
Momo keluar dari ruang pakaian itu, setelah memastikan dirinya terlihat lebih baik lagi saat melihat objek.
Usai mengemasi pakaiannya Momo keluar dengan wajah sembabnya sedangkan Lais juga mengikuti Momo bahkan sampai masuk satu mobil dengan sang istri.
"Pak tolong nanti berhenti sebentar di sebuah danau buatan itu ya Pak." Ucap Lais pada sopir setianya.
"Tidak Pak, jika kamu ingin ke sana kamu sendiri saja aku mau pulang ke rumahku sendiri," ketus Momo menyilangkan tangannya.
Arman yang sebagai asisten yang menghendel semua pekerjaannya kini menghendel kembali setelah sang bos mengirimnya pesan singkat.
"Sayang, please maafkan aku. Apa kamu tidak mau mendengar aku kenapa semalam aku tidak pulang." Lais terus saja menciumi tangan Momo.
"Buat apa jika nanti aku bicara dan kamu tampar lagi mas, sakit rasanya mas. Seumur hidup baru kali ini aku di tampar dan itu yang menampar suamiku sendiri, laki-laki yang aku cintai. Kamu tidak tau betapa sakitnya aku ketika aku sendirian pulang dari Rumah Sakit, aku makan sendirian, mendengar kalian tertawa bahagia," Momo tidak menatap Lais saat berbicara bahkan air matanya sudah mengering dan enggan untuk keluar lagi.
"Sayang." Lais benar-benar pasrah jika istrinya akan bersikap berbeda.
'Sekalian aku kerjain saja enak saja menamparku demi wanita yang menurutku sangat murah, meski kini dia sedikit berubah untuk mencari perhatian suami ku yang baik tapi terlalu baik ini, sampai-sampai dia di bodohi.'
"Aku mau pulang, buat apa di sini jika sang suami kemana-mana," Momo tetap melanjutkan misinya tersebut.
Jika sang suami benar-benar peduli dengan pernikahan ini pasti ia berjanji tidak mengulanginya untuk kedua kalinya, namun nyatanya tidak ada kata-kata tersebut yang keluar dari mulut suami tercintanya.
"Sayang." Meraih kedua pipi Momo untuk menatap sang istri apakah ada tatapan kecewanya di situ, ternyata benar sang istri menatap dengan tatapan yang sangat kecewa pada dirinya.
Momo menepis tangan Lais.
"Sudahlah mas, aku mau pulang lagian aku juga masih punya rumah sendiri," Momo melangkah keluar dari dalam mobil usai sampai di kediaman Mahendra.
Lais terus saja mengikuti sang istri yang sedang marah ini. Hati istrinya masih berkobar-kobar siang ini.
"Stop berhenti di situ mas, jika mas nekat mendekat aku lempar cincin ini ke wajah mas." Ancam Momo dengan sangat kasar sekali di dengar telinga.
Lais mengalah dan tidak melanjutkan langkah kakinya, ia tidak mau wanita yang ia cintai pergi dari hidupnya.
Malam hari.
Lais memanyunkan bibirnya, ia kemudian meminta seorang asisten untuk mengambilkan kertas yang kosong dan pulpen. Lais mulai menulis sebuah puisi bahkan menjelaskan apa yang terjadi. Ia menceritakan semalam menghantarkan Aura ke rumah sakit usai makan malam di restoran, makan malam pun juga terpaksa lantaran Aura mengeluh sakit maagnya kumat. Intinya terpaksa melakukannya.
Momo yang melihat kertas bertabur dari bawah pintu membacanya satu persatu, ada rasa sedih, bahagia dan kecewa menjadi satu padu.
"Enak saja membicarakannya lewat kertas, tidak di terima." Momo melempar kertas-kertas tersebut keluar dari kamarnya.
Lais yang melihat taburan kertas yang keluar dari kamar Momo merasa sangat kecewa usahanya sia-sia dan tidak berarti lagi, dengan terpaksa Lais melangkah jauh dari pintu tersebut. Momo yang mendengar langkah kaki menjauh merasa kecewa, ia pikir sang suami akan berusaha keras untuk meluluhkan hatinya.
