
Jangan lupa like dan rate ya. Terimakasih.
***
Momo mengendarai mobil kesayangannya, ia kemudian memarkirkan tidak jauh dari pemakaman. Momo tidak sadar jika dirinya berada satu tempat dengan Lais yang sedang mengunjungi mamanya juga. Benar-benar takdir mereka berdua selalu bertemu dimana-mana.
"Bunda apa kabar." Momo menaburi bunga di atas pusaran Aurellia dan mendoakannya.
Momo sedikit curiga kenapa ada bunga tabur yang masih basah dan terlihat baru saja di kunjungi, tak sengaja Momo sedikit melirik ke suatu tempat yang tidak jauh darinya.
Lais yang tidak sengaja melihat Monique sedang berdoa ia mengambil foto Momo, sudah sering kali Lais mencuri foto gadis tersebut.
"Walaupun sekarang kamu tidak mau menemui ku, akan ku pastikan kamu akan menjadi ibu untuk anak-anakku dan istri yang paling aku cintai dalam hidupku." Lais menjauh dari area pemakaman dan melajukan motornya dan mulai kembali ke rumah.
Momo yang sedari sadar dengan kedatangan Lais memang sengaja berpura-pura tidak tau dan tidak melihatnya, padahal dia berdoa sudah selesai dari tadi. Ia juga ingin tau apa yang di lakukan oleh Lais, ternyata Lais sedang mengarahkan ponselnya entah apa yang di lakukan, dia mengambil foto atau vidio itu tidak pasti atau mengambil gambarnya sendiri.
Momo mengeluarkan ponselnya dan menatap foto Lais yang sedikit memiliki kumis, tambah tampan dan memikat saja.
"Pasti istrimu masa depan akan bahagia bisa memiliki kamu, sebagai teman aku mendoakan kamu. Semoga mendapatkan pendamping hidup yang sabar dan tabah menghadapi kamu." Momo bergegas pergi usai mencium nisan bundanya.
Rumah Nadia.
Emillia yang hari ini di jemput oleh keluarganya, bahkan ada beberapa pengawal dan body guard yang menunjukkan jalan untuk masuk ke sebuah mobil mewah. Nadia yang melihat kepergian Emillia hanya menatap dari jauh.
"Ternyata kamu putra dari keluarga ternama, semakin jauh saja dariku yang hanya setara dengan pembantu di rumahmu bahkan lebih rendah statusku." Nadia menatap mobil yang sudah menjauh dari rumahnya.
Tiyas yang melihat sang putri sedih hanya menepuk pundaknya agar sang putri sadar jika dirinya tidak bisa menggapai bintang yang bersinar di langit malam.
__ADS_1
"Bu, aku masuk dulu ya. Besok harus berkerja lagi." Nadia segera masuk ke rumah dan mengunci kamarnya.
Hatinya merasa sedih dan hampa, ketika seseorang berhasil mengobrakabrik hatinya namun dalam sekejap ia menghilang seperti mimpi, menemukan berlian namun ketika bangun berlian itu tidak ada.
Emillia yang di borgol oleh pengawal berusaha memberontak namun sia-sia usahanya yang ada tangan dan kakinya yang baru saja di borgol kesakitan bukan main.
"Lepaskan." Emillia berusaha, "sudahlah percuma juga."
1 bulan kemudian.
Nadia sudah kembali ceria seperti dulu lagi bahkan senyumnya bertabur kemana-mana. Ima yang satu pekerjaan dengan Nadia sampai keheranan sendiri kenapa sahabatnya yang satu ini bertingkah aneh. Apakah tambatan hatinya kembali atau sudah menemukan yang baru yang jauh lebih dari yang barusan pergi.
"Ciye... yang sudah bisa move on, dapat yang baru nih ceritanya." Ledek Ima yang masih saja tertawa.
"Siapa yang dapat gebetan baru, aku senang sebab hari ini gajian dan rencananya aku mau makan malam dengan ibu di rumah," Nadia menatap layar ponselnya dan memilih beberapa menu yang sesuai untuk dirinya dan untuk ibu tercintanya.
