ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
133 S2 Rencana


__ADS_3

Cheval segera menyusul sang istri yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar.


"Sindy sayang."


"Apa sih Aa, aku capek mau bersih-bersih dulu. Sudah nggak nyaman ini bagian bawahku," jawab Sindy dan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.


Kali ini Sindy mandi lumayan lama karena harus membersihkan miliknya yang ia kenakan.


Cheval masih setia menunggu Sindy keluar dari dalam kamar mandi.


CCEEKKLLEEKK


Cheval menatap Sindy yang menggulung rambutnya ke atas dan jubah handuk yang menutupi tubuh bagusnya itu, berkali-kali Cheval menelan Saliva nya saat melihat sang istri sehabis mandi seperti sekarang.


"Sexy dan menggoda sekali." Ucap Cheval mendekati Sindy.


"Aa, mandi sana aku mau berganti pakaian," Sindy mendorong tubuh Cheval.


"Kenapa, apa aku tidak boleh menyentuh istriku sendiri yang sudah halal ini?" Cheval meraih tengkuk Sindy dan memberikan ciuman kecil di bibir Sindy.


"Boleh, tapi nanti kalau mau... eemm.. saat aku sudah selesai datang bulan!" jawab Sindy yang sudah malu sekali dengan ucapannya.


Senyum di bibir Cheval mengembang seketika.

__ADS_1


"Terimakasih, aku mandi dulu kalau begitu." Cheval berjalan sambil bernyanyi dengan bahagianya.


Sindy yang sudah rapi dengan pakaian santainya menatap diri sendiri di depan cermin sambil menatap apa wajahnya ada yang berubah.


"Sejak kapan ini pipi jadi chubby." Sindy menepuk gemas pipinya.


Cheval yang baru keluar dari kamar mandi langsung memeluk pinggang Sindy dengan manjanya.


"Aa."


"Heemm... ada apa, tubuhmu wangi sayang,"


"Kita jalan-jalan ke tempat panti asuhan yang sering di kunjungi mama sama papa yuk besok, mumpung tanggal merah."


"Tapi Aa kita tidak tau mereka umur berapa dan ukuran tubuh mereka, bagaimana jika kita mengundang salah satu penjahit terbaik di kota ini dan membuatkan pakaian seragam untuk mereka." Sindy menyarankan demikian.


Cheval nampak berpikir keras, kira-kira habis biaya berapa ya. Masa iya mau menyumbang ke panti pakai uang papa kan tidak mungkin lagian ia juga berkerja sekarang.


"Tapi, kamu punya tabungan berapa sayang?" Cheval nampak kebingungan.


"Ada sedikit si Aa dari uang yang Aa beri. Kalau dari papa banyak sih, sudah lama aku tidak mengecek uang pemberian papa!"


"Uang Aa cuma ada 10 juta kira-kira cukup tidak ya."

__ADS_1


"Pasti cukup Aa, kita buatkan seragam yang sederhana saja Aa yang penting mereka ada baju samaan dengan anak yang lain," Sindy tersenyum bahagia.


"Aku bersyukur sekali Allah memberiku seorang suami yang pemikirannya luar biasa ini, dia baik dan peduli pada orang lain. Pantas saja jika mama dan papa begitu menyayanginya, tapi satu kenapa dia selalu menyebalkan menurutku. Apa aku iri dengannya, aku rasa iya."


Sindy tersenyum-senyum dengan pemikiran anehnya ini.


"Mikirin apa, kagum dengan suamimu ini." Cheval tingkat kepedeannya meninggi.


"Iissshh pede banget, kalau iya kenapa," Sindy menggoda Cheval dengan mengedipkan satu matannya.


"Dasar penggoda, jangan salahkan aku jika nanti datang bulanmu selesai aku habisi tubuh kamu." Cheval mencium pipi Sindy dengan kuat.


"Sudah-sudah aku lapar Aa ayo kita ke bawah," Sindy bergegas pergi meninggalkan sang suami yang masih di kamar belum mengganti pakaiannya.


Daysi yang melihat sang putri turun sendirian langsung menanyakan kemana suaminya.


"Sindy mana Aa, kenapa kamu turun sendirian?"


"Ada di atas ma, belum berganti pakaian. Aku sudah lapar makannya aku turun dulu dari pada nanti sakit maag gara-gara menahan lapar!" jawab Sindy langsung duduk di tempat duduknya dan mengambil makanan.


Sacha dan Ksatria yang baru saja selesai makan hanya menatap heran dengan Sindy yang makannya sangat banyak tetapi badan tetap kurus dan hanya pipi saja yang tambah chubby.


"Pelan-pelan makannya tidak ada yang akan merebutnya." Ucap seseorang yang baru datang.

__ADS_1


Semua orang tertuju pada orang itu.


__ADS_2