
Sindy menyiapkan semua dengan penuh cinta di setiap hidangannya dan tidak lupa di tambah bawang goreng kesukaan suami dan anak.
"Ini Aa, bekalnya. Oh ya Aa tadi malam bertemu dengan kak Daylon gimana lancar gak kencan pertamanya?" dengan semangat Sindy mengajak bergosip.
"Berhasil sih kelihatannya, terlihat dari gelagatnya yang senyum terus seperti orang gila!" jawabnya sambil memakan roti bakar.
"Aa gak tanya gitu, gimana saja kencannya?" mendadak kepo, maklum saja selama ini Sindy tidak pernah mendengar Daylon bersama wanita sedangkan tentang Lay dia selau dengar apalagi sering ganti pasangan kencan hampir satu Minggu sekali ganti.
Mengangkat kedua bahunya.
"Bukannya kamu bilang gak boleh membicarakan orang lain, terus ... ini apa? kenapa ingin tau masalah orang lain." Cheval mengingatkan tapi menyudutkan juga, bukannya sok bijak tapi terkadang orang juga butuh informasi bukan hanya di telan mentah-mentah opini dari orang lain.
"Masa gak boleh sih Aa, kepo dikit saja," menunjukkan jarinya yang mau mencubit tapi bukan mencubit cuma memperagakan sedikit ingin tau.
"Tetap gak boleh walau sedikit, jika ingin tau tanya sendiri. Eh, tunggu-tunggu kalau kamu terpesona dengan Daylon gimana? gak sebaiknya kapan-kapan saja saat dia datang ke rumah baru kamu tanya sayang." Posesifnya kumat setiap waktu selalu mode on.
"Lagian, siapa sih Aa yang terpesona. Bukannya beberapa hari yang lalu sudah bertemu dengannya dan kita bertatap muka, lagian aku penasaran dengan si perempuannya Aa jangan su'udzon kenapa Aa," mengambil handuk dan mengelap lengannya yang baru saja ia cuci di wastafel.
"Benar juga ya, ngapain kamu tergoda dengan Daylon jika suaminya yang paripurna ini lebih tampan dan lebih kuat daripada dia." Memamerkan diri sendiri, benar-benar tidak pantas untuk di tiru.
"Itu lagi yang di bahas, kenapa Papa dan Aa sama-sama seperti ini," gumam lirih meninggalkan suaminya yang sibuk membersihkan mulutnya, pembicaraan ini terjadi di dapur usai sarapan pagi.
Cheval berpamitan berangkat kerja sedangkan anak-anak berangkat dengan sopir sekaligus Ksatria dan Daysi yang mengantar ke sekolah sedangkan suster Lala dan Nona setia menemani tapi dengan kendaraan yang lain sebab mobil tidak muat untuk orang banyak. Kenapa tidak menggunakan mobil yang lebih besar alasannya cuma satu mobil banyak yang menganggur dan jarang di gunakan, kenapa tidak di jual sayang jika rusak. Ksatria memang enggan menjualnya sebab kendaraan-kendaraan itu menyimpan banyak kenangan pahit manis seperti ia hampir di bunuh dan juga perjuangannya mendapatkan cinta Daysi.
"Pa, apa ini tidak berlebihan? kenapa setiap hari seperti ini sih mengantar cucu kita tapi mobil dua yang keluar kenapa kita tidak pakai mobil yang besar biar Lala dan Nona sekalian satu mobil?" Daysi protes.
"Benar juga ya ma, tapi enggak apa-apa lah hitung-hitung roda mobil di rumah biar bisa ngerasain nyentuh aspal secara langsung, kasian gak pernah menyentuh jalan raya!" jawaban yang jauh dari ekspektasi Daysi ternyata jawaban realita sungguh menakutkan tau begini ia tidak bertanya.
Sopir keluarga Ksatria ingin tertawa namun tidak jadi ia hanya tersenyum untung ada masker medis yang selalu ia kenakan jadi aman jika menertawai majikannya dalam diam, tersenyum pun juga tidak terlihat olehnya.
