ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
21 Diam-diam memperhatikan


__ADS_3

Ksatria Malik masih bersantai di tempatnya tanpa memperdulikan yang lainnya. Tak terasa hari semakin sore. Ksatria Malik segera pergi dari tempat tersebut dan masuk ke dalam rumah. Rumah mewah peninggalan orang tuanya yang menjadi kisah, apalagi orangtuanya meninggal tepat di halaman depan. Dulu setelah terjadi bom yang menghancurkan mobil dan menyebabkan orang tuanya meninggal membut Ksatria Malik selalu melewati pintu samping rumah, karena bayang-bayang orang tuanya tiada masih membekas.


Apalagi di saat orang tuanya melambaikan tangan dan tersenyum, sangat melekat sekali dalam mata dan pikiran Ksatria. Untungnya waktu itu adiknya masih kecil dan tidak paham dengan apa yang terjadi.


Makan malam.


Ksatria menghabiskan makanannya dengan lahap, entah ini makanan siapa yang memasaknya tapi di lidah Ksatria ia hanya merasakan masakan ini sangat enak sekali untuk di nikmati apalagi jika mau tambah.


Daysi yang tidak sengaja melihat Ksatria Malik makan dengan lahapnya ia urungkan masuk ke ruang makan, Daysi lebih memilih mengambil makanan yang ada di dapur. Untung tadi Daysi menyisakan satu porsi kecil ayam kecap. Daysi segera memakannya ia terburu-buru takut di tanyai Mbok Yati apalagi mbak Ria.


Sebenarnya bukan takut nanti pasti langsung di suruh masuk ke ruang makan dan tidak boleh keluar ruangan tersebut sebelum kenyang. Selain itu Daysi juga tidak ingin mengganggu kesenangan Ksatria Malik yang menyantap masakannya tersebut.


Daysi segera mencuci piring yang baru ia kenakan. Tiba-tiba ada suara berat khas laki-laki mengejutkannya dan hampir membuat piring yang di kenakan Daysi jatuh dan pecah.


"HHEYY..., apa yang kamu lakukan barusan. Kenapa kamu makan di situ tadi?" tanya Ksatria dengan tatapan tajam.


Daysi menatap sekilas, tanpa menjawab pertanyaan aneh dari Ksatria Malik.


"Sudah tau aku lapar dan sedang menikmati masakanku kemudian mencuci piringku sendiri. Masih di pertanyakan, pasti akhir bulan tanggungan aku banyak di sini, dari nada bicaranya saja menujukkan jika setiap yang aku lakukan dan kerjakan di rumah ini harus membayar." Resah Daysi dalam hati.


"HHEYY... JAWAB..., bukannya malah pergi begitu saja." Sindir Ksatria saat melihat Daysi berjalan menjauh.


"Aku lapar makanya aku makan. Dan aku sudah tanggung jawab saat makan karena aku yang memasak lauk untukmu. Dan satu lagi aku juga tidak ingin berhutang budi denganmu." Daysi berbicara tanpa melihat lawan bicaranya. Daysi segera pergi dari tempat tersebut.

__ADS_1


Ksatria masih tebengong di tempat. Ucapan perkataan Daysi begitu dalam benar-benar seperti orang yang tertekan batinnya. Ksatria segera menyudahi pikirannya yang berperang kemana-mana.


Saat berada di dalam kamar Daysi menatap langit-langit kamar sambil berpikir keras. Bagaimana nasib pernikahannya nanti kedepannya. Sementara pihak laki-laki sama sekali tidak perduli dengan keberadaannya saat ini.


"Istri di atas buku nikah." Gumam Daysi yang lolos begitu saja. "Aduhhh... memang sangat lucu dan konyol kehidupanku ini. Pernikahan yang selalu di damba-dambakan wanita yang bahagia, namun tidak untukku."


Setelah merenungkan kehidupannya, rasa kantuk menyelimuti Daysi dengan segera Daysi memejamkan matanya karena sudah mengantuk sangat berat sekali.


Pagi hari.


CCITT... CCITT... CCITT..., suara burung yang tengah bernyanyi ria di luar cendela kamar Daysi. Daysi segera bangun entah mengapa ia bangun sangat kesiangan karena alarm jamnya tidak menyala.


"Aduh kesiangan lagi, aku harus buru-buru bersiap-siap." Daysi segera bangun dan membersihkan diri dan juga ia tidak lupa membawa bekal untuk makan siangnya nanti.


Royal Malik.


