
Banyak typo berterbangan di karya ini, beri pendapat ya teman-teman pembaca setia IBAM, bagaimana dengan part ini suka part yang panjang ini apa seperti biasanya.
Terimakasih yang berkenan mampir dan membaca karya author.
***
Ksatria mengajak Daysi menikmati pemandangan dari gasebo, sesekali Ksatria menggengam jari jemari Daysi yang terlihat kecil di tangan Ksatria.
"Tangan kamu lembut sekali, kenapa bisa selembut ini padahal kamu juga melakukan aktivitas bahkan berkerja juga?" Ksatria membalikkan telapak tangan Daysi dan memeriksanya.
"Kenapa memangnya, meskipun aku berkerja tetapi merawat kesehatan tubuh juga pentingkan, aku perbanyak minum air putih saja untuk menjaga kelembaban kulit ku!" Daysi membiarkan Ksatria menyentuh telapak tangannya.
"CCUUP...," Ksatria mencium telapak tangan Daysi berulang kali. "Ayo kita masuk kedalam rumah Daysi."
Keesokan harinya.
Rasa nyaman masih menyelimuti Daysi, ia merasa aman berada di pelukan Ksatria. Sesekali Daysi menempelkan wajahnya di dada bidang milik Ksatria Malik.
"Apa masih belum puas semalam menempelkan wajahmu di dadaku?" goda Ksatria pada Daysi.
Daysi melototkan matanya, bagaimana bisa ia bertingkah konyol seperti ini semalam, bahkan menciumi dada bidang Ksatria Malik. Daysi segera duduk dari tempat ia memeluk dada Ksatria.
"Kenapa duduk, aku suka jika orang yang aku cintai seperti ini." Ucap Ksatria yang membuat Daysi malu saat ini.
"Sudah jangan menggodaku lagi, aku malu," Daysi memalingkan wajahnya.
Ksatria menarik tangan Daysi dan berhasil membuat Daysi jatuh di atas dadanya. "Kenapa harus malu, aku suamimu Daysi sudah sepantasnya pasangan suami istri seperti ini, apa lagi melakukan kewajibannya."
DDEEGHH... DDEEGHH..., jantung Daysi berpacu dua kali lipat lebih cepat tidak seperti biasanya. Bahkan wajahnya masih memerah karena di goda Ksatria Malik.
Daysi berusaha bangkit dari dada Ksatria namun kalah cepat dengan lengan besar Ksatria yang menimpa badannya. Daysi memberontak terus sampai membuat Ksatria kualahan.
"Jangan memberontak Daysi, apa kamu tidak tau jika pagi-pagi seperti ini membuat sesuatu bangkit dari tidurnya." Ksatria menahan sekuat tenaga dirinya agar aman terkendali.
"Maksudnya???" Daysi menatap mata Ksatria yang sangat bagus seperti mata elang dengan bulu mata yang lentik.
"Suatu saat nanti kamu tau jika waktu dan momennya tepat!" Ksatria melepas pelukannya dan membiarkan Daysi pergi dari hadapannya.
Daysi dengan buru-buru keluar dari kamar Ksatria dan menuju kamarnya, meski detak jantungnya kembali normal namun rasa jatuh cinta dengan sosok Ksatria masih membuatnya lemas dan tidak bisa berpikiran jernih saat ini.
Ksatria segera menyingkap selimutnya dan menuju kamar mandi.
"Untungnya tidak kelepasan, jika ia aku tidak tau apa yang akan terjadi di waktu berikutnya, bisa-bisa Daysi mengucapkan kata-kata pedas dan lainnya." Ksatria menyalakan sower dengan deras untuk meredam hasratnya pagi ini.
Daysi yang sudah selesai mandi dan sedikit menggunakan krim wajah bergegas menuju kamar Ksatria dan menyiapkan pakaian kerja Ksatria Malik. Saat masuk kedalam kamar Ksatria, Daysi menatap arah kamar mandi yang masih tertutup dan suara sower yang keras terdengar sampai luar kamar mandi.
Daysi mengabaikan suara tersebut dan langsung menju ruang ganti pakaian untuk menyiapkan segala keperluan pakaian kerja Ksatria. Ksatria yang baru selesai mandi langsung mengenakan jubah handuknya. Melihat Daysi yang menyiapkan pakaian kerjanya membuat Ksatria memiliki senyum jahilnya.
Ksatria mendekati Daysi dan membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk merinding. "Sayang..., pakaikan bajuku ya." Logat manja Ksatria.
Wajah Daysi langsung memerah dan segera memutar badannya dan melempar Ksatria dengan baju yang di pilihnya.
