
Bu RT melambaikan tangan di depan Gauri tapi tidak ada tanggapan sama sekali darinya.
"Gauri, kenapa melamun." Sapa Bu RT sedikit meninggikan suaranya.
"Eh, Bu RT. Tidak ada apa-apa Bu, hanya sedang rindu," bohongnya padahal dalam hati ia begitu resah dan tidak sedang baik-baik saja.
Memang naluri seorang wanita apalagi seorang istri itu selalu peka terhadap suaminya, ia tidak mau curiga tapi gerak-gerik dan gelagat seolah-olah menjawab semua tanpa bertanya bukan?
"Tinggal kirim pesan atau telpon jika rindu, kan gampang sekarang mau cas cus. Jangan lupa ya pesanan sayur saya ya Gauri." Bu RT segera berlalu melanjutkan patrolinya pagi-pagi.
'Aldy, aku harap kamu segeralah kembali dan jelaskan padaku kenapa kamu meninggalkan aku tanpa kabar. Bukankah lebih baik seperti dulu kejadian enam tahun silam itu, kamu bicara terus terang saja. Tidak seperti sekarang, tiba-tiba kamu pergi menghilang tanpa kabar. Apa kamu tau aku memendam rindu bahkan aku hampir gila sebab merindukan kamu. Apakah kamu juga sama?' Sambil menatap ke arah jalan di depan kontrakannya selama ini.
Gauri langsung beranjak mengambil sapu lidi dan mulai membersihkan area pekarangan kontrakan, lalu ia mencabut rumput dan membersihkan dedaunan kering yang masih menempel di pohon-pohon kecil. Tidak banyak memang pohon yang ia tanam, tapi cukup jika ia butuh masak apa tinggal petik saja seadanya kecuali bumbu dapur dan telur ia tidak punya.
Kediaman Guritno.
Asmara begitu senang saat melihat cucunya dan cucu menantu yang begitu romantis, tidak salah jika dirinya mencuci otak Aldy selama beberapa minggu sampai-sampai Aldy lupa dengan wanita itu. Nenek Asmara adalah adik kandung dari almarhum kakeknya Aldy Sampoerna Guritno.
Sudah lama Asmara tidak menyukai gadis yang ia anggap liar dan kurang didikan tersebut, miskin dan tidak punya apa-apa tidak pantas bersanding dengan keturunan Guritno.
Jadi ..., sebisa mungkin Asmara mencari-cari cara bahkan ia berani membayar mahal dukun sakti mandra guna untuk membuat Aldy melupakan gadis itu dan ternyata usahanya tidak sia-sia semenjak masuk rumah ini Aldy jadi lupa dengan wanita miskin itu, di tambah lagi makanan dan minuman yang setiap hari Aldy konsumsi selalu ada mantra-mantra agar Aldy terikat terus dengan Mariska dan tidak bisa berpaling dengannya.
"Selamat pagi nek?" sapa Aldy tersenyum.
Ia menjadi suami yang patuh dan seperti benar-benar mencintai Mariska, ia menarik kursi dan mempersilahkan sang istri untuk duduk. Mariska tidak tinggal diam ia memperhatikan suaminya, sedikit lagi jika berhasil maka dirinya akan menjadi nyonya Guritno satu-satunya tanpa ada yang menghalangi.
Mariska tidak suka dengan Asmara ia berpura-pura agar aktingnya meyakinkan semua orang, jika ingin memiliki ya hartanya saja tapi jika Aldy memohon bisa di pertimbangkan lagi kedepannya.
"Pagi Aldy, ayo sarapan. Mariska layani dengan baik ya suami kamu ini, dia itu sedikit manja dengan wanita yang ia cintai." Asmara begitu tenang dan bahagia.
Ia menatap wajah berseri-seri keduanya, seperti akan datang anak-anak Aldy dan Mariska, syukurlah jika benar datang dengan cepat setidaknya tidak perlu macam-macam melakukan sesuatu.
Aldy tersipu dapat sindiran dari Asmara, Asmara memang senang sekali menggoda setiap hari.
-
Gauri segera mengantar sayur-sayuran pesanan orang-orang yang sudah order dari kemarin, bahkan hari ini begitu banyak barang yang harus ia antar.
