
Jangan lupa pencet love, like, rate 5 bintang ya dan terimakasih.
Selamat membaca.
***
Cheval menagkupkan kedua tangannya di pipi Sindy. Sambil menatap lekat-lekat wajah cantik Sindy yang sudah sangat merona padam.
"Apapun yang terjadi Aa tetap bersama denganmu sayang, Aa tidak akan pergi meninggalkan kamu sedikit pun." Memberikan ciumannya lagi namun tidak di bibir melainkan di dahi Sindy.
"Iya Aa," Sindy sangat terharu dengan ungkapan dari sang suami.
"Apa kamu sudah lapar sayang, biar nanti Chef langsung yang menghantarkan makanannya." Cheval melepas dekapan tubuhnya dari Sindy.
"Boleh Aa," sambil tersenyum riang dan duduk sambil mengayunkan kedua kakinya bergantian, layaknya anak kecil yang sedang di berikan hadiah sepesial.
Chef yang berkerja di hotel ini dengan terburu-buru langsung menuju ruangan Cheval. Sang Chef sangat hawatir baru kali ini Cheval menyuruhnya langsung datang menghadapnya, semoga bukan pesangon untuk pensiun.
"Sayang mau makan apa?" Cheval menunjukkan menu andalan hotel ini.
Chef yang sudah tau perihal pernikahan Cheval dan Sindy hanya tertunduk, ia tidak berani menatap keromantisan sepasang suami istri muda ini.
"Maaf mas Cheval mbak Sindy, jadi saya buatkan makan siang apa." Chef Yoga memberanikan diri bertanya, padahal dalam hati ia ketakutan sekali bahkan keringat dingin sudah membasahi tubuhnya sedari tadi ia menuju ruangan tersebut.
"Semua yang ada di sini Chef Yoga, apapun yang di masak dari tangan chef Yoga pasti enak dan layak di puji," ucap datar Cheval dan mengembalikan menu tersebut pada Yoga.
"Baik, saya permisi." Yoga segera keluar dari ruangan tersebut dari pada jiwa jomblonya meronta-ronta.
Chef Yoga masih sangat muda, pertama kali ia berkerja di sini saat ia usai sekolah menengah atas, kegigihannya lah yang membuatnya bisa meraih mimpi seperti sekarang ini. Berarti sudah hampir 4 tahun ia berkerja disini.
"Sayang, chef Yoga kasihan ya." Sambil memperbaiki dasi Cheval.
__ADS_1
"Kasihan kenapa?" ia keheranan dengan istrinya, kasihan kenapa apa putus cinta atau gaji di sini kurang banyak.
"Ya kasihan berkerja denganmu sayang, lihatlah." Sindy menunjuk pantulan kaca pada Cheval agar dia melihat dirinya sendiri di kaca besar tersebut. "Sudah tampan, mempesona tapi sayang semenjak masuk ke sini kamu tidak bisa tersenyum lagi, bahkan ini selalu mendengus dan menyatukan kedua alismu," Sindy menyentuh alis Cheval yang selalu bertemu tersebut.
"Benarkah, semenakutkan itu ekspresi wajahku. Pantas saja mereka jika bertemu denganku tertunduk takut, seperti Yoga barusan." Menatap dirinya sendiri dari pantulan tersebut.
"Nah Aa sudah tau kan permasalahannya apa, mulai sekarang berkerja dengan ikhlas ya Aa biar berkah rejekinya," Sindy kembali duduk dengan memainkan benda pipih nya.
Sekitar dua puluh menitan, makanan sudah siap tersaji di ruangan tersebut, semua menu ada dan tinggal di nikmati saja.
"Eehh... apa kita makan besar siang ini, bukannya ini terlalu berlebihan Aa?" Sindy menatap semua makanan yang nampak cantik dan menarik hati tampilannya.
Yoga yang masih di tempat, bingung harus bagaimana.
"Emm chef Yoga, tolong ya yang lain ini yang aku tunjuk kamu bawa kembali dan makanlah dengan rekan kerjamu yang lain, ini gratis untuk kalian." Senyum ramah Sindy tunjukkan.