"Pakai sendiri." Ucap ketus Daysi yang berhasil membuat Ksatria tertawa lepas pagi ini.
Dulu tidak ada suara tawa dari sosok Ksatria Malik, jangankan tawa senyum saja tidak. Apalagi saat Aurellia sering keluar masuk RS membuatnya sering bersikap dingin. Tetapi saat ini tanpa Daysi hadir dalam kehidupnya, tidak ada yang bisa mengantikan dirinya yang menghangatkan suasana hati.
Ksatria menuruni anak tangga setelah selesai mengenakan pakaiannya, pakaian saat ini yang ia kenakan kemeja berwarna putih. Aura ketampanannya sangat terpancar, Ksatria sengaja tidak mengenakan jasnya hari ini dan tanpa dasi kupu-kupu yang selalu melengkapi atributnya.
Daysi yang baru saja membawa meja dorong yang berisi makanan dan beberapa gelas dan piring terkejut dengan penampilan Ksatria saat ini.
"Kenapa terlihat sangat tampan dengan mengenakan kemeja itu saja." Gumam Daysi dalam hati, ia mengeluh kenapa Tuhan menciptakan makhluk seperti ini.
"Duduklah di sampingku, jangan mematung di situ." Ksatria membuyarkan lamunan Daysi.
"Iya," jawab singkat padat Daysi tidak seperti kemarin-kemarin banyak alasan ini itu.
"Tumben tidak protes, terpesona ya dengan ketampananku?" Ksatria menggoda Daysi.
__ADS_1
"Jangan kepedean deh, mau aku ambilkan makan apa." Daysi membalikkan piring yang ada di depan Ksatria.
"Terserah semua makanan dari tangan kamu semuanya enak dan mengenyangkan," Ksatria mengeluarkan senyum termanisnya.
"Gombal...," Daysi menggelengkan kepalanya.
"Tapi kamu sukakan dengan gombalanku ini, tuh wajah kamu sampai memerah lagi." Dengan tersenyum sangat lebar.
"Aku tidak akan menemanimu makan pagi jika kamu seperti ini terus," Daysi cemberut sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
"Tidak mau menemani, tetapi masih saja duduk di situ." Ledeknya pada Daysi, Daysi yang merasa di sindir Ksatria segera bangkit dari duduknya. Namun dengan gerakan cepat tangan Ksatria berhasil mencekal pergelangan tangan Daysi.
"Mau kemana. Kamu pergi dari tempatmu satu meter aku hukum kamu saat ini juga, tidak lupakan dengan hukuman yang aku ucapkan waktu itu?" Ksatria mengingatkan Daysi dengan ancamannya waktu itu.
"Iya... iya... aku tidak lupa bahkan sudah terpatri di pikiranku setiap kali berjalan!" jawab malas Daysi.
"Bagus, setidaknya kamu tidak akan melakukan hal-hal yang bisa merugikanmu sendiri." Ksatria mengelap mulutnya dengan tisue. "Sini aku mau menyuapimu hari ini, buka mulutmu." Ksatria menyodorkan satu sendok makanan ke Daysi, Daysi segera membuka mulutnya.
Daysi makan dengan lahapnya ia masih takut dengan ancaman yang di lontarkan Ksatria waktu itu. Ksatria sangat bahagia melihat Daysi dengan lahapnya makan dari suapannya tersebut.
Setelah selesai sarapan pagi Ksatria siap-siap pergi ke hotel dengan supir, Ksatria memegang erat tangan Daysi dan mengajaknya masuk kedalam mobilnya.
"Eehhh... tunggu aku bisa menggunakan motorku, tidak usah seperti ini. Aku tidak mau jadi bahan pembicaraan orang-orang." Protes Daysi pada Ksatria.
"Biarkan saja, jangan di dengarkan ucapan tidak penting itu, mulai besok kamu tidak usah berkerja dan fokuslah di rumah merawat Aak Cheval." Ksatria memberi keyakinan penuh untuk Daysi, mau tidak mau Daysi menuruti ke inginan suaminya ini.
Hotel Royal Malik.
Daysi keluar bersama dengan Ksatria bahkan Ksatria menggengam erat jari jemari Daysi. Banyak sorot mata yang melihat kejadian ini bahkan mereka terheran-heran dengan Daysi yang menggunakan dress cantik.
Okta yang melihat kejadian ini langsung menghampiri Ksatria dan Daysi.
"Istriku mengundurkan diri, tidak usah banyak tanya. Jika aku mendengar ada yang membicarakan istriku di belakangku, siap-siap kalian aku pecat," ancam Ksatria saat para karyawannya ada di lobby hotel.
