siksa jiwa raganya.


Biaya 5 juta pertahun akan lunas dalam 3 kali angsuran saja, sementara semenjak uang simpanan nya habis semua berangsur-angsur berubah. Gauri hanya bisa membayar setiap bulan tidak seperti dulu, bahkan pernah juga langsung bayar 5 juta dulu saat masih ada simpan uang banyak.


Mata Gauri menangkan sesuatu yang tak asing lagi.


"Hem ... Willy ... Willy ... sudah aku bilangin jangan mau di suruh kasih beginian, masih saja ngasih ke aku, pasti suruhan Raden lagi kan."


Gauri tidak habis pikir, kenapa Raden selalu baik padahal Gauri tau Raden bukanlah siapa-siapa. Hanya gara-gara hidupnya pernah di tolong Neneknya dulu membuat ia selalu begini. Memberikan sembako berupa, minyak, beras 10 kg 2 kantong belum lagi lauk yang lainnya juga. Bisa di taksir sekitar 1 juta lebih jika di hitung banyaknya yang diberikan oleh Raden, dan juga mie instan satu kardus pasti Willy yang memberikan sebab kemarin ia menawari mie ada banyak dirumahnya


"Terimakasih banyak." Cicitnya lirih.


Klung


Gauri menatap ponselnya yang berada di meja ruang tamu sederhana itu dan melihat pesan dari siapa atau mungkin operator.


💬 Raden ngajak ketemuan nanti malam, jangan menolak lagi (dari Willy penagih kontrakan sadis🤑)


💬 Siap Bu bos kontrakan (dari Gauri ibu satu anak sumber duit)


"Lagi-lagi Raden seperti ini, gak apa-apa hitung-hitung balas kebaikan."


Gauri sebenarnya tidak nyaman dengan Raden, ia pria baik yang tidak pantas singgah di hatinya tapi perhatian itu selalu membuat salah sangka dan sasaran saja.


Cafe Magic


"Sudah lama menunggu?" Gauri menyapa Raden di tempat ini selalu sama hanya beda menu saja.


Cafe ini unik cara penyajiannya mirip seperti film yang pernah ia tonton, bahkan ada tongkat, sapu terbang dan lainnya juga bahkan alat di dalam laboratorium juga ada. Terlalu kreatif ini pemilik cafe tapi pandangannya menangkan sesuatu yang ia kenal sedang bersama perempuan cantik dan seksi. Lebih tepatnya sangat keren sekali sih cafe ini dan menarik pembeli yang menghabiskan waktu untuk melepas lelah, entah itu lelah berkerja atau pikirannya.


Ia dengan berani duduk di pangkuannya dan membuat beberapa kancing bagian atas.


"Gauri, kamu tidak apa-apa?" pertanyaan Raden menyadarkan lamunan Gauri.


"Eh, gak apa-apa ko. Santai saja, santai ko!" jawabnya terkejut.


Raden curiga sih tapi hanya sedikit saja.


'Tadi pagi bilangnya mau ngejar aku lagi. Eh ... tunggu kenapa jadi aku yang kelihatan ngarep banget sih, biarin deh pasti semua mantannya ia jerat secara bersamaan untuk di ajak senang-senang. Dasar Playboy,'


"Dimakan dulu dong, kenapa kamu jadi bad mood sih." Raden mencubit pipi Gauri dan itu bertepatan saat Aldy tanpa sengaja melihat ke kursi Gauri.


Antara terkejut dan takut, Aldy langsung menghempaskan wanita yang sedari tadi bergelayut manja di tubuhnya.


"Sialan, pasti Gauri sayang tau aku di sini. Mampus aku..." Menepuk jidatnya sambil tertunduk.


Gagal sudah harapannya untuk menjerat sang mantan istrinya.


"Gak apa-apa ko, tapi sebelumnya maaf ya Raden. Besok-besok kalau jalan jangan ke cafe ini ya, aku kurang nyaman di tempat ini. Aku tidak mau duniaku berubah," pancaran mata Gauri yang polos sungguh indah.


Raden menyesal seharusnya ia tak mengajak Gauri di tempat ini, lain kali dirinya akan memesankan tempat yang lebih ramah lagi.