"Bagaimana apa ada ide baru untuk hotel dan apartemen kita?" Ksatria membuka berkas-berkas yang sudah menumpuk di depannya.
"Ada, kita buat diskon dan juga pembayaran yang lebih mudah lagi dan tentunya kita untung dan pelanggan tidak keberatan!" jawab Cheval yang menunjukkan cara kinerjanya seperti apa.
Ksatria dan Sacha langsung setuju setelah Cheval menerangkan itu semua. Bagi para staf yang penting di hotel dan apartemen di kumpulkan secara bersamaan. Karena pembahasannya sama jadi meeting di adakan secara bersama.
"Bagaimana dengan usulan ini, apakah ada ide yang lain untuk di tambahkan lagi?" Ksatria menanyai para karyawannya, sebab meeting kali ini dia langsung terjun untuk membahasnya.
Semua tentu saja setuju, karyawan seperti mereka mendapatkan gaji sesuai dengan kinerjanya, bahkan gajinya sering lebih dengan bonus-bonus plusnya.
Sore hari.
__ADS_1
Sindy yang pergi dengan Daysi untuk berbelanja kebutuhan rumah, awal bulan seperti ini banyak sekali yang harus di beli mulai dari bahan pokok dan barang pribadi.
"Apa semua sudah di beli Sindy?" menatap keranjang yang di dorong Sindy.
"Sudah ma kalau keperluanku dan juga Aa, jika nanti kurang kan masih bisa beli lagi di mini market dekat rumah!" jawab Sindy menyodorkan kartu debitnya.
Baru kali ini seorang Sindy membayar belanjaannya sendiri bahkan mengeluarkan kartu debit yang mustahil keluar dari dompet kecilnya itu. Daysi ingin sekali tertawa melihat tingkah lucu Sindy yang memanyunkan bibirnya usai membayar belanjaan.
"Kenapa apa tidak rela uangnya keluar banyak." Goda Daysi ketika sudah berada di dalam mobil.
"Hua... hu... hu..., uangku kandas tiga puluh juta lebih," Sindy menatap struk belanjaan yang ternyata sebegitu banyak barang-barang yang habis.
"Besok-besok jika belanja aku tidak mau membayarnya. Masa belanjaan 3 troli habisnya tiga puluh juta, apalagi milik Aa kenapa lebih mahal dari pada punyaku. Apa seperti ini belanjaan para laki-laki, tidak sering belanja namun sekali belanja habis banyak. Kantong kering deh."
Daysi hanya tertawa dalam hati, putrinya ini benar-benar tidak rela uangnya habis. Diam-diam Daysi mentransfer uang pada Sindy, karena setau Daysi sang putri tidak punya aplikasi yang menerima uang transferan jadinya aman.
Para suami sudah berada di meja makan menanti kepulangan sang pujaan hati, sudah makan sendiri menunya mie instan pula pakai telur ceplok dan satu butir cabai.
"Nasib-nasib, tau seperti ini tadi makan di pinggir jalan. Apalagi tadi ada satenya pak Hasan yang baunya tembus masuk ke kaca mobil." Cheval mengaduk mienya.
"Iya betul, apalagi satenya itu bumbu meresap dan sambal kacangnya itu loh menggoyang lidah," Ksatria juga mendambakan sate yang sama.
"Pa, apa Papa mencium bau satenya pak Hasan, apa pak Hasan jualannya berpindah di rumah kita?" Cheval tidak sadar jika di belakangnya ada Sindy dan Daysi yang sudah membawakan sate banyak, ada 5 porsi sate.
"Iya, Papa juga menciumnya!" mencari sumber aroma tersebut. "Eh... Mama dan Sindy tau saja jika Papa menginginkan sate itu." Ksatria menerima satu bungkus sate tersebut.
Daysi dan Sindy duduk di depan para suaminya dan ikut makan malam yang terlambat tersebut. Para pekerja di kediaman Malik juga di pesankan lantaran pak Hasan di suruh untuk datang ke kediaman Malik secara langsung.
__ADS_1