ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
33 Bukan kencan


__ADS_3

Daysi masih mengamati kakinya yang terperban rapi tersebut.


"Baru hari ini seorang Ksatria Malik bisa seperhatian itu kepada orang lain, pasti dengan para kekasihnya pun juga seperti ini. Pantas saja para cewek-cewek pada nempel, lah kelakuannya seperti ini, membuat orang salah mengartikannya. Haduhhh... mikirin apa sih kamu Daysi, sadar oke sadar dia seorang play boy tingkat tinggi saat ini." Daysi menepuk-nepuk pipinya.


Ksatria yang baru saja selesai makan langsung menanyai keadaan Daysi pada mbok Yati apa dia sudah makan dan meminum obatnya. Setelah mendengar jika Daysi telah makan dan minum obat Ksatria Malik merasa tenang hatinya yang hawatir tadi.


"Den apa aden punya perasaan lebih untuk nak Daysi?" tanya mbok Yati dengan tersenyum.


"Apaan sih mbok, enggak... enggak ada perasaan sama sekali bahkan," elak Ksatria Malik dengan pertanyan barusan. Ksatria segera pergi.


Mbok Yati mengangguk mengiyakan saja. "Tidak ada perasaan apa-apa tapi hawatirnya sampa segitunya." Dalam batin mbok Yati tidak percaya.


Keesokan harinya.


Daysi yang merasa mendingan dengan kakinya segera membersihkan tubuhnya dan bersiap-siap untuk pergi ke hotel. Baru saja melangkah menuju parkiran motor di cegat oleh Ksatria yang hari ini menggunakan pakaian casul saja.


"Mau kemana, bukannya aku sudah bilang untuk di rumah saja Daysi. Kenapa kamu bandel sekali dan tidak mendengar ucapanku?" Ksatria melipat kedua tangannya di dada.


Daysi segera turun dari sepeda motor kesayangannya. "Nih sudah turun dan tidak jadi berangkat, sudah puas." Daysi segera berjalan keluar dari area parkir.


"Berhenti..., aku bilang berhenti, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, ikut aku masuk kedalam mobil." Ucap Ksatria agak berteriak kepada Daysi.


Daysi langsung berhenti dan menolehkan kepalanya, dengan terburu-buru Daysi masuk kedalam mobil Ksatria Malik. Bahkan Ksatria mengemudi sendiri mobilnya. Saat berada di jalan Daysi begitu terpesona dengan ketampanan Ksatria Malik yang tidak dapat di pungkiri dengan sekali melihat saja.


"Jangan menatapku seperti itu, awas nanti jatuh cinta." Ksatria berucap dengan tersenyum ke arah Daysi.


"Siapa yang jatuh cinta, cuma aku heran denganmu. Kenapa ada orang senarsis kamu di kehidupan ini yang tingkat kepedeannya di atas awan," dengan segera Daysi menatap arah cendela mobil.


Ksatria tersenyum sangat lebar mendengar ucapan Daysi barusan. Sungguh menggemaskan ucapannya di dengar telinga.

__ADS_1


Sesampainya di tempat tujuan Ksatria memarkirkan mobilnya di tempat parkir, Ksatria menatap sekilas Daysi yang masih melamun entah apa yang di lamunkan oleh Daysi saat ini. Daysi terlihat gelisah saat ini. Ksatria segera menghampiri Daysi yang masih ada di dalam mobil.


TTOOKK... TTOOKK...


"Heeyy... sudah sampai apa tidak ingin keluar dari mobil?" Ksatria menatap sekilas Daysi. Sambil menunggu Daysi keluar dari mobil Ksatria menyenderkan tubuhnya di pintu mobil bagian belakang.


Daysi segera menyudahi lamunannya. Alangkah terkejutnya Daysi ternyata Ksatria mengajaknya di sebuah perbukitan yang tertuju pada jalan raya, dari atas bukit terlihat dengan jelas jalanan kota yang ramai, bahkan gedung-gedung tinggi nampak sekali.


Ksatria menatap sekilas Daysi yang tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya.


"Apa kamu menyukainya?" Ksatria berdiri di samping Daysi. Daysi menatap dengan malas sosok Ksatria.


