
Cheval benar-benar gagal membujuk Sindy sang istri yang masih saja dingin tanpa menanggapi perkataannya. Kemudian ia ingat pesan sang mama jika dirinya tidak boleh terlalu lama marah pada suami itu berdosa apalagi tidak menanggapi ucapan sang suami.
"Aa, sudah... sudah... aku sudah memaafkan Aa." Sambil tersenyum.
Cheval yang mendapatkan maaf dari Sindy langsung bersorak gembira.
"Terimakasih sayang," mencium kening Sindy dengan lembut dan penuh perasaan.
Sindy sangat tersipu dengan sikap Cheval yang lucu seperti ini. Sindy benar-benar terhipnotis dengan sikap Cheval yang ia tunjukkan dengan berbagai gaia, seperti memelas, sok imut dan lainnya.
"Cute banget." Sindy langsung mencubit kedua pipi Cheval dengan gemasnya.
Saat berada di dalam kamar.
Hanya ada kecanggungan di antara keduanya meski pernikahannya sudah ada sekitar 6 bulan, baru kali ini merasakan hal ekstrim di tubuh masing-masing. Bahkan jantung berdetak lebih cepat.
DAG
DIG
DUG
Sindy menahan debaran di dadanya saat Cheval berbaring dekat dengan tubuhnya.
"Aa, kenapa rebahan nya dekat sekali." Bertanya dan sedikit gugub.
__ADS_1
"Kenapa, apa kamu tidak rindu dengan Aa, sayang," sambil memberi kecupan di dahi.
"Iya, aku rindu dengan Aa." Sindy tersipu malu.
Senyum Cheval mengembang seketika melihat sang istri juga sama seperti dirinya saling merindu, karena baru kali ini mereka berpisah jauh di Negri orang dan hanya bisa telpon melalui vidio call serta pesan singkat saja.
"Sindy sayang, jika kita punya... emm... punya anak bagaimana?" menatap langit-langit kamar tidak berani menatap Sindy yang pastinya akan marah atau cuek tidak menanggapi ucapan yang aneh tersebut.
"Anak, sekarang. Tapi Aa aku masih sekolah Aa, aku tidak mau hamil sebelum aku lulus SMA satu tahun lagi, aku... aku... masih ingin mengejar cita-citaku sebagai arsitek Aa," Sindy berbicara dengan takut dan hawatir.
Cheval langsung menatap wajah sang istri, ingin melihat ekspresi seperti apa yang terpancar di wajah imut Sindy. Ternyata Sindy sedang takut dan cemas sekarang.
"Oke, Aa tunggu sampai Sindy siap." Ucap Cheval menggenggam jari jemari Sindy dengan lembut.
Sindy langsung membenamkan wajahnya di dada bidang Cheval yang terasa sangat nyaman dan hangat. Sindy mencium aroma maskulin Cheval yang sangat harum.
Sindy mendongakkan kepalanya menatap Cheval, "ada apa Aa." Tanpa merasa bersalah telah membangkitkan gairah dari dalam tubuh Cheval yang terdalam dan panjang.
"Aa, tidak tahan Aa mau ke kamar mandi," mendorong pelan tubuh Sindy dan berlari secepat kilat ke kamar mandi.
Sindy bingung sendiri, tadi saat memeluk Cheval ia merasakan sesuatu yang keras di pahanya, tapi apa. Itu menjadi pertanyaan polos Sindy dalam otaknya.
"Astaga, aku ingat." Sindy segera melakukan aktivitas di dapur saja, dari pada pikirannya berkelana kemana-mana.
Cheval yang berada di kamar mandi, langsung menyalakan shower dengan suhu yang dingin sekali untuk menguyur hasratnya sendirian. Sebenarnya ia ingin menggauli sang istri, namun ia ingat sang istri masih belum lulus SMA dan ia masih ingin mengejar cita-cita.
__ADS_1
Cheval bingung mau tidak mau ia singel player di dalam kamar mandi, meski harus memakan waktu yang lebih dari biasannya.
Sindy yang selesai memasak sayuran hanya menatap arah kamar tidur yang belum ada tanda-tanda Cheval selesai di dalam kamar mandi.
"Aa, sedang apa sih kenapa lama sekali di dalam. Coba aku cek saja," Sindy masuk ke dalam kamar dan ia melototkan matanya saat melihat Cheval telanjang bulat tanpa sehelai penutup apapun.
Segera Sindy membalikkan tubuhnya. Cheval yang melihat Sindy yang berpaling tertawa kencang sekali.
"AAA... HAA... HAA..., kamu lucu sayang, suatu hari kamu juga akan melihatnya." Ucap Cheval yang masih saja tertawa.
"Apaan sih Aa, gak sopan banget ada perempuan di apartemennya masih dengan pede berucap seperti itu, apa Aa pernah memasukkan perempuan disini?" Sindy berbicara namun tidak menatap Cheval.
"Pernah, hanya satu wanita yang aku masukkan kesini!" jawab Cheval dengan bercanda namun Sindy menangkapnya dengan sungguh-sungguh.
"Jadi benar Aa berkhianat, Aa jahat." Sindy segera pergi dari kamar tersebut sambil menghentak-hentakkan kakinya saat berjalan.
Cheval salah berucap lagi, hancur sudah usahanya yang sedari tadi membujuknya, mood Sindy memang benar-benar hancur hari ini. Bahkan di ajak bercanda saja tidak bisa.
"Hhuhhh... ternyata istriku suka sekali bad mood, semoga pikirannya segera dewasa dan tidak seperti ini lagi, cuma aku yang bisa menahan sikapnya seperti ini karena cintaku yang sangat besar pada dirinya." Cheval segera mengenakan kaos berwarna abu-abu.
Cheval menatap Sindy yang menyilang kan tangannya di dada dan memanyunkan bibirnya.
"Sayang..., maaf ya, aku tadi hanya bercanda aku memasukkan perempuan itu hanya kamu dan cuma kamu seorang sayang." Berucap dengan lembut dan mencium pipi Sindy.
Sindy tersipu malu dengan sikap Cheval yang super romantis dan pandai membujuk dengan kata-katanya yang lembut dan sejuk ini.
__ADS_1
"Bagaimana kita jalan-jalan sekitar tempat ini, sebagai tanda permintaan maaf ku padamu sayang?" menggenggam erat tangan Sindy.
Sindy yang tidak pernah kesini langsung setuju saja, lagian tidak ada salahnya jika saat ini ia keluar dari apartemen ini dan mengecek apakah sang suami masih menarik perhatian orang-orang sekitar sini atau tidak.