
Kediaman Erdana Khan.
Momo bersiap-siap untuk istirahat, hari ini sangat lelah. Princess di berikan pada suster Lala untuk di tidurkan.
"Beneran tidak apa-apa sayang perut kamu." Menyentuh perut rata Momo. Momo menganggukkan kepalanya.
"Iya, tidak apa-apa mas. Aku masih kuat ko," Momo menyenderkan tubuhnya dan ada beberapa bantal yang di jadikan alas punggungnya.
"Ya sudah, tidak usah di paksa puasa sayang jika tidak mampu." Tetap mengingatkan sang istri.
Benar-benar suami perhatian dan terlihat budak cinta sekarang alias bucin. Momo tetap saja berpuasa, jika perutnya tidak nyaman barulah ia membatalkan puasanya. Lagi sepertinya bayi yang ada di dalam perut sedang bahagia dan tidak mengeluh sama sekali.
"Iya mas, tapi ini masih kuat. Besok aku mau berpuasa lagi," Momo tersenyum sambil memperlihatkan giginya yang putih bersih.
Lais mengacak-acak rambut Momo, meski belum di maafkan seratus persen setidaknya istri dan calon anaknya tidak menolak kehadirannya.
"Hallo anak Papa, bagaimana tadi puasanya. Kamu ikut puasa ya, pintarnya anak Papa." Sambil menciumi perut Momo.
"Sudah mas, aku capek," ia langsung berbaring.
Lais yang terabaikan lagi berusaha merayu sang istri agar tidur menghadap dirinya, namun tidak ada respon dari Momo. Dengan pelan-pelan Lais pergi dari ranjang, Momo yang merasakan sang suami pergi langsung menatap ke arah baringan Lais.
"Dia pergi, marah denganku?" Momo gelisah dalam hati. Kemudian ia kembali ke tempat semula, betapa terkejutnya ternyata ia berhadapan dengan suaminya.
"Sedang mencariku dan hawatir denganku." Goda Lais menangkup kedua pipi Momo.
"Siapa yang mencari coba, jangan kepedean. Mentang-mentang aku sudah tidak mual lagi," Momo mengelak tapi Lais tidak percaya.
"Jika tidak mencariku, coba tatap mata aku." Lais memohon tapi Momo membiarkan saja.
__ADS_1
Benar-benar ahli dalam drama rumah tangga kedua-duanya ini.
"Stop Lais, jangan seperti ini. Memberi harapan kemudian menorehkan luka lagi, aku belum memaafkan kamu sepenuhnya loh mas," cueknya di lanjutkan lagi.
"Ini bulan puasa loh sayang, tidak baik memendam dendam pada suaminya. Maafkan aku ya." Lais memanfaatkan keadaan.
Mentang-mentang bulan puasa.
"Iya, tapi kalau kamu ulangi lagi," sambil mencubit pipi Lais dengan penuh tekanan. "Jangan harap bisa dapat maaf dariku dan jangan harap bertemu anak-anak, aku juga akan membawa Princess bersamaku. Jika kamu ulangi lagi perhatian dengan wanita lain, baik itu ibu kandungnya Princess." Momo masih mencubit.
"Baiklah sayang, mas janji. Tapi bisa tidak itu cubitannya di lepas dulu, pipi aku terasa sakit dan panas sekaligus," sambil tersenyum manja.
Momo melepas cubitan itu tapi sebelumnya ia menambah tekanan, jujur ia masih kesal jika teringat sang suami yang sepertinya ngebet banget dekat dengan ibunya Princess. Istri mana coba yang tidak tersulut emosi jika suaminya seperti ini, masih labil. Padahal umur juga on the way tua.
Momo pagi ini menemani Lais untuk makan sahur tepat pukul setengah empat pagi. Ada beberapa berkah makan sahur sebelum berpuasa di antaranya yaitu Memenuhi Perintah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam, makan Sahur membedakan Umat Islam dengan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), membuat fisik lebih kuat menjalani puasa, Mendapat Sholawat dari Allah dan Doa Para Malaikat, sahur Adalah Waktu yang Diberkahi.