"Setidaknya jika pekerjaan seperti ini dan banyak begini setiap harinya pasti aku akan cepat lupa jika aku selalu merindukan kamu dan berharap kamu kembali Aldy." Gauri mengenakan helm kesayangannya dan ia berusaha menampilkan senyum cerianya seperti tidak terjadi apa-apa.
Dadanya serasa sesak saat mengingat Aldy, meskipun tidak ada kenangan yang tersisa. Sudah hampir lupa ia saat masih sama-sama dengan gim dulu sekali.
"Andai, aku bukan istri siri kamu Aldy. Aku tidak akan menanti kamu, aku sebenarnya takut saat aku berada di posisi ini. Coba nanti aku ke rumah kamu Aldy, berharap kamu ada di rumah." Gauri menyemangati dirinya sendiri.
Gauri menyemangati dirinya meski hatinya sangat resah dan hawatir bagaimana keadaan Aldy sekarang di rumah Neneknya. Meski ia tau dan sadar jika Aldy di sana pasti terjadi sesuatu, atau jangan-jangan Aldy kecelakaan atau berita lainnya yang tidak ingin ia dengar sama sekali.
Gauri sedikit tidak fokus saat mengantar sayuran, beberapa kali ia salah memberikan sayuran. Yang seharusnya untuk Bude Niken ia berikan pesanan Bu RT.
"Gauri, ini bukan pesanan Buden. Kamu lagi ada masalah Gauri, gak biasa-biasanya kamu seperti ini." Tegur Niken pada Gauri.
"Em ... maaf Buden," hanya ini yang mampu Gauri ucapkan.
Tidak ada alasan buatnya berbuat alasan, lagian pernikahan siri seharusnya di rahasiakan saja meski nanti akan ada simpang siur kedepannya. Memang menikah siri di kalangan masyarakat masih jelek, mereka di anggap hanya sebagai simpanan saja. Siapa sih yang rela di jadikan simpanan, semua tidak mau di posisi itu. Tapi ... jika keadaan yang mendesak dan tidak bisa berbuat apa-apa mau bagaimana lagi coba.
Ketika sore hari tiba.
Aldy dan Mariska bercengkrama manja dan saling melempar candaan satu sama lain, tidak ada beban di antara mereka. Bahkan mereka tidak sungkan bertemu bibir dengan bibir tepat tidak jauh Gauri melihat kenyataan pahit.
Saat ini Gauri terpaku di tempatnya, air mata yang ia tahan luntur perlahan. Hatinya hancur berkeping-keping dan ia tahan berharap saat ia mengedipkan mata pandangan itu hanya ilusi semata. Berkali-kali Gauri mengedipkan berkali-kali itu pula bayangan Aldy dengan wanita lain masih ada.
"Apakah ini kenyataan?" tanya pada diri sendiri.
"Jika ini hanya mimpi atau pun ilusi, aku mohon Tuhan. Tolong hapuskan, jangan perlihatkan ini padaku, hamba tidak mampu dan hamba tidak sekuat itu." Gauri hampir terjatuh.
Ia menatap belakang badannya ada sebuah tembok besar dan kokoh tidak seperti hatinya yang remuk redam.
Disinilah ia melihat kenyataan, bahwa dirinya hanyalah orang ketiga yang mengharapkan cinta, apa salah jika dirinya ini mulai egois. Tapi Gauri sadar jika air semakin erat di genggam semakin cepat pula air itu terjatuh.
Gauri berdiri dari tempatnya, ia berjalan mendekati dua insan yang tidak tau malu.
"Aldy." Sekuat apapun ia tahan namun nyatanya di depan Aldy ia lemah.
Aldy melihat, seketika ingatan pulih mendadak.
"Gauri sayang, tunggu aku mohon Gauri jangan pergi," Aldy mengejar Gauri namun belum sempat ia menyusul Gauri, pergelangan tangan Aldy di cekal oleh Mariska.
Gauri tersenyum getir.
"Aku malu pada diriku sendiri, hayalanku tingkat tinggi begitu juga dengan harapan. Awalnya tadi aku hawatir Aldy terluka namun malah aku sendiri yang terluka." Gauri tersenyum getir dan menertawakan dirinya sendiri.
Jadi orang bodo* bukan sekarang, menyesal juga percuma.