Lais sedang meminta pak satpam untuk memberikan tangga yang tinggi dam cukup untuk masuk ke balkon kamar Momo sang istri, tidak hanya memanjat Lais bahkan membawa senjata untuk mencongkel jendela atau pintu jika tidak dapat masuk.
"Hey siapa itu." Momo sangat was-was dengan suara tersebut.
Tak
Tak
Suara langkah kaki kian mendekat, Momo teriak namun suaranya berhenti saat seseorang sudah membekap bibirnya dengan ciuman mesra. Luluh seketika kebekuan dan amarah Momo saat siapa yang menciumnya seperti pencuri tersebut.
Momo sangat menikmati sentuhan ini, ia tidak mau lepas dari kenikmatan yang halal ini. Biarlah ini terjadi lagian sudah sah dan halal dalam Agama Islam, bahkan jika melakukan hal lebih juga baik lantaran ini malam Jumat. Momo dan Lais mencari pahala untuk malam ini.
"Aku sangat mencintaimu sayang." Lais masih memberikan cintanya pada Momo.
Momo membalas semua perbuatan Lais pada dirinya, meski pun dalam hati ia masih merasa marah namun faktanya, ia tidak dapat menolak perbuatan Lais.
'Apa aku sudahi ya acara marahku padanya, tapi sebentar lagi saja deh. Kesel juga sih kalau teringat kemarin apalagi tadi malam ia tega tidak memberiku kabar bahkan menjelaskan lewat kertas saja. Di tambah lagi tamparannya, aku balik tampar bagaimana ya.'
__ADS_1
Momo kemudian diam dan mendengar semua ucapan Lais.
"Benar-benar tidak ada hubungan apa pun antara aku dan juga dengannya, tadi malam ia masuk rumah sakit usai aku membayar biayanya aku pulang dan sewaktu di jalan ban dan mesin mobilku mendadak rusak. Jadi aku ke bengkel semalam dan menginap di bengkel langganan kita yang buka 24 jam itu." Lais mengusap-usapkan wajahnya di lengan lembut Momo.
"Benarkah tidak berbohong dan tidak sedang membual saja, jika berbohong hukuman apa yang mau di terima. Tidak dapat menyentuhku sama sekali atau aku pulang ke rumah papa tidak di rumahku ini ataupun rumahmu," Momo masih saja menawar.
"Ko rumahmu sih sayang, itu rumah kita loh." Lais membenarkan kalimat terakhir sang istri.
"Baiklah rumah kita, bagaimana pilih yang mana?" Momo berdecak kesal.
"Aku tidak akan memilih apa pun, hanya kamu sayang dan cuma kamu. Aku tidak peduli orang bilang aku terkesan lebay tapi inilah aku yang sesungguhnya jika sudah cinta hanya kamu yang berhak mendapatkannya, yang lain tidak peduli!" jawab Lais menatap sendu.
"Kalau Princess, apa kamu tidak mencintai putri kandungmu."
"Aku juga mencintainya sayang, tetapi dia setelah kamu tentunya," mencium Momo dengan wajah yang penuh peluh.
"Berjanjilah, kamu harus mencintai kami berdua dengan adil selain mama kamu yang berada di Surga."
"Iya, aku berjanji sayang," Lais yang mendapat lampu hijau segera saja melanjutkan aksinya lagi dan lagi.
'Biarkan dia usaha terus, aku mau tau seberapa besar usahanya. Hah... punya suami seperti ini, terlalu baik tapi juga sangat mengesalkan dan terlihat plin plan kelakuannya.'
"Sayang, di terima ya usahaku ini. Maaf ya." Terus saja mencuri ciuman di pipi Momo.
"Tergantung amal perbuatan sehari-hari pada istrinya, jika benar pasti aku perlahan memaafkan kesalah pahaman ini. Sakit tau hati aku kamu begitu kan di tambah lagi ucapan mu yang membela dia plus kamu menamparku," Momo menatap arah jendela kamarnya.
Lais memeluk erat Momo, ia benar-benar berdosa sudah melukai istrinya tersebut.
Mulai sekarang Lais akan berkerja keras, namun belum juga membaik deringan ponsel Lais membuyarkan acara pelukannya.
"Sayang Aura menelpon, boleh aku mengangkatnya. Walau bagaimana pun ia ibu kandung Princess?" bertanya dengan ragu-ragu.