"Lumayan, pemandangan dari sini bagus juga!" Daysi mencari sesuatu untuk duduk di atas tanah sebagai alasnya. Karena hanya menemukan pelepah daun pisang dengan segera Daysi mengambilnya.


Ksatria hanya menatap ia masih berdiri dan enggan untuk duduk di atas daun pisang.


"Sini duduklah, bukannya mau berbicara sesuatu denganku tadi?" Daysi menujuk satu pelepah daun pisan yang ada di sebelahnya.


"Haduhhh... orang kaya yang gengsinya sampai setinggi langit. Itu tidak kotor, kamu duduk tidak. Atau mau duduk di tempat lain, pakai salah satu jok mobilmu jika tidak mau duduk di situ!" ucap Daysi dengan marah-marah sambil menujuk mobil Ksatria yang terparkir tidak jauh darinya.


"Oke aku duduk, terpaksa juga." Ksatria menata pelepah daun pisang tersebut sambil mengamatinya dan memastikan jika daun tersebut tidak kotor.


Daysi menepuk jidatnya berkali-kali.


"Segitunya ini orang, itu tidak kotor percaya denganku." Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Iya aku percaya tidak kotor, aku hanya memastikan tidak ada kotoran yang bersarang di alas daun ini." Ksatria segera duduk di atas daun pisang.


"Cepat mau berbicara apa sepertinya penting sekali?" Daysi mengecek ponselnya yang sedari tadi bergetar. Setelah melihat ternyata dari Hugo, Daysi segera mematikan ponselnya saat ini ia dengan Ksatria jadi ia fokus pada Ksatria saja.

__ADS_1


"Eemmm... jika suatu hari ya ini, suatu hari kita saling jatuh cinta terus aku menyakitimu teramat dalam bagaimana, apa kamu tetap mempertahankan rumah tangga ini atau menyudahinya?" Ksatria berucap sambil menudukkan kepalanya.


"Tergantung seperti apa menyakitinya, jika itu melukai kesetiaan dan sejenisnya mungkin bisa jadi aku meninggalkanmu suatu hari!" ucap Daysi dengan tersenyum lebar.


"Aku takut jika hari itu datang dengan cepat, saat aku dan kamu saling mencintai namun aku menyakitimu." Dalam batin Ksatria Malik.


"Eehhh sudah sore ayo kembali." Ksatria segera bangkit dan masuk ke dalam mobil dan di ikuti oleh Daysi.


Sore hari.


Ksatria yang tidak pernah membaca koran hari ini dengan semangat membaca koran sambil menikmati secangkir teh.


Daysi yang sedang mengagumi bunga-bunga yang ada di kebun, langsung menciuminya satu per satu.


"Nak Daysi, minum dulu tehnya mumpung masih hangat nak." Mbok Yati meletakkan secangkir teh di meja kecil dekat kursi santai.


Mbok Yati tersenyum saja saat melihat Daysi begitu menyukai bunga seperti namanya.


"Semoga nak Daysi menjadi bunga yang tidak akan pernah layu dan selalu mekar serta wangi di dalam hati den Ksatria Malik." Dalam batin mbok Yati seraya tersenyum.


"Iya mbok terimakasih, sebentar lagi Daysi minum tehnya," Daysi memotong satu tangkai mawar putih yang terlihat cantik sekali di pandang mata. Dan meletakkannya di vas bunga kecil yang ada di meja tempat mbok Yati meletakkan secangkir teh dan camilan sore.


Daysi duduk di kursi kecil sambil menikmati teh yang sama persis seperti milik Ksatria. Hanya saja mereka berdua menikmatinya di tempat yang berbeda.


Ksatria yang baru saja selesai menikmati tehnya kini bergegas pergi dari tempat tersebut dan menuju kedalam rumah setelah selesai membersihkan diri ia mencari keberadaan Daysi namun tidak menemukannya.


Suara bell rumah terdengar nyaring sampai di dalam rumah. Ria segera berlari siapa gerangan yang bertamu di jam segini, meskipun masih sore baru kali ini ada orang yang mau bertamu di kediaman ini.


CCKKLEEKK...

__ADS_1


"Permisi..., Ksatria nya ada?" tanya seseorang yang bertamu.


__ADS_2