ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
31 Curhat


__ADS_3

Setelah melepas tarikan tangannya dari kerah baju Daysi. Ksatria menatap tajam bagian tubuh Daysi yang amat menojol di pandang oleh mata terbuka. Bagaimana tidak pakaian yang tertarik oleh tangan Ksatria berhasil membuat si pemilik tubuh tidak sengaja mencetak 2 buah yang menempel terlihat jelas.


Ksatria sebenarnya terbiasa melihat bentuk lekukan tersebut meskipun belum nyata di dalam pandangannya, karena tertutup oleh kain, namun naluri laki-lakinya memang tidak bisa di hianati, apalagi Ksatria Malik adalah laki-laki normal. Dengan segera Ksatria menjauhkan pandangannya dari ke 2 benda tersebut sebelum ke khilafannya terjadi.


Daysi yang melihat kelakuan aneh Ksatria langsung menatap bagian tubuhnya yang nampak tercetak nyata. Dengan segera Daysi memperbaiki bajunya sebelum orang lain berpikir tidak-tidak terhadapnya.


Dalam hati Daysi meresahkan dirinya sendiri. "Aduhh... malu banget aku, untung pakaianku seperti ini, aku tidak bisa membayangkan jika pakaianku seperti para kekasih nih orang." Daysi bergidik ngeri membayangkan dalam pikirannya.


"Eemmm... aku lapar. Sebagai pertanggung jawabanmu kamu buatkan aku makan siang hari ini. Aku tunggu di ruang keluarga tidak di ruang makan." Ksatria segera pergi dari hadapan Daysi yang membuatnya akhir-akhir ini merasakan keanehan dalam hatinya.


"Baik... siap laksanakan pak boss...." Daysi segera menuruni anak tangga yang hanya terdiri dari 5 anak tangga saja.


Sesampainya di dapur Daysi menggulung rambutnya ke atas seperti di sanggul rambutnya tidak lupa ia mengambil karet gelang dari salah satu sayuran yang menggenakan karet gelang. Leher jenjang Daysi nampak cantik bahkan terlihat sangat menggoda di pandang mata.


Ksatria yang ingin mengambil minum terkejut saat melihat Daysi berpenampilan seperti itu. Ksatria menelan salivanya dengan berat, matanya terus tertuju pada leher jenjang tersebut. Dengan segera Ksatria langsung mengalihkan pandangannya dari pandangan yang menakjubkan tersebut.


Sekitar 15 menitan Daysi selesai membuat makanan, andai Ksatria tidak membenci warna putih pasti saat ini ia membuatkan roti tawar dengan selai coklat atau sejenisnya untuk makan siang atau sandwich saja yang lebih mudah agar tidak terus-terusan melayani si boss manjannya tersebut.


Ruang keluarga.

__ADS_1


Daysi dengan nampannya membawa nasi putih yang berada di mangkuk kecil dan lauk lainnya terpisah dengan nasi. Kali ini Daysi membuat rawon untuk makan siang Ksatria Malik.


Ksatria Malik menatap sekilas apa yang di masak oleh Daysi. Bau... ini mengingatkannya pada mendiang Papa dan Mamanya. Dulu mendiang orang tuanya sering mengkonsumsi masakan tersebut setelah mereka berdua wafat Ksatria tidak pernah mau lagi mencium bahkan merasakan masakan tersebut.


Air mata Ksatria benar-benar jatuh membanjiri wajah tampannya. Betapa terkejutnya Daysi melihat pemandangan langka tersebut dan baru kali ini Daysi melihat Ksatria Malik menangis seperti itu dengan segera Daysi meletakkan nampannya di meja depan Ksatria Malik duduk dan memeluk erat tubuh Ksatria Malik. Ksatria yang mendapatkan pelukan hangat dari tubuh Daysi langsung saja mengeratkan pelukannya. Ksatria merasa jika Daysi siap menerima dan berbagi kesedihannya selama ini. Membuat Ksatria menangis di pelukan Daysi.


Setelah cukup dengan tangisannya yang membuat baju yang di kenakan Daysi basah karena tangisannya. Ksatria menunduk malu dengan perbuatannya barusan. Daysi yang melihat hal tersebut merasa iba denga Ksatria Malik.