"Maaf ya, aku pikir tempat seperti ini kami juga suka. Aku janji, besok akan aku ajak ke warung pinggir jalan kesukaanmu itu." Raden ingin memperbaiki mood Gauri yang tidak nyaman itu.

__ADS_1


Wanita yang di samping Aldy terkejut melihat penolakan Aldy, tidak biasa-biasa Aldy begini pada dirinya. Apa tubuhnya tidak wangi atau jangan-jangan bau percintaannya dengan seorang fotografer majalah dewasa tercium lagi, belum juga sampai masuk jeratannya pada Aldy tapi sudah gagal lebih dulu.


1 Minggu kemudian.


Gauri tergopoh-gopoh dengan barang belanjaannya. Ia hanya lulusan SMA saja tidak mampu kuliah, selain itu otaknya saja pas-pasan dan tidak dapat mengajukan beasiswa.


"Maaf ya mbak, barangnya datang terlambat." Gauri mengantar sayur pesanan pelanggannya setiap pagi.


"Gak apa-apa mbak, lagian gak buru-buru masak ko. Suami lagi libur jadi aman mbak, oh ... ya mbak ini uangnya ya, sisanya buat bensin mbak," jawab ramah Rini pada Gauri.


"Terimakasih banyak mbak Rini, saya permisi dulu ya mbak." Gauri mencium lembaran uang itu.


Tes


Tak terasa air matanya jatuh, baru kali ini ia mendapat bonus besar ada sekitar 143 ribu rupiah yang ia terima. Padahal belanjaan titipan Rini hanya habis 57 ribu rupiah saja, semoga rejeki keluar Rini lancar dan dan berikan pernikahan yang langgeng sampai maut memisahkan mereka. Di tambah lagi uang segitu banyaknya ia akan simpan untuk keperluan Zidan yang mendadak dan penting-penting saja.


Di sisi lain, seorang pria sedari pagi mengikuti Gauri dari kontrakan sampai ke tempat tujuan mengambil barang-barang pesanan dan mengantarkannya dari rumah ke rumah.


"Kalau aku bantu, pasti dia nolak aku lagi." Gelisah galau jadinya.


Aldy Sampoerna terus mengikuti Gauri dari belakang, ia sebenarnya tidak rela wanita itu kepanasan dan berkerja begitu keras tapi jika ia membantu Gauri pasti ia akan menolaknya di tambah lagi kejadian 1 Minggu yang lalu hampir fatal, jika saja ia tidak sadar mungkin ia akan meniduri wanita yang bergelayut manjanya waktu itu.


BRUGH


Ada seorang yang sengaja menabrak Gauri untung saja dagangan pesanan semua orang sudah di antar, jika tidak pasti Gauri akan sedih.


"Aduh ... sakit sekali." Menahan kaki dan sikunya berdarah.


Aldy segera mematikan mesin mobil dan berlari menolong Gauri.


"Gauri sayang kamu tidak apa-apakan?" hawatir dan langsung mengendong Gauri.


Aldy menatap sepeda motor butut itu, sepertinya Gauri butuh kendaraan roda 3 agar lebih aman dari senggolan orang lain. Tapi ... dia tidak suka di manjakan di tambah lagi status mantan saja.


"Tidak apa-apa!" jawabnya dingin.


Gauri cuek sekali, ia benar-benar tidak mau ada hubungan di antara mereka. Sudah cukup dan mata ini sudah terbuka lebar sekali, ternyata selama ini memang benar jika Aldy hanya menyukai selangkang4n wanita yang ia jerat dalam artian Parasitisme.


Parasitisme adalah simbiosis yang menguntungkan satu pihak sedangkan pihak lainnya dirugikan tanpa menyebabkan kematian langsung pada pihak yang di rugikan.


Contoh Parasitisme adalah nyamuk yang memakan darah manusia, sedangkan manusia dirugikan karena tertular penyakit juga rasa gatal akibat gigitan nyamuk dan tumbuhan tali Putri dengan inangnya, tali Putri akan mengambil nutrisi yang dimiliki oleh inangnya.