Daysi memasuki area parkir untuk karyawan Daysi segera memarkirkan motor butut kesayangannya. Hari ini Daysi sebisa mungkin ceria berharap tidak ada kejadian apa-apa untuk hari ini. Namu baru saja melangkahkan kakinya memasuki gudang pengambilan peralatan kerja banyak yang membicarakan ini itu kepada Daysi.


"Lihat ada pencuri yang kekurangan uang, bahkan tidak mengembalikan milik orang, membuat tempat ini merugi gara-gara ulahnya. Banyak penggunjung yang membicarakan keteledoran karyawannya." Ucap salah satu teman yang sama-sama berkerja di tempat ini.


Daysi hanya melihat sekilas tanpa memperdulikan ucapan-ucapan yang terlontar dari mulut teman-teman seprofesinya bahkan yang berbeda profesi juga. Banyak yang tidak habis pikir dengan Daysi yang terlihat baik namun ternyata buruk di dalamnya.


Abang yang melihat Daysi di kucilkan segera mendekatinya. Abang mengajak Daysi membersihkan taman dan ingin sekali menanyainya. Daysi mengikuti Abang dari belakang bahkan saat ini Daysi tidak berani dekat-dekat dengan Abang.

__ADS_1


"Daysi apa benar kamu mengambil kalung berliontin itu dan kamu simpan karena kamu sedang membutuhkan uang?" tanya Abang yang menatap Daysi rasanya tidak percaya jika Daysi segitu butuhnya dengan uang sampai mengambil kalung milik orang tersebut.


"Iya aku mengambilnya Abang dan aku berencana langsung mengembalikannya pada orang tersebut!" jawab Daysi melanjutkan pekerjaannya.


"Aku harap segera kembalikan Daysi, semua orang tengah membicarakanmu saat ini. Aku tidak ingin kamu dalam masalah Daysi." Abang memegang pundak Daysi dan menguatkannya.


Sepasang sorot mata yang melihat adegan itu menatap tajam, kali ini ia membiarkan dua insan itu bebas tapi tidak untuk selanjutnya. Ksatria Malik segera menutup gorden yang baru di ganti oleh Daysi kemarin.


Ksatria segera melakukan tugasnya sebagai CEO di tempat ini. Ksatria berkutat dengan laptopnya sesekali melihat CCTV apa yang di lakukan Daysi saat ini. Ksatria tertawa saat melihat Daysi berjoget-joget di tempat sepi.


Tak terasa hari semakin sore, Daysi hari ini berniat mengembalikan kalung berliontin tersebut kepada sang pemiliknya. Daysi segera melajikan kendaraannya menuju ke tempat pemilik kalung tersebut.


Perusahaan ikan sarden. OK IKAN.


Daysi menatap perusahaan yang tidak terlalu besar di kota ini, perusahaan yang mulai berkembang di bidang ikan dalam kemasan. Daysi melangkahkan kakinya menelusuri lobby kantor tersebut. Tidak banyak berubah dari 3 tahun yang lalu.


"Aku menginjakkan kakiku di tempat ini." Daysi langsung menuju meja resepsionis. "Mbak saya mau bertemu dengan pak Hugo nya apa ada?" tanya Daysi yang melihat ke arah resepsionis bernama Intan.


"Apa mbak sudah membuat janji. Tetapi maaf ya mbak Pak Hugo sedang tidak ada mbak, beliau sedang berada di luar kota ada acara pertunangannya saat ini!" jawab Intan.


Daysi mengangguk paham dan tersenyum getir saat ini. Kalung berliontin yang isinya sebuah foto kecil, foto dirinya dan Hugo sewaktu masih SMP kelas 3 lalu. Sebenarnya Hugo umurnya 1 tahun lebih tua dari Daysi tetapi Daysi yang sekolah lebih dulu tidak sesuai umurnya.


"Aaisshh ternyata kamu menganggapku teman saja Hugo selama ini, aku kira lebih. Hhaah... aku yang terlalu kepedean dulu, sampai sekarang. Sudahlah aku kembali besok saja. Lebih cepat lebih baik, lagian aku sudah menjadi istri orang buat apa aku mengejar cinta monyetku dulu." Dalam batin Daysi mengeluh.

__ADS_1


"Terimakasih ya mbak, saya permisi. Besok mungkin saya akan kesini lagi mbak, sampaikan salamku ya mbak untuk Pak Hugo." Daysi berpamitan dan tersenyum.


__ADS_2