"Bicara sama Papa bikin pusing kepala saja, terserah papa deh." Daysi pada akhirnya menunjuk bangunan-bangunan besar yang di lalui kendaraan dan menyebutkan satu persatu nama gedung-gedung tinggi.
"Grandma, kapan kita ke hotel Papa?" Inre bertanya.
"Nanti, setelah pulang sekolah ya Grandma ajak ke sana!" diiringi senyum lembutnya.
"Hore ...." Inre dan Princess semua bersorak bahagia.
Dengan cara seperti ini saja bisa membuat mereka bahagia, sedikit terobati rasa bersalahnya dulu pada Sindy. Sibuk berkarir dan selalu mengutamakan Cheval membuatnya banyak kehilangan waktu bersama-sama dulu tapi kini sudah tua dan tidak ingin mengulang kesalahan yang sama lagi, maka dari itu sebisa mungkin Ksatria dan Daysi memperhatikan penuh keadaan anak-anak dan cucunya.
Sindy mengusap-usap perutnya yang terasa lapar lagi padahal baru juga makan satu setengah jam yang lalu kini sudah lapar lagi, sepertinya perutnya ini banyak cacing deh. Sindy mencari obat cacing untuk ia minum tapi tidak jumpa meski sudah keliling rumah seperti penjaga rumah yang mengontrol keadaan rumah.
Momo yang mengambil air putih sebab air galon di kamar sudah habis.
"Cari apa sih, Sindy?" menatap heran tubuh Sindy yang dari tadi jalan gak ada henti-hentinya.
"Cari obat cacing, kamu punya Mo?" menuju kamar Momo dan mencari kotak obat saat menemukan kotak obat ia langsung membuka dan mencari obat tersebut.
"Gak punya, coba pergi ke Apotik depan rumah," ucapan Momo langsung di iyakan Sindy dan Sindy segera beranjak dari kamar Momo dengan pelan-pelan takut suara langkah kakinya yang terburu-buru di dengar sang bayi kembar.
"Aneh Sindy ini, tapi sepertinya tadi aku lihat dia hendak makan deh kok jadi cari obat cacing segala." Momo keheranan sendiri.
Sindy segera keluar rumah dan sebelum itu ia mengambil beberapa lembar uang untuk ke apotik, setelah keluar gerbang Sindy menatap kesana kemari memastikan tidak ada kendaraan yang lewat, kemudian ia menyebrang dan masuk ke dalam apotik.
__ADS_1
10 menit kemudian.
2 kantong kresek di bawa oleh Sindy, entah apa saja yang ia beli tapi terlihat seperti makanan ringan.
Sindy menuju ruang keluarga dan menyetel tv dan menonton acara tv, hanya memencet tombol remote sambil mencari acara yang cocok pagi ini pada akhirnya ia menonton acara anak-anak yang biasanya ada pagi-pagi.
"Terpaksa nonton cartoon, tapi seru juga banyak pelajaran yang bisa di ambil ternyata menonton ini, pantesan populer di Indonesia."
Kruk
Kruk
Suara makanan ringan yang Sindy konsumsi padahal tadi perginya berencana hanya beli obat cacing tapi dalam kenyataannya malah banyakan makanan ringan dari pada obat cacing.
"Enak makan terus dari pada minum obat cacing, nanti setelah makanannya habis baru minum obat cacingnya lah." Lanjut makan makanan ringan sampai habis di selingi tertawa yang renyah seperti makanan yang ia makan.
Ria sangat senang saat melihat ini, ternyata majikannya ini mulai membaik Alhamdulillah jika semakin ceria kembali pasca kehilangan sang bayi.
Sore menjelang malam.
Semua orang sudah kembali ke rumah dan berkumpul bersama sebelum mereka akan mengurus rumah tangganya sendiri-sendiri.
"Pa ... Ma ..., aku sama mas Lais akan pulang ke rumah kami Pa Ma." Momo menatap Ksatria dan Daysi yang sudah menghentikan suapan nasinya ke dalam mulut.