"Pergilah ..., aku tidak apa-apa," gerutunya tidak senang sambil memalingkan wajahnya.


Apa wajah ini menyebalkan untuk di perhatikan, kenapa ada wanita muak melihatnya kembali.


"Aku tidak akan pergi, aku tau ada kesalahpahaman di sini. Maka dari itu secara baik aku ingin meluruskan kesalahpahaman itu Gauri sayang." Menggenggam erat tangan Gauri.


Gauri segera menariknya.


"Tidak perlu, aku tau kamu hanya peduli dengan selangkan9an kamu saja. Tidak usah di jelaskan Aldy Sampoerna, tidak penting bagiku," tanpa rasa terimakasih ia berlalu pergi mengangkat motornya yang terjatuh di pinggiran jalan sepi.


Gauri yakin jika motornya tidak bisa ia gunakan lagi, besok siap-siap kerja lebih keras lagi dengan menggunakan sepeda tua milik neneknya.


"Tapi ... Gauri sayang." Aldy hendak menghentikan Gauri namun sia-sia saja sebab Gauri sudah melajukan motornya dengan kencang.


Gauri berada di bengkel dekat rumahnya dan memastikan bahwa motor kesayangan tidak ada kerusakan parah, itu harapan Gauri tapi tidak tau motornya mau perawat untuk beberapa hari mendatang mengingat tempatnya ramai dan antriannya panjang kali lebar kali tinggi dan karyawan hanya 1 orang saja. Lagian saat dirinya jatuh tadi motornya tidak terbentur parah dengan benda lain. Sehingga masih bisa di gunakan sampai bengkel meski Gauri yakin ada kerusakan di beberapa mesin dan bagian lainnya dari motor kesayangannya.


"Haduh ... bisa-bisa satu Minggu ini, gowes ... gowes ... dah." Pulang dengan lesu sambil membawa tas angkut barang yang sudah ringan tinggal sayuran milik pribadinya saja, entah masih bagus atau hancur sayurnya.


Aldy hari ini tidak ada pekerjaan, ia memutuskan untuk pergi ke tempat kontrakan Gauri namun wanita yang ia nanti tak kunjung sampai.


"Kemana sih kamu Gauri sayang, mau hubungi kamu nomor aku selalu kamu blokir lagi dan lagi." Aldy resah dan juga hawatir padanya.


Gauri kelelahan ia pulang jalan kaki dari bengkel sampai rumah, mau naik ojek sayang uangnya lagian gak sampai 2 kilometer ko jalannya, tapi nih kaki rasanya mau rontok dan lepas dari uratnya. Lagi pula ia ada tanggung untuk membayar orang yang merawat Zidan putra tercintanya, meski orang yang di titipi tidak mau di beri uang Gauri tak habis akal ia bawakan sembako entah itu apa tergantung pendapatnya hari ini dan sisa pendapat kemarin.


"Gauri... dia ini?" langsung menyapa dan hendak merangkul Gauri namun isyarat tangan menolak Aldy Sampoerna.


"Aldy, tolong ya .... Kita itu tidak ada hubungan apa-apa, jadi aku harap jangan berlebihan ya. Kita sudah sama-sama dewasa, pasti kamu taukan jika ini tidak boleh terjadi. Jika tidak ada kepentingan silahkan pergi dari tempat ini," menunjuk arah luar pagar.


Zidan hanya menatap percakapan kedua orang dewasa lagi, lagi pula Zidan sudah bisa mamanya di datangi orang. Yang Zidan tau mamanya kuat dan superhero kesayangannya.


Aldy tidak berdaya, harus dengan apa ia berbuat.


Malam harinya.


💬 Willy (Willy penagih kontrakan sadis🤑)

__ADS_1


Terkirim dan langsung centang 2.


💬 APA (Gauri ibu satu anak sumber duit)


Ketusnya balasan Willy, Gauri menelan salivanya dengan berat. Niatnya mau curhat tapi gak jadi deh kalau yang mau di ajak jadi teman curhat sudah ngamuk dulu.