Gauri berjalan cukup jauh untuk sampai dimana ia memarkirkan sepeda motor bututnya, semua orang yang berkerja di kediaman Guritno tidak ada yang menyambutnya kecuali satpam.
Meski dulu Gauri pernah beberapa kali di tempat ini, tapi mereka hanya menganggap Gauri adalah cucu angkat pembantu rumah tersebut tidak ada yang lain.
'Penghinaan ini, tidak akan ku lupakan Aldy. Kamu akan menyesal melukai hati seorang wanita demi keegoisan yang kamu sukai dari dulu.'
Gauri menatap jam tangan yang ia kenakan, sepertinya hari baru akan segera dimulai lagi. Kejadian 4 tahun yang lalu ia ingat di tempat ini Aldy memutuskan dan di tempat ini pula Gauri menelan pil pahit lagi bahkan lebih dari kata pahit, empedu saja tidak sepahit kenyataan yang ia miliki.
"Takdir apa ini ..., apa aku di takdirkan untuk di lukai saja tanpa dicintai? sungguh konyol jalan hidup ini." Gauri tidak lagi menangis.
__ADS_1
Untuk apa menangisi sampah tidak berguna yang berbau busuk itu. Setelah pernikahan siri itu memang dirinya dan Aldy melakukan sewajarnya suami istri, selagi halal dan tidak seperti dulu kenapa tidak. Baik Aldy maupun Gauri sama-sama merengkuh kenikmatan dari diri mereka masing-masing saat itu. Lagian permintaan suami bukankah tidak boleh di tolak, asal dalam keadaan tidak terpaksa dan juga tidak di paksa.
Aldy berusaha memberontak tapi sia-sia saja saat melihat pancaran mata Mariska, tiba-tiba ia terlena akan pesona Mariska. Kenapa wanita ini bisa menguasai Aldy seutuhnya, bukankah hatinya dari dulu hingga kini milik Gauri.
Aldy memalingkan wajahnya.
"Kenapa berpaling?" Mariska sedikit tidak terima jika Aldy berusaha mengabaikan dirinya.
Usahanya sudah di tengah jalan dan harus berhasil, sia-sia saja bersikap lembut dan penuh perhatian ke keluarga ini jika pulang tidak membawa apa-apa.
Setidaknya nebeng di tempat ini harus menghasilkan bukan, dulu saat menipu beberapa pengusaha maupun pejabat lainnya sebagai sugar Daddy selalu berhasil. Masa dengan Aldy yang umurnya hanya 25 saja gak berhasil, ia tidak mau di ejek payah oleh orang-orang yang mengenal dirinya.
"Tidak apa-apa, aku merasa dingin dan ingin masuk dulu!" bohongnya padahal ia merasakan ada yang aneh dengan hubungan ini.
Kenapa? dan terjadi apa sebenarnya pada dirinya, kenapa wanita tadi sepertinya sangat ia kenal. Mungkin salah lihat dan mungkin saja salah satu pekerja di salah satu pabrikan atau mungkin laundry kedua orang tuannya.
"Suamiku, apa gara-gara wanita tadi?" Mariska memastikan jika tidak ada yang menganggu rencananya, sedikit lagi jika berhasil hamil anaknya yang akan menjadi senjata terampuh untuk menguras semua harta Guritno.
"Tidak, tidak ada!" Aldy mendadak lupa, lupa akan paras Gauri yang begitu sangat-sangat cantik di bandingkan dengan Mariska.
Meski Mariska juga cantik tapi pada kenyataan yang Aldy tidak tau, bahwa Mariska tidaklah secantik parasnya. Hatinya dan pikirannya hanya penuh dengan egois semata dan keinginannya yang lebih dengan cara menghalalkan segala cara.
Cafe Magic.
"Hiks ... hu ... hu ...." Sambil meminum jus Alpukat.
Raden yang tadinya berkerja kini meminta izin pada bosnya untuk cuti saja dengan alasan saudara butuh bantuan sebab sedang sakit parah. Jika Gauri tau alasan Raden bilang ada saudaranya yang sedang sakit parah dan ternyata demi menghibur dirinya pasti Gauri akan mengamuk dan tidak mau di temui lagi.