"Kenapa mendadak? kamu tidak suka Papa dan Mama mengurus kalian?" Ksatria protes.
"Bukan begitu Pa, tapi hampir satu bulan kami di sini dan di rumah kami banyak yang harus kami urus juga Pa!" Momo bingung harus bicara dari mana agar bisa pulang, lagian kasihan juga Mama dan Papanya jika terus-terusan direpotkan seperti ini setidaknya jika pulang mereka tidak menambah beban begitu maksudnya.
Sebenarnya Sindy juga ingin seperti Momo dan Lais hidup mandiri tapi saat hendak membeli rumah atau menempati apartemen akan tetapi Inre selalu sakit dan demam tapi saat dia di bawa pulang ke rumah ini ia segera sembuh dan sehat kembali, maka dari itu Sindy dan Cheval memutuskan untuk tetap di sini dan menjaga kedua orang tuanya yang sudah mulai tua.
"Terimakasih banyak Papa dan juga Mama," senyum Momo terbit begitu juga dengan Lais.
Cheval memberikan obat cacing pada Sindy.
"Apa ini milik kamu sayang?" tanya Cheval memberikan obat pada Sindy.
"Iya Aa, ketemu dimana?" membuka bungkus obat lalu meminumnya selagi belum minum obat dari Rumah Sakit sebelum ia tidur.
"Tadi di ruang keluarga, lagian buat apa sih beli itu sayang bukannya lima bulan yang lalu baru minum obat cacing." Cheval selalu mengontrol keluarganya untuk meminum obat cacing supaya ya terhindar dari penyakit, bukan terhindar tapi untuk pencegahan dini sebelum terjadi apa-apa dan jadwal nya baru bulan depan minum obat cacing 6 bulan sekali.
"Ya enggak apa-apa sih Aa, sebab beberapa hari iki nafsu makananku melejit Aa makanya aku beli obat cacing takut banyak cacing yang menghabiskan makanan aku di dalam perut," semua orang hampir tertawa di buat oleh tubuh ucapan kocak Sindy.
"Aa kira kenapa tumben-tumbenan beli obat cacing sebelum jadwalnya beli, kamu nafsu makan itu gara-gara Aa membelikan kamu ini obat penambah nafsu makan bukan gara-gara cacing dalam perut." Cheval akhirnya jujur jika dirinya selama ini memberikan obat selain dari Dokter juga obat yang membuat nafsu makan meningkat drastis.
"Jadi Aa yang buat aku seperti ini, nafsu makan bertambah pesat. Tega sekali Aa, sampai-sampai aku harus masak dua kali setelah makan," memanyunkan bibirnya namun tetap makan juga.
"Semua demi kesehatan kamu sayang, apa lupa selama ini kamu jarang makan?" Cheval berusaha sebaik mungkin memperhatikan kesehatan istrinya.
"Iya ... iya ... terimakasih Aa sudah mengingatkan istrinya!" memberikan saus yang banyak di gorengannya.
Semua orang tidak mempermasalahkan nafsu makan siapa pun yang paling banyak, asalkan kesehatan tubuh tetap harus di jaga sesuai kebutuhan setiap harinya, jika porsinya seperti ini ya tetap seperti ini gak apa-apa di tambah lagi justru lebih bagus kelihatan keluarganya sayang dengan dirinya.
Usai makan malam
__ADS_1
Inre dan Princess bermain seperti biasanya namun karena lusa atau besok harus pulang membuat Princess tidak mau tidur biasanya setelah makan malam ia akan bermain ponsel sebentar atau belajar sebentar lalu tidur tapi malam ini dia tidak mau tidur dengan cepat.
"Anak-anak sudah malam tidur yuk, Mama temani." Momo menghampiri Inre dan Princess.
"Hore ... di temani Mama," berhamburan ke dalam pelukan Momo.
"Tapi, adik kembar bagaimana Mama Momo?" Inre menatap Momo.