"Angkat saja, siapa tau penting!" Momo membiarkan mereka berdua menyelesaikan konflik mereka.
Lais yang baru selesai berbicara dengan Aura kembali duduk di samping Momo. Ia menggenggam erat tangan Momo.
"Sayang, aku harus bagaimana. Aura meminta hak asuh Princess?" ia mulai gelisah.
"..." Momo hanya diam dan menatap tangannya yang berada di genggaman suaminya.
"Aku tidak bisa melepas Princess sayang, aku merawatnya semenjak ia lahir dan seenaknya sendiri dia mau merebut hak asuh Princess. Aku tidak mau kehilangan putriku dan jatuh ke tangan dia, yang ada Princess akan terluka jika ia mengetahui ibu kandungnya tidak seperti yang ia ketahui selama ini." Air mata Lais mulai menetes di pipi putihnya.
Momo masih saja menatap Lais, apa benar suami nya ini hanya ingin hak asuh Princess bukan sekalian dengan ibunya. Jika memang seperti itu dengan sepenuh hati Momo mencoba mengikhlaskan, meski hati dengan terpaksa melepaskannya pasti akan terbiasa jika pelan-pelan melupakan cinta.
"Jika itu keputusanmu mas, tidak apa-apa berjuanglah demi putrimu aku mendukung kamu selalu mas," Momo dengan perasaan hancur menahan sendirian hatinya yang terluka berat.
"Terimakasih sayang, kamu sudah sangat pengertian padaku." Menciumi wajah Momo.
'Biarlah ini terjadi lagi, jika aku tidak dapat memiliki kamu setidaknya ada pengganti yang lain di dalam diriku.'
2 bulan kemudian.
Momo pergi kekediaman Malik tanpa Lais. Jika di tanya kemana Lais ia sedang berjuang merebut hak asuh Princess, entah melakukan apa Momo juga tidak tau.
"Momo." Suara merdu memanggil namanya.
Momo langsung menatap sumber suara tersebut ternyata sang suami datang dengan senyum merekahnya dan meninggalkan Princess yang berada di samping dirinya dan lebih memilih untuk memeluk istrinya.
"Sayang aku sangat bahagia, aku berhasil merebut hak asuh Princess dia sekarang menjadi putri kita tanpa ada gangguan orang lain lagi yang meneror kita." Lais memeluk erat tubuh Momo dan mulai memutar-mutarkannya.
Usai memutarkan tubuh Momo, Lais menatap Momo yang tidak merespon apapun kebahagiaan ini.
__ADS_1
"Kenapa diam sayang?" Lais bingung sendiri.
"Tidak sedang membohongiku kan, jangan bilang kamu menjadikan dia madu untukku mas. Terus terang saja aku tidak mau punya madu dan jika itu terjadi maka aku yang akan pergi, aku tidak mau!" jawaban Momo sambil menangis dan berlari masuk ke dalam rumah papanya.
Ksatria dan Daysi yang melihat Momo menangis langsung memberikan pelukan hangatnya, Cheval dan Sindy berjaga di tengah pintu, jika Lais berbuat macam-macam langsung mendapat pukulan dari atas dan bawah.
"Aa... Sindy, aku boleh masuk ya. Aku mau menjelaskan pada Momo semuanya." Tanpa basa basi Sindy langsung menendang milik Lais dan di pastikan Lais akan kesakitan menerima tendangan itu dan di tambah lagi dengan bogeman mentah di wajahnya.
Terlalu kasar dan kasihan sekali nasib Lais sekarang ini.
"A... pa... kalian sudah ppuu... aass. Ssssttt... sakit sekali." Memegang area bawahnya.
Sedangkan Princess langsung di gendong dan di peluk oleh Cheval.
"Masuk dan jelaskan secara detail, bagaimana kamu menyakiti adikku yang sudah tidak memiliki orang tua kandung dan hanya tersisa kami." Cheval berjalan meninggalkan Lais yang masih menahan sejuta sakit sendirian di antara selangkangannya.
Momo masih saja menangis sampai sesenggukan bahkan ia sudah kehabisan suara untuk berbicara lagi. Ia juga menunjukkan sebuah pernikahan pada papa dan mamanya dan di pastikan foto itu adalah Lais suaminya dengan Aura, ibu kandung Princess.