Gauri tidak suka jika ada orang yang menipu dirinya, tanpa terkecuali itu Aldy sekali pun.
"Apa sudah selesai menangisnya?" pertanyaan yang langsung mendapatkan sambutan tajam dari mata Gauri.
"Menurutmu, apa tidak terlihat di mata kamu aku ini masih menangis?" malah balik berbuat candaan.
Raden melambaikan tangan, ia tidak bermaksud demikian kenapa Gauri jadi salah tangkap begini.
"Bagus deh, terus saja menertawakan aku di dalam hati." Gauri su'udzon sekali.
"Ya ... ampun Gauri, belum juga aku mengumpat kamu di dalam hati habis-habisan kamu sudah menebaknya," langsung menutup mulut.
Ia menepuk-nepuk berkali-kali bibirnya yang lemes ini, bisa-bisa barang-barang yang pernah di berikan di lempar tepat di depan wajahnya lagi.
Gauri memelototkan matanya.
"Dasar, bukannya menghibur malah sebaliknya." Melempar tas kecil yang berisi uang.
"Yes ... dapat duit," Raden jingkat-jingkat.
WWEEKK
Sebab saat melonjak ke atas, rok yang ia kenakan robek separuh.
Raden terkejut langsung melepas jaket dan menutupi roknya Gauri yang robek. Padahal barusan ia terpesona loh dengan pemilik rok robek itu.
Gauri malu sekali, rok selutut sialan. Gara-gara emosi di tambah lagi Raden juga rok kesayangan jadi sobek mana mahal lagi 200 ribu harganya, tau begini ia gak beli beberapa minggu yang lalu. Sudah duit melayang rok yang ia beli robek pula, nasib ... nasib ... ngenes pakai banget.
"Terimakasih Raden." Wajah merah padam begitu juga Raden, secara tidak sengaja melihat paha itu. Putih dan mulus sekali pasti dalamnya wah ... legit banget.
Raden segera menepis pikiran liarnya, cukup Aldy sahabatnya itu yang mesum. Dirinya tidak, tidak untuk hari ini tapi entahlah untuk besok bisa jadi bertambah mesumnya.
Bugh
"Aduh ... sakit tau." Memegang kepalanya yang ngilu dadakan, sambil ia usap-usap.
"Makanya jadi orang jangan jail Raden, bikin malu aja. Besok-besok aku gak mau kamu ajak ke sini lagi, sudah waktu itu ketemu bocah sialan dan hari ini ketiban sial lagi," Gauri mengomelinya.
"Siapa yang kamu maksud bocah sialan?" Raden penasaran sekali siapa yang ia maksud.
Aldy kah atau orang lain.
"Tidak ada, kamu salah dengar!" jawaban yang kurang tepat.
Raden tiba-tiba menggenggam tangan Gauri.
"Aku akan selalu ada untuk kamu Gauri." Raden berusaha ada meski ia terluka.
Disisi lain Gauri dan Aldy adalah sahabat baiknya, tapi ia tidak mau jadi orang ketiga. Ia mau baik Aldy atau Gauri bahagia, tapi takdir berkata lain. Aldy telah menikah resmi dengan Mariska saat itu dan Raden tidak tau jika Gauri istri pertama namun hanya nikah Siri, sungguh malang sekali Gauri ini tapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
"Tidak usah dan terimakasih Raden, ayo pulang," ajak Gauri pada Raden.
Saat ia hendak berjalan kepalanya merasakan pusing, ia merasakan pusing sejak tadi atau jangan-jangan kebanyakan menangis membuat kepalanya jadi sakit. Sepertinya ia.
BRUGH
"GAURI." Teriak Raden langsung menolong Gauri, untung saja kepalanya tidak terbentur meja atau kursi dan benda lainnya.
Tapi jatuh di lantai juga sakit, tapi setidaknya tidak terkena apa-apa kepala dan badannya.
Rumah Sakit Umum.
Raden menunggu di luar dengan harap-harap cemas, ada apa dengan Gauri yang tiba-tiba pingsan atau jangan-jangan Gauri hamil.
__ADS_1
Jika benar ia mau menghajar Aldy habis-habisan setelah pulang dari sini, enak sekali hidupnya meninggalkan Gauri sendirian bahkan dia di dalam kesenangan sendiri tanpa mengajak Gauri bahkan dengan tega ia menduakan Gauri.