"Tenang saja, yuk anak-anak!" tetap menampilkan senyum khas miliknya.
Seperti ini-ini saja keadaan rumah semua hidup aman damai dan saling bergotong royong itu dari dulu sejak Sindy, Cheval dan Momo masih kecil-kecil sebab mereka bertiga tumbuh bersama lantaran umur hampir sama.
Momo menidurkan anak-anak sambil di bacakan dongeng tuan putri dan pangeran, mereka berimajinasi seperti apa kastil mereka lalu Momo memberi tau lewat gambar yang ada di dalam buku cerita, mereka tambah bersemangat saat melihat sang putri yang sangat cantik dan anggun.
Cup
Cup
Momo mencium dahi Inre dan Princess lalu memperbaiki selimutnya, sedangkan suster yang merawat mereka juga satu ruangan meski mereka sudah besar tapi tetap di awasi demi keselamatannya selain dari CCTV.
Momo kembali ke kamarnya.
"Mereka sudah tidur sayang?" Lais menyambut kedatangan sang istri.
"Iya mas, mereka berdua tidak mau berpisah. Bagaimana ini," Momo bingung tidak mungkin Princess akan tetap di sini, besok pagi ia akan bicara baik-baik dengan Princess agar ia mau pulang dan bisa mengunjungi Inre kapanpun yang ia mau, lagian mereka masih bisa bertemu saat sekolah.
"Besok pagi mas bantu bicara baik-baik pada mereka ya, biar mas yang mengantar ke sekolah." Lais menawarkan diri.
"Ya sudah kalau mas bicara begini, aku hanya bisa bantu doa semoga mereka dapat di ajak bicara baik-baik," memeluk tubuh Lais, Lais membalas pelukan sang istri.
Semua akan baik-baik saja saat masalah di bicarakan dengan cara baik-baik tapi akan menjadi buruk saat di bicarakan dalam keadaan kepala sama-sama panas dan tidak mau mengalah sedikit pun.
"Selamat malam mas." Momo masuk ke dalam toilet sebelum ia beristirahat, kedua bayi kembarnya ini sangat paham dan peka pada kedua orangtuanya bagaimana tidak setiap malam hanya menangis saat lapar atau tidak nyaman popoknya yang penuh dan lainnya.
"Malam juga istriku," Lais menatap bayi-bayi kembarnya.
Rasa bangga selalu menyelimuti hatinya, tak menyangka jika dirinya bisa memiliki anak kembar padahal dari segi keturunan sepertinya tidak ada tapi mungkin bisa jadi satu kakeknya atau neneknya tapi Lais mengingat-ingat sepertinya dari sang Nenek ada keturunan kembar, betul neneknya punya saudara kembar tapi tidak ketemu sampai sekarang. Lais sudah mencari informasi dulu tapi terputus sebab sudah lama saat ia masih duduk di bangku SMA.
Pagi hari.
Seperti biasa kediaman Malik yang penuh dengan orang-orang yang berkerja kesana kemari semua selalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tak terkecuali Ksatria yang sedang menimang-nimang Dilan di pangkuannya.
"Lucunya dan terlihat tampan sepertiku waktu muda dulu."Menyatukan batang hidungnya ke Dilan.
Dilan mengeliat saat tidur nyenyaknya di ganggu tapi ia justru mengeluarkan ekspresi senyum.
"Pa, ini tehnya dan susu kental manis. Jangan banyak-banyak ya pa minum ini takut kemanisan." Tetap meletakkan nampan di samping Ksatria.
Ksatria lalu meletakkan Dilan di kereta dorong dengan hati-hati.
"Tidak banyak ko, cuma secukupnya saja Ma," tapi menuangkannya dengan banyak sekali.
Daysi untungnya sudah menukar susu kental manis dengan susu yang di pesan dari tempat khusus susu kental manis murni tanpa gula berlebih, tentunya dengan mengeluarkan uang yang tidak sedikit seperti membeli kental manis sebagai pelengkap teh dan biskuit.
__ADS_1