💬 Gak jadi takut sama ke galakan kamu (terkirim ke Willy penagih kontrakan sadis🤑)


💬 Kamu jangan pancing emosi ya Gauriii 😤😠 (membalas Gauri ibu satu anak sumber duit)


Pertengkaran di chat sedang asik-asiknya namun Gauri mengalihkan percakapannya.


💬 Willy, gimana sih caranya memberantas mantan?? (terkirim ke Willy penagih kontrakan sadis🤑)


💬 Mantan apa? mantan korupsi atau mantan narapidana atau mantan artis, penyiar tv atau radio atau mantan terindah yang tak terlupakan 🤣🤣🤣🤣 (terkirim ke Gauri ibu satu anak sumber duit)


💬 Sialan kamu, ini beneran tau😒 (dari Gauri ibu satu anak sumber duit)


Gauri hanya bisa berpura-pura saja.


💬 Iya ... iya ... aku tau. Terus mau gibahin dia gitu ceritanya? silahkan berpidato panjang lebar Gauri, di nikmati ya jangan sungkan-sungkan. Tambah durasi lagi gak apa-apa ko Gauri😭


Balasan Willy bagaikan sentilan ringan di jantungnya.


💬 Pakai jurus apa sih? biar tuh ... mantan pergi ke tempat jauh biar gak kembali lagi dan gangguin aku??? (dari Gauri ibu satu anak sumber duit)


💬 Ya move on dong solusinya Gauriii ..., jika kamu terus berputar di dia dan di lukai dia lagi. Ya silahkan saja makan hati (balas dari Willy penagih kontrakan sadis🤑)


Saran dari Willy jadi pertimbangan penting dalam mengambil keputusan dan langkah yang tepat.


"Harus move on ya? tapi jatuh ke siapa hati ini. Sedangkan selama ini saja aku gak pede lagi untuk memulai yang baru lagi, jika di pikir-pikir Raden juga baik." Sambil memikirkan matang-matang.


Di coba saja dulu, siapa tau jodohnya. Lagian selama ini Raden gak punya pasangan setelah putus dengan mantannya sebab mantannya hamil dengan pria lain. Ngenes banget hidupnya, di duakan sampai mengandung anak pria lain.


Keesokan harinya


Pukul 19.27 WIB


Raden sedari tadi curi-curi pandang pada Gauri yang malam ini sangatlah cantik sekali.


"Kamu cantik sekali Gauri." Pujinya terkagum-kagum.


"Ehem ...."


"Hai ... Gauri sayang." Merangkul pinggang Gauri.


Gauri melebarkan pandangannya dan berusaha menghempaskan tangan Aldy dari pinggangnya namun sayang gagal.


"Kalian? saling kenal?" Raden menunjuk Gauri dan juga Aldy.


"Enggak!" jawab Gauri.


"Iya!" Aldy dan Gauri bicara barengan.


"???" Raden mengerjabkan matanya.


Gauri dan Aldy saling berpandangan lalu memalingkan wajahnya masing-masing.


Raden menepuk jidatnya.


Ternyata kedua orang ini. Sepertinya mantan terindah yang sulit untuk di lupakan, Aldy Sampoerna adalah sahabatnya semenjak kuliah sedangkan Gauri wanita baik yang ternyata teman baiknya semenjak SD dahulu. Sungguh lucu ya jadinya, tapi sayangnya baru hari ini dan detik ini ia tau sebab kedua-duanya pernah curhat tentang mantannya dulu.


"Aku tinggal dulu, Aldy ... semangat ya." Raden menyemangati Aldy dengan cara mengangkat kedua jempol tangannya.


"Siap," Aldy semangat.


Gauri terus saja menyingkirkan tangan Aldy dari pinggangnya tapi lagi-lagi tidak bisa, hanya ada satu cara jika ia tidak mau melepasnya. Saat hendak melaksanakan rencanannya namun suara bisikan Aldy membuat bulu kuduk Gauri berdiri.


"Aku akan melepasnya jika kamu mau bicara dengan aku baik-baik." Mengancam.


Aldy tau jika Gauri punya fantasi ingin memukul itunya atau menginjak kakinya seperti dulu-dulu.


"Ayo," ketusnya sambil menatap Aldy dengan tatapan tajam.


*


Masih berlanjut up nya.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya.


__ADS_2