ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
69 Menjemur pakaian


__ADS_3

Setelah selesai membuatkan bubur, Daysi langsung masuk kedalam kamar dan menyuapi Ksatria.


"Aku baik-baik saja, aku bisa makan sendiri Daysi," protesnya pada Daysi.


"Diam saja dan buka mulutmu. Aku tidak mau suamiku sakit-sakitan lagi." Tetap menyuapi bubur pada Ksatria sampai habis.


"Nih minum obat pereda panas," menyodorkan obat tablet pada Ksatria, sebenarnya Ksatria sudah turun panasnya namun karena masih hawatir.


Ksatria menolak obat pemberian Daysi, "aku tidak mau meminumnya, aku sudah sembuh." Segera bergegas dari ranjang tidur sebelum Daysi memaksanya lagi.


"Terserah, kalau sakit aku biarkan saja dari pada ucapanku di anggap angin lewat masuk telinga kanan lewat telinga kiri," bergegas berdiri dari duduknya, belum sempat ia berdiri Ksatria berbalik dan langsung mengambil obat yang ada di tangan Daysi yang hendak di buang ke tempat sampah.


"Nih, aku minum lihat." Memasukkan obat ke dalam mulut dan langsung menenggak air putih.


"Nah begini baru anak pintar," sambil mengacak-acak rambut Ksatria. Ksatria sangat malu dengan kelakuan Daysi barusan seperti anak kecil yang sedang di manja ibunya.


Siang hari.


Ksatria mengibas-ngibaskan kertas koran ke tubuhnya, hawa panas menusuk-nusuk kulit dan meronta-ronta.


"Ishh... panas sekali, apa tidak ada kipas angin atau sejenisnya bahkan angin saja tidak mau lewat." Sambil mengibas-ngibaskan koran.


Daysi yang melihat Ksatria kepanasan tertawa geli, baru kali ini melihat seorang Ksatria Malik mengibaskan koran untuk menyejukkan badannya. Daysi mengeluarkan kipas angin tangan dari tas ranselnya dan memberikan pada Ksatria.


"Nih..., gunakan ini." Menyalakan dan memberikannya pada Ksatria.


Ksatria tersenyum, "terimakasih sayangku," menampilkan deretan gigi putih.


"Terimakasihnya sebentar lagi ya, karena aku mau menyuruhmu untuk itu." Menujukkan kain jemuran yang ada di renjang depan rumah.


"Maksudnya???" menatap Daysi dengan kebinggungan.


"Ee... hee... hee..., jemur itu ya jangan lupa. Aku mau masak dulu bye... bye...," melambaikan tangannya. "Jangan lupa di jemur pakaiannya, kalau tidak kamu tidak dapat jatah makan siang ini." Sedikit teriak karena Daysi berada di dapur.


"Heeemmm..., jemur pakaian ya. Seumur-umur baru kali ini menjemur pakaian," Ksatria berjalan keluar dan menuju halaman rumah yang di gunakan untuk menjemur pakaian.


Sebisa mungkin Ksatria menjemur pakaian, ia melihat ada tetangga yang menjemur pakaian sama seperti dirinya di samping rumah. Setelah melihat Ksatria mempraktekan cara menjemur. Daysi yang berada di dapur curiga kenapa sunyi sekali suasana rumah bahkan Cheval dan Aurellia juga tidak bersuara.


Daysi membuka pintu kamar Aurellia, "kemana mereka?" melihat kesana kemari. Kemudian Daysi menuju teras samping rumah, melihat Ksatria sedang menjemur pakaian ingin sekali tertawa.

__ADS_1


"Aa... haa... haa..., mana ada orang menjemur pakaian seperti ini yang ada pakaian bisa belang-belang kalau pakaian tidak di balik saat menjemurnya." Daysi meraih pakaian yang ada di gantungan.


Ksatria hanya menatap sekilas dan langsung paham, "sudah sini aku lanjutkan, apa masakanmu sudah selesai?" mengambil pakaian yang ada di kerenjang.


"Belum, aku lanjutkan lagi ya!" Daysi bergegas menuju dapur. Sesampainya di dapur ia mengecek apa sudah matang belum masakannya.


Makan siang.


Ksatria makan dengan lahapnya begitu juga dengan Aurellia, Daysi hanya menatap kedua insan yang makan tersebut.


"Apa kalian habis kerja paksa rodi?" tanya Daysi yang masih mengunyah makanannya.


"Iya," Ksatria melajutkan makannya. Aurellia hanya menganggukan kepalanya.


"Ini sangat nikmat sekali Daysi." Aurellia mengambil nasi dan lauknya lagi.


"Terserah kalian, untungnya aku masak banyak," Daysi segera menyelesaikan makannya.


