
Tekan like ya dan bintang lima.
***
Ano tidak tinggal diam ia langsung menemui Mala yang sedang membuatkan jus untuk Sacha Mahendra.
"Kamu ada hubungan baik dengan Sacha, apa kalian berpacaran." Ano tiba-tiba menanyakan hal yang tidak penting untuk di bicarakan.
Siapa yang pacaran, jelas-jelas ia di sini hanya seorang pembantu dan wajar saja jika seorang pembantu membuatkan makan dan minum untuk bosnya, bukannya itu wajar saja dan tidak ada yang aneh.
"Sepertinya Dokter Ano tidak suka aku terlalu dekat dengannya, ya sudah menjauh saja aku sadar diri jika aku hanya seorang pembantu yang tidak mungkin mendapatkan berlian itu." Mala melanjutkan pekerjaannya tanpa mempedulikan Ano yang berada di sampingnya.
"Hey... mau kemana, kenapa tidak menjawab pertanyaanku barusan?" Ano menatap kepergian Mala.
Mala hanya menunjukkan gelas jus yang ia letakkan di atas nampan.
Ano yang berada di dapur merasa kebakaran jengot, namun dirinya masih tidak sadar jika ia mulai cemburu dengan hal-hal kecil yang Sacha curahkan pada Mala.
"Terimakasih Mala." Sacha menampilkan senyum mempesonanya.
"Iya, saya permisi Pak Sacha," Mala berlalu pergi.
Mata Ano tidak bisa lepas, ia terus saja menatap kemana pun Mala melakukan pekerjaannya, mulai dari mengemas ruang makan bahkan mengepel dapur yang baru saja ia gunakan.
Ksatria dan Sacha mengobrol sebentar sebelum Sacha kembali ke rumahnya sendiri. Sedangkan Ano yang merasa di cuekin ia sudah lebih dulu pulang, padahal ia kesini ingin mengecek kesehatan semua orang yang berada di kediaman Malik.
"Ciye... mbak Mala." Ledek Sindy yang sedari tadi melihat adegan saling cemburu.
"Non Sindy, jangan seperti itu aku malu non," Mala tertunduk malu.
Sindy tertawa dengan kencang, baru kali ini ia melihat Mala seperti sekarang. Sindy berjalan ke kamarnya tetapi masih saja tertawa terpingkal-pingkal saat sedang berjalan. Cheval yang melihat guratan senyum di wajah Sindy ikut tersenyum.
__ADS_1
Sang istri jauh lebih baik sekarang moodnya, tidak seperti dulu. Cheval teringat buat apa membahas masa lalu bukannya ini sering terbahas saat ia dan Sindy bertengkar.
"Sayang, lama sekali ke dapur. Antri dapurnya dan kenapa wajah kamu itu sedari tadi tersenyum-senyum, tambah manis tau gak." Mencubit pipi Sindy dengan gemasnya.
"Iya, sangat antri Aa. Gara-gara melihat pertunjukan drama terbaru," Sindy meminum coklat panasnya.
"Drama Korea atau China?" Cheval mulai bingung dengan pembicaraan ini.
"Ppuuff..., AA... HA... HA...," Sindy meletakkan cangkir coklatnya. "Aa ada-ada saja, bukan drama China atau Korea tetapi dramanya mbak Mala dan om Ano!" jawab Sindy yang masih bergelak tawa di atas tempat tidur.
"Benarkah sudah sampai tahap apa, ciuman seperti yang aku lakukan dahulu ke kamu atau lebih dari itu misalnya, eemm ehem... ehem...." Cheval membayangkan yang bukan-bukan.
"Otak mesum," kepala Cheval di pukul dengan bantal kecil.
"Eh jangan pukul-pukul, aku berkerja juga menjual wajah tampanku ini. Tanpa dia tidak ada pelanggan yang mampir loh di hotel dan apartemen." Cheval terus saja menghindari pukulan Sindy yang kian membabi buta.
"Dasar keganjenan, pantas saja suka sekali berdandan sebelum pergi berkerja dasar laki-laki mata keranjang yang suka pamer wajah," Sindy mulai gemas dengan wajah suaminya dan mencubit berkali-kali.