Cheval yang menatap sang istri yang selalu menebar senyum membuatnya kesal sekali, apalagi chef Yoga masih muda tampan pula.
"Baik mbak dan terimakasih," Yoga segera mengemasi makanan tersebut dan buru-buru keluar dari ruangan horor itu.
Naik becak roda tiga.
Emillia sedang menikmati pemandangan di seluruh kota ini dengan menaiki jasa becak. Dia sangat bahagia dengan suguhan pemandangan kota ini, sejuk dan tidak banyak polusi meski ini perkotaan karena semua orang sedang berjalan kaki.
Emillia menelpon Cheval dan menanyakan sedang di mana sekarang. Cheval yang sedang menyuapi Sindy konsentrasinya terganggu dengan gara-gara telpon sialan dari Emillia.
"Apa sih?" Cheval menatap malas wajah gembira Emillia yang sedang naik becak.
"Ehh... bisa pelan sedikit tidak bicaranya, kasihan tuh yang mengayuh becak ini!" sambil menunjukkan tukang becak yang terlihat lelah tetapi tetap tersenyum ramah.
"Terserah lo deh, jika tidak ada yang ingin di sampaikan aku matikan dulu." Cheval akan mematikan panggilan tersebut.
__ADS_1
"Eehh tunggu sebentar Val, aku mau ke rumah kamu. Kamu ada di mana?" Emillia menunjukkan satu bungkusan besar pada Cheval.
"Langsung ke hotel Royal Malik yang pertama di kota ini saja!" Cheval mematikan panggilan tersebut.
Sindy memegang lengan Cheval dengan tatapan menggemaskan sekali.
"Kenapa menatapku seperti itu, mau aku suapi lagi hem?" menyodorkan garpu yang berisi mie spesial.
"Bukan itu Aa, naik becak yuk jalan-jalan ke Yogyakarta ke Malioboro naik becak atau andong (delman)!"
"???" menatap heran Sindy.
"Aa tidak mau, ya sudah deh gak jadi. Lagian di rumah juga enak ko galau, sedih, sepi dan tidak punya kerjaan. Cari kerja saja deh kalau begitu." Sindy bangkit dari duduknya namun secepat kilat Cheval meraih pergelangan tangan Sindy.
Terkadang hal manja seperti ini yang di harapkan Cheval, ia juga ingin sang istri memintanya untuk pergi berlibur.
"Siapa bilang tidak mau sayang, Aa mau ko mengajak Sindy ke sana. Lagian semenjak menikah kita tidak pernah ke sana lagi," Cheval menyodorkan pipinya berharap Sindy bahagia dan menciuminya habis-habisan.
"Karena Aa yang menawari aku bahagia, aku pulang dulu ya Aa, bye... bye... suami tampanku aku tunggu kabar baiknya." Sindy pergi begitu saja setelah mendengar sang suami akan mengajaknya pergi ke tempat tersebut.
Cheval menghela nafas panjang.
"Ternyata liburan lebih penting dari pada aku, sedih dan sakit sekali hatiku ini. Malangnya nasibmu Cheval sabar oke demi membahagiakan istri tercintamu." Sambil menebah dadanya untuk bersabar, hanya momen ini yang bisa mengobati rasa sakitnya waktu kecil dulu.
Semua kenangan di sana teringat betul di pikiran Cheval kecil, bagaimana orang tua angkatnya yang begitu perhatian padanya, sedangkan Sindy di titipkan ke Mala. Meski ikut jalan-jalan tetapi Sindy kecil tidak merasakan kehangatan papa mamanya.
Sindy yang naik sepeda motornya tersenyum bahagia, bahkan di sepanjang perjalanan ia terus bernyanyi karena sangat bahagia.
Sampainya di rumah Sindy berjalan dengan menari-nari seperti orang baru bertemu tambatan hati dan berkencan dengannya. Assisten rumah ini bahkan hanya geleng-geleng kepala melihat nona mudanya seperti ini.
***
__ADS_1
Ada yang sama tidak ya, kalau bahagia di jalan itu menyanyi dalam hati atau suara lirih. Kalau aku pernah ya malah lebih sering.
Jangan lupa jaga kesehatan ya.