
Like, love dan bintang 5.
***
Daysi dan Sindy hanya garuk-garuk kepala, katanya ingin mencicipi masakan namun pada kenyataannya itu tidak mencicipi lantaran satu piring penuh dengan lauk tanpa nasi yang menemani. Lain di mulut lain juga di piring.
"Papa sedang sehatkan, kenapa mencicipi makanan bisa satu piring penuh. Bukannya itu sama saja dengan makan seperti biasanya, bukan lagi mencicipi masakan yang hanya ujung sendok saja?" Daysi menuangkan air putih di gelas Ksatria.
"Bedalah Mama, ini namanya tetap mencicipi lantaran tidak ada nasi yang banyak di piring papa!" menjelaskan pendapatnya sendiri yang terkesan aneh dan baru kali ini menjumpai orang seperti suaminya tersebut.
"Tapi porsi yang Papa ambil itu bukan lagi mencicipi, melainkan sudah termasuk makan lantaran sangat banyak sampai tepian piring milik Papa tidak terlihat tuh." Sambil menunjukkan tepian piring yang tinggal 5 millimeter saja tidak ada satu centimeter.
Ksatria mengangguk dan melanjutkan mencicipi berbagai macam makanan yang bercampur seperti gado-gado.
"Yang penting Papa sudah kenyang mencicipi masakan keluarga kecilku ini, semoga tidak ada jamur pengganggu." Ksatria mengelap bibirnya dengan tissue basah.
"Hey... hey... apa maksudnya jamur pengganggu, kamu pikir aku ini jamur apa," Sacha yang tiba-tiba datang tidak terima dirinya di sebut jamur pengganggu.
"Memang iya, dalam kenyataan kamu seperti jamur saja. Masa iya berduit tebal tidak punya juru masak yang luar biasa, apa asisten rumah kamu hanya bersih-bersih rumah saja. Pantas saja Momo terlihat sangat kurus semenjak adik tersayang ku wafat." Ksatria mulai memanas pikirannya.
"Besok pembantu datang ko ke rumah, kakak ipar Ksatria tenang saja. Malam ini aku makan yang terakhir kalinya di kediaman ini, jangan merindukan jamur yang suka makan malam di sini," wajah kusut Sacha yang sedang mengambil makanan.
"Terserah kamu, awas saja jika masih pelit mengeluarkan uang sedikit. Kasihan tuh Momo yang sering menahan lapar." Ksatria beranjak pergi dari ruang makan.
Sedangkan Daysi lanjut makan dengan putra putrinya dan juga Sacha.
"Beneran kamu sewa jasa pembantu untuk memasak tidak seperti kemarin-kemarin?" tegas Daysi namun masih ragu-ragu tapi tetap bertanya.
__ADS_1
"Beneran kakak ipar ku yang cantik, jangan hawatir lagi dengan Momo. Di pastikan dan di jamin ada pembantu yang masak nantinya setiap hari!" Sacha melanjutkan makannya sampai habis.
"Ada apa sih dengan perut semua orang kenapa lahap sekali, padahal masakan sangat banyak namun sepertinya masih kurang. Besok-besok aku melarang suamiku memasak saja kasihan perutnya semua kekenyangan dan masih ingin di isi terus, benar-benar seperti tidak pernah makan satu minggu." Sindy menatap semua orang yang ada di meja makan.
"Sindy sayang, kenapa tidak di makan. Apa masakan Aa kurang enak, atau mau Aa masakkan yang lain." Membisikkan pada Sindy.
"Tidak usah Aa, cukup ko masakannya ini dan enak Aa untuk di nikmati," Sindy dengan lahapnya menghabiskan makanan yang ada di piringnya.
Cheval mengacak-acak rambut Sindy dan melanjutkan memberi makan perutnya.
Sacha yang sudah selesai makan malam merebahkan dirinya di depan kolam renang sambil melihat pantulan bulan dari air. Mala yang baru saja datang langsung memberikan jus buah pada Sacha.
"Pak bos ini jusnya." Meletakkan di meja dan berpamitan kembali ke dapur.