"Ampun sayang... ampun." Cheval mengusap pipinya yang sudah berdenyut.
"Sudahlah Aa aku lepaskan, padahal masih gemas sekali aku dengan wajah mulus dan glowing Aa ini." Sindy mencolek dagu sang suami.
Cheval terus saja menahan diri dari godaan yang mengiurkan ini. Padahal libido miliknya sudah tegak sedari tadi, kenapa sih pikiran Cheval penuh dengan itu terus.
"Cheval tenangkan diri oke, tenang-tenang tahan oke. Ambil nafas... tahan sebentar dan lepaskan."
Sindy yang menatap gelagat aneh suaminya segera kabur dari pada nanti ia kesusahan sendiri, hampir setiap hari ia mencuci rambutnya. Untung rambutnya tidak sepanjang dulu yang sampai bawah pantat.
"Jangan kabur, tuntaskan dulu milikku ini." Cheval menarik paksa tangan Sindy dan memeluknya dengan erat di bawah kungkungannya.
Pagi yang cerah seperti biasanya.
__ADS_1
Suara sepatu kesana kemari terdengar begitu nyaring di tambah lagi dengan lantai yang mengkilap seperti kaca tembus pandang.
"Selamat pagi, selamat datang di toko kami." Lais dengan senyum merekahnya menyambut beberapa orang yang masuk ke tempat tersebut.
Rasa lelah kian memuncak saat pembeli datang berbondong-bondong untuk melihat dan membeli beberapa ponsel keluaran terbaru tahun ini. Momo yang tidak tau jika Lais berkerja di tempat tersebut langsung masuk dan melihat-lihat ponsel, ia ingin segera membeli.
"Mas aku...." Ucapan Momo terhenti saat matanya tidak sengaja menatap Lais yang ternyata ia yang melayani dirinya.
"Mau cari tipe ponsel seperti apa Mbak," suara Lais yang terdengar sangat sangat merdu.
Momo segera membeli ponsel sesuai dengan yang di tawarkan oleh Lais, apa pun itu menurut Momo terbaik, selain harga yang cukup mahal untuk seorang mahasiswi.
"Yakin dengan yang ini ponselnya." Bisik Lais dengan lembut.
"Haduh ini orang, apa setiap pembeli ia layani selembut dan semerdu ini suaranya. Sadar Momo."
Momo tersenyum dan tidak menanggapi bualan manis Lais, dalam hati baik Momo dan Lais sedang berbunga-bunga.
Usai membayar ponsel tersebut, Momo pergi dari toko tersebut dan menuju tempat lain untuk membeli keperluannya yang lain.
"Sendiri lagi belanjanya, kapan bisa berdua dengan pasangan. Nyesek banget jomblo setia seperti aku." Momo mengambil troli untuk membawa barang-barangnya nanti.
Filan yang hari ini tidak ada kelas kuliah ia memutuskan untuk berbelanja, kemana pun ia pergi ia selalu bertemu dengan Momo.
"Sendirian lagi, kasihan deh." Ledek Filan yang membonceng seorang gadis di sampingnya.
"Cih playboy begitu bangga," Momo tidak menanggapi Filan yang sedang bermesraan di tempat tersebut dengan cara bergandengan tangan.
Filan yang terabaikan semakin suka dengan sikap Momo yang seperti ini. Pantas saja Lais begitu suka dengan sosok Momo ini. Selain cantik sikapnya yang tidak murahan seperti gadis di sampingnya. Meski ada kecentilan sedikit di tingkah lakunya.
Setelah berbelanja Momo kembali masuk ke dalam mobilnya dan kembali pulang dengan terus saja menyentuh ponsel terbaiknya sepanjang masa, tadi jika bukan Lais yang sebagai penjual pasti tidak akan segembira itu dengan ponselnya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu." Momo mencium berkali-kali ponsel tersebut.
Memang masa muda di mana masa yang bisa memabukkan anak remaja seperti dirinya tersebut, tetapi Momo berusaha waspada dengan masa remajanya ini. Ia tidak mau seperti Sindy dan Cheval yang menikah muda, apalagi jika terpaksa.