Semua terperanga seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengar. Istri... kata-kata itu menjadi pertanyaan semua karyawan Ksatria baik di hotel maupun di restoran hotel.
"Eemmm..., kamu duduk di sini dulu. Aku keluar sebentar ya." Memegang pipi Daysi dengan lembut. Daysi hanya diam tanpa berani bicara apa-apa seperti biasanya.
Daysi merebahkan tubuhnya di sofa. Sambil memainkan ponselnya. 15 menit lebih Ksatria belum juga kembali.
"Kemana sih Ksatria, katanya sebentar ini sudah lebih dari 15 menit. Apa orang-orang kaya seperti ini lebih dari 15 menit di sebut sebentar, coba aku tunggu lagi." Daysi mulai bosan dengan keadaannya sekarang.
Daysi mengelilingi ruangan pribadi Ksatria Malik. Ada sebuah almari besar yang terbuat dari kaca, Daysi sangat penasaran dengan isinya. Tangan Daysi memegang handel pintu almari tersebut saat akan membuka tangan Daysi di cegah oleh tangan besar yang ia yakin milik Ksatria dan benar saja tangan tersebut milik Ksatria Malik.
"Jangan membukannya, jika kamu melihat pasti kamu akan menertawakanku saat ini." Ksatria malu saat ini, untungnya Daysi belum membukannya kalau benar-benar terbuka pasti akan di tertawakan habis-habisan.
Daysi tetapi ingin membukannya, dengan ucapan Ksatria barusan membuatnya penasaran isinya apa almari tersebut sampai-sampai Ksatria melarangnya untuk melihat.
"Coba aku lihat dalamnya apa jangan membuatku penasaran Ksatria." Daysi berusaha meraih hendel pintu namun terus gagal. Daysi sangat kesal rasa penasarannya sampai ubun-ubun kepala.
Sementara Ksatria masih saja tetap dalam pendiriannya menghalagi handel pintu agar Daysi tidak bisa meraihnya.
"Ya sudah kalau tidak mau memperlihatkannya padaku aku pulang saja, biar semua orang melihat istri CEO marah sementara itu Ksatria Malik tidak perhatian dengan istrinya, biar sekalian jadi trending topik di kota ini, sekalian aku di jadikan pembicaraan dimana-mana." Daysi memonyongkan bibirnya.
Ksatria gemas dengan sikap Daysi yang memonyongkan bibir merah kecilnya. Ksatria meraih tengkuk Daysi, berharap kegiatannya saat ini tidak terganggu seperti waktu itu. Daysi melototkan matanya saat Ksatria mencium sekilas bibir tanpa ada penekanan.
"Kalau kamu berisik seperti ini lagi, aku akan melakukannya di depan umum, mau?" Ksatria memegang bibirnya yang baru saja bersentuhan dengan milik Daysi.
"Mengancam lagi, apa tidak ada yang lainnya selain mengancam. Membuat orang terancam saja keselamatannya!" sambil menggerutu.
Akhirnya Daysi duduk di sofa sambil menunggu jam makan siang, Daysi jenuh dengan keadaannya saat ini tanpa ada pekerjaan seperti biasanya, mungkin efek memegang sapu dan peralatan kebersihannya menjadikan Daysi hampa tanpa mereka semua.
"Ksatria... apa tidak ada pekerjaan untukku selain duduk cantik di sofa ini?" sambil memutar-mutar ponselnya.
"Cukup diam disitu, bergeser dari situ aku hukum!" Ksatria menyipitkan matanya dan kembali mengenakan kaca matannya.
"Kenapa kalau di lihat semakin lama semakin tampan saja, apalagi saat ia berkerja. Wajah serius seperti ini banyak di kagumi para wanita," gumam lirih Daysi yang langsung di dengar oleh Ksatria Malik.
__ADS_1
Daysi melamun saat Ksatria berjalan medekatinnya. "EEHHEEMM..., jangan melamunkan aku terus." Sambil mencubit hidung Daysi.
Daysi memegang hidungnya yang baru saja di cubit oleh Ksatria.
"Apa tidak boleh aku mengagumimu, lagian aku tidak ada kerjaan sesekali melamunkan kamu, hitung-hitung menghilangkan rasa jenuhku saat ini," Daysi menghela nafas panjang.
"Ini sudah jam makan siang, ayo pergi makan di restoran sebrang sana." Menarik tangan Daysi dengan lembut.
Daysi mengikuti langkah kaki Ksatria yang lebar, hampir tidak bisa mengimbangi langkah kaki Ksatria yang panjang dan lebar.
"Sat... jangan terburu-buru aku tidak akan kabur Sat, aku tidak bisa mengimbangi langkah lebarmu." Daysi masih berlari kecil karena Ksatria berjalan cepat.