Gauri merasakan silau di matanya, kenapa banyak sekali cahaya masuk di matanya, apa dirinya sudah pergi dari dunia ini sebelum kisah sakit hatinya selesai membalas perbuatan mereka yang kejam tapi berpura-pura baik.
"Aku dimana ini?" Gauri menatap kesana kemari tidak ada siapa-siapa, bukannya tadi dirinya di cafe sama Raden seingatnya.
Awas saja jika dia gak ada dan ninggalin temennya gitu aja.
Raden datang dengan senyum mengembang, entah apa yang sedang dipikirkan dia, hanya satu yang ada di benak Gauri yaitu aneh.
'Kesambet apa ini orang, apa saat lewat tadi ketemu orang gila. Atau jangan-jangan justru diriku ini yang masuk rumah sakit jiwa gara-gara perasaan tidak stabil. Awas saja jika benar diriku ada di rumah sakit jiwa, bakalan aku gibeng nih kepala Raden.'
Raden masih saja menyunggingkan senyumnya.
"Kenapa kamu senyum-senyum?" Tunjuknya pada Raden yang masih saja tersenyum lebar.
"Kamu tuh lucu ya, mengigau saat tidak sadar dan panggil-panggil namaku pula!" jawab Raden membuat Gauri kebingungan.
Masa sih? iya kah? pasti menghayal tingkat tinggi nih orang.
Gauri dalam hati menebak-nebak, rasanya tidak percaya sekali dengan bualan Raden. Bukannya selama ini dirinya hanya terpatri satu nama yaitu Aldy Sampoerna sang penghianat cinta dan si egois.
"Kamu jangan mengada-ada deh Raden." Gak percaya sama sekali.
Raden tersenyum dan mengacak-acak rambut Gauri.
"Aku bercanda ko, ini makan dulu kasihan nasi yang sudah menjadi bubur ini," menyodorkan tepat di depan mulut Gauri.
Gauri memutar bola matanya dengan malas, ko ada sih orang bercanda tapi garing gak lucu gitu.
Namanya juga makanan rumah sakit pasti nasi sudah menjadi bubur lah, kalau nasi berubah jadi jarum suntik sapi nanti pasiennya kabur lagi. Bahkan yang sakit langsung sembuh seketika dan yang parah entah jadi apa.
Gauri terpaksa buka mulut lagian jika dia tidak buka mulut pasti perutnya akan bertambah lapar lagi. Tapi saat dirinya mengunyah makanan ia mendengar suara seorang laki-laki yang tidak asing di telinganya.
Sepertinya tidak jauh dari ruangan ini ada sepasang suami istri sedang memeriksa kandungan, terdengar suara bahagia baik si laki-laki maupun si perempuan bahkan sang Dokter juga mengatakan kandungannya kuat dan di pastikan bayi di dalamnya juga sehat terlihat dari perkembangannya.
"Ini beneran Dok, saya akan menjadi seorang ayah?" Aldy senang sekali.
Mariska juga senang, usahanya tidak sia-sia ternyata. Anak ini pasti bisa di jadikan senjatanya untuk memeras keluarga Guritno kedepannya.
Di tempat Gauri berbaring ia hendak beranjak pergi namun tangan kokoh Raden menghentikan pergerakannya.
"Kenapa? sepertinya di ruangan itu ada suara Aldy. Apa Aldy ada di sini? apa dia tau aku di sini?" bertubi-tubi Gauri bertanya pada Raden.
"Gauri ... aku mohon, jangan oke jangan mencari tau Gauri. Aku tidak mau kamu pingsan lagi Gauri, jadi aku mohon istirahatlah dulu dan isi tenaga mu dulu baru kamu boleh menanyakan apa pun itu Gauri." Raden berusaha membujuk Gauri.
Raden memang tau jika tadi Aldy ada di sini saat antrian pemeriksaan, memang sepertinya istri sah Aldy sedang berbadan dua sebab Gim saat di kursi antri pasien ia tidak ada henti-hentinya menyentuh perut Mariska yang masih rata. Raden tidak sanggup jika Gauri sampai tau tapi apa sekarang, justru Gauri mendengarnya secara langsung sekarang.
