
Makan malam.
Cheval terus saja menyuapi makanan ke dalam mulut Sindy sampai-sampai ia tidak tau situasi saat ini. Ksatria melihat sang putra dan putri seperti sekarang sangat bahagia dan bisa tenang melepas sang putri dengan putra angkat nya tersebut.
"Sayang mama papa ke atas dulu ya, kalian selesaikan makan nya." Daysi mencium kedua anak nya.
Cheval segera melanjut kan kegiatan nya setelah kedua orang tua nya pergi dari ruangan tersebut.
"Aa... memang nya Aa bener mau berangkat ke New York untuk melanjut kan S2 di sana. Kenapa tidak di Indonesia sih Aa disini kan banyak Universitas terbaik bahkan tidak kalah dengan yang ada di luar negri sana."
"Sayang kalau tidak di ambil, nanti saat kamu liburan kan bisa menyusul Aa kalau lagi kangen, sekalian jalan-jalan," mencubit hidung kecil Sindy.
"Haah... Aa, padahal kita baru nikah loh ini masak harus LDR sih. Selain itu kenapa 3 bulan lagi sih Aa berangkat nya, cepet banget." Sindy memain kan garpu nya.
"Jangan bersikap seperti ini, aku kan jadi tidak tega meninggal kan kamu di rumah. Tapi jika kamu mau ikut bukan nya nanggung sayang, tidak ada 2 tahun kamu bakalan lulus SMA," mengacak-acak rambut Sindy.
"Terserah Aa deh, janji setia hati nya untuk aku saja. Aku gak apa-apa di tinggal jauh." Menyilang kan tangan nya di depan perut.
Cheval menatap wajah sedih Sindy, baru saja ia merasakan kehangatan namun harus menahan kesedihan kembali meski ia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada diri nya. Cheval memeluk tubuh Sindy dengan erat.
"Aa janji akan segera menyelesai kan S2 Aa biar bisa sama-sama terus dengan kamu." Mencium kening Sindy berkali-kali.
"Semoga Aa menepati janji Aa," ucap dalam hati sambil berharap penuh cinta itu tetap kuat dan abadi.
__ADS_1
Di kamar.
Sindy hanya menatap langit-langit kamar, pikiran nya kosong sementara Cheval mengerjakan beberapa tugas yang harus segera selesai, skripsi di majukan hanya untuk Cheval dan beberapa mahasiswa dan mahasiwi yang berprestasi.
Sindy yang menunggu Cheval selesai akhir nya tertidur sambil tubuh nya bersandar di ranjang tidur. Cheval yang baru menyadari segera membenar kan posisi Sindy agar nyaman ia di alam mimpi nya.
Setelah tugas selesai Cheval membaring kan tubuh nya di samping Sindy dan memeluk erat. Cheval pun menyusul Sindy yang sudah di alam mimpi.
Pagi hari.
Suara sower terdengar dari luar kamar mandi. Sindy yang sudah mandi lebih dulu menyiap kan pakaian Cheval yang rapi dan bagus. Sindy menyisir rambut nya seperti bisa dan mengikat rambut nya kucir kuda.
Cheval yang baru selesai mandi masih mengenakan jubah handuk nya dan memandang sang istri yang beranjak dewasa. Cantik dan cantik saja dalam hati Cheval saat melihat pemandangan indah tersebut.
"Adikku yang sekarang menjadi istriku memang cantik, tidak salah jika kamu berhasil menerobos kehampaan hatiku," sedikit menggoda Sindy.
"Gombalan lama, tidak mempan Aa." Sindy mengoleskan lip balm sedikit.
"Lihat, bibir mu sangat menggoda sayang. Apa kamu mau aku menikmati nya hemm...?" tersenyum jahil.
"Siapa yang menggoda," Sindy sangat malu dengan sikap yang Cheval berikan pada nya. "Lagian kamu kan yang nafsuan jadi nya kenapa aku yang kamu tuduh," Sindy segera bangkit dari dudyk nya dan pergi meninggal kan Cheval.
Kediaman Sacha.
__ADS_1
Sacha hanya menghela nafas saat ini. Banyak pekerjaan yang menumpuk di tambah lagi Momo yang ingin sekolah ke luar negeri jika nanti lulus SMA, uang buka masalah yang menjadi masalah adalah ia anak satu-satu nya dan tidak memiliki saudara nanti jika Sacha pergi ke luar kota saat ada pekerjaan bagaimana dengan sang mama di rumah.
Akhir-akhir ini kondisi kesehatan Aurellia menurun lagi dan mengakibat kan ia keluar masuk ke Rumah Sakit untuk cek darah dan cuci darah. Pagi ini tiba-tiba Aurellia pingsan di dapur, Sacha yang berada di meja makan terkejut saat sang istri tiba-tiba pingsan di tempat.
Tanpa pikir panjang Sacha mengendong sang istria dan segera menuju rumah sakit terbaik di kota ini. Aurellia langsung masuk ke dalam ruang gawat darurat dan sedang di tangani Dokter yang ahli dalam bidang organ dalam. Sacha hanya berdoa kepada yang Maha Kuasa untuk menyelamatkan sang istri.
Sacha menghubungi Ksatria dan memberi tau perihal keadaan Aurellia saat ini. Ksatria yang baru saja sampai hotel langsung memutar kemudi nya dan membuat Daysi bertanya-tanya ada apa namun Ksatria yang hawatir dengan kesehatan sang adik tidak menjawab.
Rumah Sakit Umun.
Ksatria dan Daysi berjalan di koridor rumah sakit dan menuju tempat di mana saat ini Aurellia sedang di tangani oleh Dokter.
Tidak berapa lama sang Dokter keluar dengan wajah yang bisa di pastikan jika diri nya gagal menolong sang pasien.
"Dok bagaimana keadaan istri saya Dok?" Sacha bertanya-tanya namun sang Dokter hanya menggeleng kan kepala.
"Maaf pak, istri anda telah tiada!" jawab sang Dokter juga ikut bersedih.
"Tidak mungkin, Dokter bohong kan. Dokter pembohong kan, coba cek sekali lagi Dok saya ingin melihat istri saya Dok," Sacha menangis tersendu-sendu sambil bersimpuh di kaki Dokter tersebut.
Ksatria berusaha sekuat tenaga nya untuk menenagkan hatinya saat ini. Hancur dunia nya, adik satu-satu nya kini tiada menyusul kedua orang tua nya di Surga. Daysi menenagkan Ksatria yang menangis, Daysi juga berusaha kuat meski kini air mata nya tumpah juga sang sahabat telah pergi untuk selama nya.
Kediaman Sacha Mahendra telah berdiri bendera yang menandakan jika di rumah nya ada yang meninggal. Momo yang mendapat kabar dari pihak sekolah menangis tersendu-sendu begitu juga dengan Sindy dan Cheval. Cheval langsung mengajak kedua adik nya ini untuk pulang kerumah ayah.
__ADS_1
Sindy dan Momo saling berpelukan dan menguat kan satu sama lain. Hati nya sama-sama hancur kehilangan seorang bunda di kehidupan ini.