"Aku gendong bagaimana, mau?" Ksatria berhenti mendadak dan menatap intens wajah Daysi. Daysi menggelengkan kepalanya.
Sesampainya di restoran sebrang jalan.
Ksatria dan Daysi memesan menu yang ada di restoran tersebut tentunnya dengan menu sehat tanpa banyak lemak.
Makan siang yang seharusnya jadi makan siang di luar yang pertama kini hancur tiba-tiba saat seseorang perempuan tiba-tiba datang dan bergelayut manja di samping Ksatria sambil merangkul erat tangan Ksatria Malik. Bahkan Ksatria Malik tidak menolaknya.
Daysi segera meletakkan sendoknya dan menatap dua insan yang ada di depannya.
"Permisi." Ucap Daysi dengan dingin. Ksatria buru-buru mengejar Daysi yang sudah memanggil taxi untuk ia tumpangi.
Namun terlambat Daysi sudah masuk kedalam taxi. Pelangi yang bergelayut manja tadi langsung menemui Ksatria Malik.
"Siall..., kamu menghancurkan acara pertama makan siangku." Ksatria berlalu pergi dari hadapan Pelangi dan masuk kedalam restoran untuk membayar makanannya.
Pelangi tersenyum saat melihat Ksatria segitu mencintai istrinnya. Pelangi menelpon Aurellia dan mengatakan jika rencanannya berhasil dan akan melakukkan rencana selanjutnya sesuai dengan permintaan Aurellia.
"Untungnya aku pandai berakting jika tidak pasti sia-sia aktingku ini." Pelangi memasukkan ponselnya kedalam tas kecilnya dan berlalu pergi.
Ksatria segera kembali ke hotel setelah dari restoran tersebut. Ksatria masuk kedalam mobil, Slamet yang hari ini mengemudi mobil Ksatria heran mengapa hanya ia sendiri yang masuk kedalam mobil, sementara di mana sang istri.
"Pak jalan, kembali ke rumah." Ksatria menekan-nekan ikon ponselnya untuk menghubungi Daysi namun naas nomor ponselnya ia tidak memiliki.
"Aduhh... bodohnya aku, aku tidak memiliki nomor ponsel Daysi." Dalam batin Ksatria merutuki kebodohannya.
Kediaman Malik.
Ksatria mencari kesana kemari sosok Daysi namun tidak menemukannya. Ria yang baru saja menenagkan Cheval yang terus menagis binggung dengan si boss.
"Boss ada apa, kenapa pak bos seperti kebinggungan?" Ria menimang-nimang Cheval.
"Apa Daysi sudah pulang ke rumah?" Ksatria tetap gelisah.
"Belum. Bukannya tadi mbak Daysi dengan si bos pagi tadi berangkat ke hotel." Ria masih mengayunkan tubuh Cheval berharap Cheval berhenti menangis.
"Ya sudah kalau begitu," Ksatria segera menyambat kunci mobil.
Saat berada di dalam mobil Ksatria cemas dengan keadaan Daysi, kemana sekarang saat ini dirinya. Ksatria membelokkan laju mobilnya ke arah panti asuhan yang ia bangun beberapa bulan lalu.
Daysi yang berada di panti asuhan hanya diam menyendiri tanpa berbicara apa-apa setelah menceritakan status dirinya pada Umma Inayah.
Ksatria yang baru sampai langsung menemui pemilik yayasan, salah satu orang yang ikut merawat yayasan memberi tau jika Daysi ada di samping panti lebih tepatnya di area taman. Ksatria berjalan mendekat ke arah Daysi dan Umma Inayah. Ksatria memberi salam pada Umma Inayah.
"Assalamualaikum Umma, bagaimana kabarnya?" sambil tersenyum.
"Umma sehat nak, jika ada masalah segera selesaikan tidak baik jika sepasang suami istri bertengkar terlalu lama," Umma Inayah tersenyum dan meninggalkan Daysi dan Ksatria di taman tersebut.
Keheningan terjadi.
"Kenapa kamu menyusulku, kenapa kamu tidak menemuinya saja." Daysi memalingkan wajahnya.
Ksatria memeluk tubuh Daysi dari samping.
"Maafkan aku Daysi, aku benar-benar tidak ada hubungannya dengan dia. Aku bersungguh-sungguh. Jadi aku mohom maafkan aku ya," Ksatria menatap intens wajah Daysi.
__ADS_1
Daysi menghela nafas panjang. "Oke... untuk kali ini, jika terjadi lagi aku tidak tau apa aku bisa memaafkanmu." Daysi menudukkan wajahnya. Ksatria tersenyum bahagia dengan jawaban Daysi.