Lais langsung bersimpuh di hadapan Ksatria, Daysi dan serta istri tercintanya Momo.
"Aku tidak menikah dengannya, sungguh aku berbicara kenyataan. Aku tidak menghianati Momo, tolong maafkan aku sayang." Memegang tangan Momo.
Momo tidak sanggup lagi, rasanya seperti mimpi siang hari saja. Apa benar suami tidak menghianatinya sedetik pun, tapi ia ragu-ragu.
"Terus foto itu, yang aku terima dari orang tidak aku kenal." Menarik tangannya dari genggaman Lais dan menunjukkan foto tersebut.
Lais yang tadinya menangis tersendu-sendu langsung tersenyum bahagia. Momo yang menatap senyum Lais seperti itu langsung menampar dengan keras pipinya.
PPLLAAKK.
Semua orang shock dengan perilaku Momo yang berani seperti ini pada suaminya.
"Kita pisah saja mas, aku sudah tidak mau jadi istri yang makan hati." Momo berlari menuju kamar almarhum orang tuanya.
Lais mengejar sang istri, ia berhasil masuk ke dalam kamar bersama Momo. Momo menangis sesenggukan di pelukan sang suami.
"Aku tidak menikah dengannya sayang, orang yang ada di foto itu memang ada kemiripan denganku, apa kamu tidak melihat jika dia duduk di kursi roda. Orang itu yang menyelamatkan nyawa Aura sewaktu Aura ada pemotretan di Milan satu setengah bulan yang lalu, mereka memutuskan menikah lantaran ada seorang bayi dalam perut Aura yang masih berumur dua bulan." Lais menatap wajah sembab istrinya.
"Tidak sedang berbohong, jika iya aku hancurkan masa depanmu sekarang juga," kaki Momo sudah berada di antara kaki Lais dan siap-siap menendang masa depan Lais yang masih panjang.
"Aku benar-benar tidak berbohong, kemarin waktu menikah dadakan aku jadi saksi lantaran Aura tidak punya wali untuk menikah. Tanya saja jika tidak percaya, Princess sangat senang memiliki dua papa."
Momo yang tadinya marah, kini berangsur-angsur pulih dan membaik keadaanya. Tapi ia masih meragukan ucapan suaminya, ia tatap lagi foto pengantin yang ia dapat dari seseorang yang tidak ia kenal sana sekali.
"Iya, benar. Ee... he... he..., kamu jadi saksi dan pengantinnya prianya menggunakan kursi roda, aku salah sangka padamu mas. Em.. maaf ya mas." Dengan malu-malu Momo meminta maaf.
"Tidak apa-apa, aku yang salah lantaran tidak menceritakan padamu. Tapi aku sungguh-sungguh tidak ada maksud membuatmu terluka sayang, aku melakukannya sendiri lantaran aku tidak mau kamu bersedih," mengajak duduk sang istri di sofa panjang.
Masalah ini sudah selesai sampai disini, tidak ada pembahasan tentang hal tersebut yang ada hanyalah keheningan sekarang. Mereka saling menatap satu sama lain dengan diam.
"Momo."
"Iya mas,"
"Kita buatkan adik untuk Princess yuk, mumpung mereka ada di bawah dan tidak menggangu kegiatan kita." Tangan mulai nakal.
"STOP... mas, lagi ada lampu merah," menghentikan aksi suaminya.
"Hhaaiiss... patah hati lagi, kasihan kamu selalu aku ajak main solo sendiri. Ya sudah aku ke toilet dulu kalau begitu, kamu tunggu di situ sayang." Ucap Lais menahan sesak.
Momo hanya tertawa kecil melihat suaminya yang bermain sendiri tanpa bantuannya. Momo membiarkannya lagian masih ada rasa kesal dalam dirinya yang baru saja terkena tipuan alias prank dari suaminya.
__ADS_1
"Di tunggu saja lah, lagian salah sendiri ngeprank istrinya sendiri. Untung bukan ia yang jadi mempelai prianya, jika ia benar-benar aku tendang tadi miliknya, biar tau rasa. Eh... aku tidak mengajarkan harus seperti itu untuk membalas suami. Ingat Momo ingat itu berdosa, sangat-sangat berdosa, lebih baik perbanyak doa Kepada Sang Maha Pencipta." Momo menghela nafas berkali-kali.