Gauri tidak percaya dengan Raden, sahabat macam apa dia ini. Kenapa menghentikan rasa penasaran, jelas-jelas itu suara Aldy ia tidak mungkin salah dengar.
"Raden ... aku mohon, aku ingin melihat apakah itu Aldy atau bukan. Kenapa suaranya persis seperti Aldy, Raden?" Gauri pada akhirnya menangis.
Kenapa rasanya sakit seperti ini mendengarnya, apa benar di sebelah kamarnya ini tadi benar-benar Aldy. Terus ... kenapa Raden bersih kukuh tidak mengizinkan dirinya untuk melihat ruangan sebelah itu.
Gauri berusaha memberontak sekali lagi, saat ia berhasil lepas dan sampai di ruangan yang ia yakini tadi ada suara Aldy dan benar-benar Aldy suaranya.
Tapi ia kecewa saat sampai, tidak ada Aldy di ruangan itu. Berarti benar tadi Raden menghentikan pemberontakannya tadi jika tidak pasti malu sudah salah sasaran.
"Gimana?" Raden sedikit lega saat Aldy sudah tidak ada di ruangan pemeriksaan itu bersama istrinya Mariska.
Jika Gauri tau bukannya kondisi badannya tambah drop lagi. Banyak cairan di dalam tubuhnya hilang sampai ia drop sebab kekurangan cairan dan makanan bergizi, tadi hampir saja Raden marah jika Gauri benar-benar hamil dan mengandung anaknya si Aldy sialan itu.
Gauri menggeleng.
"Ternyata aku salah orang Raden, ayo pergi dari sini aku mau istirahat dulu dan menghabiskan cairan infus ini dulu baru pulang kalau di perbolehkan." Gauri tidak berdaya, nada bicaranya lemah.
Entah terlalu cinta atau muna Gauri itu, tapi yang jelas ia masih belum bisa melepas Aldy. Terlalu melekat sempurna pesona Aldy meski hanya luka yang ia dapatkan, tapi bagaimana dengan pernikahan yang sah secara Agama yang sudah terjadi satu setengah bulan lebih itu yang artinya belum genap 2 bulan.
Apakah sebaiknya menyerah saja dan melepaskan Aldy untuk wanita lain, tapi hatinya belum bisa dan belum mengikhlaskan. Kalau di tanya sakit tidak, pasti sakit tapi tidak berdarah dan luka hatinya akan sembuh jika ada orang yang mau menerima keadaannya yang berada di titik tidak pantas di miliki orang lain.
"Gauri, aku mohon ke kamu. Nanti jangan bahas dia lagi ya, kalau kamu sudah sembuh aku akan mengantar kamu ke sana ya." Raden selalu ada untuk Gauri saat Gauri di titik terpuruknya.
"Iya, kamu tenang saja Raden. Aku tidak akan membahas dia lagi, tapi pengen curhat," mengerucutkan bibirnya.
Raden bingung, biasanya jika begini pasti akan ada drama tangis menangis lagi. Haduh .... ia pun menepuk jidatnya dengan keras.
"Kenapa nepuk jidat lagi, gak mau jadi teman curhat?" Gauri mendelik.
"Eh ... eh ... bukan begitu, aku mau ko jadi teman curhat kamu. Setiap hari gak apa-apa ko, Willy juga sudah banyak cerita tentang kamu yang suka curhat panjang kali lebar seperti kertas koran berlembar-lembar tanpa putus!" Raden keceplosan lagi.
Gauri hendak melayangkan pukulannya tapi tidak jadi saat tangan kanannya terkena infus.
"Aw ... ssseeet." Gauri merasakan kulitnya seperti robek di dalam saat jarum suntik infus tertarik.
"Mana yang sakit, gak apa-apa kan?" hawatir bukan main.
Gauri terharu dengan sikap yang ditunjukkan oleh Raden, kenapa sih sosok laki-laki seperti dia ini ada. Kenapa Aldy tidak bisa seperti Raden, kenapa begitu. Apakah salah jika dirinya masih sedikit mengharapkan Aldy, walau bagaimana pun Aldy masih suaminya.
*
Jangan lupa tetap tersenyum meskipun suasana hati tidak nyaman.
__ADS_1