Malam ini Sacha merenungkan dirinya yang sudah menjadi duda beranak satu, tidak ada niatan dalam hati untuk menikah kembali. Baginya satu kali seumur hidup, selain itu tidak ada wanita yang bisa meluluhkan hatinya selain Aurellia istri tercinta.
"Ayah." Sapa Sindy dengan lembut dan duduk di kursi sebelah Sacha. "Kenapa Ayah berada di luar?"
Sindy tidak tau lagi harus menghibur dengan apa dan bagaimana. Cheval yang mencari sang istri langsung menyusulnya saat ia melihat dari lantai 2 jika istrinya berada di kolam renang dengan Sacha.
"Ayah, Sindy." Cheval menyapa dan duduk di bibir kolam renang dengan menceburkan satu kaki kanannya.
"Kenapa Aa kesini, rindu ya dengan istri cantikmu ini?" Sindy merasa bangga pada diri sendiri.
"Percaya diri sekali kamu sayang, apa tidak boleh aku datang kesini. Lagian kenapa Aa tadi di tinggal sendirian di ruang keluarga saat menonton bola!" jawabnya menggerutu.
"Lagi malas menonton bola, makannya aku tinggal." Mulai lagi berdebatnya.
__ADS_1
Sacha yang sudah mendengar keluhan dari Daysi hanya menebah dadanya dan bersabar.
"Ternyata kalian berdua membuat ayah tambah pusing dengan perdebatan kalian. Kalau seperti ini terus ayah pamit pulang saja sekarang, untuk kalian jangan lanjut berdebat oke. Lanjutkan percintaan kalian yang bermanfaat dan tidak basi." Sacha menghabiskan jus tersebut dan pulang ke rumahnya sendiri.
"Siap ayah," jawab serempak.
Kediaman Mahendra.
Sacha membeli beberapa kue dan makanan ringan lainnya untuk putrinya. Momo yang sedari tadi mendengarkan musik tidak tau jika ayahnya sudah pulang di tambah lagi Momo sedang berjoget kesana kemari sendirian.
"Momo." Sacha berharap di sambut oleh putrinya dengan suka cita dan penuh haru, namun tidak ada sambutan yang ada goyangan tubuh yang tidak tau keberadaan ayahnya yang ada di belakang tubuhnya.
Sacha yang merasa di abaikan Momo meletakkan bungkusan tersebut di sofa.
"Sudahlah, lagian dia bahagia malam ini." Menutup pintu dengan pelan-pelan.
Memang berat menjadi singel parent, apalagi jika sang anak semakin tumbuh dewasa. Beban di pundak terasa berat, namun sebagai orang tua tunggal tidak harus mengeluh dan bersedih. Semangat dan bahagia kunci keberhasilan.
Momo yang baru saja selesai mendengar musik tidak sengaja pandangannya jatuh di sebuah kantong plastik yang berada di sofa.
"Jadi sedari tadi aku seperti itu ayah melihatnya." Menahan malu. "Makan saja dulu dari pada keindahan dunia tidak seindah dunia hayalanku."
Momo mulai membuka satu persatu bungkusan tersebut. Camilan kesukaannya ada di dalam. Dengan lahap Momo memakannya sambil bermain game di ponsel canggih nya.
"Wah... ini orang mengajak perang di permainan, teman atau lawan sih. Gak boleh aku harus serang dia, enak saja sedari tadi aku di jadikan umpan untuk mendapatkan keuntungannya sendiri, giliran kamu aku serahkan padanya." Momo langsung menyerang tanpa ampun.
Lais yang diam-diam mengikuti Momo dalam permainan tersebut merasa tertantang, ia sedikit mengalah dari Momo.
__ADS_1
"Ternyata permainanmu sangat bagus, tambah mengemaskan saja. Apalagi yang kamu gunakan karakter kesukaanku." Lais hampir saja di buat kalah oleh Momo.
Momo yang merasa lawannya tidak semudah yang ia pikirkan mulai menyusun strategi untuk menghancurkannya, pelan-pelan tapi pasti.