"Makanlah dulu, aku yakin perutmu bertambah lapar setelah menangis." Daysi menyodorkan satu sendok penuh ke hadapan Ksatria. Dengan segera Ksatria membuka mulutnya dan menikmati masakan Daysi yang begitu nikmatnya.


Setelah makanan tersebut habis Ksatria menatap wajah cantik Daysi yang baru ia sadari saat ini. Betapa cantik dan pintarnya Daysi dalam mengurus segala keperluannya dari pakaian, makanan, bahkan menyiapkan apapun yang ada di kamarnya.


"Apakah pak Ksatria sehat mengucapkan itu?" Daysi merasa curiga jangan-jangan ada apa-apa dengan otak Ksatria Malik.


"Kalau tidak sehat, tidak mungkin aku berucap seperti itu ke kamu!" jawab ketus Ksatria. "Terus jawabanmu apa dari ucapanku barusan?"


"Kalau aku sih memaafkan, lagian aku selama ini sudah terbiasa aku mendapatkan ucapan-ucapan yang menyakitkan ini itu dari orang-orang yang menjelek-jelekkan ku!" Daysi mengingat betul jika dirinya sering di sebut jala** dan lain sebagainya yang menyakiti perasaannya.


Jika saja buka Daysi mungkin orang tersebut telah mengakhiri hidupnya namun Daysi ingat betul jika ia melakukan itu sama dengan membuat dosa sangat besar.

__ADS_1


Ksatria menatap wajah Daysi yang memancarkan aura kesedihan yang mendalam. Rasanya ingin sekali Ksatria mengetahui apa isi pikiran Daysi saat ini agar ia tidak penasaran dengan Daysi. Dengan keberanian penuh Ksatria memberanikan diri bertanya perihal masa lalunya itu.


"Ceritakan saja Daysi, aku siap menerimanya. Aku akan menjadi pendengar setiamu mulai hari ini." Ksatria menyentuh jari jemari Daysi untuk meyakinkannya. Daysi terkejut saat tangannya bersentuhan dengan Ksatria Malik.


"Aku binggung harus mulai dari mana, eemmm... aku pernah di sebut sebagai pelakor oleh seseorang padahal aku tidak pernah merebut bahkan mendekati suaminya selain itu aku juga tidak mengenal suaminya. Terus yah dari kejadian itu aku sering di sebut jala** juga di manapun aku berkerja." Daysi tidak sanggup lagi menceritakan itu semua, rasa sesak di dada kini memuncak jika mengingat hal tersebut.


Ksatria menarik tubuh Daysi kedalam pelukannya. Ksatria memberikan pelukan terhangatnya untuk Daysi.


"Menangislah jika ingin menangis luapkan semua kesedihnmu saat ini Daysi." Ksatria mengusap punggung Daysi dengan lembut. Awalnya Daysi terkejut dengan kelakuan Ksatria yang menyentuh punggungnya namun lama-lama sentuhan itu membuatnya nyaman.


Air mata yang terbendung kini lolos di pipi cantiknya. Ksatria yang mendengar isakan tangis Daysi semakin mengeratkan pelukannya. Mungkin karena lelah Daysi tertidur di pelukan Ksatria Malik.


Ksatria Malik mengendong Daysi menuju ruang tidur untuk tamu, karena jarak kamar Daysi yang lumayan jauh dari ruang keluarga. Saat membaringkan tubuh Daysi. Ksatria mengecup dahi Daysi sangat lama.


"Ccuupp... aku akan melindungimu mulai saat ini Daysi, agar kamu tidak bersedih kembali." Ksatria mengusap lembut pipi putih Daysi.


Ksatria beranjak dari kamar tersebut dan langsung menuju gasebo di kediamannya, pikirannya menerawang jauh ke atas awan. Rasa sakit yang ia rasakan tidak sebanding dengan penderitaan Daysi selama ini yang mendapat cacian dimana pun ia berada bahkan dirinya juga termasuk dalam hal itu.


"Aku berjanji tidak akan pernah melukaimu lagi Daysi dan aku akan merubah sikapku ini hanya untukmu." Ksatria memejamkan matanya di kursi tempat ia menyandarkan tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2