Karena ketika waktu sahur, Allah Subhanahu Wa Ta'ala melihat ke langit dunia, sahur adalah waktu utama untuk beristighfar, mendapat keutamaan menjawab Adzan Subuh dan Sholat Subuh Berjamaah.
"Kamu beneran puasa sayang." Masih saja Lais ragu-ragu. Setelah ia dan istrinya membaca niat berpuasa.
"Iya mas, apa salahnya berpuasa jika badan kita mampu dan kuat menjalaninya," Momo tersenyum dan melanjutkan makan sahurnya.
Lais sudah tidak bisa apa-apa lagi jika istrinya sudah bersikeras untuk menjalankan ibadah wajib ini. Yang terpenting kesehatan ibu dan bayi tidak ada masalah kedepannya.
Jam 8 pagi.
Cheval dan Sindy datang berkunjung pagi ini, serta membawa putrinya Inre yang sudah bermain dengan Princess di taman bermain. Lais sengaja mendesain taman permainan yang aman untuk anak-anak usia paud. Seperti bola kecil dan balok-balok yang lembut dari bahan spon atau squishy.
"Wah... mainan kamu banyak sekali Princess." Inre mengambil beberapa balok dan menatanya dengan rapi, menurut Inre.
__ADS_1
"Iya, ayo bermain Inre," ajaknya yang sudah bermain lebih dulu dengan bola kecil yang sangat banyak, bahkan satu kolam kecil dan penuh bola warna warni.
Sedangkan Princess memasukkan bola ke dalam keranjang dengan cara melemparkannya jarak dekat.
"Ye... aku berhasil memasukan bola sangat jauh." Princess sangat gembira padahal jarak antara dirinya dan keranjang tidak ada satu meter. Tapi bagi anak kecil itu sangatlah jauh.
Lala yang menjaga kedua putri-putri cantik sangat beruntung sekali, mereka berdua sama-sama pintar dan tidak rewel jadi menjaga mereka berdua sekaligus Lala sanggup.
"Tumben kesini pagi-pagi ada apa?" Lais duduk sambil memberikan proposal pada Cheval.
"Ya ambil ini lah, katanya kamu punya ide baru. Pengusaha jam tapi bisa mendesain bangunan." Ledek Cheval yang sudah mengambil berkas tersebut.
"Bukankah itu sesuatu yang sangat langka," mulai sombong.
"Cih... sombong, tapa adikku menjadi istrimu. Apa mungkin kamu bisa sesombong itu." Cheval membuka satu persatu.
Gambar-gambarnya sangat rapi dan detail, dari penjuru bangunan dari lantai satu sampai lantai selanjutnya. Tapi ada yang aneh di bagian paling belakang berkas tersebut.
"Ini apa???" Cheval menunjuk sesuatu yang sudah lama di rahasiakan oleh Lais.
Momo dan Sindy langsung menatap itu.
"Em... itu liontin yang aku desain dari kerang!" sambil menggaruk kepala.
"Kenapa kerang ini tidak asing, sepertinya pernah melihatnya. Tapi dimana ya?" Momo tanya pada diri sendiri.
Momo mengingat-ingat dimana ia pernah menjumpai kerang itu. Memori otaknya merekam kejadian lalu, kemudian ia teringat saat dirinya dan Lais baru menikah dan jalan-jalan ke pantai.
"Bukannya kerang itu yang aku buat bermain sewaktu di pantai?" Momo menatap sang suami.
__ADS_1
"Iya... e... he... he.... Ketahuan juga ternyata, padahal niatnya mau aku sembunyikan dulu itu!" Jawab Lais mengambil kertas berdesain indah.
Kalung berbentuk hati dengan taburan berlian sangat cantik tidak lupa kerang sebagai alas di atas bentuk hati tersebut. Kerang yang waktu itu di sukai Momo saat di pantai tidak terlalu besar hanya sebesar jari kelingking. Jadi untuk liontin kalung sangat pas dan cantik jika di kenakan oleh Momo.