Cheval sedari tadi diam sambil mengayunkan mainannya di ruang tv sebelah ruang makan, sebenarnya tempatnya menjadi satu antara ruang makan, tv dan ruang tamu hanya di sekat oleh jalan lewat saja.


"Aak mau makan lagi?" Daysi membawa buah di mangkuk kecil. Daysi menyuapi potongan buah semangka pada Cheval, Cheval yang suka makan tetap membuka mulutnya.


"Anak pintarnya papa," Ksatria mengendong tubuh Cheval menghujani banyak ciuman pada Cheval. Cheval tertawa karena badannya di gelitiki oleh Ksatria.


"Baiklah... baiklah... jadi tidak tega melihatnya seperti itu," mendudukan Cheval di depan mainannya, tak banyak mainan yang di bawa Daysi kemarin hanya beberapa saja yang penting dan sering di pegang Cheval.


Aurellia yang sedang mencuci piring dan peralatan lainnya hanya mencibir dua insan yang tengah bercanda riang di ruang tv.


"Mesranya, cepat buatkan adik untuk Aak biar tambah rame." Sindir Aurellia pelan.


Daysi hanya menghela nafas panjang. "Tunggu waktunya saja, kalau di beri kepercayaan untuk memiliki buah hati pasti bisa memilikinya,"


"Kenapa kamu bilang seperti itu Daysi?" Aurellia langsung duduk di dekat Daysi.


Karena Aurellia tidak tau tentang permasalahan Daysi dan kakaknya saat ini makanya Aurellia ceplas ceplos saat berucap.


"Kemugkinan aku yang tidak bisa memberikan anak!" ucap Daysi sambil tersenyum.


Aurellia terkejut dengan ucapan Daysi barusan, "kamu jangan bercanda Daysi," rasanya tidak percaya.

__ADS_1


"Kenyataanya memang iya Relli, kemarin aku memeriksakan diri ke Rumah Sakit sepertinya lusa sudah bisa di ambil hasil check up nya." Daysi memakan buah yang ada di mangkuk.


"Jangan berpikiran negatif dulu Daysi, aku percaya jika kamu dan kakak bisa memiliki momongan sendiri," berusaha menghibur perasaan Daysi.


"Aku pasrah Relli jika aku tidak memiliki anak." Menyeka air mata yang hampir jatuh ke pipi.


"Husst... kamu bilang apa sih Daysi, jangan seperti ini," Ksatria langsung memeluk tubuh Daysi dengan erat.


"Aku takut dan sedih Sat jika kamu meninggalkanku nanti." Daysi mengeratkan pelukannya.


"Hey... jangan bicara yang bukan-bukan dan tidak akan pernah terjadi," mengusap lembut pundak Daysi.


"Maaf ya Daysi sungguh aku tidak tau," Aurellia memegang lengan Daysi.


"Iya tidak apa-apa Relli," melonggarkan pelukannya dari Ksatria dan menatap Aurellia dan langsung memeluknya.


Cheval yang sedang bermain sendirian langsung merangkak dan membuyarkan kesedihan yang baru saja terjadi, ia duduk di antara Ksatria dan Daysi sambil memberikan mainannya.


"Aak pintar cepat besar ya nak dan doakan mama papa sehat terus ya." Ksatria mencium Cheval dengan gemas.


"Iya papa," suara anak kecil Daysi.


Aurellia segera pergi karena deringan ponselnya terdengar dari dalam kamar. Saat melihat ponselnya ia tersenyum sesorang yang amat ia rindukan suarannya.


"Hallo Bang ada apa?" Aurellia tersenyum sangat lebar.


"Kamu dimana, apa kamu tidak ke kedai kamu hari ini?" balik tanya Aurellia.


"Iya nih, kakak sama Daysi ada di kota ini sejak kemarin jadi aku tidak ke kedai hari ini. Memangnya ada apa Bang."


"Oo... kamu tinggal di mana, aku punya rancangan tempat untuk buka kedai kita Aurel, bagaimana jika kamu kirim alamatnya terus aku kesitu," jawab Abang di balik telepon.


Aurellia tersenyum sedikit, "kita." Dalam hati.


"Aurel... kamu masih di situ kan?" Abang menanyai Aurellia pasalnya ia tidak menjawab pertanyaanya barusan.


"Eehh... iya bang aku dengar ko." Jawab Aurellia gelagapan.


"Terus bagaimana, bisa tidak?"

__ADS_1


"Maaf bang tadi Abang tanya apa, aku kurang fokus mendengar tadi!" Aurellia menggit bibir bawahnya.


"Kamu kirim alamatmu sekarang aku otw oke." Mematikan sambunga telponnya.


__ADS_2